NovelToon NovelToon
Aku Tak Terima Dicurangi

Aku Tak Terima Dicurangi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul
Popularitas:238.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.

Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.

Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.

Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.

Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlahan diperlihatkan : 09

Gadis kecil berumur 10 tahun, kelas 4 SD, terkikik lalu terpingkal-pingkal kala mendengar suara kekehan nenek dan ibunya yang duduk di teras belakang.

Kartika merasa mendapatkan dukungan, hal biasa baginya melontarkan kata-kata yang sebenarnya salah, menyakiti perasaan orang lain.

Namun, para orang dewasa bukannya melarang malah membiarkan.

Helya sendiri lelah menegur, berakhir dia diceramahi panjang kali lebar, dengan dalih Kartika masih anak-anak.

Kala melihat netra sang tante membulat menatap tajam, ia berlari ke belakang, bersembunyi diantara ibu dan neneknya.

Helya tahan-tahan emosi mulai menumpuk. Sejak kepulangan bi Mirma, ketenangannya seolah terenggut, suasana hati mudah kacau berujung terprovokasi.

Siska berdiri, wajahnya tertunduk. Tidak berani ikut campur takut kena imbasnya dan malah memperkeruh keadaan.

Helyara melanjutkan langkah, lalu menarik kursi meja makan marmer.

Hidangan nasi goreng suwir Ayam tak lagi menggugah selera padahal harum bumbu tumis tercium pekat.

‘Setidaknya aku harus makan,’ batinnya menguatkan, tangan menyendok nasi goreng ke piring.

“Kamu sudah sarapan?” tanyanya ke Siska yang menuangkan air putih ke gelas.

“Belum, Nyonya. Nunggu lainnya pada makan dulu baru saya, biar sekalian beresin peralatan kotor,” jawabnya sambil menaruh gelas di samping piring Helyara.

“Duduklah di sana, temani saya makan.” Wajahnya terangkat dengan mata menunjuk kursi berjarak dua tempat kosong.

Siska tak langsung menurut, takut kalau salah dengar berakhir dianggap lancang.

“Jangan sungkan, derajat kita sama di hadapan Tuhan,” lanjutnya meyakinkan.

“Terima kasih, Nyonya.” Dia pun menarik sandaran kursi berbahan besi dipoles cat emas, lalu duduk.

Helya mulai menyantap menu sarapan pagi, ekor matanya melirik pria tengah membaca koran di ruangan khusus tak boleh diduduki, tetapi begitu berani bapak mertuanya memilih buta dan tuli.

Pada bagian kiri bangunan rumah, ada ruang terbuka berjendela luas dilengkapi sofa menyimpan sejuta kenangan.

Dahulu, satu set kursi kayu jati berikut mejanya, menjadi tempat bersantai sebuah keluarga masih lengkap. Pak Utomo, bu Ulya sering menghabiskan waktu disana sambil bercengkrama bersama buah hati mereka. Tertawa menyaksikan Tomi menjahili kakaknya yang sangat pendiam.

“Kenapa, Nyonya? Apa rasanya gak enak?” ia heran, tidak biasanya sang majikannya tak lahap.

“Enak, cuma lagi kurang enak badan saja,” ucap Helya. Ditelungkupkan sepasang sendok, lalu meneguk air putih.

“Siska, umurmu sudah 27 tahun, apa gak kepikiran menikah?” tanyanya sambil lalu dengan suara tenang.

Mendapatkan pertanyaan tiba-tiba, dan baru pertama kali serasa sedekat ini, tubuh Siska menegang, batinnya merasa heran.

“Ya ada, Nyonya. Tapi ngeri-ngeri sedap melihat banyaknya wanita disia-siakan oleh suami mereka,” ucapnya hati-hati.

“Menurutmu, seorang wanita apa harus pintar masak, bersih-bersih rumah supaya disayang suami dan mertua?” Helya melirik sebentar wanita yang mencoba mencerna pernyataan spontanitas.

“Jawab saja! Gak perlu takut saya kesindir atau merasa sedih,” imbuh Helya. Jari telunjuknya memainkan tetesan air di atas meja makan.

Siska pun mengangguk. “Menurut pandangan saya pribadi. Gak jadi soal wanita tidak mahir masak ataupun berbenah rumah. Kalau masih berdua sama suami, lebih irit beli menu matangan daripada masak sendiri, praktis juga.”

“Lalu tentang disayang mertua, ya tergantung orangnya juga, Nyonya. Kadang sebaik apapun kita, kalau dasarnya sedari awal sudah tidak disukai ya ada saja kurangnya, dan dicari kesalahannya,” katanya pelan.

“Ya, kamu benar.” Helya tersenyum tipis, memperhatikan pembantu yang sudah bekerja selama empat tahun lamanya.

Menurutnya, Siska tipikal wanita simpel baik secara penampilan maupun pemikiran. Gak neko-neko, bekerja sesuai porsi dan memang tugasnya — bersih-bersih rumah, sesekali masak apabila bi Mirma berhalangan.

“Saran saya, jangan dimasukkan ke dalam hati perkataan bu Ganira dan lainnya, Nyonya. Namanya orang tua apalagi berwatak keras seperti dia, ya seperti itulah.” Siska mengulas senyum seraya mengedikkan bahu.

Helya tertawa lirih. “Terkadang aku merasa kamu itu pintar, sayang banget putus sekolah dan memilih bekerja dengan sistem terkurung di rumah.”

“Ya seperti inilah kehidupan, Nya. Gak seindah dunia khayalan. Saya tetap bersyukur meskipun banyak keinginan belum semua terwujud,” suaranya terdengar pasrah.

“Sayang, kamu sudah bangun?”

