Lin Ye terbatuk memuntahkan darah hitam dan terbangun di tanah pemakaman Sekte Pedang Surgawi.
Dantiannya telah hancur lebur, menjadikannya tumpukan sampah yang selalu dihina oleh para kultivator lain.
Angin malam yang dingin berhembus membawa aroma dupa busuk dan aura kematian yang sangat pekat di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota Angin Merah
Sayap kabut hitam yang membentang lebar di punggung Lin Ye membelah lautan awan fajar dengan kecepatan yang jauh melampaui pandangan mata telanjang manusia biasa.
Setiap kepakan sayap bayangan raksasa itu meninggalkan jejak energi kematian yang sangat pekat di udara.
Jejak energi itu membekukan butiran embun pagi menjadi kristal es berwarna hitam kelam yang perlahan berjatuhan menuju bumi bagaikan hujan abu dari neraka.
Sinar matahari pagi yang seharusnya membawa kehangatan sama sekali tidak mampu menembus selubung aura Yin purba yang membungkus rapat tubuh pemuda pucat tersebut.
Lin Ye terbang melintasi ribuan mil pegunungan dan lembah terjal hanya dalam waktu beberapa jam saja tanpa merasakan sedikit pun kelelahan pada fisik maupun energi spiritualnya.
Inti Yin Sempurna di dalam dantiannya terus berputar dengan ritme yang sangat konstan dan mendominasi.
Benda hitam seukuran kepalan tangan bayi itu memancarkan kekuatan yang terus menerus menyuplai energi murni ke seluruh jaringan meridian di tubuhnya.
Angin kencang yang menderu menerpa wajahnya sama sekali tidak mengganggu ketenangannya yang menyerupai keheningan sebuah makam kuno.
Pikirannya kini sedang sibuk menyortir jutaan informasi dan sumber daya yang baru saja ia jarah habis-habisan dari Paviliun Harta Karun Sekte Pedang Surgawi.
Layar panel biru transparan dari Sistem Pengendali Hantu berkedip pelan di sudut pandangannya, menampilkan daftar panjang kekayaan yang kini sepenuhnya menjadi miliknya.
"Sistem melaporkan: Proses asimilasi dan inventarisasi seluruh sumber daya dari Sekte Pedang Surgawi telah selesai dilakukan dengan sempurna."
"Total aset yang diperoleh: Tiga juta keping batu spiritual tingkat rendah, seratus ribu batu spiritual tingkat menengah, dan lima ribu batu spiritual tingkat tinggi."
"Terdapat juga tiga ratus botol pil penyembuhan tingkat bumi, lima puluh buku manual seni bela diri berbagai elemen, dan puluhan senjata pusaka tingkat tinggi."
Lin Ye membaca deretan angka tersebut dengan ujung bibir yang melengkung membentuk senyuman sinis yang sangat dingin dan merendahkan.
"Sebuah sekte yang mengaku sebagai pilar keadilan ternyata menimbun kekayaan yang cukup untuk membiayai sebuah kekaisaran kecil selama seratus tahun," gumam Lin Ye dengan nada mengejek.
"Namun semua kekayaan duniawi itu kini hanya akan menjadi batu loncatan bagiku untuk menguasai hukum kematian di Benua Awan Ilahi ini."
Lin Ye menyadari bahwa meskipun kekayaan ini sangat besar, ia tidak bisa menggunakannya secara sembarangan jika tidak ingin menarik perhatian kekuatan raksasa lainnya.
Benua Awan Ilahi ini sangatlah luas dan dipenuhi oleh sekte-sekte kuno yang jauh lebih mengerikan dan kuno daripada Sekte Pedang Surgawi yang baru saja ia hancurkan.
Ada sekte-sekte yang memiliki kultivator di Alam Jiwa Baru Lahir, atau bahkan monster-monster tua yang telah mencapai Alam Transformasi Dewa yang tertidur di kedalaman benua.
Dengan kultivasinya yang baru mencapai puncak tahap awal Alam Pembentukan Inti, Lin Ye tahu bahwa bersikap terlalu arogan di tempat terbuka adalah sebuah tindakan yang sangat bodoh.
