Rizky Adhitya adalah seorang penulis novel miskin yang hidupnya penuh kegagalan karena karyanya selalu ditolak. Namun, takdir berubah saat ia terbangun di dalam tubuh seorang Antagonis kaya raya dengan nama yang sama di dunia novel buatannya sendiri. Alih-alih mengikuti alur asli yang menakdirkannya mati mengenaskan di tangan sang protagonis, Rama Wijaya, Rizky memilih untuk menikmati kehidupan mewahnya dengan santai.
Berbekal "System Menghamburkan Uang" dan Kartu Hitam Tanpa Batas, Rizky yang kini berkepribadian periang mulai melakukan aksi gila. Ia membeli perusahaan penerbitan hanya untuk mencetak novel-novel lamanya yang dulu ditolak, hingga menggunakan artefak legendaris seharga triliunan hanya sebagai pengganjal pintu kantor asistennya, Rafa Ariyanto.
Aksi "trolling" finansial ini menghancurkan reputasi Rama, sang hero munafik yang kehilangan semua panggungnya. Sementara itu, tunangannya, Aprillia Rahma, yang semula sangat membencinya, mulai jatuh hati pada sosok Rizky yang baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Futami Rizuryu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengganjal Pintu Seharga Satu Triliun
Pagi itu, sinar matahari Jakarta memantul di kaca-kaca gedung Adhitya Group, namun suasana di dalam lantai eksekutif jauh dari kata formal. Rizky Adhitya, sang mantan penulis novel miskin yang kini mendiami tubuh antagonis paling kaya, melangkah masuk ke lobi kantornya dengan langkah yang sangat periang. Ia tidak mengenakan jas hitam kaku yang biasa dikenakan pemilik tubuh aslinya; sebaliknya, ia mengenakan kemeja linen santai seharga puluhan juta yang kancingnya dibiarkan terbuka satu di bagian atas.
Di tangannya, ia menjinjing sebuah kotak kayu cendana yang diukir dengan sangat rumit. Di dalam kotak itu tersimpan Medali Keberuntungan Naga Emas, artefak legendaris yang semalam ia menangkan dalam pelelangan dengan harga satu triliun rupiah—sebuah angka yang sanggup membangun sepuluh rumah sakit mewah.
"Pagi, Rafa! Kamu terlihat segar hari ini, apakah bonus mobil kemarin membuat tidurmu lebih nyenyak?" sapa Rizky sambil bersiul kecil,.
Rafa Ariyanto, asisten pribadi sekaligus saksi hidup segala kegilaan bosnya, berdiri di depan meja kerjanya dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam satu malam. Matanya tertuju pada kotak kayu yang dibawa Rizky dengan sangat ceroboh, seolah-olah itu hanya berisi kotak makan siang dari warung pinggir jalan.
"Tuan Muda... itu... Medali Naga Emas?" suara Rafa bergetar. Ia tahu betul bahwa semalam Rizky telah menghancurkan panggung Rama Wijaya demi benda itu,. "Apakah tim pengamanan dari museum sudah datang untuk menjemputnya? Atau Anda ingin saya memasukkannya ke dalam brankas tingkat tinggi di bawah tanah?"
Rizky berhenti di depan pintu kantor Rafa yang sedang terbuka setengah. Ia memperhatikan pintu itu perlahan-lahan menutup sendiri karena tiupan angin dari pendingin ruangan pusat yang sangat kuat. Brak! Pintu itu tertutup rapat.
"Ah, ini dia masalahnya," gumam Rizky dengan nada humoris. "Rafa, pintu kantormu ini sangat menyebalkan. Setiap kali aku ingin masuk untuk mengganggumu, pintunya selalu menutup sendiri. Udara di dalam sini jadi terasa pengap, tidak sehat untuk sirkulasi ide-ide cemerlangku."
Rafa mengerutkan kening, bingung dengan arah pembicaraan Rizky. "Tuan Muda, saya bisa memanggil tukang bangunan untuk memperbaiki engselnya sekarang juga—"
"Tidak perlu repot-repot, Rafa! Aku sudah punya solusinya," Rizky menyeringai lebar. Dengan gerakan santai yang membuat jantung Rafa hampir berhenti berdetak, Rizky membuka kotak cendana itu, mengambil medali giok berlapis emas murni seharga satu triliun tersebut, dan menjatuhkannya begitu saja ke lantai tepat di depan pintu kantor Rafa.
Gubrak!
Medali yang telah berusia ribuan tahun dan diyakini membawa keberuntungan bagi bangsa itu kini tergeletak di atas karpet mahal, menahan pintu kantor agar tetap terbuka.
"Nah! Sempurna!" Rizky bertepuk tangan dengan puas. "Rafa, pintu ini sekarang akan selalu terbuka. Gunakan artefak seharga satu triliun ini untuk mengganjalnya agar udara segar bisa masuk. Beratnya pas, tidak akan bergeser meskipun ada badai sekalipun!".
Rafa mematung. Wajahnya berubah dari pucat menjadi biru, lalu menjadi putih kembali. Ia menatap benda yang seharusnya berada di museum nasional, yang kini dijadikan pengganjal pintu oleh bosnya yang sangat periang itu,.
