Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Kamar VIP Rasa RSJ
"Terus maksud kamu tadi apa nyuruh aku tetap duduk di pangkuan kamu kalau bukan mau modus?!" tanya Alin mendongak, menatap mata Rakha dengan pandangan bingung sekaligus menantang.
"Makanya, kalau orang ganteng lagi ngomong itu dengerin dulu sampai tuntas tas tas! Gue tadi mau bilang: lo duduk aja tetap di kursi bus ini, biar gue yang berdiri ngalah di lorong. Ngerti lo sekarang, remah-remah rempeyek?!" bentak Rakha pelan dengan nada ketus, berusaha mati-matian menutupi rasa peduli dan debaran jantung diskonya yang berdegup kencang di balik dada bidangnya.
Alin seketika tertegun sejenak, mulutnya sedikit terbuka membentuk huruf O mendengar niat tersembunyi cowok arogan itu. "Tapi... tapi kan tetap aja, Tuan Muda... aku harus berdiri dulu tegak, biar kamu bisa bangun dan geser berdiri dari kursi busnya!" ucap Alin dengan kepolosan yang kembali kumat.
Rakha mendadak merutuki kebodohan logikanya sendiri. Wajahnya berganti menjadi super canggung karena ketahuan mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Iya! Makanya... makanya buruan lo berdiri sebentar sekarang, sebelum gue berubah pikiran dan beneran meluk lo sampai kosan!" seru Rakha dengan suara nge-bass yang digalakkan, sambil cepat-cepat melepaskan belitan lengan kekarnya di pinggang ramping Alin.
"Hmm, iya-iya, dasar beruang kutub labil," gumam Alin dengan wajah yang memerah malu-malu kucing, akhirnya menuruti perintah cowok menyebalkan namun entah kenapa terasa manis itu.
Tepat saat Alin baru saja berdiri tegak di lorong bus dan Rakha hendak bangkit dari kursinya, ponsel di dalam saku celana Rakha mendadak bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari nomor Rahsya. Rakha mengernyitkan dahi lalu menekan tombol hijau.
"Halo, ada apa?" tanya Rakha ketus.
"Rakha! Lo harus ke rumah sakit sekarang juga! Si Reno kritis gara-gara mencret seblak! Tapi... tapi bukan itu masalah utamanya, Kha..." suara Rahsya di seberang telepon terdengar gemetar hebat penuh kepanikan yang luar biasa.
"Terus apa masalahnya? Jangan bikin gue tebak-tebakan!"
"Si Adit, Kha! Si Adit mendadak hilang di mansion Oma lo, dan... dan sekarang ada seorang cewek asing super cantik jelita yang tiba-tiba lari keluar dari kamar mandi mansion pake celana jeans-nya si Adit yang melorot! Pelayan mansion bilang cewek itu ngaku sebagai Radit! Lo harus ke apartemen Adit sekarang, gue takut sahabat lo itu diculik wadam atau disihir!" teriak Rahsya panik sebelum sambungan telepon terputus.
Mendengar rentetan kalimat absurd dari Rahsya, Rakha seketika mematung di tengah lorong bus yang bergoyang. Matanya membelalak lebar, sementara Alin yang berdiri di dekatnya menatap wajah Rakha dengan penuh tanda tanya besar.
Kekacauan identitas ubi rebus ini tampaknya mulai melebar ke mana-mana tanpa kendali.
****
Di dalam sebuah kamar VIP Rumah Sakit Sentosa yang dingin, berbau karbol, dan penuh dengan aura penderitaan, Reno terbaring tak berdaya layaknya sepotong kerupuk yang terendam kuah soto.
Sebuah selang infus menancap di punggung tangannya, perlahan mengalirkan cairan elektrolit untuk mengganti tenaganya yang terkuras habis setelah bertaruh nyawa di atas closet emas Mansion Abraham tadi pagi.
Seorang dokter paruh baya tampak sibuk memeriksa denyut nadi dan menekan-nekan perut Reno yang berbunyi kembung, sementara Rahsya berdiri di samping ranjang dengan wajah cemas yang gagal total karena tertutup oleh ekspresi ingin tertawa.
"Gimana, Dok, keadaan teman saya? Masih bisa diselamatkan, kan? Atau harus kita siapkan tenda kuning?" tanya Rahsya dengan nada bicara yang sengaja dibuat dramatis.
Dokter itu menghela napas panjang sambil merapikan stetoskopnya, lalu menatap Rahsya dengan pandangan menghakimi. "Teman kamu mengalami dehidrasi parah dan peradangan hebat pada saluran pencernaannya. Ini jelas akibat zat kapsaisin dari cabai yang terlalu brutal. Ususnya kaget seperti dihantam meteor. Saya sarankan, jangan biarkan dia menyentuh makanan pedas dulu sampai kondisinya benar-benar pulih. Dia harus dirawat inap di sini selama beberapa hari ke depan. Tolong segera hubungi orang tuanya."