Kaisar yang cerdas tahu kapan waktunya untuk menyembunyikan taringnya dan kapan waktunya untuk merobek leher musuhnya tanpa ampun.
Ia memberikan perintah mental kepada sistem untuk mengaktifkan fitur penyamaran aura yang akan menyembunyikan kekuatan sejatinya dari pelacakan spiritual mana pun.
Seketika itu juga, aura kematian dan fluktuasi energi Inti Yin Sempurna di dalam tubuhnya langsung menyusut dan tersembunyi jauh di dalam lautan kesadarannya.
Tubuhnya kini hanya memancarkan fluktuasi energi spiritual yang sangat lemah, setara dengan seorang kultivator tahap ketiga Alam Pengumpulan Qi.
Ini adalah tingkat kultivasi yang sangat umum dan tidak akan menarik perhatian siapa pun, cocok untuk seorang pengembara miskin yang mencari peruntungan di dunia luar.
Lin Ye kemudian menarik kembali sayap kabut hitamnya ke dalam punggungnya, membiarkan gravitasi menarik tubuhnya turun menuju ke sebuah hamparan daratan yang luas.
Di kejauhan, di balik perbukitan tandus yang memerah karena kandungan bijih besi di dalam tanahnya, terlihat sebuah tembok kota raksasa yang menjulang tinggi.
Tembok kota itu terbuat dari susunan batu bata merah yang sangat kokoh, memanjang hingga belasan mil dan dijaga oleh ratusan prajurit bersenjata lengkap.
Itu adalah Kota Angin Merah, sebuah kota perdagangan netral yang sangat besar dan menjadi titik pertemuan berbagai macam kultivator dari seluruh penjuru benua.
Kota ini tidak dikuasai oleh satu sekte pun, melainkan dijalankan oleh sebuah aliansi pedagang raksasa yang menyewa ribuan tentara bayaran untuk menjaga keamanan.
Tempat seperti ini adalah lokasi yang paling sempurna bagi Lin Ye untuk mengumpulkan informasi terbaru, mencari bahan-bahan langka, dan merencanakan langkah pembantaiannya yang selanjutnya.
Lin Ye mendarat dengan sangat ringan di balik sebuah bukit kecil sekitar dua mil dari gerbang utama Kota Angin Merah.
Ia berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang berdebu, bergabung dengan kerumunan puluhan pedagang, pengawal karavan, dan kultivator pengembara yang sedang mengantre untuk masuk ke dalam kota.
Jubah hitam berlambang naga tulangnya telah ia simpan di dalam cincin penyimpanan dan diganti dengan jubah abu-abu kusam yang terlihat sangat biasa dan sedikit usang.
Wajah pucatnya yang sangat tampan ia tutupi sebagian dengan sebuah caping bambu yang lebar, membuatnya terlihat seperti seorang pemuda penyendiri yang tidak suka mencari masalah.
Suasana di depan gerbang utama sangatlah bising dan dipenuhi oleh teriakan para penjaga yang sedang memeriksa barang bawaan setiap pengunjung.
Aroma keringat kuda, debu jalanan, dan daging panggang dari kedai-kedai kecil di pinggir jalan bercampur menjadi satu di udara siang yang cukup terik tersebut.
Lin Ye melangkah dengan tenang, matanya yang tersembunyi di balik caping bambu terus mengamati setiap pergerakan dan tingkat kultivasi dari orang-orang di sekitarnya.
Sebagian besar dari mereka hanyalah manusia fana atau kultivator tingkat rendah, namun ada juga beberapa sosok yang memancarkan aura Alam Pembentukan Inti yang sedang menyamar.
"Berhenti di sana, bocah!" bentak seorang penjaga gerbang bertubuh gemuk dengan wajah yang dipenuhi oleh bekas luka sayatan pedang.
Penjaga itu menyilangkan tombak panjangnya tepat di depan dada Lin Ye, menghalangi langkah pemuda itu untuk masuk ke dalam kota.