"Tuan... Tuan Muda..." suara Rafa nyaris tidak terdengar. "Itu... satu triliun... artefak sejarah... peninggalan dinasti... pengganjal pintu?"
"Iya, kenapa? Bukankah itu fungsi yang sangat berguna?" Rizky tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Rafa yang tampak ingin pingsan di tempat. "Daripada disimpan di brankas gelap dan berdebu, lebih baik dia berguna untuk kenyamanan asisten kesayanganku. Jangan pelit begitu, Rafa! Anggap saja ini investasi untuk kesehatan paru-parumu."
[Ding! Misi 'Trolling Keberuntungan' Selesai!] [Inang telah menggunakan barang yang diinginkan musuh untuk fungsi yang sangat menghina!] [Tingkat Kepuasan System: Maksimal!] [Hadiah: Peningkatan Fisik Level 3 dan Skill: 'Aura Sultan Tak Tergoyahkan'!]
Kabar tentang "Pengganjal Pintu Satu Triliun" menyebar di media sosial seperti api yang disiram bensin. Seorang staf yang kebetulan lewat dan melihat artefak itu di bawah pintu kantor Rafa secara tidak sengaja memotretnya dan mengunggahnya ke internet. Dalam hitungan jam, tagar #SultanGanjalPintu menjadi trending nomor satu.
Reaksi publik beragam. Sebagian besar netizen tertawa terpingkal-pingkal melihat kekayaan absurd Rizky, namun para kolektor barang antik dan arkeolog dunia menangis histeris. Mereka menyebut tindakan Rizky sebagai "kejahatan terhadap peradaban", namun bagi Rizky, itu hanyalah hiburan pagi yang murah.
Di tempat lain, di sebuah apartemen yang jauh lebih sederhana, Rama Wijaya sedang menatap layar televisinya dengan mata yang merah karena kurang tidur dan amarah yang meluap. Ia melihat foto medali yang sangat ia inginkan—medali yang seharusnya menjadi kunci kesuksesannya—kini kotor terkena debu karpet kantor Rizky.
"Brengsek! Dia menghinaku!" teriak Rama sambil membanting ponselnya ke sofa. "Aku mempertaruhkan reputasiku dan meminjam dana investor untuk mendapatkan medali itu, dan dia hanya menjadikannya penahan pintu?!".
Kejatuhan reputasi Rama semakin parah. Para kolektor yang sebelumnya mendukung Rama kini menganggapnya tidak kompeten karena membiarkan artefak sepenting itu jatuh ke tangan orang "gila" seperti Rizky. Rama, sang hero yang munafik, kini terlihat seperti pecundang di mata publik,.
Sementara itu, di kantor desainer interior miliknya, Aprillia Rahma sedang duduk terdiam sambil memegang ponselnya. Ia menatap foto medali naga tersebut berkali-kali. Namun, fokusnya bukan pada medali itu, melainkan pada sosok Rizky yang tertangkap kamera di latar belakang foto sedang tertawa bersama Rafa.
April merasakan gejolak emosi yang sangat asing. Rasa benci yang dulu ia rasakan terhadap Rizky yang dingin, kejam, dan jahat perlahan-lahan terkikis,.
"Kenapa dia bisa sebahagia itu hanya karena hal sekecil ini?" gumam April. Ia merasa bingung dan bimbang. Rizky yang sekarang tampak begitu bebas, tidak terikat oleh ekspektasi ayahnya, Rizal Adhitya, atau obsesi gelap terhadap dirinya,.
April teringat bagaimana dulu Rizky akan menggunakan kekuasaannya untuk menekan orang lain agar menuruti kemauannya. Namun sekarang, Rizky menggunakan kekuasaannya hanya untuk membuat asistennya panik dan memberikan voucher gratis pada orang asing,.
"Dia bukan lagi pria jahat yang aku kenal," bisik April pada dirinya sendiri. "Dia adalah sosok yang sangat bebas... dan entah mengapa, itu membuatnya terlihat sangat menarik.".
Kembali ke kantor Adhitya Group, Rizky sedang menikmati pemandangan dari jendela besar di ruangannya. Ia melihat beberapa wartawan di bawah gedung sedang mencoba mengambil gambar artefak di pintu kantor Rafa melalui celah kaca.
"Rafa, jangan berdiri di sana dengan wajah menderita!" seru Rizky sambil menyesap teh mahalnya. "Ayo, kita pergi ke dealer pesawat pribadi. Aku baru ingat kalau jerapahku di kebun binatang mungkin ingin melihat pemandangan dari atas awan sesekali.".
Rafa hanya bisa menutup matanya, memegangi dadanya yang sesak, dan mengikuti bosnya keluar ruangan. Saat melintasi pintu kantornya, ia secara otomatis melompat agar tidak menginjak medali seharga setengah triliun itu.
Rizky tertawa melihat tingkah laku asistennya. Sebagai mantan penulis gagal, ia merasa setiap bab yang ia jalani sekarang adalah mahakarya komedi terbaik yang pernah ada,. Ia tidak peduli pada "keberuntungan" dari medali itu, karena bagi Rizky, keberuntungan terbesarnya adalah bisa hidup sesuka hati dengan saldo tak terbatas dan tawa yang tak pernah berhenti,.