NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26: Dinding-Dinding Dingin Tahanan

Suara jeruji besi yang berdentang keras menutup malam pertama Arka Narendra dan Sheila di dalam sel tahanan sementara Mapolda Metro Jaya. Aroma pengap, lantai semen yang dingin, dan suara bising dari tahanan lain menjadi sambutan yang teramat kontras dengan kemewahan kasur busa mansion Menteng yang baru saja direnggut dari hidup mereka.

Di sel khusus wanita, Sheila duduk menyandar di sudut ruangan, memeluk kedua lututnya erat-era

Daster katunnya sudah tampak sangat dekil, dan perut buncitnya yang hamil anak kedua sesekali terasa mengencang akibat stres tingkat tinggi yang dialaminya sejak penangkapan pagi tadi.

"Ini tidak mungkin... aku tidak boleh melahirkan di tempat menjijikkan seperti ini," bisik Sheila histeris dengan air mata yang terus mengalir, menghapus sisa-sisa riasan di wajahnya yang kini kuyu.

Setiap kali dia memejamkan mata, bayangan wajah dingin Vira Mahendra yang memegang kalung zamrud kuno di halaman rumah Menteng tadi pagi selalu hadir menghantuinya. Sheila mengira dirinya adalah pemenang setelah berhasil merebut Arka tiga tahun lalu. Namun sekarang dia sadar, dia hanya masuk ke dalam perangkap yang sengaja dibiarkan terbuka oleh Davira dan Reno sampai waktunya tepat.

Sementara itu, beberapa blok dari ruang tahanan, di dalam sebuah ruangan pemeriksaan yang diterangi lampu neon putih yang terang, Arka Narendra duduk dengan tangan gemetar. Di hadapannya, dua orang penyidik kepolisian bersama Reno Mahendra dan tim hukum V-Tech sedang memeriksa berkas dakwaan.

"Terdakwa Arka Narendra," ucap penyidik sambil mengetuk dokumen di atas meja. "Bukti-bukti yang diajukan oleh pihak pelapor, Saudara Reno Mahendra, sudah sangat lengkap. Mulai dari rekam medis asli dari Rumah Sakit Umum Daerah tertanggal tiga tahun lalu mengenai kandungan zat toksik di tubuh korban, hingga dokumen asli klausul rahasia pasal 7 yang Anda gunakan untuk mengalihkan aset Mahendra Group secara ilegal."

Arka tidak menjawab. Pria yang dulunya memimpin ratusan karyawan dengan setelan jas miliaran itu kini hanya bisa menatap kosong ke arah borgol besi yang melingkari kedua pergelangan tangannya.

Reno melangkah maju, meletakkan kedua tangannya di atas meja pemeriksaan, membungkuk sedikit untuk menatap langsung ke dalam manik mata Arka yang telah kehilangan cahayanya.

"Kamu tahu, Arka? Kak Vira melarangku untuk menghancurkanmu dalam semalam," bisik Reno dengan nada suara yang teramat tenang namun sarat akan ancaman. "Dia ingin kamu merasakan prosesnya. Merasakan bagaimana rasanya kehilangan kehormatan, kehilangan harta, dan sekarang... kehilangan kebebasanmu. Semua ini baru permulaan dari hukuman atas setiap sendok racun yang ibumu berikan kepada Kakakku."

"Reno..." suara Arka akhirnya keluar, serak dan pecah. Dia mendongak dengan mata yang memerah menahan tangis penyesalan yang teramat terlambat. "Aku mengaku salah... aku bersedia menyerahkan apa pun yang tersisa. Tapi aku mohon... pindahkan Sheila ke rumah sakit bhayangkara. Dia sedang hamil besar... anak di dalam kandungannya adalah darah dagingku."

Reno terkekeh sinis, sebuah tawa dingin yang membuat bulu kuduk Arka meremang. "Anak? Tiga tahun lalu, saat Kak Vira keguguran di atas kasur rumahmu karena racun jahanam itu, apakah kamu memikirkan bahwa janin itu juga darah dagingmu? Kamu justru mengusirnya ke bawah hujan badai untuk bersenang-senang dengan selingkuhanmu."

Reno menegakkan kembali punggungnya, merapikan jas formalnya tanpa belas kasihan sedikit pun. "Biarkan Sheila melahirkan di sini, Arka. Biarkan anak itu melihat dari detik pertama hidupnya, betapa hinanya orang tua yang telah membawanya ke dunia."

Di saat yang sama, sebuah mobil mewah melaju tenang membelah jalanan protokol Jakarta yang mulai sepi. Di kursi belakang, Vira Mahendra sedang menyandarkan kepalanya di bahu bidang Adrian Atmadja. Tangan kiri Vira terjalin erat di dalam genggaman telapak tangan Adrian yang besar dan hangat.

"Kamu tampak lelah, Vira," ucap Adrian lembut. Jari-jari pria itu dengan penuh kasih mengusap sela-sela jari Vira, menyalurkan ketenangan yang mutlak.

Vira membuka matanya, menatap wajah tampan Adrian dari dekat. "Hanya sedikit terkuras secara emosional, Tuan Adrian. Melihat rumah itu dikosongkan... rasanya seperti sebagian dari beban masa lalu yang menghimpit dadaku selama tiga tahun ini akhirnya terangkat."

Adrian mengulas senyuman tipis yang sangat menawan, lalu mengecup kening Vira dengan lembut. "Bebanmu adalah bebanku juga, Ratu-ku. Tim hukum Atmadja sudah mengunci seluruh celah jaminan penangguhan penahanan untuk Arka dan Sheila. Mereka tidak akan bisa keluar dari sel itu sampai hakim membacakan vonisnya."

Adrian mempererat pelukannya pada bahu Vira. "Besok, Elvano merengek ingin mengajakmu membeli buku cerita baru di mal. Dia merindukanmu. Apakah kamu mau menemaninya?"

Mendengar nama Elvano, senyum tulus dan hangat seketika terbit di wajah Vira. Kehadiran anak kecil itu dan ketulusan Adrian perlahan-lahan menyembuhkan sisa-sisa luka di hatinya, memberinya alasan untuk tidak hanya hidup demi dendam, tapi juga demi masa depan yang baru.

"Tentu saja, Tuan Adrian. Aku juga merindukan Elvano," jawab Vira lembut, mempererat sandaran kepalanya di dada Adrian saat mobil terus melaju menembus malam.

1
Yeni Wahyu Widiasih
kalo banyak uang bisa transplantasi rahim ke LN..
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Adrian dan Vira 😄😄🙏
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai arka dan Shella, jalani saja 🤣🤣😂😂 kan keinginan kamu sendiri membuang batu permata demi batu kerikil 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kalian berdua 😂😂🤣🤣 selamat menikmati hidup di penjara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!