Helya tidak menoleh ke belakang, telinganya mendengar derap kaki dan suara celoteh bayi.

Alan membungkuk, bayi dalam gendongannya menghentakkan kaki kegirangan.

Cup.

“Pagi cintaku. Maaf soal semalam, ya?” Kecupannya diulang dua kali.

“Pagi,” sahut Helya enggan memalingkan wajah, pun malas menanggapi permintaan maaf terdengar klise sekali. Ingin rasanya dia hapus bekas ciuman di pipi kiri.

“Om Alan udah pulang dari jalan-jalan pagi. Ayo kita berangkat ke puncak!”

Suara lengkingan Kartika membahana, dia berlari mendekat ke ruang makan. Menarik-narik ujung kaos pamannya sambil merengek.

“Om, buruan pergi, ayok! Aku mau duduk di mobil Fortuner, biar Mami sama Papi naik Avanza saja.”

“Kamu mau pergi dengan dua mobil sekaligus, Mas?” barulah Helya menatap suaminya, dan tanpa sengaja bertemu pandang dengan Rianti yang pagi ini terlihat cantik sekaligus seksi.

Rianti memakai dress terusan sedikit ketat, berkerah bulat berkerut terdapat sepasang tali yang sengaja ditarik sampai memperlihatkan belahan dada.

“Iya, Sayang. Hitung-hitung manasin mesin mobil,” jawab Alan enteng sekali.

“Terus aku dirumah gak ditinggali kendaraan?”

Tiba-tiba suasana gaduh berubah hening. Kartika terdiam, merasa suara tantenya tidak seperti biasa yang lemah lembut.

Siska berdiri, menarik tangan Kartika. Mau dibawa pergi dari sana.

Rianti juga mengambil Alam dari gendongan Alandi.

“Kamu memang perusak suasana, Helya!” Sapto melipat koran lalu membantingnya ke meja, gayanya sangat arogan.

“Saya hanya bertanya, Pa! Apa salahnya? Mbak Zanaya juga punya mobil, kenapa terus-terusan pake punyaku?” tak mau lagi cuma diam.

“Aku gak mau naik mobil bututnya Papi. Udah bau, ac nya gak dingin, terus jalannya kayak Siput,” sela gadis kecil enggan beranjak karena merasa aman lantaran kakeknya memarahi Helyara.

“Dimana sopan santunmu, Kartika? Kalau orang dewasa ngomong itu jangan ikut campur!” bentak Helya, masih duduk menyamping di kursi meja makan.

“Dia masih anak-anak! Harusnya yang dewasa ngalah. Dasar kurang waras kamu, Helya!” suara Ganira menggelegar, tidak terima cucunya dibentak.

“Helya, apa salahnya menyenangkan keluarga sendiri? Toh, kamu gak kemana-mana juga. Inget! Masih ada lima sketsa perhiasan harus segera diselesaikan biar sekalian diserahkan ke pengrajin,” Alan mengingatkan.

“La iya, pelit banget kamu Helya.” Zanaya ikut-ikutan memojokkan.

“Anggap saja apresiasi. Tanpa kami, toko Emas Utomo sudah bangkrut!” giliran Wandi bersuara.

Rahang Helyara mengetat, ia tandai wajah kedua orang yang berstatus karyawan di tokonya.

Satu lawan sekian banyak orang, ditambah suaminya enggan membela. Helyara kehilangan hak mempertahankan miliknya.

“Siska, kamu ikut kami. Nanti gantian jagain Alamsyah biar Rianti bisa menikmati liburan!” titah Ganira, sesuka hati memerintahkan pembantu sang menantu.

Brakk!

“Kalian anggap apa aku ini, hah?!”

.

.

Bersambung.

1
🌷💚SITI.R💚🌷
arus listriky kurang kuat yara, jd sialan ga kejang² de
🌷💚SITI.R💚🌷
drakula atau vamvir nih yg dekap yara..klu sialan kan pasyiy pura² dia
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
nahh mulai ketahuan kan
nahh kan mau bilang apa coba
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wehhh jd pas covid itu ya tp di lampung sini aman kok
lyani
buat spt masira sekeluarga
mie_moet
sumpah aku pgn berbicara kasar buat siskmpling🤬 dan sialan🤬 ganiron🤬sapto🤬 esmosi tingkat pentit imi🤬🤬
Sumìni Manju Maja
jambaknya aku wakilin y helya
sherly
pesankan kamar VVIP ya Siska, sebab itu nanti ditempati oleh salah satu dr kalian...dasar org gila dah dikasi pendidikan tinggi malah ilmunya dipakai buat nyakitin org... bisa kena pasal pidana nih Siska
Marlina Prasasty
🫣🫣🫣🤭🤭🤭
sherly
puas banget dah si helya balas si mokondo... hahahah good job
Teh Qurrotha
si Ganira. harus di kasih karma yang paling menderita
Teh Qurrotha
sebel deh si Sapto yang songong bin sombong
Teh Qurrotha
pokonya puasss,
dewi rofiqoh
Tak kirain yang krna injak pusakanya... Eh ternyata perut yang kena 🤔
Teh Qurrotha
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
sakta gak sadar lampu dh hijau akibat terpesona dg senyum helya 😀
Teh Qurrotha
bisa bersilat lidah dia, atau pura2 ngelindur🤣
Teh Qurrotha
apa kamu menggoda bapa mertuaku sis🤣
Tamia Akhildadanwidyan
babat habis si Siska helya,,,enak aja sok Sokan jadi nyonya rumah??coba ngaca deh,,,mau hidup enak kok yg instan
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻSENJA
hajar hel hajar 🤮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!