NovelToon NovelToon
Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Dibuang Di Jalan Tol, Mantan Suami Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Hanya karena latar belakangnya yang miskin, Naya selalu menjadi keset kaki di rumah suaminya, Reza. Puncaknya, Ningsih—sang ibu mertua—menuduh Naya mencuri uang puluhan juta rupiah. Tanpa mau mendengarkan penjelasan, Reza yang telanjur murka menurunkan Naya begitu saja di pinggir jalan tol yang sepi dan gelap.
Mereka tidak tahu bahwa Naya bukanlah wanita lemah tanpa kuasa. Di balik penampilannya yang sederhana, Naya adalah pewaris tunggal konglomerat yang sedang menyamar.


Langkah demi langkah, Naya mulai membalas. Mulai dari membekukan rekening, memecat Reza dari posisinya di perusahaan, menyita mobil, hingga mengusir mertuanya dari rumah mewah yang ternyata dibeli dengan uangnya. Di saat Reza dan Ibunya jatuh miskin dan mengemis di jalanan, sebuah kebenaran pahit terungkap: pencuri asli uang Ningsih adalah bukan Naya Saat penyesalan datang, pintu maaf Naya sudah tertutup rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Turun ke Aspal yang Berdebu

Jakarta di siang hari tidak pernah ramah kepada mereka yang berjalan kaki. Bagi Reza Adijaya, matahari siang ini terasa seolah-olah turun beberapa jengkal di atas kepalanya, membakar kulit lehernya yang kini tak lagi terlindung oleh kaca film gelap mobil Mercedes-Benz.

Kemeja katun tipis yang dipakainya—yang biasanya selalu tampak segar dan wangi di dalam ruangan ber-AC—kini lengket oleh keringat yang bercampur dengan debu jalanan. Langkah kakinya yang beralaskan sepatu kulit mahal terasa begitu berat. Sepatu yang biasanya hanya digunakan untuk melangkah di atas lantai marmer lobi kantor kini harus bergesekan langsung dengan aspal kasar trotoar yang retak-retak.

Telolet! Brak!

Suara klakson nyaring dari sebuah bus kota yang melintas dekat dengannya membuat Reza tersentak mundur. Embusan asap hitam pekat dari knalpot bus itu menyembur tepat ke arah wajahnya, membuatnya terbatuk-batuk sembari menutup hidung dengan saputangan yang kini telah berubah warna menjadi keabu-abuan.

"Kiri, Bang! Kiri!" teriak seorang kenek angkutan umum dengan suara serak, melambai-lambaikan tubuhnya dari pintu angkot yang terbuka lebar.

Reza menatap angkot berwarna merah kusam itu dengan ragu. Di dalam kabin yang sempit dan pengap tersebut, tampak belasan penumpang duduk saling berhimpit. Ada seorang ibu yang menggendong bayinya yang menangis, seorang pedagang pasar dengan keranjang sayurnya yang menyebarkan bau langu, dan beberapa buruh bangunan yang pakaiannya dipenuhi noda semen.

Selama hidupnya, Reza selalu memandang orang-orang seperti mereka sebagai "semut-semut pekerja" yang tidak memiliki arti di matanya. Namun hari ini, ia dipaksa untuk melangkah masuk ke dalam sarang yang sama.

Dengan lutut yang bergetar menahan lelah setelah berjalan berkilo-kilometer untuk mengantar surat lamaran kerja ke beberapa perusahaan kecil—yang semuanya menolaknya secara halus begitu mendengar nama "Sinar Surya"—Reza akhirnya menyerah. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, melangkah masuk ke dalam angkot, dan duduk di sudut menyempit.

Bau keringat, asap rokok murahan, dan udara pengap langsung mengepung indra penciumannya. Setiap kali angkot tersebut mengerem mendadak, tubuh Reza terguncang, bahunya bergesekan langsung dengan penumpang di sampingnya yang menatapnya dengan pandangan dingin.

Naya... bagaimana kamu bisa bertahan bertahun-tahun naik kendaraan seperti ini saat berbelanja ke pasar tradisional untuk kami?

Pertanyaan itu tiba-tiba melintas di benaknya, begitu tajam hingga membuat dadanya terasa sesak. Selama tiga tahun pernikahan mereka, Naya tidak pernah sekali pun mengeluh saat Reza melarangnya menggunakan mobil keluarga dengan alasan "sayang mobilnya kalau hanya dipakai ke pasar." Kini, aspal berdebu yang sama yang dulu dilalui Naya dengan sabar, sedang menghukum Reza dengan cara yang paling kejam.

Sementara itu, di rumah mewah keluarga Adijaya yang kini terasa sangat sunyi dan dingin, Ningsih sedang mondar-mandir di ruang tengah bagai singa betina yang terkurung di dalam kandang besi.

Kulkas dua pintu bermerek Jerman yang biasanya dipenuhi oleh buah-buahan impor, daging sapi wagyu, dan botol-botol minuman mahal, kini kosong melompong. Hanya ada satu botol air mineral setengah kosong yang berdiri sepi di rak tengah. Perut Ningsih berbunyi nyaring, memprotes rasa lapar yang belum pernah ia rasakan sejak suaminya masih hidup.

