Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Gedung Pengadilan Negeri Chicago berdiri kokoh dengan pilar-pilar batu granit raksasa yang memancarkan kesan dingin.
Tempat ini telah saksi bisu bagi ribuan takdir yang hancur maupun yang bangkit kembali.
Namun pagi ini, atmosfer di sekitar koridor ruang sidang nomor lima terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya.
Keberadaan tiga mobil sedan hitam berlapis baja dengan logo elang emas khas keluarga Luther-Stone yang terparkir di area privat sudah cukup menjadi sinyal bahwa sebuah eksekusi legal kelas atas sedang berlangsung di dalam.
Willem Daendels duduk di kursi panjang koridor luar dengan tubuh yang bergetar.
Kemeja formalnya yang biasa licin kini tampak kusut di bagian lengan, mencerminkan bagaimana penuh siksaan batin yang ia lalui setelah rahasia menjijikkan Lydia terbongkar.
Di sampingnya, Tuan dan Nyonya Daendels terus-menerus memilin jemari mereka, menatap cemas ke arah pintu ganda ruang sidang yang masih tertutup rapat.
Mereka tampak laksana pesakitan yang sedang menunggu giliran menuju tiang gantungan.
"Ingat, Willem," bisik Tuan Daendels dengan suara yang serak dan penuh penekanan, matanya melirik waspada ke arah sekuriti internal pengadilan.
"Begitu Suzanne datang, kau harus merangkak jika perlu. Kau harus memohon agar dia mencabut tuntutan finansialnya. Jika firma hukum Stone tidak menarik laporan penggelapan dana itu hari ini, besok seluruh aset Daendels Group akan disita oleh bank publik!"
Willem tidak menjawab.
Tatapan matanya kosong, menatap lurus ke arah lantai marmer.
Di dalam kepalanya, rasa bersalah dan kehancuran ego bertarung dengan sengit.
Duk. Duk. Duk.
Suara ketukan langkah kaki yang teratur dan tegas seketika memecah keheningan koridor. Keluarga Daendels serentak menoleh ke arah sumber suara, dan di sanalah mereka—pusat dari seluruh gravitasi ruangan hari ini.
Aiden Hayes Stone berjalan paling depan dengan keanggunan seorang predator muda.
Seragam sekolahnya sudah diganti dengan setelan jas hitam custom-made yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya, memberikan kesan matang yang teramat dominan bagi pemuda berusia delapan belas tahun.
Di sebelah kanannya, Dr. Nora Amelie berjalan dengan langkah anggun namun sarat akan proteksi, sementara tangan kiri Aiden menggandeng erat jemari Suzanne Klatten.
Suzanne tampak begitu berbeda.
Tidak ada lagi gaun lusuh atau tatapan mata yang ketakutan seperti saat ia mendiami apartemen nomor 202.
Di balik blazer putih tulangnya, Suzanne memancarkan aura seorang wanita terhormat yang siap mengambil kembali seluruh hak dan harga dirinya yang sempat diinjak-injak.
Melihat sosok Suzanne, Willem seketika bangkit dari duduknya. Pria itu melangkah maju dengan terburu-buru, mengabaikan tatapan dingin dari empat pengawal berbadan kekar yang langsung bersiap mengepungnya.
"Suzanne... Suzanne, kumohon dengarkan aku!" seru Willem dengan suara parau, mencoba meraih ujung pakaian wanita yang masih berstatus istrinya itu.
"Maafkan aku, Suzanne... Aku telah salah, aku telah dibutakan oleh jalang itu! Kumohon kembalilah ke apartemen, kita bisa memperbaiki semuanya dari awal. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik!"
Mendengar kalimat sampah yang keluar dari mulut mantan suaminya, langkah kaki Suzanne terhenti.
Ia melepaskan genggaman tangan Aiden sejenak, lalu berbalik menatap lurus ke arah Willem.
Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak.
Tatapan mata Suzanne begitu datar, laksana menatap seonggok benda mati yang tidak berharga.
"Memperbaiki dari awal, Willem?" tanya Suzanne, nada suaranya terdengar begitu tenang namun tajam menghujam.
