Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2. PILIHAN YANG SULIT
"Saya ingin kamu menjadi istri saya, Cika." Kali ini tidak ada keraguan dalam kalimat Robinson.
Cika mundur selangkah. "Pak ..." ucapnya terbata-bata. "Bapak sedang bercanda, kan?"
"Tidak."
"Ini tidak lucu, Pak."
"Saya juga tidak sedang membuat lelucon."
Cika menggeleng cepat. Kepalanya terasa berputar. Dari semua kemungkinan yang ia bayangkan tentang bantuan Robinson, tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikirannya bahwa pria itu akan meminta dirinya menjadi istrinya. "Bapak ... Bapak ini ayahnya Rebeca," ucap Cika dengan suara bergetar. "Rival saya di kampus."
"Saya tahu."
"Bapak juga jauh lebih tua dari saya."
"Saya tahu."
"Bapak adalah pengusaha besar, sedangkan saya hanya gadis biasa yang hidup pas-pasan."
"Saya juga tahu."
Jawaban Robinson yang begitu tenang justru membuat Cika semakin bingung. "Kalau Bapak tahu semua itu, kenapa Bapak mengajukan permintaan seperti ini?"
Robinson menghela napas panjang. "Karena saya membutuhkan seorang istri."
Cika terdiam. Kalimat itu terdengar begitu dingin, seperti sebuah transaksi.
Dan Robinson memang tidak menutupinya. "Saya tidak akan berbohong. Saya tidak meminta ini karena cinta."
Perasaan Cika semakin campur aduk. "Saya juga tidak ingin menikahi Bapak karena uang."
"Karena itulah saya memilihmu."
Cika tertegun.
Robinson melanjutkan, "Saya sudah mengenalmu beberapa bulan terakhir. Saya tahu bagaimana kamu menjaga harga dirimu. Saya tahu kamu pekerja keras, bertanggung jawab, dan menyayangi adikmu dengan tulus."
"Tapi tetap saja, Pak ..."
"Dengarkan saya sampai selesai." Cika akhirnya diam. "Jika kamu bersedia menikah dengan saya, saya akan menanggung seluruh pengobatan Sinta. Bukan hanya kemoterapinya, tetapi seluruh kebutuhan medisnya sampai dia benar-benar mendapatkan penanganan terbaik, sampai Sinta sembuh."
Mata Cika langsung berkaca-kaca saat nama adiknya disebut.
Sinta.
Satu-satunya keluarga yang masih ia miliki.
Namun di sisi lain ... apakah ia benar-benar harus menikah dengan pria yang lebih pantas menjadi ayahnya sendiri?
Bahkan pria itu adalah ayah dari wanita yang setiap hari menghinanya di kampus.
"Kenapa harus saya, Pak?" tanya Cika lirih. "Banyak wanita yang lebih pantas menjadi istri Bapak."
Senyum kecil muncul di wajah Robinson, tetapi tidak sampai ke matanya. "Karena wanita-wanita itu menginginkan kekayaan dan nama besar keluarga Alexander." Lalu ia menatap Cika dalam-dalam. "Sedangkan kamu adalah satu-satunya wanita yang terus menolak semua yang saya berikan."
Cika menggigit bibir bawahnya. Hatinya terasa sesak. Tawaran itu terdengar seperti jalan keluar untuk menyelamatkan Sinta. Namun harga yang harus dibayarnya juga sangat besar.
"Satu hal lagi, Cika. Alasan saya memilih kamu menjadi istri saya, karena kamu gadis yang berani. Punya prinsip dan berani melawan pembulian. Saya tahu semuanya tentang Rebeca yang selalu membuli kamu. Tapi kamu berani melawan dia. Saya berharap, dengan saya menikahi kamu ... kamu bisa sedikit demi sedikit merubah perangai Rebeca yang arogan, angkuh dan merasa paling berkuasa. Saya ingin dia menjadi anak yang baik dan bisa menghormati orang lain tanpa memandang status."
Cika lagi-lagi tersentak. Ia tertegun beberapa detik. "Saya tidak bisa menjawab sekarang, Pak."
Robinson mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawabannya. "Saya tidak akan memaksa." Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari saku jasnya, lalu memberikannya kepada Cika. "Tapi ingat satu hal." Cika menatap kartu itu dengan tangan gemetar.
