Tidak semua pertemuan adalah kebetulan. Sebagian adalah janji yang menolak dilupakan waktu. Aruna menjalani hidup biasa hingga sebuah kecelakaan membuatnya mulai mengalami mimpi aneh yang terasa terlalu nyata. Dalam mimpinya, ia selalu menjadi perempuan yang berbeda… di kehidupan yang berbeda… tetapi dengan satu kesamaan: selalu ada seorang pria yang mencarinya. Pria itu adalah Adrian Mahesa, CEO muda, dingin, perfeksionis, dan dikenal publik sebagai sosok yang tak punya ruang untuk cinta. Saat Aruna tanpa sengaja bertemu Adrian di dunia nyata, sesuatu yang tak masuk akal terjadi. Tatapan pertama mereka bukan terasa seperti perkenalan… melainkan pertemuan kembali. Sejak hari itu, Adrian mulai muncul di setiap sudut hidup Aruna. Membantunya, mengawasinya, bahkan seolah mengetahui ketakutan dan kebiasaannya sebelum Aruna sendiri menyadarinya. Namun yang paling mengganggu adalah kalimat yang terus diucapkan Adrian “Kali ini aku tidak akan kehilanganmu lagi.” Aruna mengira itu hanya obsesi seorang CEO yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan. Sampai perlahan ia menemukan rahasia yang mengubah segalanya: Dalam setiap kehidupan sebelumnya… mereka selalu saling mencintai. Dan di setiap akhir cerita… Aruna selalu mati. Kini garis reinkarnasi kembali berputar. Pertanyaannya bukan lagi apakah Adrian mencintainya. Tetapi.. apakah cinta yang bertahan melintasi banyak kehidupan akan menjadi penyelamat… atau justru obsesi yang menghancurkan mereka sekali lagi? ✨ Satu cinta. Banyak kehidupan. Dan dia… selalu menjadi obsesiku. Karya: Sarin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sharinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Yang Gagal Di Selamatkan
Lampu padam.
Ruangan arsip yang semula diterangi cahaya sore kini tenggelam dalam kegelapan pekat. Hanya sedikit sinar matahari yang menyusup melalui ventilasi kecil di dekat langit-langit.
Aruna berdiri membeku.
Jam saku tua itu masih berada di telapak tangannya.
Jarum detiknya…
baru saja bergerak.
Satu langkah.
Padahal selama puluhan tahun, menurut Adrian, jam itu tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Lalu terdengar suara perempuan itu.
“Kalian akhirnya mengingat terlalu banyak.”
Suara itu bukan berasal dari satu arah.
Seolah memenuhi seluruh ruangan.
Dingin.
Tenang.
Namun membawa tekanan yang membuat napas Aruna terasa berat.
“Sekarang… permainan yang sebenarnya dimulai.”
Suara itu menghilang.
Lampu kembali menyala.
Ruangan kembali seperti semula.
Rak-rak arsip masih berdiri rapi.
Kotak-kotak kenangan tetap berada di tempatnya.
Namun tidak dengan mereka.
Aruna dan Adrian saling menatap.
“Anda dengar?”
Adrian menggeleng pelan.
“Tidak.”
“Tapi…”
“Aku cuma dengar kau bicara.”
Aruna mengerutkan kening.
“Mustahil.”
Ia yakin suara itu nyata.
Begitu nyata hingga bulu kuduknya masih berdiri.
Adrian melangkah mendekat.
“Suara apa?”
Aruna menceritakan semuanya.
Setiap kata.
Setiap kalimat.
Tanpa mengurangi satu pun.
Semakin ia bercerita, wajah Adrian semakin serius.
Sampai akhirnya ia berkata pelan,
“…akhirnya dia muncul.”
Aruna langsung menatapnya.
“Siapa?”
Adrian menghela napas panjang.
“Aku berharap kita tidak pernah sampai di tahap ini.”
⸻
Mereka meninggalkan ruang arsip.
