NovelToon NovelToon
Panggil Aku , Ibu !!!

Panggil Aku , Ibu !!!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Ibu Tiri
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Rapat dengan jajaran direksi akhirnya selesai. Samuel melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan langkah santai, lalu meletakkan berkas-berkas di atas meja. Ia baru saja menyalakan kembali ponselnya yang tadi dimatikan selama pertemuan berlangsung. Seketika layar menyala, muncul notifikasi beberapa panggilan tak terjawab dari nama yang sangat ia kenal: Samantha.

Samuel segera menekan tombol panggil balik. Tak lama, suara sambungan mulai berbunyi, dan diangkat dengan cepat.

"Halo, Sam?" sapa Samuel lembut begitu sambungan tersambung.

"Ya, aku di sini," jawab suara Samantha dari seberang, terdengar sedikit tergesa namun tetap lembut. "Maaf ya tadi aku tidak bisa mengangkat teleponmu. Aku sedang dalam perjalanan , sebentar lagi sampai ke sekolah untuk menjemput keponakanku, Aisyah."

"Baiklah, syukurlah kirain ada hal penting ," jawab Samuel tenang. "Aku baru saja selesai rapat dan melihat ada panggilan darimu. Makanya aku langsung menelepon kamu "

Namun Samantha terdengar sungkan dan terus meminta maaf. "Sekali lagi maafkan aku ya, Sam. Sebenarnya aku sangat menyesal sekali tidak bisa menepati janji kita untuk makan siang bersama tadi. Aku tadi ada urusan mendadak yang sangat penting dan harus aku selesaikan secepatnya, sampai aku lupa sempat memberitahumu duluan. Aku benar-benar merasa bersalah sudah membuatmu menunggu."

Samuel tersenyum tipis mendengar nada penyesalan yang tulus dari wanita itu. Hatinya yang tadinya sempat bertanya-tanya kini sepenuhnya tenang.

"Jangan merasa bersalah begitu, Sam," ucapnya lembut menenangkan. "Aku mengerti betul kalau ada hal yang harus didahulukan. Keadaan tidak selalu bisa kita rencanakan sempurna. Aku sama sekali tidak keberatan dan tidak marah kok."

"Tapi aku berjanji akan menggantinya pasti," janji Samantha dengan tegas. "Nanti kalau waktunya sudah pas, aku yang akan mengajakmu makan siang, atau makan malam, di mana pun kamu mau. Aku janji tidak akan batal lagi."

Mendengar itu, senyum di wajah Samuel semakin melebar. Rasa lega menyelimuti hatinya.

"Baiklah," jawabnya hangat. "Aku akan menunggu waktu itu tiba dengan senang hati. Sampai kapan pun aku siap menunggumu, Sam."

Samantha tertawa kecil di ujung telepon, suaranya terdengar lebih ceria. "Terima kasih ya sudah begitu pengertian. Sekarang aku harus masuk dulu menjemput Aisyah. Nanti kita bicara lagi ya."

"Hati-hati, salam untuk Aisyah," pamit Samuel sebelum memutus sambungan.

Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu bersandar di kursi dengan perasaan damai. Kekhawatiran yang sempat muncul kini hilang sepenuhnya, berganti harapan yang manis untuk pertemuan di masa depan.

Samantha memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang sekolah dasar. Ia turun dan berdiri menunggu di samping pintu penumpang, membiarkan angin sore menerpa wajahnya sambil memandangi kerumunan murid yang mulai berhamburan keluar dari gerbang. Suara riuh tawa dan obrolan anak-anak memenuhi udara, menandakan jam sekolah telah usai.

Matanya bergerak menyapu satu per satu wajah anak yang lewat, mencari sosok keponakannya, Aisyah. Namun tiba-tiba langkah matanya terhenti. Di kejauhan, terlihat seorang anak laki-laki yang berjalan dengan sikap angkuh, menolak menoleh ke siapa pun dan menyenggol bahu teman-temannya yang berpapasan dengannya.

Samantha menatapnya lekat-lekat, matanya membelalak tak percaya. Wajah anak itu... sangat mirip dengan Samuel. Bentuk matanya, garis rahangnya, hingga potongan rambutnya semuanya persis seperti Samuel di usia kecil. Ia ingat betul, ini adalah anak yang dulu pernah ia tegur dengan tegas saat melihatnya membully teman sekelasnya di halaman sekolah.

"Tidak mungkin..." batin Samantha tak habis pikir. "Kalau benar dia anak Samuel, mengapa kelakuannya begitu buruk dan kasar? Padahal Samuel orangnya pendiam, sopan, dan selalu berbicara dengan lembut. Mengapa bisa begitu berbeda jauh?"

