Shen Dazhi, seorang pengembara yang berhasil mengumpulkan 10 pusaka legendaris yang diturunkan oleh Dewa. Bukan hanya itu, dirinya juga berhasil mengalahkan pemimpin sekte aliran hitam terbesar dan menjadi salah satu orang terkuat di dunia.
Namun rasanya semua itu tidak sepadan karena banyak sekali rekan-rekan serta orang tersayangnya yang mati dimasa lalu karena ulah sekte hitam tersebut.
Sampai akhirnya, dirinya diberikan kesempatan kedua oleh Dewa untuk kembali ke masa lalu dan menyelamatkan orang-orang berharganya.
Inilah cerita sang Pengembara dari masa depan yang kembali ke masa lalu untuk menulis ulang takdirnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dazhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Pertarungan Pertama Dazhi I
Dazhi menatap kelima orang yang berhadapan dengan Xiao Qingxuan. Jelas sekali mereka adalah pendekar aliran hitam dengan aura kematian dan baju abu-abu yang menandakan mereka berasal dari sekte aliran hitam.
"Cuih! Sepertinya kau perlu dihajar dulu agar paham!!"
Lima orang itu mulai maju menghadapi Xiao Qingxuan. Sebaliknya, Xiao Qingxuan sama sekali tak gentar, ia menangkis satu persatu serangan yang datang padanya.
Xiao Qingxuan itu merupakan pendekar yang berada diranah Kultivasi ke-4. Tetapi walaupun begitu, Dazhi tau pamannya tak akan menang.
Jumlah musuh lebih banyak, dan menurut pengamatan Dazhi, ada setidaknya dua orang pendekar aliran hitam diranah Kultivasi ke-4 dan sisanya berada diranah Kultivasi ke-3. Tentu saja Xiao Qingxuan dirugikan dalam pertarungan kali ini.
"Teknik tingkat 3, Tebasan angin beruntun!!"
Xiao Qingxuan melancarkan serangannya. Ia berhasil melukai satu orang dari mereka. Namun apa yang Dazhi khawatirkan terjadi.
"Teknik tingkat 3, Tusukan kabut hitam!"
"Teknik tingkat 2, Selubung Qi elemen kabut!"
"Teknik tingkat 3, Hantaman kabut awan!!"
Tiga orang pendekar aliran hitam menyerang Xiao Qingxuan secara bersamaan. Tentu saja hal ini berhasil membuat Xiao Qingxuan terluka cukup parah dan terpental sampai menghantam pohon.
"Ugh..."
Xiao Qingxuan mengalami luka yang cukup parah ditubuhnya. Pria itu akhirnya kehilangan kesadaran akibat serangan beruntun yang diterimanya.
Dazhi menepuk jidatnya. Ya ampun, sang Paman terlalu gegabah karena melawan lima orang sekaligus tanpa rencana. Dirinya bahkan tak sempat membantu karena Xiao Qingxuan sudah kalah duluan.
Satu pendekar yang tadi diserang oleh Xiao Qingxuan sudah bangkit, dia lalu mendekati Xiao Qingxuan dan menendang-nendang tubuhnya.
"Rasakan itu sialan!!"
"Padahal kukira dia hebat karena berani menghadapi kita, ternyata cuma segini kemampuannya."
"Hahaha!! Dasar orang sok jagoan!!"
"Dia bahkan belum melawan selama lima menit, hahahaha!!"
Dazhi menatap kelima orang itu dengan tajam. Mereka itu bukanlah orang yang membunuh pamannya dimasa depan. Pendekar aliran hitam yang membunuh Xiao Qingxuan dimasa depan itu berasal dari sekte aliran hitam terbesar di kekaisaran ini yang tak akan segan-segan membunuh siapapun yang menghalangi rencana mereka.
Sedangkan lima pendekar ini, mereka memang berasal dari sekte aliran hitam kalau dilihat dari pakaian dan teknik bertarungnya. Tetapi sepertinya mereka bukan berasal dari sekte aliran hitam yang ditemuinya dimasa depan karena aura kematian yang dikeluarkan mereka belum terlalu pekat.
Salah satu dari lima orang tadi mendekati kereta kuda, Dazhi dengan cepat masuk kembali kedalam kereta kuda.
"Oh? Ternyata ada bocah disini."
"T–tolong jangan sakiti aku..."
