NovelToon NovelToon
Dua Kali Jatuh Cinta

Dua Kali Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: SAIDA VALE

Nadia mati mengenaskan akibat dikhianati. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan memindahkan jiwanya ke tubuh Chelsea Latief, gadis kaya raya yang sedang koma.

Terbangun sebagai Chelsea, Nadia tidak hanya harus mencari cara untuk menghancurkan orang-orang yang telah membunuhnya di masa lalu, tetapi ia juga harus bertahan hidup di rumah mewah yang penuh dengan konspirasi racun, sekaligus menghadapi Reynald—tunangan arogan yang tiba-tiba berbalik mengejar cintanya.

"Aku bukan Chelsea yang bisa kamu injak-injak lagi, Tuan Reynald."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAIDA VALE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Panggung Milik Sang Pemburu

Denting gelas sampanye dan tawa basa-basi para tamu elite kembali menyambut Nadia dan Reynald begitu mereka melangkah masuk ke dalam aula utama Grand Hyatt. Namun, ada yang berbeda dari atmosfer sebelum mereka pergi ke ruang bawah tanah tadi. Kini, genggaman tangan Reynald di jemari Nadia terasa jauh lebih protektif dan posesif, sebuah sinyal tak terbaca yang dikirimkan sang CEO kepada siapa pun yang berani mengusik tunangannya.

Dari sudut ruangan, Nadia bisa melihat Paman Hendra sedang mengobrol dengan beberapa investor, sesekali matanya bergerak gelisah menyisir ruangan. Di dekat meja VIP lainnya, Baskoro tampak sedang meneguk minumannya dengan tergesa-gesa, sementara Elena berulang kali membetulkan riasan wajahnya yang mulai luntur akibat rasa cemas.

Umpan psikologis yang dijatuhkan Nadia di awal acara tadi terbukti bekerja dengan sangat efektif. Mereka semua sedang digerogoti oleh rasa bersalah dan ketakutan.

"Tuan Reynald! Nona Chelsea!"

Sebuah suara serak menyapa mereka. Seorang pria paruh baya bertubuh tinggi dengan rambut yang mulai memutih melangkah mendekat. Dialah Tuan Malik, salah satu pemegang saham minoritas terbesar di perusahaan keluarga Latief yang selama ini selalu berseberangan dengan kebijakan korup Paman Hendra.

"Tuan Malik, senang melihat Anda sehat," sapa Nadia dengan senyuman anggun dan jabat tangan yang mantap.

Tuan Malik tampak sedikit terkejut melihat ketenangan dan wibawa Chelsea yang baru. "Ah, Nona Chelsea... saya mendengar kabar burung tentang kesehatan Anda beberapa hari lalu. Melihat Anda berdiri di sini dengan begitu memukau bersama Tuan Reynald, saya rasa rumor itu benar-benar hanya bualan media."

"Rumor itu tidak sepenuhnya salah, Tuan Malik," sahut Nadia, sengaja mengeraskan volume suaranya agar terdengar oleh beberapa kolega bisnis di sekitar mereka, termasuk Paman Hendra yang mendadak menoleh ke arah mereka. "Saya memang sempat mencicipi 'sesuatu' yang membuat saya tertidur lama. Namun, Tuhan rupanya masih ingin saya kembali untuk membersihkan rumah saya dari hama-hama yang serakah."

Tuan Malik mengernyitkan alisnya, menangkap makna ganda dari kalimat tersebut. "Angin segar tampaknya sedang berembus di keluarga Latief. Apakah ini artinya Nona Muda kita sudah siap untuk mengambil alih hak suara penuh di rapat umum pemegang saham bulan depan?"

Sebelum Nadia sempat menjawab, Paman Hendra tiba-tiba memotong pembicaraan dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya tampak memerah menahan kecemasan yang ditutupi topeng senyuman ramah.

"Ah, Tuan Malik! Ternyata Anda di sini," ucap Hendra sembari tertawa hambar. Ia lalu menatap Nadia dengan pandangan penuh peringatan yang terselubung. "Chelsea, sayang... kamu baru saja sembuh. Jangan membicarakan urusan bisnis yang berat dengan Tuan Malik. Lebih baik kamu menikmati hidangan penutup di sana bersama Reynald."

Nadia tidak bergeming. Ia justru melepaskan gandengannya dari Reynald perlahan, lalu melangkah satu tapak mendekati pamannya.

"Kenapa, Paman? Apakah Paman takut saya membicarakan tentang audit keuangan yayasan keluarga yang baru saja saya tinjau tadi malam?" bisik Nadia dengan nada yang cukup jelas untuk didengar oleh Hendra dan Tuan Malik. "Atau... Paman takut saya membicarakan tentang transaksi mencurigakan dari akun bank luar negeri yang baru-baru ini terjadi?"