"Andi! Andi!" teriak Ningsih, suaranya terdengar serak dan gemetar karena panik yang kian memuncak.

Andi melangkah keluar dari kamarnya dengan wajah yang dibuat seolah-olah baru bangun tidur, tenang dan penuh simpati palsu. "Ada apa, Bibi? Mengapa berteriak-teriak?"

"Perut Bibi lapar sekali, Andi! Tolong pesankan makanan lewat aplikasi ponselmu. Makanan apa saja, Bibi sudah tidak kuat lagi," keluh Ningsih, memegangi perutnya yang kaku.

Andi memasang wajah menyesal, memperlihatkan layar ponselnya yang mati. "Maaf sekali, Bibi. Saldo di aplikasi Andi kosong, dan kuota internet Andi habis. Sejak kemarin Paman Reza belum memberi Andi uang saku bulanan."

Mendengar itu, Ningsih mendengus frustrasi. Ia berjalan cepat menuju kamar tidurnya, berniat mengambil perhiasan emasnya yang tersisa di laci meja rias—satu-satunya harapan untuk digadaikan agar mereka bisa membeli bahan makanan untuk beberapa minggu ke depan.

"Bibi akan ambil kalung safir Bibi yang kemarin. Kita gadaikan itu saja dulu, Andi. Cepat bantu Bibi," ujar Ningsih sembari membuka laci meja riasnya dengan sentakan kasar.

Namun, begitu laci itu terbuka, jemari tangan Ningsih membeku di udara.

Kotak beludru merah tempat ia menyimpan kalung safir pemberian almarhum suaminya—satu-satunya sisa kejayaan yang sengaja ia simpan rapat-rapat—kini terbuka dalam keadaan kosong. Tidak ada kilau permata biru di sana. Hanya ada bantalan busa merah yang berdebu.

"A-Apa... di mana kalungku?" gumam Ningsih, napasnya mendadak tercekat. Ia mulai membongkar seluruh isi laci dengan liar. Kosmetik mahalnya berhamburan ke lantai, kotak-kotak perhiasan imitasi dilemparkannya ke sembarang arah. "Andi! Kalung safir Bibi tidak ada! Di mana kalung itu?!"

Andi yang berdiri di ambang pintu kamar memasang wajah syok yang sangat meyakinkan. Ia menutupi mulutnya dengan tangan, matanya membelalak panik.

"Demi Tuhan, Bibi! Kalung itu hilang?!" tanya Andi dengan nada bergetar. "Bukannya kemarin kalung itu masih ada di sana?"

"Iya! Bibi tidak pernah menyentuhnya sejak kemarin! Siapa... siapa yang mengambilnya?!" tangis Ningsih pecah, ia menjambak rambutnya sendiri yang kini tak lagi tertata rapi. "Apakah pelayan-pelayan harian yang kemarin kita pecat itu yang mengambilnya? Atau... atau ini ulah Naya sebelum dia pergi?!"

Andi melangkah mendekat, mengusap bahu Ningsih dengan gerakan yang tampak menenangkan, padahal di dalam dadanya, ia bernapas lega karena bibinya tidak mencurigai dirinya sama sekali. Kalung safir itu kini telah berada di tangan seorang kolektor gadai gelap, dan uangnya telah habis separuh untuk membayar setoran minimal judi daring yang menerornya pagi tadi.

"Tenang, Bibi... tenanglah. Jika Naya yang mengambilnya, dia pasti sudah merencanakannya sejak lama. Perempuan miskin itu memang licik," hasut Andi dengan nada lembut namun berbisa. "Atau mungkin saat orang-orang leasing datang menyita mobil kemarin? Mereka kan sangat kasar dan masuk ke dalam rumah tanpa izin."

Ningsih terduduk di lantai kamar yang berantakan, menangis histeris sembari memukul-mukul dadanya sendiri. Kepalanya terasa pening luar biasa, dan pandangannya mulai kabur akibat tekanan darahnya yang melonjak naik.

Di luar, pintu depan terbuka dengan bunyi derit yang kasar. Reza melangkah masuk dengan tubuh lunglai, wajahnya yang kotor oleh debu jalanan tampak begitu kusam dan menyedihkan. Begitu mendengar suara tangisan histeris ibunya dari arah kamar, langkah kakinya mendadak membeku.

Matahari sore yang mulai tenggelam di balik jendela rumah mewah mereka mengirimkan cahaya kemerahan yang redup, melukiskan bayang-bayang panjang kesunyian dan kehancuran yang kian nyata mengepung keluarga Adijaya.

1
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 rasain kesombongan dan keangkuhan kamu dan ibumu Reza
sunaryati jarum
Kok banyak cerita seperti ini, karena saking cintanya atau menguji kesetiaan pasangan
Grey Casanova: ceritanya pasaran dong kak🤭🤭
total 1 replies
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!