NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 — SENJATA MANUSIA

Adrian baru saja turun beberapa meter dari menara air ketika suara langkah kaki terdengar dari bawah.

Cepat.

Teratur.

Bukan langkah orang yang sedang panik.

Adrian berhenti di salah satu pijakan tangga dan melirik ke bawah.

Empat orang muncul dari balik bangunan yang berjarak tidak terlalu jauh dari menara.

Mereka mengenakan perlengkapan tempur lengkap.

Senjata sudah berada di tangan.

Gerakan mereka rapi. Satu maju, dua menutup sisi, sementara orang terakhir terus mengawasi dari belakang.

Mereka tidak asal menyerbu.

Jelas bukan kelompok amatir.

Adrian menghela napas.

“Lagi?”

Salah satu dari mereka memberi isyarat.

Empat orang itu langsung bergerak.

Satu menutup jalur kiri.

Satu mengambil posisi kanan.

Dua lainnya maju perlahan.

Mereka yakin Adrian sudah terjebak.

Jarak mereka dengan tangga tinggal belasan meter.

Lalu—

Adrian menghilang dari pandangan.

Bukan mundur.

Bukan bersembunyi.

Dia justru melompat turun dari tangga.

Tubuhnya meluncur melewati pagar besi dan mendarat di tanah dengan ringan.

Keempat orang itu langsung mengangkat senjata.

“Tembak!”

Rentetan tembakan pecah.

DOR! DOR! DOR!

Adrian sudah bergerak.

Tubuhnya melesat ke depan sebelum moncong senjata lawan sempat diarahkan dengan sempurna.

Dalam sekejap, dia sudah berada tepat di depan orang pertama.

Pria itu terkejut.

Jarinyanya baru hendak menarik pelatuk ketika tangan Adrian sudah lebih dulu mencengkeram senjatanya.

Adrian menarik.

Kuat.

Terlalu kuat.

Tubuh pria itu kehilangan keseimbangan dan terseret ke depan.

“Eh?”

Adrian tidak memberinya kesempatan untuk memahami apa yang terjadi.

Lututnya langsung menghantam bagian tengah tubuh lawan.

BUK!

Pria itu terangkat sedikit dari tanah.

Napasnya seketika hilang.

Adrian mendorongnya ke samping.

Pria tersebut jatuh tersungkur.

Tiga orang lainnya terpaku.

Mereka baru menyadari bahwa target yang mereka anggap sudah terpojok justru telah masuk ke tengah formasi mereka.

“Habisi dia!”

Mereka melepaskan tembakan bersamaan.

Adrian merunduk.

Peluru menyapu udara di atas kepalanya.

Dia berputar dan bergerak mendekati penyerang di sebelah kiri.

Pria itu mencoba mengarahkan senapan.

Terlambat.

Adrian menghantam pergelangan tangannya.

Tak!

Senjata terlepas.

Tangan lawan langsung dicengkeram.

Adrian menarik tubuhnya mendekat, kemudian memutar tubuh lawan menggunakan momentum sendiri.

Brak!

Punggung pria itu menghantam tanah.

Sebelum dia sempat bangkit, Adrian sudah menginjak senjatanya.

“Senjatamu kupinjam dulu.”

Adrian menendang senapan itu menjauh.

Pria tersebut bangkit dengan susah payah dan langsung menyerang menggunakan pisau tempur.

Adrian memiringkan tubuh.

Pisau melewati sisi pinggangnya.

Tangan Adrian bergerak cepat menangkap siku lawan.

Satu putaran.

Krek!

Pria itu langsung berlutut.

Adrian menepuk bahunya.

“Sudah cukup.”

Dia mendorongnya hingga jatuh.

Tinggal dua orang.

Keduanya mulai mundur.

Untuk pertama kalinya, rasa percaya diri mereka menghilang.

Mereka bukan sedang menghadapi target biasa.

Mereka sedang menghadapi sesuatu yang kecepatannya bahkan tidak bisa mereka ikuti.

Salah satu dari mereka mengangkat senapan.

