Ye Chenlong adalah aib terbesar Klan Ye.
Di hari ujian bakat, ia dinyatakan memiliki bakat kultivasi terburuk sepanjang sejarah. Tunangannya memutuskan pertunangan di depan semua orang, keluarganya mengusirnya tanpa belas kasihan, bahkan nyawanya hampir berakhir di hutan terlarang.
Namun, di ambang kematian...
Darah yang telah tertidur selama ribuan tahun akhirnya terbangun.
Bukan kekuatan yang langsung membuatnya tak terkalahkan, melainkan serpihan ingatan dari leluhur Naga Purba yang menuntunnya menuju teknik kuno, warisan yang hilang, dan rahasia yang sengaja dikubur oleh dunia.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak kebenaran yang terungkap.
Mengapa Klan Naga Purba dimusnahkan?
Siapa yang memburu seluruh pewaris garis darah naga?
Dan mengapa namanya telah tercatat dalam takdir jauh sebelum ia dilahirkan?
Ketika seluruh dunia menganggapnya sampah...
Tak seorang pun menyadari bahwa naga yang mampu mengguncang langit telah membuka matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1:naga yang tertidur.
klan ye adalah salah satu klan besar.
meski salah satu dari ke 5 klan besar, tapi kehidupan di dalamnya tak seindah di permukaan.
heh...
heh....
heh.....
seorang pemuda tampak penuh keringat, di depannya puluhan boneka kayu hancur di depannya.
"masih kurang"
pemuda itu kembali maju, menebas satu per satu boneka kayu dengan pedang kayu.
dia adalah ye Chenlong, putra patriark sekte klan ye.
yen Chenlong terus menebas beberapa boneka kayu.
namun saat hendak mengayunkan pedangnya lagi, ia merasakan aura lain dari belakangnya.
sebilah pedang melesat langsung ke arahnya.
dengan sigap ye chenlong mengayunkan pedang kayunya, namun pedang kayu tetaplah pedang kayu.
dengan muda pedang kayu itu terbelah.
wus.....
sring......
bilah pedang lewat tepat di pipinya membuat goresan tipis di sana.
jleb....
pedang itu berhenti saat menancap di patung kayu.
ye Chenlong menatap pedang di patung kayu.
getaran samar terlihat, tak lama pedang itu melesat kembali.
ye Chenlong menatap kepergian pedang.
pedang itu mendarat ke seorang pemuda seusia dengannya.
melihat pemuda itu ye Chenlong menyipitkan matanya.
"ye hao"
"buat apa kau ke sini?"
ye Hai berjalan santai, senyum tipis terbit di bibirnya.
"kenapa kak..."
"bukankah ini area klan"
"aku juga merupakan anggota klan bukan"
ye Chenlong tak menanggapi, ia mengambil barangnya dan melangkah pergi.
tapi...
saat melewati ye hao, langkahnya terhenti, karena tangannya di cekal.
"ada apa kak..."
"kenapa buru buru"
"kenapa tidak berlatih berdua saja, siapa tau kita akan berkembang bersama"
ye Chenlong tak menjawab, ia menarik tangannya, dan kembali melangkah.
ye hao melengkungkan bibirnya melihat ekspresi ye Chenlong.
"kakak, jangan lupa 1 minggu lagi adalah acara kedewasaan" teriaknya.
ye Chenlong tak menoleh, bahkan ia tak memperlambat langkahnya sedikitpun.
"ingat kakak, di sana bakat kita akan di uji, jangan lupa datang" teriaknya lagi.
setelah masuk rumah, ye Chenlong menaruh peralatannya.
ia masuk ke kamar, ye Chenlong duduk bersila.
menyebarkan kekuatan jiwanya sesaat, lalu masuk kembali ke tubuhnya.
seketika ye Chenlong berpindah tempat.
walau tak memiliki kultivasi, tapi ye Chenlong tak lemah dalam kekuatan jiwa.
dengan ini ia berhasil memasuki pusat merediannya sendiri.
tempat ini tampak seperti pulau terapung, dengan seekor naga tertidur di sana.
ye Chenlong mendekat, menatap Naga itu dalam dalam.
"apa garis darahku memang selemah ini, bahkan tak sanggup bangun" gumamnya.
di dunia ini setiap orang akan memiliki garis darah bawaan, termasuk ye Chenlong.
tapi biasanya mereka bisa membangunkan garis darahnya dengan berlatih dan meminum pil, untuk membangun kekuatan kultivasi.
ye Chenlong sudah mencoba cara yang sama beberapa kali, tapi ia sama sekali tak bisa membangunkan Naga ini.
ye Chenlong menatap lebih tajam ke arah Naga itu, tanpa aba aba dia melesat, memukul Naga.
berharap garis darahnya ini bisa terbangun dengan paksa.
namun, saat tinjunya akan menyentuh tubuh Naga, ledakan qi menyapu.
membuat dia terpental mundur lagi.
ye Chenlong tak menyerah, ia mencoba beberapa kali.
namun selalu berakhir sama.
tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari demi hari telah berlalu.
kini aula klan ye di penuhi para murid, hari ini adalah hari kedewasaan bagi murid yang telah berusia 16 tahun.
tak ketinggalan, ye Chenlong juga ada di sana, menatap altar batu penguji.
