NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Badai di Sisi Barat

   Sore harinya, ramalan Kapten Alden terbukti menjadi kenyataan. Langit barat yang semula biru bersih mendadak berubah menjadi abu-abu gelap keunguan. Awan-awan badai raksasa bergulung-gulung di cakrawala, memancarkan kilatan petir magis berwarna keperakan yang membelah kegelapan.

Angin kencang mulai melolong, menghantam lambung kapal The Sky Leviathan hingga kapal layar terbang raksasa itu mulai berguncang tidak stabil.

Brakkk!

Di dalam kabin utama sayap kiri, sebuah vas bunga porselen jatuh dari meja dan hancur berkeping-keping akibat guncangan hebat.

Toby langsung menjerit ketakutan, menyembunyikan wajahnya di bawah selimut tebal di atas ranjang kamar Clara.

Di sudut ruangan, Rin mencengkeram lengan baju kakaknya, Leo, dengan wajah pucat pasi.

"Jangan takut, semuanya tetap tenang," kata Clara dengan suara lantang, berusaha meredam kepanikan anak-anak di tengah deru angin luar yang semakin menggila.

Clara, yang kini mengenakan sarung tangan Sutra Laba-laba Salju pemberian Alden, bergerak cepat. Ia berlutut di samping kasur, memeluk Toby yang gemetar.

"Toby, ingat kata Ibu tadi pagi? Badai di luar tidak akan bisa menembus perisai sihir kapal ini. Ayahmu adalah kapten terbaik di dunia langit. Beliau pasti bisa membawa kita melewati ini."

Mendengar nama ayahnya disebut dengan penuh keyakinan oleh Clara, Toby perlahan meredakan tangisnya. Leo, meski wajahnya juga tampak tegang, melangkah maju mendekati Clara.

"Ayah memang hebat, tapi badai magnetik barat ini berbeda. Ini adalah Badai Pemakan Sihir. Jika baling-baling sihir di dek belakang tersambar petir perak, kapal ini bisa kehilangan daya angkat."

Clara menatap Leo, terkejut dengan pengetahuan taktis anak berusia dua belas tahun itu. Namun, sebelum Clara sempat membalas, sebuah guncangan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya melanda kapal.

BOOM!

Kapal miring drastis ke sisi kanan hingga sudut hampir tiga puluh derajat. Suara derit kayu ek kapal yang tertekan beban angin terdengar sangat memilukan.

Lentera sihir di langit-langit kabin berkedip-kedip hebat lalu padam sepenuhnya, menyisakan ruangan dalam keadaan remang-remang yang hanya diterangi oleh kilatan petir dari balik jendela luar.

"Sihir kapal... menurun!" seru Leo panik. Menebak dengan tepat, sayap energi Phoenix di punggungnya sempat memercikkan api kecil akibat lonjakan emosi negatif.

"Leo, kendalikan apimu! Jangan biarkan kamar ini ikut terbakar!" perintah Clara tegas namun tanpa nada menghakimi. Ia menatap Rin yang mulai gemetar hebat di samping Leo.

Tangan Rin mencengkeram kalung segel perak di lehernya. Melalui mata indigo anak perempuan itu, Clara tahu Rin ingin berteriak menggunakan suara Sirene-nya untuk menenangkan badai, sebuah insting alami makhluk laut, namun segel itu menahannya dan justru menyakitinya.

Clara melepaskan pelukannya dari Toby sejenak, lalu meraih tangan Rin dan Leo secara bersamaan. "Dengarkan Ibu, semuanya. Kita tidak boleh panik. Tarik napas dalam-dalam bersama Ibu. Satu... dua... tiga...."

Di bawah panduan suara Clara yang tenang dan jernih seperti mata air di tengah badai, ketiga anak itu mulai mengikuti irama napasnya. Ketegangan di dalam ruangan perlahan-lahan mengendur, mencegah kekuatan Leo dan Rin lepas kendali di saat yang paling kritis ini.

Tiba-tiba, pintu kabin bergeser terbuka secara paksa. Sosok tinggi Kapten Alden muncul di ambang pintu. Pakaian militernya tampak basah kuyup oleh air hujan langit, dan rambut hitamnya berantakan.