"Baik, Dok. Terima kasih banyak," jawab Rahsya patuh sambil menahan kedutan di bibirnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu untuk memeriksa pasien yang lain," pamit dokter itu, lalu melangkah keluar dari kamar VIP dengan wibawa penuh.
Begitu pintu kayu tebal itu tertutup rapat, Reno yang tadinya lemas menyerupai manekin loak mendadak bangkit duduk dengan sisa-sisa tenaga yang ia kumpulkan dari ujung jempol kakinya.
"Sya! Jangan gila lo! Lo jangan sampai berani-berani hubungin nyokap gue!" bisik Reno dengan suara serak-serak basah menahan mules.
"Gue takut kena semprot beneran. Gue udah tobat, janji nggak bakal makan seblak pedas lagi. Kalau sampai beliau tahu gue tumbang dan masuk rumah sakit gara-gara kuah cabe level seratus, gue bakal habis diceramahin tiga hari tiga malam nonstop pake pengeras suara masjid! Dan soal bokap... lo tahu sendiri, kan? Beliau udah almarhum, nggak bisa gue jadiin tameng!"
Rahsya langsung berkacak pinggang di depan ranjang. "Terus kalau nyokap lo nggak boleh tahu, yang bakal jagain lo di sini siapa, hah? Masa gue? Ogah banget!"
"Jadi lo nggak ikhlas nih jagain sahabat sendiri yang lagi sekarat di ambang maut?" rengek Reno dengan muka melas bin memprihatinkan, matanya dibuat berkaca-kaca meniru aktris drakor.
"Bukannya nggak ikhlas, Reno jorok! Tapi gue juga harus pulang sore ini. Nyokap gue pasti udah nyariin dari tadi. Nggak mungkin gue di sini terus semalaman jagain lo sambil dengerin suara perut lo yang bunyinya udah kayak simulasi perang dunia ketiga di dalam usus!" balas Rahsy Jujur tanpa filter.
Reno memutar otaknya yang mulai kekurangan asupan oksigen. "Ya udah, kalau lo mau balik, lo suruh si Rakha atau nggak si Adit ke sini sekarang buat gantiin shift lo!"
"Kalau soal Rakha, gue nggak berani. Lo aja yang hubungin dia dari HP lo kalau punya nyali. Lo tahu sendiri kan Rakha itu orangnya kayak gimana kalau lagi diganggu? Galaknya minta ampun, melebihi singanya Opa Adit! Yang ada lo malah tambah sakit jantung kalau dijagain sama dia," ucap Rahsya sambil bergidik ngeri membayangkan wajah dingin tetangga kos Alin itu.
Reno terdiam sebentar, bayangan wajah mengintimidasi milik Rakha mendadak melintas di benaknya, membuat bulu kuduknya berdiri. "Iya juga sih, gue juga mendadak ciut. Makanya gue nyuruh lo! Kalau gitu, suruh si Adit ke sini sekarang juga! Dia kan biasanya paling gampang disuruh-suruh, jiwanya paling penyayang di antara kita."
(Catatan pembaca: Mereka berdua sama sekali tidak sadar bahwa Adit saat ini sedang menangis histeris di dalam mobil karena fisiknya baru saja berubah menjadi wanita cantik jelita tanpa barang pusaka!)
"Bentar, gue telpon si Adit dulu," Rahsya mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia menekan tombol panggil ke nomor Adit.
Drrtt!! Drrtt!! Tut...
"Ck! Gak diangkat. Malah di-reject sama dia. Kayaknya nih anak lagi molor gara-gara kecapekan di mansion tadi," gerutu Rahsya setelah panggilannya diputus secara sepihak oleh Adit (yang tentu saja panik takut suaranya berubah jadi merdu).
"Coba lo kirim chat aja, Sya. Siapa tahu nanti dibaca pas dianya udah bangun atau pas lagi waras," saran Reno lemas.
"Oke, bentar gue ketik."
Rahsya pun mulai mengetik pesan WhatsApp dengan : ["Dit, lo bisa kan datang ke RS Sentosa sekarang juga? Tolongin gue, si Reno nggak ada yang jagain nih, kasihan mukanya udah kayak kesemek busuk. Gue mau pulang, takut nyokap gue nyariin bawa sapu lidi."]
Ting!!
Hanya dalam hitungan detik setelah tanda centang dua berubah menjadi biru, sebuah notifikasi balasan langsung masuk dari ponsel Adit.
Adit: *["Gue nggak bisa. Gue lagi nggak enak badan parah. Badan gue ganjil. Lo suruh orang lain aja, jangan ganggu gue dulu."]