Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua dunia
"Argh!"
"Ibu kenapa sih, hobi banget teriak-teriak," ucap Aldo sambil keluar dari kamar dengan raut wajah baru bangun tidur.
Matanya masih sedikit sayu, rambutnya juga tampak berantakan.
"Bagaimana Ibu nggak teriak? rumah berantakan," jawab Helena dengan nada kesal sambil melirik sekeliling rumah.
Aldo mengikuti arah pandang ibunya.
Ruang tamu terlihat tidak serapi biasanya.
Beberapa barang tidak pada tempatnya, dan suasana rumah terasa lebih kacau dari biasanya.
Biasanya, di jam seperti ini Alesha sudah merapikan semuanya.
Sarapan juga sudah tersedia di meja makan.
Namun Aldo buru-buru menggelengkan kepala pelan.
Ia mencoba menyingkirkan pikirannya tentang Alesha.
Wanita itu sudah memilih pergi dan bahkan berani meminta cerai darinya.
Ia tidak ingin lagi memikirkan hal yang sudah berlalu.
Sekarang pikirannya hanya tertuju pada Risa—kekasihnya.
"Ya sudah, nanti dibereskan saja."
"Nanti, nanti. Dari kemarin juga begitu."
Aldo hanya mengusap wajahnya malas.
Pagi itu kepalanya sudah terasa pening.
Belum lagi Helena yang terus mengomel sejak tadi.
"Terserah Ibu saja."
"Aldo!" bentak Helena.
"Apa lagi?"
"Kamu juga jangan cuma diam. Rumah ini bukan cuma tanggung jawab ibu."
Aldo berdecak pelan.
"Oke, nanti aku suruh orang bersih-bersih."
Helena akhirnya sedikit tenang mendengar itu.
Aldo lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah.
Baru saat itu ia menyadari sesuatu.
"Renata mana?"
Helena mengangkat bahu.
"Nggak tahu."
Aldo mengernyit.
"Nggak tahu gimana?"
"Ya nggak tahu. Beberapa hari ini dia jarang di rumah."
"Kok ibu santai saja?"
"Memangnya kenapa? Dia sudah besar."
Aldo menghela napas panjang.
Meski sering kesal dengan adiknya, tetap saja ia merasa ada yang aneh.
Sudah beberapa hari ini ia hampir tidak pernah melihat Renata.
Biasanya gadis itu selalu muncul di rumah, entah untuk makan, menonton televisi, atau sekadar mengganggu dirinya.
Namun sekarang rumah terasa lebih sepi.
"Aku telepon dia dulu."
Aldo segera mengambil ponselnya.
Namun panggilannya tidak dijawab.
"Ke mana sih anak itu?"
"Tuh kan, ibu juga bilang apa."
Aldo kembali mencoba menghubungi Renata.
Tetap tidak ada jawaban.
Rasa kesal mulai muncul di wajahnya.
"Kalau pulang nanti, suruh dia hubungi aku."
"Iya, iya."
Saat itu juga ponsel Aldo yang berada di tangannya tiba-tiba berdering.
Nama seseorang muncul di layar.
Risa.
Seketika raut wajah Aldo berubah.
Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis.
Ia segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Sayang..."
"Kamu di mana?" tanya Risa di ujung telepon.
"Di rumah, ada apa?"
"Aku kebetulan masak banyak. Aku mau bawain kamu makanan, sekalian ketemu ibu kamu. Boleh kan aku ke sana? Kamu sudah janji dengan aku juga."
Aldo terdiam sejenak.
Pandangan matanya beralih ke arah Helena yang sedang berdiri tidak jauh darinya.
Ia memberikan kode kecil dengan tatapannya, seolah memberi isyarat bahwa Risa akan datang.
Helena langsung mengangguk pelan, tanpa ragu.
Sudah sejak lama sebenarnya ia ingin bertemu dengan Risa secara langsung, hanya saja selalu ada Alesha yang membuat situasi menjadi rumit.
Kini, kesempatan itu akhirnya datang juga.
"Mas Aldo..."
Suara Risa kembali terdengar dari telepon.
Aldo segera kembali fokus.
"Eh, iya sayang. Boleh kok kamu ke sini. Ibu juga sudah ingin bertemu denganmu," balas Aldo dengan nada yang dibuat lebih hangat.
