Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.
Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.
Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
“Vera, aku menemukan video itu!” seru Ucup sambil memutar layar laptop ke arah Vera.
“Benarkah, Cup?” tanya Vera tak percaya.
“Benar, mana mungkin aku berbohong. Ayo kita tonton dulu isinya,” jawab Ucup. Keduanya pun menyimak dengan saksama setiap adegan dalam video itu.
Tampak sebuah mobil mewah melintas di jalan raya. Saat tiba di persimpangan, sebuah mobil Pajero melaju kencang dari arah samping dan menabrak mobil mewah itu dengan keras. Berdasarkan ciri-cirinya, mobil itu adalah Rolls-Royce rakitan tahun 2001—kendaraan antik, sangat langka, dan hanya dimiliki oleh kalangan pejabat tinggi atau konglomerat kaya raya.
Akibat tabrakan itu, mobil mewah itu ringsek parah dan terguling beberapa kali hingga pintunya terbuka. Terlihat seorang pria berusaha merangkak keluar, namun kondisinya tampak lemah dan tak berdaya. Tak lama kemudian, datang seorang pria lain mendekatinya. Ia berjongkok sejenak, lalu berdiri dan menendang dada pria itu hingga mulutnya mengeluarkan darah. Tidak jelas apa yang mereka bicarakan, namun sesaat setelah pria itu pergi, mobil tersebut tiba-tiba meledak hebat. Tubuh pria yang mengalami kecelakaan itu pun terbakar separuh, membuat Vera tak sanggup melanjutkan menontonnya.
“Betapa kejamnya… Tapi siapa mereka sebenarnya, Cup?” tanya Vera lirih.
“Ini adalah video kejadian yang menimpa Om Yuda. Yang menabrak mobil Om Yuda itu tidak lain adalah Pak Anton adik nya sendiri,” jelas Ucup.
“Kamu yakin dengan itu?”
“Aku mengetahuinya dari cerita almarhum kakekku dulu. Dan video ini sudah menjadi bukti nyata atas semuanya. Tapi agar lebih lengkap, kita harus mencari keberadaan mobil Pajero yang digunakan Anton untuk menabrak Om Yuda itu,” tambah Ucup.
“Benar juga katamu. Dan menurutku, kita harus segera memberitahu Kiara sekarang juga, biar ia melihat sendiri bukti ini,” sahut Vera. Ucup pun mengangguk setuju.
Vera segera mengirim pesan singkat kepada Kiara: Datang ke alamat ini [alamat lengkap]. Kamu harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kamu harus kuat, Kiara. Pesan itu pun terkirim.
.
.
.
Saat menerima pesan itu, Kiara diliputi rasa penasaran. Ia pun memutuskan untuk pergi bersama Bara, dan segera menghubungi pemuda itu lebih dulu.
“Halo, Kiara. Ada apa?” tanya Bara dari seberang telepon.
“Mas, boleh minta tolong? Tolong jemput aku di rumah, lalu antarkan ke alamat yang akan aku kirimkan sekarang,” pinta Kiara.
“Baiklah, aku segera berangkat menuju ke sana,” jawab Bara. Sambungan telepon pun terputus, dan Kiara segera bersiap-siap untuk pergi.
Tak lama kemudian, Bara sudah tiba di depan rumah Kiara. Gadis yang sudah menunggu itu segera melangkah mendekati mobil, masuk ke dalamnya, dan kendaraan itu pun melaju meninggalkan kediaman Anton.
Mobil Bara melaju dengan kecepatan sedang menuju alamat yang dikirim Vera. Sesampainya di tujuan, keduanya turun dan bergegas masuk ke tempat tinggal teman Vera itu.
Tok… tok… tok… Bara mengetuk pintu. Terdengar suara sahutan dari dalam, lalu pintu pun terbuka.
“Wah, kalian sudah sampai. Ayo masuk,” ajak Vera sambil mempersilakan mereka masuk.
Di ruangan itu, Vera tampak duduk sambil menggenggam kedua tangannya erat-erat, sesekali mengusap telapak tangannya sendiri karena rasa cemas yang menyelimuti.
“Vera, apa yang sebenarnya kalian temukan?” tanya Kiara langsung.
“Kamu harus menyiapkan hatimu dulu,” jawab Vera sambil menatap wajah Kiara lekat-lekat.
“Hei, apa sebenarnya bukti yang kalian maksud? Ceritakan juga padaku,” seru Bara, karena sejak tadi ia sama sekali belum diberi penjelasan apa pun.
“Nanti kamu akan tahu juga, Bro,” sahut Ucup sambil menepuk bahu Bara. Ia lalu menekan tombol putar untuk memutar ulang video itu di layar laptop.
Kiara menatap layar itu dengan pandangan kosong, lalu bertanya lirih tanpa mengalihkan pandangannya, “Siapa orang yang ada di dalam mobil itu?”
“Nanti kami jelaskan semuanya setelah kamu selesai menonton videonya,” jawab Vera tak kalah lirih.