"ada apa kak..."
"kenapa melamun, bukankah ini adalah hari baik" ucap ye hao.
ye Chenlong menoleh, tapi tak menanggapi.
tak lama suara penetua terdengar.
"baiklah, karena para murid sudah berkumpul, kita akan memulai acara"
"seperti yang kalian tau, acara ini di adakan setiap tahun untuk memperlihatkan bakat para murid yang telah mencapai usia dewasa. "
satu per satu murid mulai di panggil, saat mereka memegang patung batu.
sinar akan menembak ke langit memunculkan garis darah dan tingkat kultivasi.
di kursi petinggi, para tetua tampak bangga.
wajah mereka tampak penuh kepuasan melihat bakat para murid.
namun di kursi tertinggi, patriark klan berbeda.
wajahnya tampak gelisah menatap ye Chenlong.
sebelum hari ini, dia sempat mampir ke rumah ye Chenlong.
dia tak masuk atau apa, dia hanya menatap ye Chenlong yang tengah berlatih menggunakan pedang kayunya.
tak ingin mengganggu, dia memilih meninggalkan sebuah surat dan sebuah pil, pembangkit kultivasi.
bahkan ye Chenlong kini sedang memegang kertas itu dengan erat.
ia tadi sempat membaca surat itu, dan bahkan isinya masih teringat jelas di kepala.
"chen'er, maafkan ayah. bukan ayah tak sayang padamu, tapi kau tau sendiri walau ayah adalah patriark tapi ayah tak bisa sembarangan mengambil keputusan di klan. di sini ayah meninggalkan pil pembangkit kultivasi tingkat tinggi, ayah harap ini bisa membantumu, jika ini tak juga membantu. lebih baik kamu jangan datang ke acara besok, bukan karena ayah malu, tapi kamu tau sendiri jika belum membangkitkan kultivasi maka kamu akan bagaimana... hanya ini yang ayah sampaikan, ayah sayang kepadamu" isi surat itu.
sesekali ye chen menunduk menatap surat di tangannya, dia tau hal terbaik untuknya adalah tak datang.
tapi jika itu di lakukan maka kesalahan akan di tujukan ke sang ayah.
tak terasa beberapa jam berlalu, kali ini giliran ye hao yang naik ke panggung batu.
beberapa murid menatap kagum ke arahnya.
"akhirnya kakak hao naik" ucap salah satu murid.
bahkan ini mendapatkan anggukan dari teman.
"benar, bukankah kakak hao sudah mulai bisa berkultivasi di usia 12 tahun"
tak hanya para murid, bahkan para tetua menatap ye hao penuh harapan.
ye hao menoleh ke belakang, menatap ye Chenlong dengan senyum penuh ejekan.
ye hao menatap batu di depan, perlahan ia mengulurkan tangannya.
saat tangan menempel ke batu, langit yang cerah tiba tiba gelap.
awan awan menutupi langit.
dentuman petir terdengar di sana.
cahaya merah pekat, menyebar di batu itu, sebelum menembak cepat ke atas.
semua orang menatap ke langit.
"apakah ini garis darah tingkat raja"gumam banyak orang hampir serentak.
menyebabkan keributan di sana.
dari awan gelap itu, tekanan qi besar menyesakkan muncul, menyesakkan dada yang melihatnya.
di awan tampak sesosok yang melayang seakan berenang di balik awan.
saat sosok itu muncul dari balik awan, tekanan yang lebih besar, menerpa ke bawah. beberapa orang lemah langsung pingsan, beberapa lagi langsung berlutut.
beruntung para tetua dan patriark sekte langsung berdiri, mereka membentuk segel tangan.
perlahan pilar pilar patung batu di pinggir aula memancarkan sinar.
membentuk formasi pelindung yang menutupi tempat itu.
merasakan ini, ye hao menatap sombong ke sekitar.
namun ada satu orang yang membuatnya berhenti.
ye Chenlong...
di saat yang lainnya tertekan, dia sama sekali tak merasakan apapun.
bahkan ia masih bisa berdiri dengan tenang.
bahkan tanpa sepengetahuan ye Chenlong, Naga di merediannya sempat membuka mata dan menatap jijik ke arah naga petir di langit.