"Setiap kultivator pengembara yang ingin masuk ke Kota Angin Merah harus membayar pajak keamanan sebesar lima keping batu spiritual tingkat rendah!" ucap penjaga itu dengan nada memeras.
Harga normal untuk masuk ke kota ini sebenarnya hanyalah satu keping batu spiritual, namun para penjaga sering kali memeras pendatang baru yang terlihat lemah dan sendirian.
Lin Ye sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kemarahan atau niat membunuh, ia hanya menatap penjaga gemuk itu dengan pandangan yang sangat kosong.
Bagi seekor naga, tidak ada gunanya membuang waktu untuk menginjak seekor semut yang menghalangi jalannya, ia hanya perlu memberikan apa yang semut itu minta agar ia segera pergi.
Lin Ye merogoh kantong kecil di balik jubah abu-abunya dan mengeluarkan lima keping batu spiritual tingkat rendah yang memancarkan cahaya redup.
Ia melemparkan lima keping batu itu ke telapak tangan penjaga gemuk tersebut dengan gerakan yang sangat santai dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Mata penjaga itu langsung berbinar serakah saat melihat batu-batu spiritual itu, ia segera memasukkannya ke dalam saku celananya dengan gerakan cepat.
"Bagus, kau adalah pendatang yang tahu aturan! Silakan masuk dan jangan membuat keributan di dalam wilayah hukum Aliansi Angin Merah!" seru penjaga itu sambil menyingkirkan tombaknya.
Lin Ye terus melangkah masuk melewati gerbang raksasa itu tanpa menoleh ke belakang sedikit pun, mengabaikan tatapan merendahkan dari para penjaga lainnya.
Begitu ia melangkah melewati lorong gerbang yang gelap dan tebal, pemandangan kota yang sangat megah dan sibuk langsung terhampar luas di depan matanya.
Jalanan utama kota terbuat dari batu pualam putih yang sangat bersih, diapit oleh ratusan bangunan bertingkat yang berfungsi sebagai toko senjata, balai lelang, dan paviliun obat.
Ribuan orang berlalu lalang dengan tergesa-gesa, kereta-kereta kuda spiritual yang ditarik oleh binatang buas eksotis melintas membawa barang-barang mewah dari berbagai daerah.
Suara tawar-menawar harga, dentingan logam dari pandai besi, dan tawa keras dari kedai minuman menciptakan hiruk-pikuk kehidupan duniawi yang sangat kental.
Lin Ye berjalan menyusuri jalanan utama tersebut, menghindari kereta-kereta kuda yang melintas tanpa harus menurunkan kecepatan langkahnya.
Tujuannya saat ini adalah mencari sebuah kedai minuman atau rumah teh yang besar, tempat di mana gosip dan berita terbaru dari seluruh benua selalu mengalir tanpa henti.
Setelah berjalan melewati beberapa blok bangunan, matanya tertuju pada sebuah bangunan kayu berlantai tiga yang memiliki plang bertuliskan Kedai Mawar Berdarah.
Kedai itu terlihat sangat ramai, aroma tuak spiritual kualitas tinggi dan daging binatang spiritual panggang menguar kuat dari dalam jendela-jendela kayunya yang terbuka.
Lin Ye melangkah masuk ke dalam kedai tersebut, langsung disambut oleh suara bising dari puluhan pria bersenjata yang sedang bernyanyi dan mabuk-mabukan.
Ia memilih sebuah meja kecil yang terletak di sudut paling gelap di lantai pertama, jauh dari keramaian dan cahaya lampu lampion yang terang.
Seorang pelayan wanita dengan pakaian yang sedikit terbuka segera menghampirinya sambil membawa senyuman yang sangat ramah dan terlatih.
"Tuan muda, apa yang ingin Anda pesan hari ini? Kami memiliki Tuak Tulang Naga terbaik di seluruh Kota Angin Merah ini!" tawar pelayan wanita itu dengan genit.
"Satu teko teh spiritual kualitas biasa dan sepiring daging asap," jawab Lin Ye dengan suara yang sangat dingin dan pelan, sama sekali tidak menatap wajah pelayan tersebut.