Wajah Hendra seketika berubah pucat pasi. Butiran keringat dingin mulai tampak di pelipisnya. Ia menatap Chelsea dengan tatapan tidak percaya sekaligus ngeri. Bagaimana mungkin keponakannya yang bodoh dan hanya tahu cara berbelanja pakaian mahal ini bisa mengetahui tentang audit keuangan dan akun samaran miliknya?

"C-Chelsea... apa yang kamu bicarakan? Kamu pasti masih berhalusinasi efek obat rumah sakit," gagap Hendra, mencoba membela diri di depan Tuan Malik yang kini mulai memandang Hendra dengan tatapan penuh selidik.

Reynald melangkah maju, menaruh tangan kokohnya di pinggang Nadia secara protektif. Aura intimidasinya seketika menekan Hendra hingga pria tambun itu mundur setengah langkah.

"Tuan Hendra, tunanganku adalah wanita yang sangat sehat dan rasional," ucap Reynald dengan suara berat yang menuntut kepatuhan. "Jika dia mengatakan ada yang tidak beres dengan keuangan keluarganya, maka tim hukum dari perusahaanku juga akan sangat senang untuk ikut membantu menyelidikinya secara resmi."

Mendengar keterlibatan tim hukum Reynald Group, Hendra merasa seolah-olah sebuah batu besar baru saja dijatuhkan di atas kepalanya. Jika Reynald sampai turun tangan, seluruh kecurangan, utang judi, bahkan konspirasi racunnya bersama Baskoro akan terbongkar dalam hitungan hari.

Di sisi lain aula, Baskoro yang sejak tadi mengawasi interaksi tersebut dari jauh, memutuskan untuk mendekat. Pria itu mencoba mempertahankan reputasinya sebagai CEO muda yang berwibawa di depan Reynald.

"Tuan Reynald, tampaknya ada sedikit ketegangan keluarga di sini," ucap Baskoro dengan senyum simir. Matanya melirik tajam ke arah Chelsea. "Nona Chelsea, sebagai rekan bisnis lama mendiang ayah Anda, saya hanya menyarankan agar Anda tidak terlalu mencurigai keluarga sendiri. Dunia bisnis luar sangat kejam untuk gadis muda seperti Anda."

Nadia menoleh, menatap Baskoro dengan senyuman miring yang begitu dingin hingga membuat bulu kuduk pria itu meremang. Jiwa Nadia Kirana di dalam tubuhnya berteriak ingin mencabik-cabik pria di hadapannya ini, namun logisnya menahan diri. Ini belum saatnya menjatuhkan hukuman mati pada Baskoro. Ia ingin menyiksanya secara perlahan terlebih dahulu.

"Terima kasih atas sarannya yang sangat... 'tulus', Tuan Baskoro," balas Nadia, menekankan kata tulus dengan nada sarkastik yang kental. "Dunia memang kejam, terutama bagi orang-orang yang merampas milik orang lain yang sudah mati. Namun, sejarah selalu membuktikan bahwa pencuri pada akhirnya akan selalu tertangkap, bukan? Saya yakin Baskoro Corp juga akan segera menghadapi badai yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya."

Baskoro mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Kata-kata Chelsea malam ini terlalu spesifik. Kalimat-kalimatnya seolah-olah dirancang untuk menusuk langsung ke dalam dosa terbesar yang ia sembunyikan bersama Elena.

"Kami permisi dulu, Tuan-tuan," ucap Reynald, memutus konfrontasi tersebut sebelum keadaan menjadi semakin liar. Ia menatap Hendra dan Baskoro bergantian dengan pandangan meremehkan. "Malam ini sudah cukup menghibur bagi kami."

Reynald menuntun Nadia berjalan meninggalkan aula utama menuju lobi hotel, meninggalkan Hendra yang masih gemetar ketakutan dan Baskoro yang menatap punggung mereka dengan tatapan penuh dendam sekaligus kecurigaan yang mendalam.

Begitu mereka berada di dalam mobil Bentley yang mulai berjalan membelah malam, Reynald melonggarkan dasinya sedikit. Ia menoleh ke arah Nadia yang sedang menatap map cokelat di pangkuannya.

"Kamu baru saja menabuh genderang perang secara terbuka di depan seluruh elite kota, Chelsea," ucap Reynald, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius. "Hendra dan Baskoro pasti akan bergerak lebih nekat setelah malam ini."

Nadia menoleh, matanya berkilat penuh tekad di bawah pendar lampu jalanan yang menembus kaca mobil. "Itulah yang saya inginkan, Tuan Reynald. Jika tikus-tikus itu tidak merasa terancam, mereka tidak akan pernah keluar dari sarangnya. Dan saat mereka keluar... saya akan memastikan perangkapnya sudah siap untuk meremukkan mereka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!