Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.
Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.
Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Balai Murid Inti
Jalur batu giok yang membelah area pepohonan persik bintang itu berujung pada sebuah pelataran luas yang mengelilingi bangunan megah berlantai tujuh. Ini adalah Balai Murid Inti, pusat administrasi dan komando bagi para elit Akademi Bintang Tujuh.
Saat Lin Chen dan Su Qingyue melangkah memasuki pelataran, puluhan pasang mata langsung tertuju pada mereka. Kabar di dunia kultivasi menyebar lebih cepat daripada angin. Fakta bahwa seorang murid baru yang baru saja menginjak ranah Pengumpulan Qi Tingkat 3 telah meremukkan lengan Liu Ming seorang penguasa area luar pelataran inti dipuncak Tingkat 8 telah menggemparkan seluruh asrama.
Beberapa murid inti menatap Lin Chen dengan kewaspadaan yang tinggi, sementara yang lain memancarkan niat permusuhan yang tak ditutupi.
Di tengah pelataran, pria paruh baya berjubah perak yang sebelumnya mengawasi ujian Tangga Bintang telah berdiri menunggu. Ia adalah Diaken penerimaan.
"Lin Chen. Su Qingyue," panggil sang Diaken dengan suara berat yang menghentikan bisik-bisik di sekeliling mereka. Matanya menatap tajam ke arah Lin Chen. "Kudengar kau baru saja membuat salah satu murid senior tingkat atas memuntahkan darah hingga tak sadarkan diri di luar lembah Mata Air Spiritual?"
Suasana menjadi tegang. Para murid inti yang berafiliasi dengan fraksi Liu Ming menyeringai, menantikan hukuman berat dijatuhkan kepada pemuda sombong dari sekte pinggiran tersebut.
Namun, Lin Chen tetap berdiri tegak, ekspresinya setenang danau es. "Dia mencoba merampas sumber daya kultivasi saya secara paksa. Saya hanya membela diri, Diaken."
Sang Diaken menatap Lin Chen selama beberapa detik, lalu tiba-tiba mendengus pelan.
"Di Akademi Bintang Tujuh, kami tidak membuang waktu untuk mengurusi tangisan mereka yang kalah," ucap sang Diaken lantang, membuat senyum di wajah para senior seketika luntur. "Kelemahan adalah dosa terbesar di sini. Jika Liu Ming tidak mampu mempertahankan posisinya dari seorang murid baru, maka ia pantas kehilangan wajahnya. Namun ingat, Lin Chen..."
Sang Diaken melangkah maju, memancarkan fluktuasi aura ranah Inti Emas yang menekan udara di sekitar mereka. "Dengan mengalahkan Liu Ming, kau telah menempatkan target besar di punggungmu sendiri. Fraksi yang menaunginya tidak akan membiarkan penghinaan ini berlalu begitu saja. Akademi tidak melarang pertarungan antar murid, selama kalian menantang di Arena Bintang dan tidak mencabut nyawa lawan."
Lin Chen hanya mengangguk pelan. Ia sudah memprediksi hal ini. Dunia kultivasi memang selalu memaksa seseorang untuk menebas jalan ke depan.
Sang Diaken kemudian menyerahkan dua set jubah sutra ungu berpola bintang dan dua kantong penyimpanan ruang kepada mereka. "Ini adalah seragam resmi dan jatah bulanan kalian sebagai Murid Inti. Di dalamnya terdapat seratus batu spiritual tingkat menengah. Mulai hari ini, kalian berhak memasuki Pagoda Teknik Bintang untuk memilih satu teknik bela diri berbasis Qi tingkat tinggi."
Mendengar kata Pagoda Teknik Bintang, mata Lin Chen sedikit menyipit.
Di dalam benaknya, Tua Hitam, roh kuno yang bersemayam di cincin hitamnya, langsung angkat bicara dengan nada serius.