Bukan menuju ruang kerja.
Melainkan ke parkiran bawah tanah.
Adrian mengendarai mobil sendiri.
Tidak ada sopir.
Tidak ada sekretaris.
Perjalanan berlangsung tanpa musik.
Hanya suara mesin mobil yang memenuhi kabin.
Aruna beberapa kali ingin bertanya.
Namun mengurungkannya.
Sampai akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah tua di pinggir kota.
Rumah itu jauh berbeda dari rumah-rumah di sekitarnya.
Bangunannya bergaya kolonial.
Cat putihnya mulai mengelupas.
Pohon beringin besar menaungi halaman depan.
Suasananya sunyi.
Seolah waktu berhenti di sana.
“Rumah siapa ini?”
Adrian mematikan mesin.
“Orang yang selama ini menyimpan jawaban.”
Mereka turun.
Begitu kaki Aruna menginjak halaman…
kepalanya kembali berdenyut.
Ia pernah ke sini.
Bukan sekarang.
Bukan dalam kehidupan ini.
Melainkan…
sangat lama sekali.
Tangannya tanpa sadar menyentuh pagar besi tua.
Kilasan singkat muncul.
Seorang gadis kecil berlari di halaman itu.
Tertawa.
Memanggil seseorang.
“Nenek!”
Kilasan menghilang.
Aruna langsung memegang pelipis.
“Ada apa?”
Adrian menahan lengannya.
“Saya…”
Aruna menggeleng.
“Kayaknya… saya pernah ke sini.”
Adrian tidak tampak terkejut.
Ia hanya membuka pintu kayu tua itu.
Belum sempat mengetuk.
Pintu sudah terbuka lebih dulu.
Seorang perempuan tua berdiri di sana.
Usianya mungkin lebih dari tujuh puluh tahun.
Rambutnya memutih seluruhnya.
Namun sorot matanya tajam.
Sangat tajam.
Perempuan itu tidak melihat Adrian terlebih dahulu.
Tatapannya langsung tertuju kepada Aruna.
Lalu…
ia tersenyum.
“Akhirnya.”
Aruna membeku.
“Akhirnya kau datang lagi.”
Jantung Aruna berdegup keras.
“…kita pernah bertemu?”
Perempuan tua itu mengangguk.
“Berkali-kali.”
⸻
Rumah itu dipenuhi aroma kayu tua dan teh melati.
Mereka duduk di ruang tamu sederhana.
Tidak ada televisi.
Tidak ada telepon.
Hanya rak buku yang memenuhi hampir seluruh dinding.
Aruna memperhatikan satu per satu.
Semuanya buku tua.
Sebagian bahkan ditulis dengan bahasa yang tidak dikenalnya.
Perempuan tua itu menuangkan teh.
Lalu duduk tepat di depan mereka.
“Apa kau sudah mulai mengingat?”
Aruna mengangguk pelan.
“Sedikit.”
“Berapa kehidupan?”
“Saya tidak tahu.”
Perempuan itu tersenyum tipis.
“Berarti belum semuanya.”
Adrian akhirnya berbicara.
“Bu…”
Perempuan itu mengangkat tangan.
“Mereka sudah mulai mendengar.”
Ruangan langsung hening.
Aruna mengerutkan dahi.
“Mereka?”
Perempuan tua itu tidak langsung menjawab.
Ia justru berdiri.
Mengambil sebuah kotak kayu dari rak paling atas.
Kotak itu jauh lebih tua dibanding milik Adrian.
Ukurannya hampir sebesar koper kecil.
Di atas tutupnya terdapat ukiran berbentuk lingkaran.
Lingkaran yang saling bertumpuk.
Persis seperti simbol yang beberapa kali muncul dalam mimpi Aruna.
Perempuan itu membuka kotak tersebut.
Di dalamnya hanya ada satu benda.
Sebuah buku bersampul kulit berwarna hitam.
Sangat tua.
