NovelToon NovelToon
Sukses Setelah Kau Campakkan

Sukses Setelah Kau Campakkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Pengganti
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Fitri Wardani

"Ini bukan tentang pergi meninggalkanmu. Ini beasiswa, Alfa. Kesempatan sekali seumur hidup yang diberikan Ibu Amara untukku bekerja dan belajar di Paris. Hanya tiga tahun..."

"Tiga tahun?!" Alfa tertawa sumbang, langkah kakinya maju mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Zia bisa merasakan aura intimidasi yang pekat.

"Kamu menyebut tiga tahun itu hanya? Kamu mau meninggalkanku di sini sendirian, sementara kamu bersenang-senang di Paris?!"

Zia menatap wajah pria yang teramat dicintainya itu dengan pandangan kabur oleh air mata. Alfa selalu seperti ini. Posesif, mengekang, dan selalu ingin memegang kendali penuh atas hidupnya. Namun, selama ini Zia selalu mengalah. Bagi Zia yang sebatang kara, kekangan Alfa adalah wujud dari rasa sayang yang teramat dalam.

Tapi apakah kali ini Zia kembali mengalah? Atau dia akan mengikuti kata hatinya? Pergi mengejar cita - citanya dan meninggalkan Alfa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Wardani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunggu Telpon Rayyan

Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Pagi itu, sebuah truk kontainer besar berhenti tepat di depan bangunan toko dua lantai di kawasan Menteng. Barang-barang butik Zia yang dikirim langsung dari Singapura telah sampai dengan selamat.

Suasana di dalam calon butik baru itu seketika berubah menjadi sangat sibuk namun penuh dengan keriangan. Amara, dengan semangat yang tidak kalah dari anak muda, sudah bersiap mengenakan celemek kain khusus. Begitu pula dengan dua pengawal berbadan tegap utusan Rayyan, yang hari ini dengan sukarela menanggalkan jas formal mereka dan melipat lengan kemejanya hingga ke siku untuk membantu bongkar muat.

"Ayo, Pak Budi, Pak Joko, yang ini isinya manekin kaca, tolong pelan-pelan ya," seru Amara sambil mengomandoi barisan kardus besar yang mulai masuk ke dalam ruangan.

"Siap, Tante Amara! Ini otot kawat tulang besi, jadi aman!" sahut Budi, salah satu pengawal, sembari terkekeh pelan sambil mengangkat dua kardus besar sekaligus di kedua bahunya seolah benda itu seringan kapas.

Zia yang sedang menyusun barisan hanger baju di rak gantung hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka.

"Pak Budi, jangan dipaksakan begitu. Nanti kalau pinggangnya encok, Rayyan bisa memecatku karena membuat pengawal terbaiknya cedera,"

"Wah, kalau begitu saya harus minta bonus es krim sama Mbak Zia nanti," timpal Joko, pengawal lainnya, yang sedang sibuk merakit meja display tengah sambil bercanda.

Di tengah-tengah kesibukan orang dewasa, Sabrina tentu saja tidak mau ketinggalan. Bocah sembilan tahun itu membawa selembar besar stiker dinding bermotif bunga dan kupu-kupu yang sengaja dia beli untuk menghias sudut ruangan. Namun, karena tubuhnya yang mungil tidak bisa mencapai area dinding yang agak tinggi, dia mulai mengeluarkan jurus andalannya.

"Pak Joko! Pak Joko, Ina mau naik ke punggung Pak Joko, dong!" panggil Sabrina sambil menarik-narik ujung kaus sang pengawal.

Joko langsung menghentikan pekerjaannya dan berlutut dengan ramah.

"Siap, Tuan Putri. Silakan naik ke singgasana,"

Dengan tawa renyah yang melengking, Sabrina langsung melompat ke punggung tegap Joko, meminta digendong belakang. Sambil bergelayutan manja di punggung pengawal tegap itu, tangan mungil Sabrina dengan lihai menempelkan stiker kupu-kupu satu per satu ke dinding putih butik.

Joko pun dengan sabar berjalan menyusuri sisi dinding, mengikuti setiap arahan telunjuk kecil Sabrina yang sibuk memerintah ke kanan dan ke kiri seperti seorang mandor kecil.

"Nah, di situ Pak Joko! Agak ke atas sedikit... ya, hap! Selesai!" pekik Sabrina girang setelah berhasil menempelkan stiker kupu-kupu terakhir tepat di atas area kasir.

Amara yang melihat itu menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum hangat.

"Zia, lihat anakmu itu. Pengawal yang terkenal sangar di luar sana, sekarang malah jadi kendaraan pribadi buat menempel stiker,"

Zia ikut tersenyum, menyeka peluh di dahinya dengan perasaan lega yang teramat sangat. Di dalam ruangan yang sebentar lagi akan menjadi saksi awal perjuangan barunya di Jakarta ini, gema tawa dan candaan mereka terasa begitu menghidupkan suasana.

