Ellara Dawson adalah gadis desa yang bekerja sebagai perawat kuda di Blackwood Ranch, peternakan kuda terbesar dan paling bergengsi di negara bagian itu. Hidupnya sederhana hingga kedatangan Noah Blackwood, pewaris tunggal kerajaan ranch bernilai miliaran dolar.
Noah sudah memiliki kekasih resmi, Bianca Laurent, seorang sosialita cantik yang dipersiapkan menjadi nyonya Blackwood. Namun takdir terus mempertemukan Noah dan Ellara. Dari jalur berkuda di hutan pinus, danau pribadi ranch, hingga malam-malam panjang di arena latihan kuda, keduanya perlahan menjadi semakin dekat.
Ketika cinta mulai tumbuh, Ellara sadar satu hal dia hanyalah pekerja biasa. Sedangkan Noah adalah pria yang sudah menjadi milik wanita lain.
Di balik kisah cinta mereka, tersimpan rahasia keluarga Blackwood yang bisa menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon velvetsky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Sekali Lagi
Malam di Blackwood Ranch terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin berhembus pelan melewati celah-celah kayu kandang, membawa aroma jerami kering dan tanah yang baru saja disiram embun malam. Lampu-lampu kuning yang menggantung di sepanjang lorong kandang memancarkan cahaya remang, menciptakan bayangan panjang di lantai kayu.
Ellara Dawson berdiri sendirian di depan wastafel kecil di asrama pekerja. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tampak lelah, bukan karena pekerjaan. Melainkan karena pikirannya sendiri.
Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian di kandang.
Tiga hari. Dan selama tiga hari itu, ia terus mengulang satu kalimat dalam hati. Ini harus berhenti. Ia sudah berkali-kali meyakinkan dirinya. Apa yang terjadi antara dirinya dan Noah Blackwood hanyalah kesalahan, sebuah rahasia. Sesuatu yang tidak boleh berlanjut.
Tetapi semakin keras ia berusaha melupakannya, semakin sering sosok Noah muncul di pikirannya.
Tatapan pria itu, senyumnya yang jarang terlihat.
Dan cara Noah memandangnya akhir-akhir ini, bukan seperti seorang pemilik ranch memandang pekerjanya.
Melainkan seperti seseorang yang sedang mencari jawaban.
Ellara menghela napas panjang. "Aku harus berhenti memikirkannya." Namun bahkan suaranya sendiri terdengar tidak meyakinkan.
Sementara itu...Di mansion utama, Noah berdiri di depan jendela kamarnya. Segelas whiskey berada di tangannya. Tetapi malam ini, minuman itu tidak banyak membantu. Tatapannya mengarah ke kejauhan. Ke arah asrama pekerja tempat Ellara berada. Noah mengerutkan kening, sial. Ia bahkan hafal lampu kamar mana yang biasa menyala paling akhir. Sejak kapan ia memperhatikan hal-hal seperti itu? Ia tertawa kecil, pahit. Selama hidupnya, Noah tidak pernah memikirkan seorang wanita seperti ini.
Ia pernah berkencan, pernah jatuh tertarik, pernah merasa bosan. Tidak pernah sampai memikirkan seseorang setiap hari, setiap saat, dan yang membuatnya kesal... ia tidak mengerti alasannya.
Kenapa Ellara?
Kenapa gadis itu?
Seorang pekerja baru yang bahkan belum genap satu bulan berada di ranch.
Noah meneguk whiskey-nya, lalu tanpa sadar mengingat sesuatu. Pagi tadi, Ellara tertawa kecil ketika seekor anak kuda menarik ujung dress-nya.
Tertawa. Sesederhana itu, tetapi Noah masih mengingatnya sampai sekarang.
Ia mengusap wajah kasar. Lalu bergumam pelan. "Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Tidak ada jawaban. Hanya malam yang semakin sunyi.
Keesokan harinya...Ellara sengaja datang lebih pagi.
Langit masih berwarna abu-abu, kabut tipis menyelimuti padang rumput. Ia berharap bisa bekerja tanpa bertemu Noah. Namun harapan itu pupus. Karena begitu memasuki kandang utama, ia melihat Noah sudah berdiri di sana. Menyandarkan tubuh di pagar kayu, seolah sudah menunggunya.
Jantung Ellara langsung berdegup lebih cepat.
"Apa yang Tuan lakukan di sini sepagi ini?" tanyanya berusaha terdengar biasa.
Noah menatapnya Lama. Sampai Ellara merasa gugup sendiri.
"Aku ingin melihat kudaku."
"Kuda Tuan ada tiga puluh ekor."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa melihatku?"
Noah terdiam.
Ellara langsung menyesal mengucapkannya. Pipi gadis itu memanas.
"Aku... maksudku..."
Namun Noah justru tersenyum tipis. Senyum yang membuat Ellara semakin salah tingkah.
"Akhirnya kau bicara jujur."
"Aku tidak—"
"Kau menghindariku."
"Aku sibuk."
"Kau berbohong."
Ellara menghela napas kesal. Kenapa pria ini selalu bisa membaca pikirannya?