"Saat kau memotong biaya ICU ayahku seminggu lalu hanya untuk memuaskan egomu, di situlah hubungan kita sudah mati tanpa sisa. Dan hari ini, aku datang bukan untuk mendengar penyesalanmu yang terlambat, melainkan untuk mengambil kembali kebebasanku."
Aiden melangkah maju satu langkah besar, menggeser tubuhnya untuk mengurung Suzanne di balik punggung bidangnya.
Sepasang mata elang sang pewaris Stone berkilat berbahaya menatap Willem, memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat Willem refleks mundur satu langkah.
"Enyahlah dari hadapan wanitaku, Daendels," desis Aiden dengan suara bariton yang rendah namun sarat akan ancaman mutlak.
"Satu kata lagi yang keluar dari mulut kotormu, dan aku pastikan ayahmu tidak akan pernah melihat matahari Chicago dari luar sel penjara mulai besok pagi."
Tuan Daendels yang mendengar ancaman dari putra tunggal Luther-Stone itu langsung menarik mundur lengan Willem dengan panik.
"Willem, tutup mulutmu! Jangan memancing amarah Tuan Muda Stone!"
Ceklek.
Pintu ruang sidang utama akhirnya terbuka. Seorang petugas pengadilan berdiri di ambang pintu dan mengumumkan dengan suara lantang, "Sidang perceraian dan gugatan perkara sipil antara Suzanne Klatten melawan Willem Daendels akan segera dimulai. Para pihak dipersilakan memasuki ruangan."
... * * * ...
Di dalam ruang sidang, atmosfer terasa begitu sakral.
Hakim ketua yang merupakan seorang pria paruh baya berwajah tegas duduk di kursi peninggiannya, dikelilingi oleh jajaran panitera.
Di meja penggugat, Suzanne duduk didampingi oleh dua pengacara paling senior dari firma hukum dinasti Stone, sementara Aiden dan Dr. Nora mengambil posisi di kursi penonton baris paling depan, mengawasi jalannya persidangan dengan tatapan protektif.
Di seberang mereka, Willem duduk bersama pengacara Daendels Group yang wajahnya sudah pucat pasi karena tahu bahwa berkas pembelaan yang mereka miliki tidak lebih dari sekadar kertas kosong di hadapan bukti-bukti mutlak milik pihak Stone.
Persidangan berjalan dengan tempo yang teramat cepat dan sepihak.
Kepala tim pengacara Stone membacakan rentetan fakta hukum dengan artikulasi yang sempurna tanpa cela.
"Yang Mulia, kami membawa bukti rekaman CCTV, laporan transaksi perbankan, serta kesaksian medis yang menyatakan bahwa tergugat, Willem Daendels, secara sengaja dan sadar telah melakukan penelantaran fisik serta psikologis terhadap penggugat. Tidak hanya itu, tergugat juga terbukti menyalahgunakan dana jaminan kesehatan keluarga Klatten untuk kepentingan pribadi bersama pihak ketiga," ucap sang pengacara sambil menyerahkan sebuah flashdisk terenkripsi hitam kepada panitera.
Willem hanya bisa menundukkan kepala sedalam-dalamnya di atas meja sidang.
Setiap bukti yang dibacakan laksana paku yang memaku peti mati bagi masa depannya. Pembelaan dari pihak pengacaranya sendiri terdengar begitu lemah dan langsung dipatahkan oleh interupsi hukum yang telak dari pihak penggugat.
Setelah menimbang seluruh bukti otentik yang tidak bisa diganggu gugat selama hampir satu jam penuh, Hakim Ketua akhirnya mengetukkan palu sidangnya ke atas meja kayu dengan sentakan yang keras.
Tok! Tok! Tok!
"Berdasarkan seluruh bukti otentik dan fakta persidangan yang ada, pengadilan secara mutlak memutuskan untuk mengabulkan seluruh gugatan dari pihak penggugat. Pernikahan antara Willem Daendels dan Suzanne Klatten dinyatakan putus dan bercerai secara hukum mulai detik ini!"
Hakim Ketua menjeda kalimatnya sejenak, menatap tajam ke arah Willem.