Di bagian depannya tertulis dengan tinta emas yang mulai pudar.
Chronica Vitae
“Apa ini?”
Aruna bertanya lirih.
Perempuan tua itu mengusap sampul buku tersebut.
“Catatan.”
“Catatan siapa?”
“Semua orang.”
Aruna semakin bingung.
Perempuan itu membuka halaman pertama.
Isinya kosong.
Halaman kedua.
Kosong.
Begitu pula halaman ketiga.
Sampai akhirnya ia berhenti di satu halaman.
Dan…
tulisan perlahan muncul dengan sendirinya.
Seolah tinta itu baru saja ditorehkan.
Aruna menahan napas.
Di halaman itu tertulis namanya.
ARUNA
Di bawahnya—
puluhan tanggal.
Puluhan nama.
Puluhan kehidupan.
Dan semuanya berakhir dengan satu kalimat yang sama.
Meninggal sebelum usia empat puluh tahun.
Aruna langsung menutup mulutnya.
“Ini…”
Tangannya gemetar.
Perempuan tua itu mengangguk pelan.
“Semua kehidupanmu.”
Aruna menoleh cepat kepada Adrian.
Wajah pria itu memucat.
Jelas.
Ia baru pertama kali melihat buku itu.
“Kenapa…”
suara Aruna bergetar.
“…kenapa semuanya mati muda?”
Ruangan mendadak sangat sunyi.
Perempuan tua itu menatapnya lama.
Lalu menjawab dengan suara yang hampir seperti bisikan.
“Karena seharusnya kau memang tidak kembali.”
Kalimat itu membuat dunia Aruna berhenti.
“Apa maksudnya?”
“Kehidupan pertamamu…”
Perempuan tua itu menutup buku perlahan.
“…adalah kehidupan terakhirmu.”
Sunyi.
Tidak ada yang berbicara.
Bahkan Adrian tampak kehilangan kata-kata.
Aruna hanya bisa menatap perempuan tua itu.
Otaknya menolak memahami.
“Kehidupan pertama…”
“…adalah akhir.”
Perempuan tua itu mengangguk.
“Dan semua kehidupan setelahnya…”
Ia memandang Aruna dengan tatapan penuh iba.
“…seharusnya tidak pernah ada.”
Tiba-tiba terdengar suara jam berdentang.
Dung…
Dung…
Jam tua di ruang tamu menunjukkan pukul enam sore.
Bersamaan dengan dentangan terakhir—
buku hitam itu terbuka sendiri.
Halaman-halamannya bergerak cepat tertiup angin yang entah datang dari mana.
Lalu berhenti pada satu halaman.
Di sana muncul sebuah gambar.
Bukan tulisan.
Melainkan lukisan seorang pria dan seorang perempuan yang berdiri di bawah pohon besar.
Wajah perempuan itu…
adalah Aruna.
Sedangkan pria di sampingnya…
bukan Adrian.
Aruna membeku.
Begitu juga Adrian.
Perempuan tua itu memejamkan mata.
Lalu berkata dengan suara pelan,
“Akhirnya…”
“…dia juga
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
Aruna masih menatap halaman buku tua itu tanpa berkedip.
Lukisan seorang perempuan yang sangat mirip dengannya berdiri di bawah pohon beringin raksasa.
Namun laki-laki yang menggenggam tangan perempuan itu…
bukan Adrian.
Wajahnya samar.
Seolah sengaja diselimuti kabut.
Tetapi yang membuat dada Aruna sesak bukan wajah pria itu.
Melainkan perasaan yang muncul saat melihat lukisan tersebut.
Akrab.
Hangat.
Dan… asing pada saat yang bersamaan.
“Siapa dia?”
Suara Aruna nyaris berbisik.
Perempuan tua itu tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru beralih kepada Adrian.
Selama beberapa detik, keduanya saling memandang tanpa kata.
Seolah sedang membicarakan sesuatu yang hanya mereka pahami.
