Alana tidak menyangka pernikahannya dengan Rendi harus berahir di tengah derasnya air sungai,Rendi dan Lisa selingkuhannya,dengan teganya membuang Alana kesungai untuk menghabisinya dan menguasai harta peninggalan orang tua Alana .Untung saja ada Arka yang menolongnya,dengan di bantu Arka,Alana kembali bangkit membalas penghianatan Suaminya dan mengambil hartanya yang sudah dirampas Rendi dan Lisa
Bagaimana selanjutnya kehidupan Alana Dan Arka ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkitnya Alana
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah rumah Arka yang terasa lebih tajam dari biasanya. Alana berdiri di depan cermin kecil yang ada di kamarnya , mengenakan kemeja hitam milik Arka yang kebesaran. Rambut pendeknya yang dipotong asal semalam kini ia rapikan, menciptakan kesan androgini yang tegas dan misterius.
Tidak ada lagi sisa-sisa kelembutan di wajahnya yang tertinggal hanyalah garis wajah yang kaku, seolah-olah dipahat dari batu karang yang dingin.
"Tok ,Tok ...Alana bolehkan saya masuk ,ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu ." Pintu kamarnya di ketuk pelan dari luar .
"Masuk aja,tidak di kunci ."
Arka masuk ke kamar itu dengan langkah berat. Di tangannya, ia memegang sebuah tablet dengan layar yang masih menyala Tanpa sepatah kata pun, ia meletakkan perangkat itu di atas meja kayu di depan Alana.
"Kau harus melihat ini," suara Arka rendah, hampir seperti bisikan.
Layar itu menampilkan sebuah portal berita daring lokal dengan judul besar yang mencolok: ##"Duka Mendalam Pengusaha Muda Rendy Pratama: Istri Tercinta Dinyatakan Tewas Setelah Kecelakaan Tragis di Jembatan Merah."##
Di bawah judul itu, terpampang foto Rendy yang sedang menyeka air mata dengan sapu tangan, didampingi oleh Lisa yang tampak tertunduk lesu mengenakan gaun hitam yang elegan. Mereka terlihat seperti pasangan yang hancur karena kehilangan, sebuah akting yang begitu sempurna hingga Alana merasakan mual yang hebat di ulu hatinya.
"Upacara pemakamannya dilakukan hari ini pukul sepuluh pagi di TPU San Diego Hills," lanjut Arka, matanya tetap tertuju pada Alana, mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah wanita itu. "Pemakaman simbolis. Karena jenazahmu ... yah, mereka mengklaim jenazahmu terbawa arus dan tidak ditemukan, namun pengadilan telah menetapkan kematianmu secara hukum agar warisan dan asuransi bisa segera diproses."
Alana tertawa. Suara tawanya kering dan parau, terdengar mengerikan di keheningan pagi itu. "Asuransi. Tentu saja. Rendy sangat teliti soal angka. Dia tidak hanya ingin menyingkirkanku, dia ingin merampok setiap sen yang tersisa dari nama Alana."
Ia mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. "Dia memakamkan istri tercinta yang dia dorong sendiri ke jurang kematian. Benar-benar sebuah ironi yang menjijikkan."
Arka melangkah maju, meletakkan tangannya yang kasar di bahu Alana. "Aku akan membantumu, Alana. Aku bukan hanya akan menjadi pelatihmu, tapi aku akan menjadi bayang-bayangmu. Jika kau ingin pergi ke sana, aku akan membawamu. Tapi ingat, hari ini kita hanya menonton. Kita adalah penonton di barisan paling belakang yang tahu akhir dari naskah sandiwara ini."
"Aku ingin melihat wajahnya, Arka," desis Alana. "Aku ingin melihat bagaimana dia menangis di atas peti kosong yang seharusnya berisi mayatku. Aku ingin menyimpan pemandangan itu sebagai bahan bakar saat aku mulai
menghancurkannya nanti
Alana berdiri membeku di depan cermin, tatapannya kosong namun api di matanya membara seperti lava yang siap meledak. Kata-kata Arka masih bergema di telinganya, tapi yang benar-benar menusuk adalah bayangan wajah Rendy di layar tablet itu. Wajah yang dulu ia cintai dengan segenap jiwa, kini menjadi topeng kepalsuan yang paling keji.
Rasa sakit hati itu datang seperti gelombang pasang. Alana mengingat malam itu di Jembatan Merah. Tangan Rendy yang dulu lembut memeluknya, kini mendorong punggungnya dengan kasar ke jurang kegelapan. Angin malam yang dingin, jeritannya yang tertelan deru air sungai, dan kegelapan yang menyambutnya seperti pelukan maut. Semua karena Lisa. Wanita yang dulu ia anggap sahabat,dan orang yang membatu perusahaanya, kini berdiri di samping suaminya dengan gaun hitam elegan, pura-pura berduka.