Dazhi meringkuk dipojok kereta kuda. Tubuhnya bergetar seolah-olah dirinya benar-benar ketakutan. Padahal aslinya, itu hanyalah akting untuk mengelabui si pendekar aliran hitam.
"Aku tidak akan menyakitimu kalau kau mengatakan dimana kalian menyimpan harta berharga kalian."
Dazhi menunjuk kantong besar yang digunakan Xiao Qingxuan untuk menyimpan perhiasan jualannya. Pendekar itu kemudian melangkah kearah yang ditunjuk Dazhi.
"Wah! Banyak sekali perhiasan disini!! Aku kaya!!"
Pendekar aliran hitam itu berteriak senang setelah membuka kantong berisi perhiasan. Ia sampai tidak menyadari bahaya yang datang dari anak berumur 9 tahun dibelakangnya.
Dazhi mendekati si Pendekar secara diam-diam. Ketika jaraknya hanya tinggal beberapa langkah, Akhirnya Dazhi mulai melancarkan aksinya.
Tak!!!
Dazhi memukul leher bagian belakang pendekar aliran hitam, itu adalah bagian tubuh manusia yang paling rentan. Hal ini tentu saja sukses membuat si pendekar aliran hitam pingsan ditempat.
"Mudah..." Gumam Dazhi.
Dazhi kemudian mengambil pedang yang tergantung di pinggang pendekar aliran hitam. Ia menatap pedang itu sebentar sebelum akhirnya...
Jleb!!
Dazhi menusuk tepat di bagian jantung si pendekar aliran hitam. Darah keluar dan menetes kelantai kereta kuda, hanya menunggu waktu sampai akhirnya si pendekar kehabisan darah dan mati.
Dazhi hanya menatap semua itu dengan dingin. Baginya, semua pendekar aliran hitam harus mati. Apalagi yang mempunyai aura membunuh seperti ini.
Di luar, para pendekar aliran hitam yang lain tidak menyadari kalau salah satu rekan mereka telah kehilangan nyawa. Mereka masih sibuk mengurusi tubuh Xiao Qingxuan yang tergeletak begitu saja.
"Sepertinya dia hanya mempunyai satu kantong koin ini saja. Kau! Cepat periksa kedalam kereta kudanya, siapa tau ada harta miliknya yang lain."
"Baik!!"
Pendekar yang disuruh untuk memeriksa akhirnya pergi ke kereta kuda. Namun baru saja dirinya sampai didepan pintu kereta kuda, ia sudah dikejutkan dengan pemandangan yang tidak biasa.
"A-Apa ini?!!" Teriaknya.
"Ada apa?!!" Tanya salah satu pendekar aliran hitam yang lain.
"Teman kita mat—"
Belum sempat si pendekar menyelesaikan kalimatnya, sebuah pedang tertusuk pada perutnya. Sangat cepat dan tiba-tiba. Bahkan sang pendekar aliran hitam tak sempat untuk menghindar atau bahkan sekadar melindungi diri.
Para pendekar aliran hitam yang lain terkejut atas serangan mendadak itu. Lebih terkejut lagi saat mereka tahu siapa pelaku dari penyerangan tersebut.
"Bocah siapa itu?!! Nyalinya besar juga karena berani menyerang kita!!"
"Hey kau!! Cepat urus dia!!"
"Baik!!"
Satu orang pendekar aliran hitam diranah Kultivasi ke-3 mengeluarkan pedangnya dan berlari kearah Dazhi.
"Teknik tingkat 2, Pedang Kabut!!"
Pendekar itu mengalirkan Qi nya membuat pedangnya diselimuti kabut berbahaya. Ia lalu menyerang Dazhi dengan sekuat tenaga.
Namun sayang, serangan pendekar itu berhasil ditangkis oleh Dazhi dengan mudah. Bahkan anak itu masih sempat menyeringai meremehkan kepada lawannya.
"S-sialan!!!"
Karena terpancing emosi, si pendekar melancarkan serangan dengan membabi buta. Tekniknya berantakan dan Dazhi menjadi lebih mudah untuk mengalahkannya.
Sringg!!!
Kepala si pendekar berhasil terpenggal oleh pedang Dazhi. Padahal anak itu belum menggunakan Qi nya, tapi si pendekar sudah kalah duluan.
"K—kau...!!!"
Kini tersisa dua orang pendekar lagi diranah Kultivasi ke-4. Dazhi menyodorkan pedangnya seolah menantang mereka berdua.
"Siapa selanjutnya?"