Adrian akhirnya menggeleng pelan.
“Belum.”
Perempuan tua itu menghela napas.
“Kalau begitu biar aku yang menjelaskan.”
Ia menutup buku tua itu perlahan.
Suara halaman yang bergesekan terdengar begitu jelas di tengah keheningan.
“Selama ini kalian mengira semua kehidupan itu adalah reinkarnasi.”
Aruna mengangguk.
“Memang bukan?”
“Bukan sepenuhnya.”
Jantung Aruna berdegup semakin cepat.
Perempuan tua itu bangkit, berjalan menuju jendela, lalu memandang langit yang mulai menggelap.
“Dalam hidup ini ada dua jenis manusia.”
“Yang pertama…”
“Mereka lahir.”
“Hidup.”
“Meninggal.”
“Lalu bereinkarnasi seperti biasa.”
Ia berhenti sejenak.
“Lalu yang kedua…”
Tatapannya perlahan kembali kepada Aruna.
“Mereka yang menolak mengakhiri takdirnya.”
Ruangan kembali sunyi.
Aruna mengerutkan kening.
“Apa maksudnya menolak?”
Perempuan tua itu tersenyum tipis.
“Pada kehidupan pertama…”
“…kau seharusnya mati.”
Aruna membeku.
“Tapi…”
“Kau membuat pilihan yang tidak pernah dibuat siapa pun sebelumnya.”
“Apa?”
Perempuan tua itu menatap langsung ke mata Aruna.
“Kau meminta waktu.”
⸻
Kepala Aruna kembali berdenyut.
Namun kali ini…
bukan kilasan pendek.
Melainkan sebuah ingatan yang terasa begitu nyata.
Langit malam.
Ribuan bintang.
Sebuah pohon beringin yang sangat besar berdiri di tengah padang rumput.
Di bawah pohon itu…
seorang perempuan berlutut.
Perempuan itu adalah dirinya.
Namun pakaiannya berbeda.
Gaun putih panjang yang tertiup angin.
Di depannya berdiri seseorang berjubah hitam.
Wajahnya tidak terlihat.
Hanya suaranya yang terdengar.
“Waktumu sudah habis.”
Perempuan itu menangis.
“Tolong…”
“Aku belum bisa pergi.”
Suara itu tetap tenang.
“Semua orang berkata begitu.”
Perempuan itu menggeleng.
Air matanya jatuh tanpa henti.
“Kalau aku pergi…”
“Dia akan sendirian.”
Jubah hitam itu terdiam.
Lalu bertanya,
“Apa kau ingin kembali?”
Perempuan itu mengangguk.
“Apa pun syaratnya.”
Keheningan memenuhi padang rumput.
Angin bertiup semakin kencang.
Kemudian suara itu kembali terdengar.
“Kalau kau kembali…”
“Kalian akan terus bertemu.”
“Terus saling mengenal.”
“Terus saling kehilangan.”
“Sampai salah satu dari kalian berhenti memilih.”
Perempuan itu memejamkan mata.
Hanya satu kalimat yang keluar dari bibirnya.
“Aku terima.”
Kilasan langsung pecah.
⸻
Aruna terengah-engah.
Tangannya mencengkeram lengan kursi.
Air mata membasahi pipinya.
“Aku…”
Ia menatap perempuan tua itu.
“…aku yang meminta?”
Perempuan tua itu mengangguk.
“Kau.”
“Tapi…”
“Aku tidak ingat.”
“Memang tidak boleh.”
Ruangan kembali hening.
Adrian perlahan menundukkan kepala.
Seolah semua potongan teka-teki mulai menyatu.
“Jadi…”
suaranya lirih.
“…selama ini bukan aku yang menyebabkan semuanya?”
Perempuan tua itu menatap Adrian.
“Kesalahanmu bukan membuat semua ini terjadi.”
“Tapi?”
“Kau terus mencoba memperbaikinya.”