"Bocah, ini saatnya," ucap Tua Hitam. "Fisik gajah purbamu memang luar biasa, tapi jika kau berhadapan dengan kultivator yang bisa membelah gunung dengan pedang terbang dari jarak sepuluh mil, tubuh bajamu pada akhirnya bisa ditembus. Kau sekarang sudah memiliki Qi yang sangat padat, kau butuh teknik mematikan untuk menggunakannya."
Pagoda Teknik Bintang
Setelah meninggalkan pelataran utama, Lin Chen dan Su Qingyue berjalan bersisian menuju sebuah pagoda kuno yang puncaknya diselimuti awan energi spiritual.
"Kau tidak takut menjadi sasaran balas dendam dari fraksi Liu Ming?" tanya Su Qingyue memecah keheningan. Nada suaranya datar, namun ada kehangatan yang sangat tipis dan tersirat di baliknya.
Lin Chen tersenyum tipis. "Harimau tidak pernah memikirkan balas dendam dari sekumpulan serigala yang terluka. Jika mereka datang, aku hanya perlu meninju mereka lebih keras. Bagaimana denganmu? Kudengar kau memilih jalan elemen murni."
"Guru pembimbingku adalah Tetua Puncak Salju. Ia akan mengajariku teknik pedang domain es," jawab Qingyue. Mata jernih sedingin es itu menatap Lin Chen, kali ini dengan sepercik tekad yang kompetitif. "Aku tidak akan membiarkanmu berjalan terlalu jauh di depanku, Lin Chen. Pada saat seleksi murid warisan nanti, aku mungkin akan menjadi lawan terberatmu."
Lin Chen tertawa pelan, sebuah tawa lepas yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. "Kalau begitu, aku akan sangat menantikannya."
Sesampainya di depan pintu raksasa Pagoda Teknik Bintang, seorang tetua penjaga yang buta duduk bersila di atas tikar jerami. Tanpa membuka matanya, tetua itu melambaikan tangannya, dan pintu perunggu berat itu berderit terbuka dengan sendirinya.
"Murid Inti baru, kalian memiliki waktu satu jam di lantai pertama dan kedua. Lantai ketiga ke atas ditutup untuk kalian sebelum kalian mencapai ranah Soul Formation. Pilihlah dengan bijak, karena teknik yang kalian ambil hari ini akan menentukan gaya bertarung kalian selama berada di ranah Pengumpulan Qi," suara serak tetua buta itu bergema di telinga mereka.
Keduanya melangkah masuk. Di dalam pagoda, ribuan gulungan bambu, lempengan batu giok, dan buku kuno melayang di udara, diselubungi oleh gelembung energi berwarna-warni.
Su Qingyue langsung melangkah menuju area sebelah kanan, tempat energi es dan air berkumpul dengan lebat. Sementara itu, Lin Chen berdiri diam di tengah ruangan.
"Tua Hitam, kau punya saran?" tanya Lin Chen dalam hati.
"Tutup matamu, Bocah. Jangan gunakan matamu untuk melihat. Gunakan darah gajah purbamu. Teknik yang cocok untuk kekuatan brutal dan Qi padatmu tidak akan terlihat mewah. Ia akan bersembunyi di tempat yang paling berat," instruksi Tua Hitam.
Lin Chen memejamkan mata. Ia memusatkan persepsi spiritualnya dan meresonansikan kekuatan darah di dalam tubuhnya. Di antara ribuan gelembung energi yang melayang ke sana kemari, ada satu sudut gelap di ujung ruangan yang terasa menindas, berat, dan kuno.
Lin Chen membuka matanya dan melangkah mantap menuju sudut kegelapan tersebut. Di atas sebuah rak batu yang sudah retak-retak, tergeletak sebuah lempengan giok berwarna abu-abu kusam, dipenuhi debu seolah tidak pernah disentuh selama berabad-abad.
Namun, saat jari Lin Chen menyentuh permukaan giok tersebut, sebuah raungan yang setara dengan guntur bergema langsung di Lautan Kesadarannya, membuat darah purbanya mendidih hebat.