NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Pertemuan Dua Peringkat Teratas

Ruang simulasi di lantai empat telah dinonaktifkan untuk pemeliharaan rutin, menyisakan area seluas lapangan basket yang dipenuhi oleh refleksi cahaya dari dinding kaca. Atharva berdiri di tengah ruang tersebut, menatap proyeksi hologram sirkuit yang masih tersisa, saat langkah kaki halus mendekat. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa itu. Ritme langkah yang presisi dan hampir tidak terdengar hanya dimiliki oleh satu orang: Keisya Aurellia.

"Kamu terlalu banyak membuang waktu dengan menatap data yang tidak memberikan pola, Atharva," ucap Keisya. Ia berdiri di samping Atharva, menatap hologram yang sama dengan sorot mata yang tenang namun tajam.

"Data tidak pernah tidak memberikan pola," sahut Atharva datar. "Hanya saja, sistem sengaja merusak alurnya agar kita tidak bisa membaca gambaran besarnya."

Keisya terdiam sejenak, lalu tangannya bergerak di udara, memanipulasi interface hologram tersebut. Ia menghilangkan lapisan data publik dan memunculkan sebuah fragmen kode kecil yang tersembunyi jauh di balik enkripsi sistem. Itu adalah sebuah simbol sebuah bentuk geometris yang terdiri dari tiga garis saling silang yang membentuk pola mata di tengahnya.

Mata Atharva menyipit. "Itu..."

"Simbol yang muncul di layar monitor saat kamu menyelesaikan babak akhir seleksi di Australia, kan?" Keisya menatap Atharva, mencari konfirmasi. "Aku melihatnya muncul selama satu milidetik di perangkatku saat aku berhasil menembus barikade sistem di ujian kedua. Awalnya aku mengira itu adalah glitch sistem."

"Itu bukan glitch," Atharva mematikan hologram tersebut dengan satu gerakan tangan agar tidak ada jejak yang tertinggal di log sistem. "Itu adalah tanda tangan. Aku melihat simbol yang sama di balik bingkai foto yang hilang di Galeri Alumni tadi pagi."

Keisya tertegun. Ekspresi wajahnya yang biasanya sedingin es retak sejenak, menunjukkan keterkejutan yang nyata. "Kamu masuk ke Galeri? Itu area yang sangat diawasi oleh algoritma Adrian."

"Alvaro," bisik Atharva, suaranya sangat rendah hingga hampir tidak terdengar. "Simbol itu adalah milik Alvaro. Seseorang sedang meninggalkan jejak untuk kita, atau mungkin, seseorang sedang mencoba memberitahu kita bahwa sistem ini memiliki pintu belakang yang pernah mereka bangun."

Keisya mendekat, memastikan posisi mereka jauh dari jangkauan sensor dinding. "Jika benar itu milik Alvaro, berarti dia belum sepenuhnya terhapus. Tapi, kenapa dia meninggalkan tanda itu untuk kita? Mengapa harus peringkat satu dan dua?"

"Karena mungkin hanya kita yang memiliki kapasitas untuk melihatnya," jawab Atharva singkat.

Tanpa mereka sadari, jauh di balik dinding kaca di sisi timur auditorium, sebuah lensa kamera mikro dengan resolusi tinggi sedang fokus pada gerak bibir mereka. Di ruang kontrol yang tersembunyi di balik dinding, seseorang duduk dengan tenang di depan monitor besar. Cahaya biru dari layar menyinari wajahnya yang samar dalam kegelapan.

Orang itu tidak bergerak. Ia hanya memperhatikan setiap detail percakapan Atharva dan Keisya melalui analisis audio sub-vokal. Jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme yang lambat, membentuk pola yang sama dengan simbol geometris yang baru saja dibahas oleh dua peserta itu.

"Menarik," bisik sosok itu, suaranya parau namun penuh otoritas. "Mereka lebih cepat dari yang kubayangkan. Biarkan mereka terus mencarinya. Semakin dalam mereka menggali masa lalu, semakin dalam pula mereka akan terperangkap dalam jebakan yang telah kubangun untuk mereka."