Adrian terdiam.
Perempuan tua itu melanjutkan,
“Setiap kali Aruna meninggal…”
“Kau selalu berharap kehidupan berikutnya akan lebih baik.”
“Padahal…”
“Semakin kau berharap…”
“…ikatan itu semakin kuat.”
Aruna menoleh kepada Adrian.
Ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Beban.
Bukan rasa bersalah.
Melainkan kelelahan yang telah dipikul selama puluhan kehidupan.
⸻
“Ada satu hal lagi.”
Perempuan tua itu membuka kembali buku tua tersebut.
Kali ini ia berhenti pada halaman paling akhir.
Halaman itu kosong.
Namun perlahan-lahan muncul tulisan.
Sisa Kehidupan: 1
Aruna langsung berdiri.
“Apa maksudnya?”
Perempuan tua itu menatapnya lama.
“Lingkaran ini hampir selesai.”
“Kalau kehidupan ini gagal…”
Ia berhenti sejenak.
“…tidak akan ada kehidupan berikutnya.”
Ruangan mendadak terasa membeku.
Adrian langsung bertanya,
“Gagal bagaimana?”
Perempuan tua itu menggeleng pelan.
“Aku tidak bisa memberi tahu.”
“Tapi…”
Ia menatap Aruna.
“…mulai hari ini, pilihan kalian akan menentukan akhir semuanya.”
Aruna mencoba mencerna setiap kata.
Satu kehidupan tersisa.
Tidak ada kesempatan kedua.
Tidak ada kehidupan berikutnya.
Untuk pertama kalinya…
reinkarnasi bukan lagi harapan.
Melainkan hitungan mundur.
⸻
Malam telah turun sepenuhnya ketika Aruna dan Adrian meninggalkan rumah tua itu.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara selama perjalanan.
Hujan mulai turun perlahan.
Rintik-rintik kecil membasahi kaca mobil.
Aruna memandang keluar.
Lampu-lampu kota terlihat kabur.
Kepalanya masih dipenuhi pertanyaan.
Kalau semua ini memang karena pilihannya…
berarti selama ini Adrian hanya berusaha memenuhi janji yang bahkan bukan berasal darinya.
“Aruna.”
Suara Adrian memecah keheningan.
“Hm?”
“Kalau semua ini selesai…”
Ia berhenti.
“Aku ingin kau hidup seperti orang biasa.”
Aruna menoleh.
“Tidak usah ingat aku.”
“Tidak usah cari aku.”
“Kalau memang itu membuatmu bahagia…”
Aruna menatap wajah pria itu.
Untuk pertama kalinya…
ia tidak melihat obsesi.
Tidak melihat rasa memiliki.
Yang ia lihat hanyalah seseorang…
yang benar-benar siap melepaskan.
Dan justru karena itulah…
dadanya terasa semakin sesak.
Mobil berhenti di depan apartemen Aruna.
Sebelum turun…
Aruna menoleh.
“Kalau nanti semuanya berakhir…”
Ia tersenyum tipis.
“…bolehkah saya yang memilih?”
Adrian membalas senyum itu.
“Kali ini…”
“…selalu.”
Aruna turun dari mobil.
Hujan mulai membesar.
Ia berdiri beberapa saat, memperhatikan mobil Adrian yang perlahan menghilang di tikungan jalan.
Tanpa mereka sadari…
di seberang jalan…
seorang pria berpakaian hitam sedang memperhatikan mereka.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Namun di tangannya…
terdapat jam saku tua yang sama persis dengan milik Adrian.
Jarumnya bergerak perlahan.
Tik…
Tik…
Pria itu tersenyum tipis.
Lalu berbisik,
“Akhirnya…”
“…aku menemukan kalian.”
Hujan turun semakin deras.
Dan jauh di langit malam…
petir menyambar, membelah awan menjadi dua.
Pertanda bahwa sebuah babak baru telah dimulai.
Bersambung...