Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hana Mobil Baru
Tiga minggu berlalu, Bayu pun sudah kembali ke luar kota. Dan dia akan pulang dalam 3 bulan kedepan, dia mendapat teguran dari atasannya karena mengambil libur lebih dari batas yang ditentukan perusahaan sehingga dalam 3 bulan lagi dia baru bisa pulang.
Hana memutuskan untuk menjual motornya, dan membeli mobil baru. Sudah lama dia ingin membeli mobil, dan sepertinya saat ini sudah saatnya dia membeli mobil.
" Jangan lupa untuk mentransfer uang bulananku. Bukankah hari ini kamu sudah gajian? Ingat ya, 2 juta tidak boleh kurang. Jika mau dilebihi pun tidak masalah."Ucap Hana mengingatkan Dimas saat mereka sedang sarapan.
Hhhaahhhh
Dimas men de sah dengan kasar, gajinya yang cuma 5, 3 juta harus terpotong untuk Hana 2 juta. Belum untuk ibu dan Lastri serta untuk kebutuhan rumah.
" Satu juta saja ya, Han? Keuanganku sedang tidak bagus, mana sekarang kebutuhan rumah aku juga ikut menanggung. Belum biaya kuliah Lastri, aku harus menabung untuk membayar uang semesternya Lastri."Seru Dimas dengan suara memelas.
" Kuliah Lastri kan bukan hanya kamu yang menanggungnya. Tapi mas Bayu juga kan? Jadi tidak ada alasan lagi untuk menghindar."Ucap Hana lalu menggigit roti selai cokelatnya.
Heeemm
Dengan terpaksa Dimas mengeluarkan ponselnya dan mengirim uang ke rekening Hana sesuai dengan yang di minta Hana. Uang gaji Dimas sebenarnya sudah masuk dari kemarin sore. Tumben kantor mempercepat gajian karyawan.
Tinggg
Notifikasi masuk di ponsel Hana. Melihat ada laporan banking masuk, Hana pun senyum‑senyum sendiri.
" Buat ibu mana, Dim?."Tanya ibu Sundari tidak mau kalah dari Hana.
" Punya Lastri juga mana?."Tanya Lastri sambil menengadahkan tangannya.
Ceekkkk
Dimas berdercak kesal, jika urusan uang ibu dan adiknya itu pasti cepat. Dimas membuka dompetnya dan menarik beberapa lembar uang merah dari dompetnya.
" Ini untuk ibu dan ini untuk Lastri. Di awet‑awet sampai bulan depan, karena Dimas juga gajian masih lama. Untuk uang sayuran akan Dimas kasih setiap harinya, kalau langsung di pegang ibu, akan habis belum waktunya."Ucap Dimas dengan wajah kesal.
" Kok cuma 300 ribu dan punya Lastri juga cuma 200 ribu? Dulu jatah ibu 1,5 juta loh Dim, kenapa sekarang jadi 300 ribu. Dapat apa uang 300 ribu ini, Dimas."Seru ibu Sundari sambil memperlihatkan 3 lembar uang merah di tangannya.
" Dimas cuma bisa kasih segitu bu. Mas Bayu juga setiap bulannya akan kasih ibu juga. Gaji mas Bayu itu lebih besar dari gajiku bu. Sudahlah, aku mau berangkat kerja aku sudah telat."Seru Dimas lalu bangkit.
Motor Dimas sudah ada di halaman depan bersebelahan dengan motor Hana. Motor Hana memang lebih bagus dari motor Dimas, namun Hana membeli motor itu dengan uang hasil kerjanya sendiri. Sedangkan Dimas ? Motor itu di beli dengan cara kredit, saat dia dan Hana masih berpacaran dan itupun Hana ikut mengangsur cicilan motor nya selama 1 tahun. Jadi Hana juga ada hak dengan motor Dimas.
" Hana, katanya hari ini mau ada CEO baru loh menggantikan pak Bahtiar. Dengar‑dengar sih dia anaknya pak Bahtiar yang baru pulang dari luar negeri. Tadinya mau minggu kemarin dia diperkenalkan, tapi karena ada kendala ya jadinya hari ini."Ucap Vera memberitahu Hana.
Hana mendengarkan celotehan Vera sambil mengerjakan laporannya. Sedangkan Vera tidak tahu apa maksud dan tujuannya datang ke ruangan Hana di saat jam kerja.
" Vera, ini masih jam kerja loh. Lihat masih jam 10 pagi, kenapa kamu sudah main ke ruanganku. Apa kamu tidak ada pekerjaan? Mau ya kalau di pecat?."Seru Hana dengan mata tetap fokus pada layar laptopnya.
" Heheee.. aku datang ke ruanganku cuma mau memberitahu mu soal CEO baru kita. Tapi sudah jam 10 kok belum datang juga ya?."Seru Vera sambil menggaruk kepalanya.