Sabrina duduk bersila di atas ranjang besarnya yang bernuansa merah muda. Kedua matanya sama sekali tidak berkedip, menatap lekat-lekat pada layar jam tangan pintar yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Bibir mungilnya mengerucut dalam, sementara jemari kanannya sesekali mengetuk-ngetuk kasur dengan tidak sabar.

"Sabrina, ayo turun dulu. Tante Amara sudah menyiapkan makan malam di bawah," panggil Zia yang baru saja melangkah masuk ke dalam kamar setelah mandi dan berganti pakaian santai.

Sabrina tidak bergeming. Dia hanya melirik mamanya sekilas lalu kembali menatap jam tangannya.

"Ina mau tunggu Papa telepon dulu, Ma. Kurang satu menit lagi jam tujuh malam,"

Zia berjalan mendekati ranjang, lalu duduk di tepi kasur sambil mengusap lembut pundak putrinya. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 18.59.

"Sayang, Papa mungkin sedang ada meeting di kantor pusat, atau mungkin butik di Orchard sedang sangat sibuk hari ini. Jadi, kalau Papa telat beberapa menit, Ina jangan marah, ya?"

"Tapi Papa kan sudah janji, Ma. Kalau Papa telat satu menit saja, hukuman es krim tiga tingkatnya berlaku. Papa belum ada mengabari Ina dari pagi hari ini, Ina kangen..."

Zia mengembuskan napas pelan, merasakan sedikit denyut rindu yang sama di dalam dadanya. Memang benar, sejak mereka mendarat di Jakarta kemarin, Rayyan hanya sempat mengirimkan pesan singkat untuk memastikan keselamatan mereka karena pria itu harus langsung memimpin rapat maraton dengan investor asing.

"Ya sudah, kalau begitu kita makan malam dulu di bawah. Nanti setelah makan, kita coba telepon Papa pakai hp Mama, bagaimana?" bujuk Zia lembut sembari memegang tangan Sabrina, bersiap mengajaknya berdiri.

Tepat saat Sabrina hendak menurunkan kakinya dari atas ranjang, sebuah getaran kuat mendadak muncul dari pergelangan tangan kirinya. Layar jam tangan pintar itu seketika menyala terang, menampilkan animasi telepon bergerak lengkap dengan tulisan nama yang membuat mata Sabrina langsung membelalak jenaka.

PAPA CALLING...

"Aaa! Papa telepon, Ma! Papa tidak telat!" pekik Sabrina dengan suara melengking penuh kegembiraan. Rasa kesal dan cemberutnya menguap dalam sekejap mata.

Dengan gerakan cepat, Sabrina langsung menekan tombol hijau di layar jamnya dan mendekatkan pergelangan tangannya ke depan wajah.

"Halo, Papa! Ina sudah tungguin dari tadi!"

Suara bariton Rayyan yang khas dan menenangkan langsung terdengar dari pengeras suara kecil di jam tersebut, diiringi suara kekehan pelan yang sangat familiar.

"Halo, Tuan Putri Papa. Maaf ya, Papa pasang alarm tepat jam tujuh kurang satu menit tadi supaya tidak kena hukuman es krim dari Ina. Bagaimana hari ini? Ina tidak nakal, kan?"

"Ina anak pintar, Papa! Hari ini Ina bantu Mama beresin butik baru kita!" lapor Sabrina dengan nada bangga yang berapi-api. Dia melirik Zia yang berdiri di sampingnya dengan senyuman lebar.

"Tadi Ina naik ke punggung Pak Joko untuk tempel stiker kupu-kupu di dinding tinggi. Seru banget!"

Di seberang saluran, Rayyan terdengar tertawa lepas mendengarnya.

"Wah, hebat sekali anak Papa. Tapi ingat, jangan merepotkan Pak Joko dan Pak Budi terlalu banyak, ya. Oh ya, Mama ada di dekatmu?"

"Ada, ini Mama di sebelah Ina," Sabrina langsung mengarahkan pergelangan tangannya ke arah Zia.

"Ma, Papa mau bicara,"

Zia mendekatkan wajahnya sedikit ke arah jam tangan Sabrina.

"Halo, Ray. Bagaimana pekerjaan di Singapura? Sudah selesai?"

"Belum sepenuhnya, sayang. Masih ada beberapa dokumen agensi yang harus kutandatangani besok pagi," jawab Rayyan, suaranya terdengar agak letih namun tetap sarat akan perhatian.

"Bagaimana kondisi butik baru? Apa barang-barang dari kontainer sudah ditata semua?"

Zia mengembuskan napas panjang secara dramatis, mencoba menggoda calon suaminya itu.

"Aduh, Kak... jangan ditanya lagi. Hari ini aku capek sekali beresin butik baru pilihan kamu  itu. Tempatnya besar sekali, barangnya banyak, dan aku harus menyusun ratusan hanger baju sampai lenganku rasanya mau patah,"

Mendengar keluhan manja dari Zia, Rayyan terdengar menghela napas hangat di seberang sana.