Bara pun ikut menyaksikan adegan itu. Ia melihat jelas saat pria malang itu ditendang, ditinggalkan begitu saja, hingga akhirnya mobil itu terbakar hebat. Tubuh Bara merinding melihatnya, dan hatinya terasa perih membayangkan betapa sakit dan tak berdayanya pria itu saat kejadian berlangsung.
“Sungguh tega orang itu! Bagaimana bisa ia meninggalkan korban dalam keadaan seperti itu, bahkan sampai menendangnya pula?” gumam Bara dengan perasaan campur aduk.
“Baiklah, Kiara. Sekarang kamu sudah menonton videonya sampai selesai. Aku tahu kamu sangat penasaran, tapi…” Vera berhenti sejenak, ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya dan menyebutkan nama orang yang ada di dalam rekaman itu.
“Siapa mereka, Vera? Katakan saja padaku… Kumohon,” pinta Kiara memohon.
Melihat Vera tak sanggup berkata-kata, Ucup pun maju menjelaskan. “Video ini merekam kejadian kecelakaan yang menimpa Yuda Brata Anugerah—orang yang diduga kuat adalah ayah kandungmu, Kiara. Sebenarnya ia masih bisa diselamatkan, namun ada seseorang yang datang, menendang dadanya, lalu meninggalkannya begitu saja hingga mobil itu meledak dan terbakar. Apakah kamu ingin tahu siapa orang yang tega melakukan itu?”
Kiara mengangguk cepat penuh harap sekaligus rasa takut.
“Ia adalah adik kandung Yuda sendiri. Orang itu adalah Anthony Brata Anugerah—ia yang telah membunuh kakak kandungnya dengan tangannya sendiri.”
Ucapan Ucup itu membuat tubuh Kiara terasa lemas dan hampir terjatuh, namun dengan sigap Bara menangkap dan menopang tubuh gadis itu.
“Tidak… Tidak mungkin ini terjadi…” gumam Kiara tak percaya. Ia menatap kembali layar laptop yang masih menyala itu.
Tubuh Kiara bergetar hebat menahan rasa sakit yang mendalam. Air matanya pun tumpah ruah, ia menangis sejadi-jadinya seolah ingin meluapkan segala luka yang selama ini terpendam di dadanya.
Selama ini, ia diasuh dan dibesarkan oleh seorang pembunuh. Ia bahkan menganggap pria itu sebagai ayah kandungnya sendiri, hingga akhirnya kebenaran pahit itu terungkap jelas: Anton bukanlah ayah kandungnya, melainkan pamannya sendiri yang telah merampas segalanya.
“Kiara…” panggil Bara lembut. Ia segera memeluk tubuh Kiara erat-erat, dan gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Bara.
“Menangislah sepuasnya, Kiara. Luapkan semua rasa sakit dan beban yang selama ini menghimpit hatimu sampai kamu merasa lega,” bisik Bara menenangkan. Hati Bara pun turut terasa perih melihat penderitaan yang harus ditanggung Kiara saat mengetahui kenyataan itu.
Di sisi lain, Vera pun ikut menangis tak kuasa melihat sahabatnya menderita. Ucup segera merangkul bahu Vera untuk menenangkannya.
“Kalau sudah tenang dan siap, apa yang akan kamu lakukan sekarang, Kiara? Kami siap membantu apa saja yang kamu butuhkan,” tanya Ucup setelah suasana mulai mereda.
Kiara perlahan melepaskan pelukan dari Bara, menatap wajah Bara sejenak, lalu menoleh ke arah Ucup.
“Siapa kamu sebenarnya? Dan kenapa kamu bersedia membantuku?” tanya Kiara tegas namun penuh rasa ingin tahu.
“Aku punya dendam pribadi terhadap Pak Anton. Karena ulahnya, kakekku diberhentikan secara paksa dari jabatannya sebagai kepala kepolisian. Penderitaan kami tidak berhenti sampai di situ saja. Ia terus meneror dan mengancam keselamatan kami sekeluarga, hingga akhirnya kakek dan ayahku meninggal dunia,” jawab Ucup dengan nada tegas dan penuh amarah yang tertahan. Di sampingnya, Vera menatap Ucup sambil mengusap dadanya perlahan untuk menenangkan.
“Mereka memang benar-benar kejam. Mereka menyalahgunakan kekuasaan yang bukan haknya untuk menakut-nakuti dan menindas orang lain. Mereka menggunakan uang dan kekayaan untuk menutupi segala kejahatan yang telah mereka lakukan,” ucap Kiara dengan suara yang masih serak karena habis menangis. “Baiklah, kalau begitu… mari kita bekerja sama untuk mengusut tuntas semua kejahatan mereka.”
Kiara mengulurkan tangannya, dan Ucup segera menyambut uluran tangan itu untuk bersalaman.
Keduanya kini memiliki tujuan yang sama: membalas kejahatan dan membuat musuh-musuh mereka hancur berkeping-keping, hingga tak ada lagi jejak kejahatan yang tersisa.
Bersambung