“Jangan biarkan dia mendekat!”

Adrian mendengar itu.

Dia justru tersenyum.

“Sayangnya aku sudah dekat.”

Tubuhnya melesat.

Satu langkah.

Dua langkah.

Dalam sekejap dia sudah berada di antara keduanya.

Tangan kanannya menghantam dada pria pertama.

BUK!

Pria itu terlempar dan menghantam dinding bangunan.

Sebelum orang terakhir sempat bereaksi, Adrian sudah berada di belakangnya.

Sebuah sapuan kaki membuat lawannya kehilangan keseimbangan.

Adrian menangkap bagian belakang rompi tempurnya dan menarik.

Tubuh pria itu terhempas ke tanah.

Brak!

Sunyi.

Empat orang.

Kurang dari beberapa detik.

Semuanya tumbang.

Adrian melihat sekeliling.

“Sudah?”

Tidak ada jawaban.

Dia menggaruk kepala.

“Cepat juga.”

Adrian bahkan tidak terlihat kelelahan.

Dia hanya memeriksa ponselnya.

Layar gim masih menyala.

“Bagus.”

Dia mengangguk puas.

“Belum keluar.”

Namun saat Adrian hendak kembali ke menara—

DOR!

Sebuah tembakan terdengar dari kejauhan.

Peluru menghantam tanah beberapa langkah dari kakinya.

Adrian berhenti.

Debu beterbangan.

Dia perlahan mengangkat kepala.

Tatapannya mengarah ke sebuah gedung tua yang menjulang di kejauhan.

“Masih ada?”

---

Lebih dari satu kilometer dari sana, seorang pria berbaring di balik dinding beton.

Namanya Longshot.

Dia adalah penembak utama kelompok berikutnya.

Sejak tadi dia mengawasi pertempuran melalui teropong.

Dan dia baru saja melihat empat orang yang dikirim untuk menangkap Adrian tumbang dalam waktu singkat.

Tangannya mencengkeram senapan.

“Ini bukan target biasa.”

Pengamat di sampingnya juga terlihat tegang.

“Pemimpin, empat orang itu bahkan tidak sempat menggunakan granat.”

“Aku melihatnya.”

Longshot menarik napas.

“Kecepatan geraknya terlalu tinggi.”

Dia kembali mengarahkan senapan.

“Kalau begitu jangan beri dia kesempatan mendekat.”

Pengamat menatap layar.

“Jaraknya lebih dari satu kilometer.”

“Bagus.”

Longshot tersenyum tipis.

“Kalau dia kuat dalam pertarungan jarak dekat, kita bunuh dari jauh.”

Dia menarik pelatuk.

DOR!

Peluru kembali melesat.

Namun Adrian sudah bergerak.

Peluru hanya menghantam dinding di belakangnya.

Longshot terdiam.

“Dia menghindar?”

Pengamat menelan ludah.

“Sepertinya begitu.”

Longshot mengatur napas.

“Sekali lagi.”

DOR!

Adrian kembali menghilang dari jalur tembak.

Longshot mulai kehilangan kesabaran.

“Bagaimana dia bisa tahu?”

Pengamat tidak menjawab.

Karena mereka sendiri tidak tahu.

---

Adrian berdiri di balik sebuah kendaraan tua.

Dia mengintip sedikit.

Tembakan ketiga menghantam bodi kendaraan.

DANG!

Adrian melihat bekas peluru.

Kemudian menatap kejauhan.

“Penembak runduk.”

Dia mengeluarkan ponselnya.

Membuka kamera.

Zoom.

Layar memperbesar gambar.

“Ketemu.”

Sosok kecil terlihat di atas gedung.

Adrian tersenyum.

“Jauh juga.”

Dia memasukkan kembali ponselnya.

Kemudian melihat sekeliling.

Matanya berhenti pada sebuah batang logam panjang yang tergeletak di dekat reruntuhan.

Adrian mengambilnya.

Menimbang sebentar.

“Lumayan.”

Dia memutar batang logam itu di tangannya.

Kemudian melemparkannya.

