Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PASANGAN WARAS
Pevita menahan senyum saat membaca pesan Kala, tak dipungkiri dirinya pun bahagia bila Kala selalu mengirim pesan absurd padanya. Terlihat sekali kalau Kala ingin membangun komunikasi yang baik sebagai suami. Meski masih gengsi, Pevita tak boleh terlalu cuek. Bukankah kesabaran seseorang itu ada batasnya. Pevita takut saja bila Kala pada akhirnya balas cuek, ah gak bisa ena-ena lagi dong. Buru-buru Pevita mengeplak kepalanya sendiri, kok bisa berpikiran sampai sana. Duh, jangan sampai Pevita terlihat ketagihan pada aktivitas panas itu.
Iya nanti aku langsung pulang. Ada yang mau aku bicarakan juga. Bahkan Pevita pada akhirnya menuruti kata suami untuk mengubah panggilan lo-gue menjadi aku kamu.
Bicara tentang apa? Balas Kala fast respond, dirinya sedang memakai pomade, hendak berangkat kuliah juga.
Anak. Satu kata namun berhasil menghentikan aktivitas Kala saat itu.
"Anak? Pevita mau punya anak sekarang? Atau gak mau punya anak dari aku? Apa karena aktivitas tadi malam, sehingga dia mau membicarakan soal anak? Wajar sih, tadi malam tembak dalam terus. Aku juga belum siap jadi ayah, duh dijeda sayang, gak dijeda kebobolan, hufh. Memang harus dibicarakan dengan seksama soal anak!" gumam Kala membesarkan hatinya untuk berdiskusi hal serius dengan Pevita.
Keduanya tak lagi berbalas pesan, karena masing-masing sedang berkonsentrasi di kelas. Apalagi Kala, ada waktu senggang ia memantau pendaftaran proyek dosen. Tak menyangka juga, pengembangan inovasi dosen di kampus ini termasuk aktif, dan bagusnya program ini mengajak mahasiswa mendapatkan pengalaman dalam suatu proyek sejak dini.
"Yang diambil berapa mahasiswa?" tanya Kala pada Teguh.
"15 mahasiswa dari segala angkatan, yang diterima tergantung standard nilai tes juga," jawab Teguh dan Kala mengangguk, ia paham akan seleksi yang akan ia jalani nanti.
"Kalau masuk ke proyek besar, cuannya gede juga loh, kata Mas Kaffa!" lanjut Teguh seolah dirinya adalah makelar kelas kakap.
"Oh ya?" Kala mengira karena mahasiswa dan belum banyak pengalaman, paling banter dapat komisi 500k. Tapi tidak, Teguh menunjukkan salah satu slip pendapatan Kaffa saat terlibat proyek dosen. "15 juta?" Kala kaget setengah mati, ternyata besar juga.
"Lah kan nilai proyeknya besar ratusan juta yang ini, makanya Mas Kaffa dapat gede juga!" jelas Teguh. Kala pun mulai menghitung, bila dia lolos proyek dosen, komisi yang ia peroleh bisa dijadikan nafkah lahir untuk Pevita bukan. Belajar jadi suami yang baik, maka akan memberi nafkah lahir juga, masa' iya sudah diberi kenikmatan nafkah batin, Kala tidak belajar untuk mencari kerja sejak dini.
Sejak obrolan hari itu, Kala pun belajar untuk persiapan seleksi minggu depan. Seleksi dilakukan dua tahap, yakni tahap K&S (knowledge dan skill) terkait kepenulisan, sumber data, dan juga skill pembuatan laporan dan pemrograman) sedangkan tahap kedua yakni wawancara, kata Teguh saat wawancara nanti akan terlihat mahasiswa yang diandalkan saat mengerjakan proyek, karena para dosen akan memberikan sebuah studi kasus, selain wawancara tentang profil diri.
Kala dan Pevita masih berangkat dan pulang mengendarai kendaraan masing-masing, meski
Tante Lily dan papa Adi sering menegur agar berangkat bersama bila ada jam kuliah pagi. Namun, Pevita masih kekeh berangkat masing-masing, dia belum siap mental kalau teman kampusnya tahu suaminya brondong.
Sore ini, Pevita lebih dulu sampai rumah, selang 15 menit Kala datang, dan rumah kembali sepi. Papa Adi dan Tante Lily ada acara di luar kota, sehingga Dio pun ikut. "Antar aku ke apotek," pinta Pevita, "Sekalian kita diskusi," tambah Pevita dan diangguki oleh Kala.
