Menjadi pengasuh CEO yang berpura pura menjadi anak berumur 7 tahun?
CEO bernama Halton Felix berumur 25 tahun, tubuh tinggi kekar dan juga berisi.
Menceritakan kehidupan yang sungguh pahit yang di jalani seorang perempuan polos yang bernama Qiandra Januar Putri. Dia berstatus pelajar kelas 2 di sekolah SMA Negeri yang ada di kota nya.
Dia seorang gadis yang cantik, baik dan juga ramah. Dia adalah anak yatim piatu, yang di tinggal orang tua nya sejak dia duduk di bangku kelas 6 SD.
Setiap hari dia berjualan donat di sekolah untuk menghidupi kehidupan dirinya dan juga adik kandungnya.
Di sekolah Qiandra adalah korban perundungan. Karena semua orang membenci dirinya akibat kemiskinan yang dia jalani.
Qiandra juga disukai Rio Dewandaru tuan muda yang terkenal akan kekayaan dan juga ketampanannya di sekolah.
Alih alih melindungi orang yang dia cintai, tuan muda yang terkenal akan kecerdasannya malah menjadi orang pertama yang ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9.
"Bagaimana? Penawaran ini hanya ber laku sekali, saya juga tidak akan pernah menawar kan penawaran ini untuk ke dua kali nya, harga rumah di perumahan elite di sini mencapai puluhan milyar, kalau tidak mau, bisa saya tawarkan ke gadis gadis pelajar lain, tapi kamu harus mengganti rugi, karena kemarin sanggup dan sudah menandatangani surat perjanjian." ucap Julia dengan nada yang terdengar seperti orang mengancam.
Dia ingin menggertak gadis yang ada di kursi mobil belakang nya, karena sebuah gertakan mungkin bisa membuat pemikiran gadis yang terlihat ragu itu, menjadi yakin.
"Ja - jangan nyonya, saya mau, saya mau menikah dengan anak nyonya dan mau merawat nya dengan baik ... Dan saya janji akan menyayangi nya sebagai anak kandung saya sendiri." ucap Qiandra dengan nada yang terdengar begitu serius.
"Bagus, ayo turun ... Ikut saya keluar dari mobil, dan ikuti kemana langkah kaki saya berjalan!" Ucap Julia.
"Ba - baik nyonya, tapi saya mohon, tolong bantu saya membuka pintu mobil ini, saya takut jika saya memegang nya, saya malah akan merusak mobil nyonya Julia, karena ini adalah mobil termewah yang pernah saya naiki," ucap Qiandra dengan nada yang begitu polos, Qiandra adalah tipe orang yang tidak enakan, maka nya gampang di perdaya oleh orang orang yang berada di dekat nya.
Ini lah yang membuat Julia begitu tertarik dengan gadis yang ada di depan nya, dia nampak polos dan juga ke ibuan. Dia juga terlihat seperti gadis baik, sungguh sangat lah cocok dengan anak nya nakal, playboy dan juga bedugal.
Di balik kepintaran dan kecerdasan seorang laki laki mapan, bernama Halton Felix Wayne, dia adalah seorang pemain wanita dan juga pemabuk berat, Julia ber harap gadis polos yang kini sedang bersama dengan nya, dapat membantu untuk mengubah kepribadian anak nya itu.
****
Di sebuah kamar tamu, di perumahan elite yang berada di kawasan merak.
Beberapa orang perias pengantin, sedang menunggu calon pengantin, untuk mereka rias, karena nyonya Julia menjanjikan akan membawa calon pengantin itu, tepat jam 7 pagi, tapi saat jam hampir menunjuk kan pukul delapan, nyonya besar dan juga calon pengantin belum menampak kan batang hidung nya.
Ceklek
Pintu pun terbuka, menampil kan Julia dan juga seorang gadis yang cantik dengan pakaian yang terlihat begitu lusuh.
"Qiandra," ucap seorang perias yang kini sedang duduk ber sama teman teman nya.
"Kak Erin?" Balas ucapan Qiandra ke pada mantan tetangga nya dulu.
"Jangan buang waktu saya dengan ber nostalgia, saya membayar mu mahal mahal untuk merias nya, buruan. Saya minta 15 menit, dia harus sudah cantik." Ucap Julia ke arah Erin dan ke sepuluh teman teman nya.
Julia sengaja membayar 11 orang hanya untuk mendandani calon menantu nya seorang dengan sangat kilat, karena pukul 10 pagi, tenaga kesehatan bagian laktasi juga akan datang. Untuk melakukan perawatan kilat, agar Qiandra bisa segera mengeluarkan asi, untuk menyusui anak nya.
Karena keadaan nya sekarang begitu genting, belum ada asupan makanan apa pun yang masuk ke dalam tubuh Felix anak nya.
Julia yang baru saja mendapat kan panggilan telepon, kini terlihat berjalan ke luar ruangan kamar tamu itu.