Swoosh!

Batang logam tersebut melesat menembus udara.

---

Longshot baru saja akan menembak lagi ketika—

BRAK!

Sesuatu menghantam senjatanya.

Tangannya terpental.

Senapan hampir terlepas.

“Apa itu?!”

Pengamat di sampingnya ikut terkejut.

Mereka melihat batang logam yang menancap di beton beberapa sentimeter dari tangan Longshot.

Keduanya membeku.

Jarak mereka lebih dari satu kilometer.

Tidak masuk akal.

Longshot perlahan menoleh ke arah tempat Adrian berdiri.

Pemuda itu masih berada di bawah.

Dia mengangkat satu tangan.

Kemudian menunjuk ke arah gedung.

Gerakan bibirnya terlihat jelas.

“Turun.”

Wajah Longshot langsung pucat.

“Dia bisa melihat kita?”

Pengamat menatap teropong.

“Tidak mungkin.”

Longshot mengambil pistol cadangan.

“Pindah posisi.”

“Sekarang?”

“Sekarang!”

Mereka buru-buru mengemasi perlengkapan.

Namun sudah terlambat.

Adrian bergerak.

---

Kecepatan Adrian membuat jarak lebih dari satu kilometer terasa seperti tidak berarti.

Dia melewati gang sempit.

Melompati pagar.

Memanjat dinding rendah.

Kemudian melompat ke atap bangunan berikutnya.

Para anggota kelompok yang mencoba menghadangnya bahkan tidak sempat memahami dari mana dia datang.

Satu orang mengangkat senjata.

Adrian sudah lewat.

Orang kedua mencoba mengejar.

Dia kehilangan Adrian dalam hitungan detik.

“Dia ke mana?!”

“Cari!”

“Jangan biarkan dia mencapai posisi Longshot!”

Teriakan panik terdengar dari berbagai arah.

Adrian tidak peduli.

Dia hanya terus bergerak.

Beberapa menit kemudian, dia sudah berada di bawah gedung tempat Longshot bersembunyi.

Adrian mendongak.

“Ketemu.”

---

Longshot mendengar langkah kaki.

Dia membeku.

“Tidak mungkin secepat ini.”

Pintu menuju atap terbuka.

Krek.

Adrian masuk dengan santai.

Longshot langsung mengangkat pistol.

“Berhenti!”

Adrian berhenti.

Dia menatap pistol tersebut.

Kemudian menatap Longshot.

“Kau yang tadi nembak aku?”

“Jangan bergerak!”

Adrian menghela napas.

“Aku cuma tanya.”

Longshot semakin tegang.

“Kau sebenarnya siapa?”

Adrian mengangkat bahu.

“Adrian.”

“Jangan bercanda!”

“Aku serius.”

Longshot menatapnya.

Informasi yang diterima kelompok mereka menyebut Adrian hanyalah target dengan kemampuan tempur yang tidak diketahui.

Tidak ada yang mengatakan bahwa target tersebut mampu bergerak secepat ini.

Tidak ada yang mengatakan bahwa dia mampu menghindari tembakan jarak jauh.

Dan jelas tidak ada yang mengatakan bahwa dia bisa mengejar penembak dalam waktu sesingkat ini.

Longshot mulai menyadari sesuatu.

“Informasinya salah...”

Adrian mengangguk.

“Nah, itu baru benar.”

Longshot menarik pelatuk.

Klik.

Tidak ada peluru.

Wajahnya berubah.

Adrian tersenyum tipis.

“Sudah habis?”

Longshot mundur.

Adrian maju.

Satu pukulan.

BUK!

Longshot terlempar ke belakang.

Pistolnya jatuh.

Dia mencoba bangkit.

Adrian sudah berdiri di depannya.

“Sudah selesai.”

Longshot menatap Adrian dengan ketakutan.

“Monster...”

Adrian mengerutkan kening.

“Kenapa semua orang bilang begitu?”

Dia melihat senapan runduk yang tergeletak di lantai.

Adrian mengambilnya.

Berat.