"Dokter bilang waktu Sinta tidak banyak. Jadi jangan terlalu lama mengambil keputusan." Kalimat itu menusuk tepat ke dalam hati Cika.
Robinson pun berjalan pergi meninggalkan taman setelah Cika menerima kartu namanya.
Cika tetap berdiri di tempatnya. Matanya menatap kosong ke depan. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
Di satu sisi ada harga dirinya. Di sisi lain ada nyawa adiknya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Cika merasa benar-benar tidak memiliki pilihan.
"Menikah dengan Robinson Alexander. Menjadi ibu tiri Rebeca. Menjalani kehidupan yang selama ini sangat jauh dari duniaku. Apakah aku sanggup?" batinnya kacau.
Semua itu terasa seperti mimpi yang mustahil. Namun ketika mengingat wajah Sinta, dadanya kembali terasa sesak.
Cika mengusap air matanya cepat. Apa pun masalah yang sedang ia hadapi, ia tidak ingin Sinta melihatnya hancur. Ia menarik napas panjang, lalu melangkahkan kaki menuju ruang rawat adiknya.
Semua usaha untuk terlihat kuat langsung runtuh saat pintu kamar terbuka.
Di atas ranjang rumah sakit, seorang gadis kecil dengan tubuh yang semakin kurus terbaring sambil membaca buku cerita. Begitu melihat Cika, wajah pucat itu langsung bersinar. "Kakak!" Sinta tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya."Sinta kangen. Kakak lama banget datangnya."
Satu kalimat sederhana itu langsung menghancurkan benteng pertahanan Cika. Mata Cika memanas. Ia berjalan cepat mendekati ranjang dan menggenggam tangan kecil adiknya. "Sinta ..." Suaranya bergetar. Baru beberapa jam tidak bertemu, tetapi Cika merasa kondisi adiknya semakin memburuk.
Pipi Sinta yang dulu berisi kini tampak cekung. Kulitnya terlihat pucat, dan rambut yang dahulu panjang serta indah kini semakin menipis akibat pengobatan yang dijalaninya. Melihat itu semua, air mata Cika tidak lagi bisa ditahan. Butiran bening itu jatuh satu per satu ke pipinya.
Sinta yang melihat kakaknya menangis langsung panik. "Kakak? Kenapa menangis?" tanyanya polos. Tangan kecilnya terangkat untuk menghapus air mata di wajah Cika.
Cika langsung menggenggam tangan itu dan menciumnya. "Tidak apa-apa."
"Bohong. Kakak pasti sedih karena Sinta sakit."
Kalimat polos itu membuat hati Cika seperti diremas. "Jangan bicara begitu."
"Tapi benar, kan?" bisik Sinta. "Sinta tahu Sinta merepotkan Kakak."
"Jangan pernah bilang seperti itu!" potong Cika dengan cepat. Nada suaranya yang meninggi membuat Sinta terkejut. Cika langsung menyesal. Ia mengusap pipi adiknya dengan lembut. "Maaf, Sayang. Kakak tidak bermaksud membentakmu."
Sinta menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. "Kakak capek ya karena harus mengurus Sinta, kuliah, dan bekerja. Sinta beban ya, Kak?"
Cika menggeleng kuat. "Dengarkan Kakak." Ia menggenggam kedua tangan Sinta. "Kakak nggak capek. Kamu bukan beban. Kamu adalah alasan Kakak tetap kuat sampai sekarang."
Air mata Sinta ikut jatuh. "Tapi Sinta takut, Kak."
Jantung Cika seperti berhenti sesaat. "Takut apa?"
Sinta menunduk. "Takut meninggalkan Kakak sendirian."
Kalimat itu membuat Cika benar-benar hancur. Ia langsung memeluk tubuh kecil adiknya dengan hati-hati, takut menyakitinya. "Jangan bicara seperti itu. Sinta akan sembuh."
"Tapi Dokter bilang Sinta harus menjalani pengobatan yang berat."
"Seberat apa pun, Kakak akan menemani kamu."
"Benarkah?"
Cika menutup mata. Air matanya terus mengalir. Di dalam hati, ia mengingat kembali perkataan Robinson.
"Saya akan menanggung seluruh biaya pengobatan Sinta."
Tangannya mengepal. Harga dirinya. Masa depannya. Kebahagiaannya.