"Dia ... dia memilih pelacur itu," gumam Alana, suaranya bergetar penuh dendam. Tinjunya mengepal hingga darah menetes dari telapak tangan. "Rendy Pratama, pengusaha muda sukses yang semua orang kagumi. Tapi di balik itu, dia hanyalah pengecut yang tega membunuh istrinya demi harta dan nafsu. Asuransi, warisan perusahaan, saham-saham yang aku bantu bangun dari nol. Semua itu kini jadi miliknya. Dan Lisa ... oh, Lisa yang manis, yang selalu tersenyum manja padaku saat kami bertiga makan malam. Betapa mudahnya ia menusuk dari belakang."
Air mata panas mengalir di pipi Alana, tapi bukan air mata kesedihan biasa. Ini air mata amarah yang membakar. Ia mengingat hari-hari indah mereka dulu Rendy yang berlutut meminangnya di pantai saat matahari terbenam, janji setia yang diucapkan dengan suara penuh keyakinan. "Kau satu-satunya untukku, Alana." Bohong besar. Semua itu bohong agar ia bisa menguasai aset-aset yang dibawa Alana dari keluarganya. Dan Lisa, dengan tubuh ramping dan senyum liciknya, hanya menjadi alat pembunuh yang sempurna.
Arka mengamati dari belakang, tidak mengganggu. Ia tahu, saat ini Alana sedang membiarkan dendamnya matang.
"Aku ingin melihat mereka tertawa di belakang peti kosong itu," lanjut Alana dengan suara yang semakin dingin. "Bayangkan, Rendy menyeka air mata palsu di depan kerumunan, sementara tangannya mungkin sedang meremas pinggang Lisa di bawah meja. Mereka pasti sudah merencanakan ini sudah lama. Dan sekarang, mereka memakamkan istri tercinta agar bisa menikmati hidup baru. Menjijikkan!"
Alana berbalik menghadap Arka. Wajahnya yang androgini kini terlihat seperti dewi pembalas dendam. "Sakit hatiku ini bukan sekadar patah hati, Arka. Ini seperti pisau yang berputar di dada setiap detik. Aku pernah mencintainya lebih dari diriku sendiri. Aku tinggalkan karirku, keluargaku, demi mendukung impiannya. Malam-malam aku begadang menyusun strategi bisnis, sementara dia tidur dengan Lisa di hotel-hotel mewah. Dan sekarang? Mereka merayakan kematianku dengan warisan jutaan dolar."
Ia berjalan mondar-mandir di kamar kecil itu, napasnya tersengal. "Aku bayangkan wajah Rendy saat tahu aku masih hidup. Ketakutan di matanya yang dulu penuh cinta palsu. Aku akan hancurkan perusahaannya pelan-pelan. Mulai dari mitra bisnis yang aku kenal baik mereka akan kuberitahu kebusukan ini. Aku akan bocorkan bukti perselingkuhan mereka ke media, tapi bukan sekarang. Biarkan dulu mereka merasa aman, merasa menang. Saat puncak kebahagiaan mereka, aku akan muncul seperti hantu dari kubur."
Lisa. Nama itu saja sudah membuat perut Alana mual. ("Lisa yang selalu bilang Kamu beruntung punya suami seperti Rendy"). Ternyata dia yang ingin merebutnya. Aku ingat bagaimana ia memelukku saat aku cerita masalah rumah tangga, pura-pura peduli. Ternyata ia sedang mengumpulkan informasi untuk menusuk lebih dalam. Aku benci dirinya lebih dari Rendy. Rendy setidaknya pria lemah yang tergoda nafsu. Tapi Lisa ... dia wanita yang sengaja menghancurkannya "
Arka akhirnya angkat bicara, suaranya tenang tapi tegas. "Dendam yang baik adalah yang dingin, Alana. Jangan biarkan sakit hatimu membuatmu ceroboh."
"Tapi sakit ini yang memberiku kekuatan!" bentak Alana, suaranya naik. "Setiap kali aku ingat tangan Rendy mendorongku,dan suara tawanya saat orang orangnya melemparkanku ke sungai, aku ingin balas dengan tanganku sendiri. Aku ingin ia merasakan jatuh dari puncak kehidupan yang ia bangun di atas tulang belulangku. Aku ingin Lisa melihat wajahku di mimpi buruknya setiap malam. Mereka pikir aku sudah mati? Baik. Aku akan jadi mayat hidup yang menghantui mereka hingga akhir hayat."