Sementara Samantha masih terdiam dengan penuh kebingungan, anak laki-laki bernama Bima itu semakin mendekat. Ia berhenti sejenak tepat di hadapan Samantha, menatapnya dengan pandangan mata yang tajam dan sengit. Ia masih ingat betul wajah wanita yang pernah menegurnya dulu. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan ramah. Ia hanya mendengus pelan, lalu dengan sengaja berjalan melewati samping Samantha seolah wanita itu tidak ada.

Samantha hanya bisa terpaku di tempat, menatap punggung Bima yang menjauh. Rasa heran dan sedih bercampur aduk di hatinya.

Belum sempat ia menyusun pikiran, tiba-tiba sebuah tepukan lembut mendarat di punggungnya. Samantha tersentak kaget dan seketika menoleh ke belakang. Di sana berdiri sosok yang sangat ia kenal Samuel sendiri sudah berdiri di belakangnya, sedang menatap ke arah Bima yang menjauh dengan wajah yang sulit diartikan.

 Aisyah yang baru saja berlari menghampiri Samantha melihat wajah tantenya yang tampak pucat dan bengong. Ia langsung memegang tangan Samantha dengan cemas.

"Tante Sam? Kenapa sih? Tante melamun saja dari tadi. Ada apa yang terjadi?" tanyanya bertubi-tubi.

Samantha tersentak, menatap wajah polos keponakannya sejenak, namun ia belum sanggup menjawab pertanyaan itu. Ia hanya menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis berusaha menutupi kegelisahannya.

"Tidak ada apa-apa, sayang. Tante hanya sedikit terkejut saja. Ayo kita masuk ke mobil, keburu sore . Pasti jalanan macet ," ucapnya lembut sambil menuntun Aisyah masuk ke dalam kursi penumpang.

Samantha segera melajukan mobil meninggalkan area sekolah. Sepanjang jalan awalnya hening, namun rasa penasaran dan kekhawatiran di dadanya terus bertambah. Akhirnya ia memberanikan diri membuka suara.

"Aisyah... Tante tadi melihat anak laki-laki bernama Bima lewat. Kamu kenal dia kan?" tanyanya pelan.

Mendengar nama itu, wajah Aisyah langsung berubah menjadi tidak suka. Ia mengangguk mantap. "Kenal dong, Tante. Dia itu anak yang paling nakal di kelas . Suka sekali membully dan kasar sama teman-teman lain."

Samantha mengerutkan kening, hatinya semakin terasa berat. "Benarkah begitu? Katanya dia sering melakukan apa saja kalau ada teman yang berani melawan atau tidak mau menurut padanya?"

"Iya, Tante," jawab Aisyah dengan jujur. "Kalau ada yang berani menegur atau tidak mau menuruti kemauannya, dia pasti marah besar. Kadang dia menyembunyikan barang teman, kadang memukul, atau bahkan menyuruh teman-teman lain untuk tidak berteman lagi sama orang itu. Dia pikir dengan begitu semua orang akan takut dan mau menurut padanya."

Hati Samantha terasa seperti dicubit kuat. Ia menghela napas panjang, menatap jalanan di depannya dengan pandangan yang sayu.

"Kasihan sekali..." gumamnya pelan. "Padahal wajahnya sangat mirip dengan ayahnya. Mengapa bisa tumbuh menjadi anak yang begitu keras hatinya ya? Apa yang sebenarnya terjadi di rumahnya sampai dia berkelakuan seperti itu?"

Ia teringat kembali pada sosok Samuel yang tenang, sabar, dan selalu berbicara dengan lembut. Sangat sulit membayangkan bahwa anak dari pria sebaik Samuel bisa memiliki sifat yang begitu berlawanan. Samantha mulai berpikir mungkin ada luka yang belum sembuh, atau ada hal yang tidak diketahui orang lain yang membuat Bima bersikap kasar sebagai tameng dirinya sendiri.

"Semoga ada cara untuk membantunya berubah ya, Tante," timpal Aisyah polos.

Samantha tersenyum sedih sambil mengangguk. "Iya sayang... Semoga saja."

Di dalam hatinya kini tumbuh tekad baru. Ia ingin sekali mengetahui lebih dalam tentang apa yang dialami Bima, dan berharap suatu saat nanti anak itu bisa menemukan kebaikan di hatinya kembali.

 

Bersambung...

 

1
Anna Setyo
semangat up thor yg banyak👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!