Dia mengangkat alis.

“Ini punya siapa?”

Longshot diam.

“Kalau tidak ada yang mengaku, berarti boleh kuambil, kan?”

Longshot menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.

Adrian mengangkat senapan itu.

“Lumayan buat dijual.”

---

Sementara itu, di kendaraan komando yang berjarak jauh dari kawasan kota tua Darsen, Sienna kembali menerima laporan.

“Bu!”

Teknisi berbalik.

“Kelompok penyerang kembali kehilangan kontak.”

Sienna langsung berdiri.

“Berapa?”

“Empat orang dari tim penyerang jarak dekat tumbang.”

“Penembak?”

“Posisinya juga tidak merespons.”

Sienna menatap layar.

Titik-titik merah yang sebelumnya mengelilingi Adrian satu per satu menghilang.

Dia terdiam.

“Adrian sendirian?”

“Ya.”

Sienna menatap layar beberapa detik.

Kemudian menghela napas.

“Aku mulai kasihan kepada orang-orang yang dikirim untuk menangkapnya.”

Teknisi tersenyum kaku.

“Sepertinya mereka juga mulai menyesal.”

---

Jauh dari Darsen, sebuah pusat komando rahasia menerima rekaman pertempuran.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.

Rekaman memperlihatkan Adrian bergerak melewati empat penyerang seolah mereka bukan ancaman.

Kemudian memperlihatkan bagaimana dia mengejar penembak runduk yang jaraknya lebih dari satu kilometer.

Seorang pejabat senior akhirnya membuka suara.

“Ini benar target yang sama?”

Petugas intelijen mengangguk.

“Benar.”

“Informasi awal mengatakan dia hanya seorang pria biasa.”

Petugas itu menundukkan kepala.

“Itu penilaian awal kami.”

Pria senior tersebut menatap layar.

“Kalau begitu perbarui.”

“Menjadi apa?”

Dia terdiam sejenak.

Kemudian berkata,

“Bukan target biasa.”

“Catat sebagai ancaman tingkat tinggi.”

Ruangan kembali sunyi.

Di layar, Adrian terlihat sedang mengangkat senapan runduk yang baru saja dia rebut.

Seorang analis menelan ludah.

“Kalau dia bisa bertarung seperti itu tanpa senjata...”

Dia tidak melanjutkan kalimatnya.

Karena semua orang di ruangan itu sudah memahami maksudnya.

Kalau kemampuan seperti itu berada di tangan seseorang yang benar-benar berniat menghancurkan sesuatu, konsekuensinya akan sangat besar.

Namun ada satu hal yang tidak mereka ketahui.

Adrian sama sekali tidak tertarik pada semua itu.

---

Di atas gedung, Adrian kembali memeriksa ponselnya.

Matanya langsung melebar.

“Waduh.”

Dia melihat layar gim.

Timnya sedang terdesak.

Adrian langsung memasukkan senapan ke dalam tas perlengkapannya.

“Ini baru masalah besar.”

Dia berbalik.

Longshot yang masih terbaring hanya bisa menatapnya.

“Kau... mau ke mana?”

Adrian menoleh.

“Main gim.”

Longshot terdiam.

Adrian kemudian menambahkan,

“Kalau kalah gara-gara kalian, aku benar-benar bakal marah.”

Dia langsung berlari meninggalkan gedung.

Longshot menatap punggungnya yang semakin jauh.

Untuk pertama kalinya sepanjang kariernya, dia tidak tahu harus merasa takut kepada target...

atau justru bingung dengan target tersebut.

Di bawah sana, Darsen kembali sunyi.

Namun ketenangan itu tidak akan bertahan lama.

Karena kelompok yang tersisa akhirnya mengubah rencana.

Mereka tidak lagi berniat menangkap Adrian dengan cara biasa.

Mereka mulai mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih besar.

Dan kali ini...

mereka tidak akan datang untuk menguji kemampuan Adrian.

Mereka datang untuk memaksanya mengeluarkan seluruh kekuatannya.

1
Aisyah Suyuti
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!