Pelayan wanita itu sedikit kecewa karena pelanggannya terlihat seperti orang miskin, namun ia tetap mengangguk dan segera pergi untuk mengambil pesanan.
Lin Ye duduk bersandar di kursi kayunya, menuangkan sedikit teh spiritual murahan ke dalam cangkir dan membiarkan uap panasnya mengepul di depan wajahnya.
Ia menutup matanya perlahan dan menyebarkan pendengaran spiritualnya untuk menangkap setiap percakapan yang terjadi di dalam kedai yang luas tersebut.
Hanya dalam waktu beberapa menit, ia langsung menemukan topik pembicaraan yang sedang menjadi bahan perbincangan terpanas di setiap meja.
"Hei, apakah kalian sudah mendengar kabar gila yang datang dari wilayah timur pagi ini?" tanya seorang pria berwajah codet sambil menggebrak mejanya.
"Kabar apa? Apakah ada penemuan makam kuno baru atau munculnya binatang buas tingkat surga?" timpal temannya yang sedang menenggak arak dari mangkuk besar.
Pria berwajah codet itu mencondongkan tubuhnya ke depan dan merendahkan suaranya, seolah-olah ia sedang membagikan sebuah rahasia yang sangat mematikan.
"Sekte Pedang Surgawi... salah satu sekte aliran lurus terbesar di wilayah timur... mereka telah dimusnahkan hingga rata dengan tanah tadi malam!"
Mendengar pernyataan tersebut, beberapa orang di meja sekitarnya langsung menyemburkan arak mereka karena terkejut dan tertawa meremehkan.
"Kau pasti sudah terlalu banyak minum tuak busuk! Bagaimana mungkin Sekte Pedang Surgawi yang memiliki Tetua Agung di puncak Alam Inti Emas bisa hancur?!" bantah seorang pria berjanggut lebat.
"Itu benar! Mereka memiliki Formasi Pedang Pembantai Surgawi yang legendaris, bahkan tiga sekte besar lainnya tidak berani mencari masalah dengan mereka!" sahut yang lain.
Pria berwajah codet itu segera mengeluarkan sebuah jimat penyampai pesan berwarna biru dan menepuknya dengan keras ke atas meja.
"Ini bukan gosip murahan! Temanku yang merupakan anggota serikat pedagang melintas di dekat wilayah mereka pagi tadi dan melihatnya dengan mata kepalanya sendiri!"
"Seluruh Puncak Awan Emas telah berubah menjadi lautan darah dan mayat tanpa kepala! Tidak ada satu pun bangunan yang utuh dan paviliun harta karun mereka telah dikuras habis tanpa sisa!"
Keheningan seketika menyelimuti area sekitar meja tersebut saat mereka melihat keseriusan di wajah pria berwajah codet itu dan menyadari bahwa ini bukanlah sebuah lelucon.
"Dewa Langit yang maha agung... jika itu benar, lalu kekuatan raksasa macam apa yang sanggup meratakan sekte sebesar itu hanya dalam waktu satu malam?" gumam pria berjanggut lebat dengan wajah pucat.
"Apakah ini perbuatan dari invasi Kekaisaran Darah Besi dari utara? Atau mungkin sekte iblis kuno telah bangkit kembali dari tidur panjang mereka?"
Pria berwajah codet itu menggelengkan kepalanya dengan ekspresi ketakutan yang sangat kentara hingga membuat tangannya sedikit bergetar.
"Temanku mengatakan bahwa tidak ada tanda-tanda pasukan besar yang menyerang, hanya ada sisa-sisa energi kematian purba yang sangat pekat dan membekukan tulang."
"Konon katanya, ribuan mayat di sana tidak dibunuh dengan senjata tajam biasa, melainkan jiwa mereka disedot hidup-hidup oleh lautan hantu bayangan yang tak terhitung jumlahnya."
"Orang-orang mulai menyebut sosok misterius yang melakukan pembantaian ini dengan julukan Penakluk Jiwa Kematian... seorang kaisar iblis yang berjalan di atas dunia fana."