"Pengadilan juga memerintahkan penyitaan atas seluruh aset pribadi tergugat yang terkait dengan dana penelantaran, serta melimpahkan berkas perkara pidana penggelapan dana kesehatan kepada pihak Kejaksaan Tinggi Chicago untuk ditindaklanjuti dalam waktu dua puluh empat jam."
Duaarrr!
Ketukan palu itu seolah menjadi suara dentuman guntur yang meruntuhkan sisa-sisa kejayaan nama Daendels.
Willem ambruk di kursinya dengan tatapan kosong, sementara ibunya langsung terisak histeris di baris belakang.
Mereka telah kalah total, hancur lebur tanpa sisa di bawah kaki dinasti Stone.
Namun di sisi lain meja sidang, Suzanne mengembuskan napas panjang yang teramat lega. Beban seberat gunung yang selama enam bulan ini merantai lehernya seketika menguap ke udara.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Suzanne merasakan dadanya terasa lapang. Nama 'Daendels' telah resmi tanggal dari belakang namanya.
Dia kembali menjadi Suzanne Klatten yang bebas dan berhak atas kebahagiaannya sendiri.
... * * * ...
Begitu sidang ditutup, Suzanne melangkah keluar dari meja penggugat.
Belum sempat ia melangkah jauh, tubuhnya sudah disambut oleh dekapan hangat dan posesif dari Aiden yang langsung merengkuhnya dari belakang.
Pemuda itu menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher Suzanne, menghirup aroma wangi tubuh wanitanya dengan rasa puas yang tak terhingga.
"Selamat, Nona Klatten... Kau sudah resmi membuang nama bajingan itu," bisik Aiden dengan suara parau yang teramat seksi di telinga Suzanne, membuat bulu kuduk wanita itu sedikit meremang karena geli.
Suzanne berbalik di dalam dekapan Aiden, melingkarkan kedua lengannya di leher kokoh pemuda itu dengan senyuman paling indah yang pernah Aiden lihat seumur hidupnya.
"Terima kasih, Aiden... Terima kasih karena telah membawaku keluar dari neraka itu."
Dr. Nora melangkah mendekati mereka berdua dengan senyuman penuh kemenangan yang terukir di wajah cantiknya.
"Nah, karena urusan pembersihan sampah ini sudah selesai, sekarang adalah waktunya untuk merencanakan hal yang jauh lebih penting."
Aiden merapatkan rangkulannya di pinggang Suzanne, menatap ibunya dengan binar mata yang kembali dipenuhi oleh kilat jahil nan mesum khasnya.
"Rencana apa, Mom? Rencana pernikahan kami atau rencana pembuatan cucu untuk Mommy?"
"Aiden!" pekik Suzanne dengan wajah yang seketika kembali memerah padam, mencubit pinggang kekar Aiden dengan gemas karena tidak habis pikir dengan tingkat ketidak-maluan pemuda ini di dalam gedung pengadilan resmi.
Nora hanya tertawa renyah, memukul dahi putranya dengan dompet mewahnya.
"Kau ini benar-benar tidak bisa menjaga bicaramu ya! Tentu saja rencana makan malam perayaan di mansion bersama Daddy. Daddy sudah menyiapkan koki terbaik dari Prancis untuk menyambut kembalinya kebebasan Suzanne malam ini."
"Terdengar bagus, Mom. Tapi setelah makan malam, aku akan langsung membawa Suzanne kembali ke apartemenku," sahut Aiden dengan seringai nakal yang tidak bisa disembunyikan.
Ia menunduk, mencium sekilas bibir manis Suzanne yang sedang merajuk sebelum wanita itu sempat memprotes lagi.
"Kita memiliki banyak waktu yang harus diganti untuk malam-malam yang terbuang kemarin, bukan begitu, Sayang?"
Suzanne hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang Aiden dengan pasrah, tahu bahwa setelah lepas dari jerat Willem, hidupnya kini akan dipenuhi oleh hari-hari yang penuh warna, romansa, dan tentu saja kelakuan mesum dari berondong Stone yang teramat mencintainya ini.
Kebebasan baru saja dimulai, dan di bawah sayap pelindung Aiden, Suzanne tahu bahwa masa depannya tidak akan pernah gelap lagi.
...****************...
Maaf ya Kak Reader 🙏🏻 author Hanya bisa Up satu bab saja Hari ini🫶🏻