" Mungkin saja beliau sudah datang, dan memang tidak ada perkenalan secara langsung karena ini jam kerja jadi beliau tidak mau mengganggu konsentrasi para karyawan. Sudah sana kamu kembali ke ruanganmu. Manejer HRD kok keluyuran, bagaimana mau jadi contoh untuk karyawan."Seru Hana mengusir Vera.
" Iya deh, iya aku balik ke ruanganku. Jangan lupa nanti siang makan siang bareng awas kalau sampai kamu pergi duluan."Ucap Vera yang hanya mendapat jawaban berupa anggukan dari Hana.
Tanpa terasa jam makan siang pun tiba, Hana dan Vera mencari makan siang di luar. Mereka pergi dengan mengendarai mobil Vera, tujuan mereka adalah tukang bakso yang ada di dekat kampus tempat mereka kuliah dulu.
" Neng Hana sama Neng Vera. Lama loh tidak mengunjungi warung baksonya mang Tohir." Seru bang Tohir penjual bakso yang sudah hafal dan akrab dengan mereka berdua dari zaman mereka kuliah.
" Iya bang, ada kali ya kalau 3 bulan. Maklum mang, pekerjaan yang membuat kita jarang makan di luar dan lebih memilih di kantin perusahaan. Makanya gerobak bang Tohir pindahin saja di dekat tempat kami kerja, nanti kami pasti akan beli terus."Ucap Vera sambil terkekeh.
" Waduh repot kalau pindah kesana, nanti cewek‑cewek cantik di sini pada bingung nyariiin bang Tohir. Haha hahaa."Ucap bang Tohir lalu tertawa dengan keras.
Dua mangkok bakso dan 2 gelas es jeruk sudah terhidang di hadapan Hana dan Vera. Keduanya menikmati bakso yang sudah lama menjadi langganannya itu. Hanya butuh waktu 20 menit, mereka sudah menyelesaikan makannya.
" Emmm, Ver. Antar aku ke showroom mobil yuk. Masih ada waktu 30 menit lagi jam istirahat kita. Lihat‑lihat dulu, kalau ada yang cocok prosesnya bisa besok saja."Ucap Hana saat mereka baru keluar dari warung bakso.
" Mau beli mobil? Untuk siapa? Kamu atau Dimas?."Vera justru bertanya dengan wajah tidak suka.
Bukan tanpa alasan, Vera hanya tidak mau jika Hana membeli mobil dan mobil itu untuk Dimas. Vera tahu betul bagaimana Dimas, meskipun saat pacaran dengan Hana dulu dia royal tapi untuk beli motor saja Uang DP dan cicilan masih dibantu oleh Hana, dan hal itu yang Vera tidak suka.
" Bukan untuk mas Dimas, tapi ini untuk diriku sendiri. Dan aku berencana ingin menjual motorku, jika motor itu tidak di jual pasti akan dipakai Lastri. Aku tidak akan pernah membiarkan mereka memakai barang‑barang ku."Seru Hana dengan yakin.
" Nah, ini baru Hana temanku yang aku kenal. Sepertinya jampi‑jampi Dimas sudah luntur. Hhaahaaa."Ucap Vera lalu tertawa dengan lebar.
Hana dan Vera sudah sampai di showroom yang tidak jauh dari kantor mereka bekerja. Hana mulai melihat‑lihat mobil yang bejejer di showroom, tidak lupa Hana mengambil foto beberapa mobil dan dia kirimkan fotonya kepada Farhan sang kakak.
" Kamu kirim foto‑foto itu ke siapa?."Tanya Vera dengan tatapan curiga.
" Kak Farhan, Vera. Pasti kamu nyangkanya mas Dimas kan? Sudah aku bilang mobil ini untuk diriku sendiri, bukan untuk mas Dimas si penghianat itu."Ucap Hana keceplosan.
Pasalnya dia belum menceritakan apapun tentang perselingkuhan Dimas dengan Sintia kepada Vera.
" Penghianat? Apa maksud kamu, Han?."Tanya Vera penuh selidik.
" Emm, itu lupakan saja. Bantu aku untuk memilih mobil yang cocok untukku. Kata kak Farhan yang putih ini bagus, bagaimana menurutmu?."Tanya Hana mengalihkan pembicaraan.
Dia belum siap bercerita tentang perselingkuhan Dimas, suatu hari nanti pasti dia akan menceritakannya kepada Vera. Akan tetapi tidak untuk saat ini.
Iya ini bagus, ambil saja yang ini."Jawab Vera setuju dengan pilihan kakaknya Hana.
Vera tidak akan memaksa Hana untuk bercerita, dia tahu bagaimana Hana. Saat ini Hana memang sedang tidak mau bercerita, jadi Vera memaklumi keputusan Hana.