Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊
Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Mendengar perkataan Lia, Aku berdecak kesal. Ku lempar bantal sofa yang aku pegang hingga mengenai badannya yang ramping itu.
"Iihh Mbak.... Sakit tau!" kata Lia.
"Makanya kamu tuh diam, Podcast-podcast. Mbak kan udah bilang kalau Mbak nggak akan datang ke acara-acara kayak gitu!" jawabku membuat Lia nyengir memperlihatkan deretan gigi nya.
"Assalamualaikum" terdengar suara bapak yang baru pulang dari rumah temannya.
"Waalaikumsalam" jawab kami serempak mengulurkan tangan bergantian mencium punggung tangan bapak.
"Ada apa ini? Kenapa ramai-ramai kumpul disini?" tanya bapak yang langsung duduk tepat di sebelah Mama.
Kami saling pandang, sepertinya bapak belum tau soal vidio yang sedang viral itu.
"Bapak nggak tau soal vidio viralnya Mbak Nisya dan juga keluarga nya bang Gani?" tanya Lia yang langsung mendapat pelototan tajam dari Mama.
"Oh.. Jadi kalian lagi pada bahas vidio itu?" tanya bapak sambil menatap kami satu persatu. Kami pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Bapak tau kok soal vidio itu, bahkan siapa yang memposting pertama kali juga bapak tau!" lanjut bapak membuat kami semua terkejut dan membelalakan mata.
"Bapak Serius?" tanya Syahrul yang langsung mendapat anggukkan kepala dari bapak.
"Iyaa bapak serius, kenapa?" tanya bapak.
"Pak, apa ini nggak bahaya untuk kita ataupun Nisya? Kenapa bapak biarkan vidio ini tersebar begitu aja?" tanya Mama.
"Nggak apa-apa Ma, bapak emang sengaja membiarkan vidio itu tersebar. Sebagai jejak digital kalau suatu saat Nisya dan Gani berpisah!" jawab bapak dengan santai. Aku menyeritkan kening.
"Maksud bapak apa?" tanyaku dengan raut wajah heran.
"Begini Nis, kita nggak tau bagaimana nasih rumah tangga kamu dan juga Gani dengan sikap keluarganya yang seperti itu. Suatu saat andai kamu dan Gani berpisah, anak-anak pasti mempertanyakan Ayah mereka. Nah, vidio itu akan jadi dokumentasi dan jejak digital alasan kenapa kamu dan juga Gani bercerai hingga mengorbankan mereka!" kata bapak membuat kami saling pandang.
"Tapi Pak, kenapa kita justru harus melakukan ini sementara jika Nisya dan juga Gani mampu mempertahankan rumah tangga mereka. Otomatis...."
"Ma... Aku yakin walaupun Nisya dan Gani bisa mempertahankan rumah tangga mereka, tapi Ratih dan anak perempuannya itu nggak akan tinggal diam. Dia pasti akan melakukan hal yang akan membuat keduanya berpisah, aku hafal dan sangat yakin dengan apa yang aku katakan!" jawab bapak.
"Tapi pak.. Kasian mental anak-anak, kasian Adila yang mungkin sudah mengerti soal perseteruan keluarga Ayah dan juga Ibu nya. Apa kita nggak akan merenggut keceriaannya kalau...."
"Nggak Rul, bapak tau apa yang bapak lakukan. Lagian kalaupun mau kita hapus, semuanya udah terlambat. Vidio itu udah di tonton oleh jutaan orang dan udah di repost di berbagai akun, jadi yang mana yang akan kita hapus? Nggak mungkin satu persatu, karna bapak yakin mereka pasti mempunyai salinan dari postingan itu!" kata bapak yang juga di benarkan oleh hatiku.
"Iyaa bener juga apa yang bapak kamu bilang. Tugas kita sekarang bukan menghapus postingan itu, tapi mengupayakan mental keponakan-keponakan kalian itu. Gimana caranya agar mereka tetap ceria seperti itu!" kata Mama.
"kalau itu mah, gampang aja Ma. Tinggal kasih aja jajan indomaret juga udah pada seneng!" kata Lia membuatku membelalakan mata. Disaat serius seperti ini dia masih bisa mengajak bercanda dan membuat suasana gaduh tiba-tiba.
"Anak ini nggak bisa di ajak bicara serius dikit apa ya!" kata Ryan dengan nada kesal.
"Apaan si Mas, ngapain si serius serius banget. Santai aja kali, lagian apa yang bapak bilang itu bener kok. Aku setuju sama pendapat bapak!" kata Lia membuatku menggelengkan kepala.
"Udah-udah kok malah jadi ribut, udah sana sekarang pada siap-siap. Kita akan jalan-jalan sekarang, nggak perlu mikirin vidio itu. Biarkan saja!" kata bapak.
Kami pun membubarkan diri untuk bersiap pergi jalan-jalan hari ini, padahal hari sudah menjelang sore tapi kami justru harus bersiap karna tal ingin lagi menunda waktu.
"Nis.... Bawa pakaian yang agak banyak untuk Alisya, dia masih bayi pasti butuh pakaian yang agak banyak. Jangan lupa yg agak tebal ya, karna cuaca disana pasti akan sangat dingin" kata Mama yang berjalan di belakangku.