"Apa yang Tuan inginkan?" Pertanyaan itu keluar lebih pelan dari yang ia kira.
Noah terdiam. Ia sendiri tidak tahu. Atau mungkin... ia mulai tahu, tetapi takut mengakuinya. Tatapannya jatuh pada Ellara. Dress sederhana berwarna biru muda, Boots kulit tua, Rambut yang diikat seadanya.
Tidak ada yang berlebihan.Tetapi memang iya ia terlihat jauh lebih menarik daripada wanita-wanita pekerja Ranch lainnya. Wajah Ellara memiliki kecantikan yang lembut dan alami. Tubuhnya tinggi semampai, sekitar seratus tujuh puluh sentimeter, dengan postur yang proporsional dan sehat karena terbiasa bekerja di ranch. Pinggangnya ramping, lekuk tubuhnya proporsional dengan pinggul sintal Dan dada besar yang menantang.
"Kau takut padaku?"
Pertanyaan Noah membuat Ellara mengangkat kepala.
"Tidak."
"Lalu kenapa menghindar?"
Ellara terdiam. Karena jawabannya justru yang paling tidak ingin ia akui. Ia takut, bukan takut pada Noah. Tetapi takut pada dirinya sendiri, takut jika ia mulai berharap, takut jika suatu hari Noah bosan. Takut jika akhirnya ia terluka, karena pria itu berada di dunia yang berbeda. Dunia yang tidak akan pernah bisa ia masuki.
"Aku hanya..." Ellara menunduk.
"Aku tidak ingin semuanya menjadi rumit."
Noah memandangnya lama. Lalu berkata pelan. "Aku juga tidak ingin."
Ellara mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya...Ellara melihat sesuatu di mata Noah. Bukan kesombongan, bukan keinginan untuk menang, tetapi kebingungan. Seolah pria itu sedang berusaha memahami dirinya sendiri.
"Aku tidak mengerti kenapa aku terus memikirkanmu," kata Noah.
Jantung Ellara langsung berdegup lebih cepat.
"Aku tidak mengerti kenapa aku selalu mencarimu." Noah tertawa kecil. Kesal pada dirinya sendiri.
"Aku bahkan tidak tahu kapan semuanya mulai berubah."
Ellara mematung. Karena suara Noah terdengar begitu jujur, begitu berbeda dari pria yang biasanya selalu percaya diri. Noah menatapnya lekat. Lalu berkata, "Aku cuma tahu satu hal."
"Apa?"
"Aku tidak suka kalau kau menjauh."
Hening.
Untuk sesaat Ellara tidak tahu harus menjawab apa.
Karena diam-diam...ia juga tidak suka menjauh dari Noah. Tetapi ia harus, ia tidak punya pilihan. Ellara menggenggam erat ujung dress-nya. "Lupakan saja."
Noah mengernyit.
"Apa?"
"Kita lupakan semuanya."
Kalimat itu terasa berat, tetapi Ellara memaksakan diri mengatakannya.
"Kita kembali seperti dulu."
Padahal mereka bahkan tidak pernah benar-benar dekat. Noah menatapnya lama, lalu menggeleng pelan. "Aku tidak bisa."
Ellara membeku.
Noah mengusap tengkuknya frustrasi. "Aku sudah mencoba."
"Aku mencoba menganggapmu hanya pekerja baru."
"Aku mencoba tidak memikirkanmu."
"Aku mencoba sibuk."
"Tapi gagal."
Suara Noah semakin pelan.
"Setiap kali aku berpikir aku sudah melupakanmu..."
"...aku justru mencari keberadaanmu."
Ellara merasakan dadanya menghangat. Dan itu berbahaya, sangat berbahaya. Karena semakin ia mendengar Noah bicara seperti itu...semakin sulit baginya untuk pergi.
Noah melangkah mundur. Seolah sadar ia sudah mengatakan terlalu banyak. Ia menghela napas, lalu tersenyum tipis.
"Tenang."
"Aku tidak akan memaksamu."
Ellara menatapnya. Entah kenapa...ia justru merasa kecewa mendengar itu. Noah berbalik, bersiap meninggalkan kandang. Namun sebelum pergi, ia berhenti. Tanpa menoleh. Lalu berkata pelan,
"Aku akan berhenti mencarimu."
Ellara menahan napas.
"Tapi izinkan aku melakukan satu hal."
Ia akhirnya menoleh.
Noah menatapnya. Tatapan yang begitu serius, begitu tulus.
"Hanya sekali lagi."
"Aku ingin memastikan..."
"...apakah yang kurasakan ini benar."
Setelah itu Noah pergi meninggalkan Ellara sendirian di tengah kandang yang perlahan mulai ramai oleh para pekerja. Namun anehnya...kepergian Noah tidak membuat hatinya tenang. Justru sebaliknya. Untuk pertama kalinya...Ellara takut. Takut kalau Noah benar-benar berhenti mencarinya. Dan ketakutan itu membuatnya sadar...bahwa mungkin...ia sudah mulai merasakan hal yang sama.