Semua tiba-tiba terasa kecil dibandingkan nyawa adik yang berada dalam pelukannya saat ini. Cika mengusap rambut Sinta yang semakin tipis. "Percayalah pada Kakak."
Sinta tersenyum kecil. "Kakak akan membuat Sinta sembuh?"
Cika menahan isakannya. "Ya." Sebuah jawaban yang baru saja ia ucapkan menjadi janji terbesar dalam hidupnya.
***
Sebuah mobil mewah memasuki halaman kediaman keluarga Alexander. Gerbang besi yang menjulang tinggi terbuka perlahan, memperlihatkan rumah megah dengan arsitektur elegan yang menjadi simbol kekayaan dan kejayaan keluarga tersebut.
Robinson turun dari mobilnya. Wajahnya tampak lelah setelah melewati hari yang panjang. Namun, bukan urusan bisnis yang memenuhi pikirannya saat ini, melainkan tawaran yang baru saja ia ajukan kepada Cika.
Ia tahu keputusan itu akan mengubah banyak hal. Terutama hubungannya dengan putri satu-satunya.
Robinson menghela napas pelan sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.
Di ruang televisi yang luas dan nyaman, ia melihat Rebeca sedang duduk di sofa sambil menatap layar tablet di tangannya. Gadis itu tampak serius, sesekali menggerakkan jarinya untuk menggulir sesuatu di layar. "Beca," panggil Robinson.
Gadis itu menoleh sekilas. "Papa sudah pulang."
"Iya." Robinson duduk di sofa yang berhadapan dengan putrinya. Untuk sesaat ia hanya menatap Rebeca. Ada rasa bersalah yang selalu muncul setiap kali melihat wajah putrinya itu.
Sejak kecil, ia memang terlalu sibuk membangun kerajaan bisnisnya. Setelah perceraian dengan ibunya Rebeca, ia semakin menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ia memberikan semua fasilitas terbaik untuk putrinya, tetapi lupa memberikan satu hal yang tidak bisa dibeli dengan uang: waktu dan perhatian. "Bagaimana kuliahmu hari ini?"
Pertanyaan sederhana itu justru membuat Rebeca berhenti memainkan tabletnya. Ia menatap ayahnya dengan tatapan heran, lalu tersenyum tipis penuh sindiran. "Papa tumben tanya soal kuliahku." Robinson terdiam. "Biasanya juga Papa lebih sibuk dengan pekerjaan daripada mengurus aku."
Kalimat itu terdengar ketus, tetapi menyimpan luka yang selama ini dipendam Rebeca. "Beca, Papa hanya ingin tahu keadaanmu."
"Benarkah?" Gadis itu berdiri sambil membawa tabletnya. "Kalau memang peduli, seharusnya Papa sudah bertanya dari dulu, bukan baru sekarang."
"Rebeca-" Namun gadis itu tidak memberi kesempatan Robinson untuk melanjutkan.
"Aku capek. Mau ke kamar." Tanpa menunggu jawaban, Rebeca berjalan meninggalkan ruang televisi dan menaiki tangga menuju kamarnya.
Robinson hanya diam memandangi punggung putrinya yang semakin menjauh. Untuk sesaat, pria yang ditakuti banyak orang di dunia bisnis itu terlihat begitu rapuh. Ia menundukkan kepala dan mengusap wajahnya pelan. "Maafkan Papa, Beca," bisiknya lirih.
Ia tahu Rebeca tumbuh menjadi gadis yang keras kepala, angkuh, dan mudah meremehkan orang lain. Namun di balik semua itu, ada seorang anak yang merasa ditinggalkan oleh ayahnya sendiri. Dan kini, ia akan membuat keputusan yang mungkin membuat putrinya semakin membencinya.
Menikahi Cika. Musuh terbesar Rebeca di kampus.
Robinson menatap tangga yang baru saja dilalui putrinya. "Semoga Rebeca tidak marah saat nanti dia tahu kalau aku akan menikah lagi. Semoga dia tidak salah paham. Aku melakukan ini demi dia juga. Supaya dia bisa belajar banyak hal dari Cika. Terutama tentang perjuangan hidup yang tak mudah. Karena jika suatu saat nanti aku tiada, dia bisa jadi anak yang kuat dan mandiri. Dan yang paling penting ... dia bisa menghormati dan menghargai orang lain."