Wajahnya yang biasa dingin kini memancarkan rasa cemas yang teramat sangat saat menatap ke dalam kamar yang gelap.

Begitu melihat Clara sedang mendekap ketiga anaknya dengan aman di atas lantai yang miring, ketegangan di bahu tegap Alden tampak sedikit mengendur.

"Kapten! Bagaimana situasi di luar?" tanya Clara segera sembari membantu Toby berdiri.

"Kita tersangkut di inti pusaran badai magnetik," jawab Alden cepat, suaranya harus bersaing dengan gemuruh petir di luar. "Baling-baling kemudi kanan macet akibat pembekuan energi perak. Aku harus turun ke dek belakang luar untuk menghancurkan inti es sihir itu secara manual. Aku ke sini hanya untuk memastikan...," Alden menjeda kalimatnya, sepasang mata abu-abunya menatap Clara lekat-lekat menembus kegelapan.

"...memastikan kalian semua baik-baik saja."

"Kami aman di sini, Alden," kata Clara, sengaja melepas embel-embel 'Kapten' untuk memberikan penegasan emosional bahwa ia berbicara sebagai seorang istri dan ibu yang menjaga rumah mereka. "Pergilah lakukan tugasmu. Selesaikan badai ini, dan kembalilah pada kami dalam keadaan utuh."

Alden tertegun mendengar Clara memanggil namanya secara langsung dengan nada penuh keyakinan dan kehangatan seperti itu. Di tengah badai yang mematikan, di mana seluruh kru kapal bergantung pada perintahnya yang dingin, kata-kata Clara barusan terasa seperti sebuah jangkar emosional yang mengikat jiwanya agar tidak tersesat di dalam kegelapan langit.

"Aku akan kembali," janji Alden dengan nada rendah yang sarat akan emosi yang tertahan. Pria itu menoleh ke arah putra sulungnya. "Leo, jaga ibumu dan adik-adikmu selama aku keluar."

"Baik, Ayah!" jawab Leo tegap, memberikan penghormatan militer dengan tangan kanannya di dada. Ada rasa bangga yang besar di wajah anak itu karena dipercaya oleh ayahnya untuk menjaga keluarga mereka.

Alden mengangguk sekali lagi ke arah Clara, sebuah tatapan mendalam yang seolah-olah mengirimkan seluruh rasa terima kasihnya yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, sebelum akhirnya berbalik cepat dan kembali menerjang badai di luar kabin.

Setelah kepergian Alden, guncangan kapal masih terus berlanjut selama hampir tiga puluh menit yang menegangkan. Namun, suasana di dalam kamar tidak lagi mencekam seperti sebelumnya.

Clara duduk di lantai bersama ketiga anak tirinya, saling berpegangan tangan membentuk lingkaran kecil.

Rin menggunakan bahasa isyarat untuk menceritakan kisah-kisah lucu yang pernah ia baca, sementara Toby mendengarkan dengan antusias, dan Leo sesekali menimpali dengan gaya ketusnya yang khas.

Clara tersenyum, menyadari bahwa badai di luar sana justru mempercepat proses penyatuan hati di antara mereka.

Hingga akhirnya, guncangan kapal perlahan-laman mereda. Deru angin lolongan di luar berganti menjadi hembusan angin malam yang tenang.

Lentera sihir di langit-langit kabin kembali menyala, memancarkan cahaya kuning hangat yang menerangi seluruh ruangan.

Pusaran badai barat telah berhasil dilalui.

Pintu kabin kembali terbuka beberapa saat kemudian. Kapten Alden berdiri di sana, lelah dan basah, namun seulas senyum lega yang sangat tulus menghiasi wajah garangnya saat melihat keluarganya duduk melingkar dalam keadaan selamat tanpa ada luka sedikit pun.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, The Sky Leviathan berhasil melewati badai besar tanpa menyisakan trauma bagi anak-anaknya, semua itu berkat kehadiran seorang wanita bernama Clara di sisi mereka.

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!