Sang istri memilih naik motor, Kala oke saja. Dengan menggunakan motor, keduanya menuju apotek dan juga cafe. Terlihat seperti orang pacaran, tapi petugas apotek kaget saat Pevita dengan berani membeli pil yasm*n dan juga pengaman rasa strawberry tanpa canggung. Hanya saja sebagai penjual, tak bertanya apapun dan melayani sesuai pesanan.
Setelah membayar, Kala dan Pevita menuju cafe. Keduanya hanya memesan minuman dan soft cake saja. "Kamu gak mau tanya kenapa aku beli pil KB dan pengaman?" tanya Pevita sembari menatap sang suami.
"Mau tapi saat di kamar saja!" jawab Kala masih punya rasa malu.
"Kalau di kamar ngapain tanya-tanya, di kamar ya waktunya eksekusi," jawab Pevita. Duh, istri yang ngomong, Kala yang malu. Pevita terkesan agresif, sampai Kala menoleh kanan-kiri khawatir ada pengunjung lain yang mendengar.
"Sayang, kalau bahas begituan jangan di ruang umum dong. Khawatir ada yang salah paham, nanti dikira kita terlibat pergaulan bebas loh!" Pevita tertawa, ternyata sang suami tak punya nyali bahas intim di luar kamar.
"Gini ya Acil," Kala langsung berdecak sebal mendengar panggilan untuknya. Yakin nih gak mau diubah?
"Sudah, gak usah protes. Hanya panggilan doang saja. Kembali ke topik, jadi gini kita kan sudah melakukan. Aku yakin baik aku atau kamu pasti ingin mengulang, gak usah malu gak usah mangkir, kenyataannya bikin nagih kan!" Kala menunduk, sumpah malu. Begini amat rasanya punya istri lebih dewasa. Sekata-kata omongannya tanpa rem.
"Acil dengar napa," rengek Pevita dan Kala pun berusaha menatap wajah sang istri tanpa tersipu malu. Di kamar atau chat, Kala juara bahas keintiman, tapi kalau di luar begini Pevita tak terkalahkan.
"Iya, lanjut!"
"Jadi nanti kita coba kamu pakai pengaman, gimana rasanya baik versiku maupun versi kamu. Terus kalau aku minum pil dan efeknya ke aku gimana, sehingga nanti kita bisa putuskan mau pakai apa."
"Oke!" hanya sebatas itu saja, Kala berani membalas topik bahasan horor sang istri.
"Please jangan mikir aku gak mau punya anak sama kamu, enggak. Saat kita sudah melakukan, detik itu juga aku sadar suatu hari nanti dalam pernikahan kita pasti muncul keturunan kita. Untuk itu, harus kita diskusikan. Aku gak mau punya anak tanpa perencanaan, khususnya finansial. Bukan mau merendahkan kamu yang belum bekerja, tapi aku berpikir di saat ekonomi sekarang begini apakah membesarkan anak hanya butuh slogan rezeki sudah ada yang mengatur, atau setiap anak bawa rezeki, tentu tidak kan. Makanya aku mau kita tetap melakukan hubungan suami istri, tapi tetap mengatur anak. Setuju?"
Kala dibuat terkesima dengan pemikiran panjang sang istri. Tak menyangka saja, cewek yang sering terlihat menolak pernikahan ini, nyatanya punya rencana matang juga soal masa depan. "Bagiku, saat kita memutuskan punya anak, maka kita harus selesai dengan diri kita terlebih dulu. Selagi belum ada anak, ayo semangat kejar impian kita, sehingga kalau kita sudah siap punya anak, tinggal fokus pada perkembangan anak, tanpa memikirkan masa remaja yang belum usai. Gimana?"
Kala tersenyum dan memberikan tepuk tangan pada sang istri, "Hebat. Padahal aku hanya berpikir lebih baik menunda punya anak saja, tapi kamu? Punya pemikiran luar biasa dan masuk akal. Soal anak, aku serahkan pada kamu, karena nanti kamu yang menjalani. Meski aku akan berusaha menjadi suami siaga, tetap saja lelahnya mengandung hanya kamu yang merasakan. Oleh sebab itu, aku ngikut aja soal anak."
"Bagus deh. Gak ada perdebatan tengil kayak biasanya, makasih sudah bisa diajak kompromi. Perlu kamu ingat, lebih baik kita berkambang baik dulu daripada berkembang biak!"
"Mantab istriku, boleh cium gak?" kan kan Kala mulai usil, Pevita hanya melotot saja, sudah tahu jawaban untuk tingkah absurd sang suami tanpa kata.
nobar , pengajian nya mamah Dedeh