"Ehm... Iya Ma!" jawabku dengan senyum kecil.
"Kamu kenapa? Apa kamu masih memikirkan soal vidio itu?" tanya Mama menghentikan langkah ku.
"Bukan Ma. Aku sama sekali nggak memikirkan soal vidio itu, aku cuma masih heran kenapa mertuaku merestui aku dan Mas Gani menikah kalau dia tau jika aku adalah bagian dari masa lalu nya. Keponakan Bude dan juga anak Bapak!" Jawabku.
"Mungkin saat itu mertua kamu tidak sadar siapa bapak Nis, dia belum paham karna memang setau Mama mertua kamu tidak pernah bertemu sama bapak sekalipun saat masih mengenal Bude mu." kata Mama.
"Tapi kan Ma.. Kalau memang mereka pekerja Bude, pasti dirumah Bude ada foto keluarga. Rasanya nggak mungkin kalau mertuaku sampai nggak paham dengan wajah bapak!" kataku membuat Mama terdiam.
"Kalau soal itu, Mama juga nggak tau Nis. Sudahlah lebih baik sekarang kita kesampingkan dulu masalah itu, kamu cepat siap-siap biar kita jalan nggak terlalu sore nanti!" kata Mama yang langsung aku angguki.
Kami pun menuju kamar masing-masing.
"Hhuuufftt.. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Melihat bapak, sepertinya luka di hatinya begitu dalam pada bu Ratih. Tapi di wajah bu Ratih, sama sekali tidak ada Rasa bersalah yang aku lihat. Aku harus gimana sekarang!" Gumamku setelah masuk kedalam kamar.
Sambil membereskan barang, aku pun memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kedepannya.
"Mbak... Udah selesai belum? Perlu di bantuin nggak?" Suara Lia mengagetkan aku yang tengah memasukkan barang-barang Alisya.
"Astagfirullah... Kamu ngagetin Mbak aja Li!" kataku sambil mengelus dada.
"Apa sih Mbak, perasaan aku biasa aja deh. Nggak teriak teriak dan nggak ngagetin Mbak!" kata Lia.
"Udah diam deh, cepet nih bantuin Mbak packing baju sama perlengkapan Alisya. Mbak mau packing baju punya Adila sama Hawa dulu!" kataku yang langsung meninggalkan apa yang aku kerjakan.
"Iihh Mbak... Aku aja deh yang ambil baju Adila sama Hawa, aku nggak ngerti apa aja yang harus di bawa kalau punya Alisya!" kata Lia yang langsung mengambil koper kecil milikku.
Kami berlanjut mengepack barang bersama tanpa suara, tapi sesekali aku memperhatikan Lia yang terus mentap ke arahku.
"Kenapa kamu liatin Mbak kayak gitu?" tanyaku.
"Nggak apa-apa Mbak!" jawabnya sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Yang bener?" tanyaku sekali lagi.
"Rumah tangga itu rumit ya Mbak?" tanyanya. Aku menyeritkan kening.
"Kenapa emangnya? Kamu udah mau berumah tangga emang?" tanyaku.
"Idihh... Nggaklah mbak, ngapain cepet-cepet berumah tangga. Lia masih mau kuliah, masih mau lanjutin S2, masih mau menata karir. Nggak mau mikirin rumah tangga yang rumit, apalagi kalau dapat mertua kaya mertua Mbak Nisya!" kata Lia.
"nggak semua mertua kayak gitu kali Lia, mbak aja yang kurang beruntung karna dapat mertua yang seperti itu. Banyak kok mertua yang sayang sama menantunya, semoga kamu salah satu mendapatkan mertua yang baik itu!" kataku dengan senyum mengembang.
"Aamiinn, Aku juga nggak nyangka sih kalau bu Ratih sama kak Lika itu seperti itu ke Mbak Nisya. Padahal kurang apa Mbak sebagai menantu!" kata Lia.
"Bukan Mbak yang kurang Li, tapi memang mertua Mbak yang nggak pandai bersyukur mendapatkan menantu seperti Mbak!" kataku. Lia menganggukkan kepala.
"Bener Mbak, tapi emang kalau di lihat-lihat mertua Mbak Nisya itu ya memang manusia serakah sih hehehe" kata Lia.
"Hust... Jangan ngomong begitu, biar gimana pun dia mertua Mbak. Ya walaupun wataknya seperti itu, tugas Mbak hanya menghormatinya kan?" kataku.
"Iihhh kalau aku sih males Mbak! Buat apa menghormati orang yang nggak bisa menghargai kita, meskipun dia lebih tua tapi kalau sikapnya kayak gitu ya lawan aja. Lia nggak mau kalau sikap Lia yang menghormati mereka yang nggak menghormati Lia nanti malah menjadikan mereka dengan mudah menginjak-injak harga diri Lia!" kata Lia membuatku terdiam dan tertegun sejenak.
Bersambung...
****
Hay guys... Maaf ya aku kemaren nggak bisa lanjut, anak aku bener bener rewel banget!