Sosok itu kemudian menekan satu tombol di konsolnya, mematikan rekaman secara otomatis dan menghapus log aksesnya. Atharva dan Keisya, yang masih asyik dengan diskusi mereka, tidak merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menyusup ke ruangan tersebut. Mereka merasa sedang bersekutu untuk membuka tabir misteri, namun mereka tidak sadar bahwa mereka hanyalah dua pion yang sedang diarahkan oleh seseorang yang jauh lebih mengerti alur permainan ini daripada siapa pun di Nexus Academy.

Percakapan sederhana itu pun berakhir saat notifikasi di lencana mereka berbunyi sebuah pengingat bahwa waktu istirahat telah usai, dan sistem menuntut mereka kembali ke posisi masing-masing, seolah-olah tidak pernah ada diskusi rahasia yang baru saja terjadi.

...****************...

Atharva dan Keisya segera menjaga jarak, kembali ke sikap formal yang diharapkan oleh sistem. Mereka berjalan keluar dari auditorium melalui koridor berbeda, namun pikiran mereka masih tertahan pada simbol yang sama.

Di ruang kontrol tersembunyi itu, sosok misterius yang mengamati mereka tidak langsung pergi. Ia memutar ulang rekaman percakapan tersebut sekali lagi. Suara Atharva dan Keisya yang teredam oleh desis ventilasi kini terdengar jernih di headset-nya.

"Alvaro..." gumam sosok itu, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin. "Kalian mencari sesuatu yang sudah menjadi abu di bawah kaki kalian sendiri."

Sosok itu mengetuk layar konsolnya, memunculkan grafik real-time dari seluruh asrama. Ia memantau pergerakan Farel yang kini sedang sibuk mencoba menyusup ke server lokal, lalu beralih ke Nabila yang terlihat sedang melamun di ruang komunal putri, seolah-olah ia bisa merasakan ada mata yang sedang mengawasinya dari balik dinding.

Kembali ke koridor utama, Atharva berjalan dengan langkah yang disengaja lambat. Ia tahu kamera pengawas mengikuti setiap jengkal pergerakannya. Ia sengaja mengaktifkan protokol lupa di otaknya menekan ingatan tentang simbol itu jauh ke bawah kesadaran agar tidak memicu deteksi emosional pada sensor biometrik Nexus yang sensitif.

Namun, saat ia berbelok di persimpangan menuju kelas taktis, ia tidak sengaja berpapasan dengan Vanessa Clarissa Mahardini. Ketua asrama putri itu berdiri dengan tangan bersedekap, menghalangi jalan. Tatapannya tidak lagi hangat; itu adalah tatapan seorang predator yang baru saja mencium bau mangsa.

"Kau menghabiskan banyak waktu di tempat yang salah hari ini, NX-001," suara Vanessa memecah kesunyian koridor.

Atharva berhenti, menatap Vanessa dengan wajah datar. "Aku hanya sedang menyesuaikan diri dengan tata letak akademi."

Vanessa melangkah mendekat, masuk ke dalam ruang privasi Atharva. "Jangan berpura-pura. Galeri Alumni bukan tempat untuk 'menyesuaikan diri'. Itu adalah tempat untuk belajar dari kesalahan orang-orang yang mengira mereka lebih pintar dari sistem."

Ia merendahkan suaranya hingga mencapai bisikan yang tajam. "Alvaro tidak menghilang karena dia tidak berbakat. Dia menghilang karena dia terlalu penasaran. Jika kau tidak ingin fotomu menjadi debu di dinding galeri itu, saranku adalah berhenti mencari simbol yang bukan urusanmu."

Vanessa tidak menunggu jawaban. Ia menepuk bahu Atharva dengan cara yang sangat intimidatif, lalu berjalan melewatinya dengan langkah yang sangat anggun, meninggalkan Atharva yang kini sadar sepenuhnya bahwa rahasia itu bukan lagi rahasia. Seseorang di jajaran pengawas sudah tahu apa yang mereka temukan, dan mereka kini sedang dimainkan dalam permainan yang jauh lebih berbahaya dari sekadar mempertahankan peringkat.

Atharva menatap punggung Vanessa yang menjauh. Ia baru saja menyadari satu hal: mereka tidak sedang diuji untuk menjadi siswa terbaik. Mereka sedang dipancing untuk menunjukkan siapa di antara mereka yang paling berani menantang struktur Nexus, agar mereka bisa disingkirkan satu per satu sebelum mereka menemukan pintu keluar yang sebenarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!