"Bukan kah elo masih sekolah, kenapa elo bisa masuk ke circle orang kaya ini!" Ucap Erin dengan nada kasar. Bahkan dia juga menyisir rambut Qiandra dengan gerakan begitu kasar, sampai Qiandra pun meringis kesakitan.
Qiandra hanya diam, tidak menjawab apa yang Erin kata kan.
"Emang nya, siapa sih dia?" Tanya salah seorang teman Erin, yang memenicure dan pedicure bagian kaki Qiandra.
"Kalian itu ingat gak? Keluarga miskin yang udah fitnah keluarga gue, kata nya ke dua orang tua gue, yang membunuh ke dua orang tua gadis polos yang dulu masih SD itu, para polis juga bodoh, kenapa harus menjadi kan anak kecil yang masih SD, untuk di jadikan sebagai seorang saksi. Yang membuat keluarga gue hancur berantakan, bahkan ayah gue yang udah di angkat sebagai PNS di bagian pemerintahan harus di copot jabatan nya, dan kalian lihat, sampai sekarang gue kerja hanya untuk membayar hutang hutang keluarga gue yang menumpuk." Erin menjelaskan dengan wajah yang terlihat penuh dendam kesumat, dan juga wajah yang terlihat memendam kebencian.
"Oh iya, gue inget cerita elo itu, padahal kan yang salah, ke dua orang tua si gadis polos itu, mereka menyebrang jalan tanpa melihat ke arah kanan dan juga kiri." Ucap salah satu teman Erin yang kini sedang mengoleskan bedak di wajah Qiandra.
"Padahal bokap gue, udah kelakson ke dua orang tua tlol itu, agar minggir, karena kalau nge rem mendadak, tidak akan ber hasil. Karena gue berada di kursi belakang mobil, dengan adik gue Pablo." Ucap Erin kembali mengulang cerita yang sama, di bumbui dengan ber bagai kebohongan di dalam cerita nya.
Karena yang sebenar nya terjadi, Pablo dan Erin ber tengkar di dalam mobil, dan Pablo yang mendapat jitakan dari kakak nya ber sikeras membuka pintu mobil, yang di kemudikan orang tua nya di jalan raya.
Dan saat Qiandra dan adik nya ingin menghampiri ke dua orang tua nya, dia harus menelan pil pahit, karena melihat mobil dinas milik pemerintah, yang di kemudikan oleh ke dua orang tua Erin ber kelok kelok, menabrak ke dua orang tua Qiandra di depan mata Qiandra, bahkan mobil itu juga melindas tubuh ke dua orang tua Qiandra di depan mata gadis polos yang masih ber status sebagai pelajar sekolah dasar itu.
Lalu mobil itu tampak kabur begitu saja, saat tahu telah menabrak dan melindas seseorang, Qiandra sedih meraung raung, saat melihat ke dua orang tua nya di tolong beberapa pengendara jalan yang lewat, posisi ke dua orang tua nya yang dalam sakaratul maut. Sedang kan Diandra memasang ekspresi datar, sembari terus melihat ke arah mobil yang menabrak ke dua orang tua nya.
Tak ber selang lama polis pun datang, dia mendengar kan ke saksian Qiandra dan juga adik nya Diandra yang berhasil menghafal plat nomor milik si penabrak. Dan menjadi kan kesaksian pasangan kakak ber adik itu, menjadi saksi yang akurat untuk naik ke pengadilan, polis juga mencocokan antara video CCTV jalan dan juga kesaksian dua bocah SD itu. Hasilnya begitu cocok maka nya ke dua orang tua Erin, di tahan dan mendapat kan hukuman.
"Nah perempuan SD yang masih polos itu, adalah anak ini!" Ucap Erin dengan wajah dendam sembari mendorong kepala Qiandra dengan sangat keras.
Membuat alat pengikis yang di gunakan menicure dan juga pedicure, mengikis bagian kulit jari kuku di bagian kaki dan juga tangan milik Qiandra, bahkan kini mengeluarkan darah.
"Erin, lihat lah, kau merusak riasan tangan ku," ucap salah satu teman Erin dengan nada marah.
"Bagaimana ini, kalau nyonya Julia marah, karena tangan sama kaki gadis polos ini terluka," ucap salah satu teman Erin, dengan wajah takut.
Erin yang tadi ber jalan ke arah kotak p3k, lalu ber jalan kembali ke arah teman teman nya, untuk menempel kan kapas yang sudah di beri cairan anti septik, dengan sangat kasar, menekan nekan kapas itu bagian kulit Qiandra yang terluka.
"Diam, gak usah nangis, elo gak kasihan sama teman teman gue, nyonya Julia, bisa mem bunuh teman teman gue, karena riasan elo rusak akibat air mata palsu mu itu, kalau sampai elo ngadu, awas!" Ancam Erin.
Qiandra hanya bisa pasrah, lalu semua teman teman Erin mengakal luka Qiandra, dengan menutup luka itu, dengan foundation yang di oles kan ke luka yang masih basah.
Brakkk
Pintu pun di buka dengan kasar.
"Waktu kalian habis!" Ucap Julia.