"Maaf ya, aku tidak bisa ada di sana untuk membantumu hari ini. Kalau begitu, sekarang coba angkat telepon dari ponselmu sendiri, Zia. Aku akan beralih ke video call agar aku bisa melihat wajah lelah calon istriku ini,"

Zia tersenyum geli.

"Baiklah, sebentar ya,"

Zia merogoh saku celananya, mengambil ponsel pribadinya yang beberapa detik kemudian langsung bergetar menampilkan panggilan video dari Rayyan. Zia menerima panggilan tersebut, dan seketika wajah tampan Rayyan yang masih mengenakan kemeja kerja tanpa dasi muncul di layar ponselnya. Latar belakangnya menunjukkan ruang kerja pribadi Rayyan di apartemen Singapuranya yang megah.

Sabrina langsung ikut merangsek maju, menempelkan wajahnya di samping pipi Zia agar bisa masuk ke dalam bingkai kamera ponsel.

"Papa! Lihat, kamar baru Ina sudah banyak gambar - gambarnya!"

"Iya, Papa bisa lihat. Bagus sekali kamarnya," Rayyan tersenyum sangat manis menatap kedua wanita yang teramat dicintainya itu melalui layar kaca. Pandangannya kemudian terkunci pada sepasang mata Zia.

"Kamu kelihatan pucat, Zia. Sudah makan malam?"

"Belum, ini baru mau turun ke bawah bersama Sabrina," jawab Zia tulus. Dia memandangi wajah Rayyan yang tampak memiliki gurat lelah di sekitar matanya.

"Kamu sendiri jangan lupa makan. Jangan terlalu memaksakan diri bekerja sampai larut malam,"

"Aku tahu, sayang. Mendengar suaramu dan melihat senyum Sabrina saja rasanya seluruh lelahku sudah hilang," gombal Rayyan dengan kedipan mata jenaka yang langsung membuat pipi Zia merona merah di depan anaknya.

"Ih, Papa mulai deh!" seru Sabrina sambil menutup kedua matanya dengan tangan, meski jemarinya sengaja direnggangkan untuk mengintip.

Zia buru-buru berdeham, mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum Rayyan bertindak lebih jauh.

"Oh ya, Ray. Aku mau mengingatkan sesuatu. Tadi siang, perwakilan dari panitia Jakarta Fashion Week mengirimkan email konfirmasi ke butik. Aku dapat undangan resmi untuk menghadiri fashion show pembukaan minggu depan,"

"Oh ya? Itu bagus sekali, Zia. Itu adalah kesempatan emas untuk memperkenalkan kembali brand eksklusifmu di kalangan sosialita dan selebritas Jakarta. Kamu harus datang,"

"Iya, Ray. Tapi aku maunya kamu ikut menemaniku datang ke acara itu," ujar Zia, menatap Rayyan dengan pandangan penuh harap.

"Aku tidak mau datang sendirian ke acara besar seperti itu di Jakarta,"

Rayyan memberikan senyuman.

"Tentu saja aku akan ikut menemanimu, Zia. Aku tidak akan membiarkan calon istriku berjalan sendirian di karpet merah. Hari Sabtu depan, aku akan terbang siang dari Singapura langsung ke Jakarta. Jadi begitu aku mendarat, kita bisa langsung bersiap-siap pergi bersama ke acara itu. Bagaimana?"

"Terima kasih banyak, Ray. Aku akan tunggu kamu di Jakarta," ucap Zia dengan senyuman paling manis yang dia miliki malam itu.

"Kalau begitu, sekarang Sabrina dan Mama turun ke bawah dulu ya untuk makan malam. Tante Amara pasti sudah menunggu,"* suruh Rayyan dengan nada suara yang lembut namun penuh perhatian.

"Papa juga mau mandi dan makan malam dulu di sini. Badan Papa sudah lengket sekali setelah seharian di kantor,"

"Yah, Papa... kok sudah mau disudahi teleponnya?" rengek Sabrina, kembali mengerucutkan bibirnya manja.

Rayyan tertawa kecil melihat ekspresi putrinya.

"Bukan disudahi, Sayang, tapi istirahat sebentar. Nanti setelah Sabrina selesai makan malam, dan Papa juga sudah selesai mandi, kita teleponan lagi pakai hp Mama sampai Sabrina mengantuk. Bagaimana? Adil, kan?"

Mendengar tawaran itu, wajah Sabrina langsung kembali cerah.

"Oke, Papa! Janji ya, nanti ditelepon lagi?"

"Janji, Tuan Putri Papa," jawab Rayyan mantap seraya memberikan kecupan jauh ke arah kamera.

"Sampai nanti, Sabrina. Sampai nanti, Zia,"

"Sampai nanti, Papa. Selamat makan malam," sahut Sabrina lembut sebelum akhirnya memutus sambungan video call tersebut.

1
Lisa
Sukses y utk rencananya Rayyan..
indah
next bun......seruuuu....ini bun....
yuni ati
Semakin menarik👍
yuni ati
Menarik/Good/
Lisa
Sukses y Zia di acara Paris Fashion Week nanti
Lisa
Aku mampir Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!