"Baiklah, tunggu aku ya, Mas."
Klik.
Sambungan telepon terputus.
Aldo menurunkan ponselnya lalu menatap Helena.
"Risa sebentar lagi akan sampai."
Helena yang sejak tadi sudah mengetahui hal itu langsung tersenyum puas.
"Akhirnya."
Ia segera berdiri dari duduknya dan menatap keadaan rumah yang masih berantakan.
"Cepat bereskan rumah ini."
Aldo mengernyit.
"Sekarang?"
"Iya, sekarang. Masa calon tamu datang sementara rumah seperti kapal pecah?"
Aldo menghela napas panjang.
"Bu, nanti saja panggil jasa bersih-bersihnya."
"Nggak bisa. Keburu Risa datang."
Helena segera mengambil beberapa pakaian yang berserakan.
"Kamu bersihkan ruang tamu."
"Aku?"
"Iya, kamu."
Aldo memijat pelipisnya.
Seumur hidupnya, mungkin baru kali ini ibunya menyuruhnya membersihkan rumah.
"Bu, Risa juga pasti nggak akan mempermasalahkan keadaan rumah."
"Tetap saja."
Helena terus membereskan barang-barang yang ada di sekitarnya.
"Ini pertama kalinya dia datang ke rumah. Ibu tidak mau memberi kesan buruk."
Aldo hanya bisa mengangguk pasrah.
Beberapa menit kemudian, ia mulai membereskan ruang tamu.
Meski terlihat malas, tangannya tetap bergerak memindahkan barang-barang yang berserakan.
Sementara itu, Helena tampak jauh lebih bersemangat dibanding beberapa hari terakhir.
Sesekali senyum tipis muncul di wajahnya.
"Ibu nggak mau memberi kesan buruk pada Risa. Gadis seperti dia harus disambut dengan baik."
Di mata Helena, Risa adalah menantu yang selama ini ia inginkan.
Cantik, berpendidikan, dan berasal dari keluarga terpandang.
Tidak seperti Alesha.
Sejak awal, Helena memang tidak pernah menginginkan gadis yatim piatu dari keluarga sederhana itu menjadi menantunya.
—
"Lea..."
Lea menoleh dari arah laptopnya, alisnya sedikit terangkat.
"Ada apa, Kak Kevin?"
"Di mana kakakmu?"
"Biasa, di ruang kerjanya," jawab Lea santai, lalu kembali fokus pada laptop di depannya tanpa banyak menoleh lagi.
Kevin mengangguk pelan.
Tanpa membuang waktu, ia segera melangkah menuju salah satu ruangan kerja yang ada di rumah itu.
Sebelum masuk, ia berhenti sejenak di depan pintu.
Ia lalu mengetuk pelan.
Tok. Tok.
Sebab ia tahu betul, pemilik ruangan itu sangat tidak menyukai orang yang masuk tanpa izin.
"Masuk!"
Suara berat dan tegas dari dalam membuat Kevin langsung membuka pintu.
Di dalam ruangan itu, terlihat seorang pria berdiri di depan jendela besar.
Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, sementara tatapannya tertuju ke luar.
Wajahnya tenang seperti biasa, sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya.
"Leon."
"Hmm?"
Leon hanya menjawab singkat tanpa menoleh sepenuhnya.
Kevin melangkah masuk lebih dalam.
"Aku sudah punya pengganti posisi almarhum Reno," ucap Kevin.
Ucapan itu membuat Leon akhirnya menoleh perlahan.
Wajahnya tetap datar, namun sorot matanya sedikit berubah menjadi lebih tajam.
"Apa kau sudah tes kemampuannya?"
Kevin menggeleng.
Mendengar itu, tatapan Leon langsung menajam.
"Bisa-bisanya kau mengambil keputusan sepihak, Kevin. Apa kau lupa posisi Reno tidak mudah dan sulit didapatkan," jelas Leon dengan nada tegas dan dingin.
Kevin hanya tersenyum tipis.
Sepertinya ia sudah menduga Leon akan bereaksi seperti itu.
"Tenang, Leon. Jangan berburuk sangka dulu padaku," ucap Kevin santai.
Alis Leon terangkat sedikit.
"Siapa yang menggantikan Reno?"
Kevin tidak langsung menjawab.
Kevin tidak langsung menjawab.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Nanti juga kau tahu."
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