NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 - BALAI EVAKUASI YANG GAGAL

Langit kota tidak lagi memamerkan semburat jingga sore yang damai. Udara di atas sana telah tercemar oleh jelaga hitam yang membubung dari kebakaran-kebakaran kecil di pinggiran distrik. Aroma menyengat dari karet terbakar, bensin, dan sesuatu yang amis samar-samar tercium setiap kali angin berembus. Suara sirine yang awalnya terdengar bersahutan teratur dari pos-pos polisi kini berubah menjadi raungan distorsi yang kacau—seolah-olah tombol darurat kota ini telah ditekan, lalu ditinggalkan begitu saja oleh orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab.

Damar merasa paru-parunya seperti dihantam godam. Setiap kali dia menarik napas, tenggorokannya terasa perih dan kering seperti menelan pasir. Di sebelah kanannya, Naya berlari dengan langkah yang kian menyeret. Gadis itu sudah tidak lagi menangis; air matanya mengering, digantikan oleh ekspresi syok dan tatapan kosong yang lurus menatap aspal di depan mereka. Sementara di belakang, Rendi konstan mengayunkan kakinya, bertindak sebagai jangkar sekaligus penunjuk arah.

Namun, yang paling menguras kewarasan Damar bukanlah rasa lelah yang menggelayuti otot-otot kakinya. Melainkan suara-suara di belakang mereka.

Gemuruh langkah kaki itu tidak pernah benar-benar menjauh. Suaranya ganjil, tidak beraturan, dan sama sekali tidak memiliki ritme layaknya manusia yang sedang mengejar buruan. Ada bunyi gesekan sol sepatu yang terseret kasar, hantaman tumit yang terlalu berat, dan sesekali suara tulang yang berderak kaku ketika makhluk-makhluk itu berbelok memutari sudut gang. Suara erangan parau dari tenggorokan yang rusak terus mengudara, bersahutan seperti paduan suara kematian yang menolak untuk selesai.

“Kita mau ke mana lagi, Ren?!” teriak Damar di sela deru napasnya. Kepalanya menoleh sekilas, mendapati bayangan kelabu beberapa sosok compang-camping mulai muncul dari balik kelokan gang yang baru saja mereka lalui.

Rendi menyalip posisi Damar, memimpin di depan sambil menunjuk ke arah kompleks bangunan berpagar tinggi di ujung jalan setapak. “Balai sekolah dasar di depan! Pemerintah jadiin tempat itu sebagai titik evakuasi sektor tiga! Tadi subuh gue denger siaran radio daruratnya!”

Damar mengernyitkan dahi, hatinya disergap keraguan instan mengingat peringatan Rendi di kolong jembatan tadi tentang bahayanya tempat ramai. “Maneh yakin tempat itu aman?! Tadi katanya bilang tempat komunal bakal hancur duluan!”

Rendi tidak membalas ucapan Damar. Dia hanya terus memacu langkahnya membelah jalanan kecil yang lengang. Keheningan pria itu sudah menjadi jawaban yang cukup bagi Damar: *Aman atau tidak, mereka hanya butuh dinding pembatas kokoh sekarang untuk sekadar bertahan hidup dari kejaran makhluk di belakang.*

Begitu mereka berhasil meloloskan diri dari labirin gang dan menembus jalan arteri utama, pemandangan di depan mata membuat Damar terpaksa mengerem langkahnya sejenak. Kota ini tidak lagi sekadar berantakan; kota ini sudah mati dan membusuk dalam hitungan jam.

Sedikitnya ada lima mobil yang saling bertubrukan di tengah persimpangan, salah satunya mengeluarkan asap putih tebal dari kap mesin yang ringsek. Sebuah motor matic tergeletak miring di dekat trotoar dengan lampu depan yang masih menyala redup, roda belakangnya berputar sia-sia membelah genangan cairan kental berwarna merah tua.

Manusia-manusia berlarian tanpa arah seperti kawanan semut yang sarangnya baru saja diinjak. Di dekat ruko yang jendelanya pecah, seorang pria paruh baya bersumpah serapah sambil mencoba menyalakan mesin mobilnya yang mogok. Tak jauh dari sana, seorang ibu terduduk lesu di atas trotoar, memeluk tas belanjaan kosong sambil meraung histeris memanggil nama anaknya yang entah ada di mana. Dan yang paling mengerikan, di seberang jalan, dua orang pria berpakaian rapi mendadak kalap, menerkam seorang pejalan kaki paruh baya dan mulai mencabik kemejanya dengan beringas tanpa alasan yang masuk akal.

“Damar, jangan bengong! Jalan!” Naya menyentak lengan jaket Damar dengan sisa tenaga yang dia miliki. Sentakan itu menyadarkan Damar dari syok sesaatnya. Dia menggelengkan kepala kuat-kuat, lalu kembali memaksa kakinya berlari mengekor di belakang Rendi.

Di ujung jalan utama itu, berdirilah kompleks bangunan sekolah dasar negeri yang dimaksud Rendi. Pagarnya terbuat dari besi tempa setinggi dua meter, kokoh dan kokoh. Pintu gerbang utamanya terbuka lebar, menjadi muara bagi puluhan manusia yang berdesakan mencoba merangsek masuk ke dalam area halaman.

Di atas tembok pembatas, tiga orang personel militer berpakaian loreng lengkap dengan helm taktis berdiri tegak. Laras senjata serbu mereka diarahkan ke jalanan bawah, memantau pergerakan massa dengan raut wajah yang luar biasa tegang.

“MASUK! REKREASI WARGA HARAP MASUK KE DALAM AREA LAPANGAN DENGAN TERTIB! CEPAT!” teriak salah satu tentara menggunakan megapon genggam. Suaranya parau, nyaris habis karena terus-menerus berteriak sepanjang hari.

Melihat keberadaan seragam militer dan moncong senjata itu, secercah rasa lega yang naif mendadak menyeruak di dada Damar. Sisi manusianya yang terbiasa hidup di bawah lindungan hukum berbisik bahwa segalanya akan baik-baik saja selama otoritas bersenjata masih berdiri tegak.

“Masih ada militer, Ren… Kita bisa selamat di dalam,” gumam Damar, mencoba menyemangati dirinya sendiri dan Naya.

Rendi melirik tentara di atas tembok dengan tatapan dingin, rahangnya mengencang. “Ya, untuk sekarang mereka masih berdiri di situ. Kita lihat sampai kapan.”

Mereka bertiga bergegas membaur dengan kerumunan warga di depan gerbang. Langkah mereka melambat karena himpitan ratusan tubuh manusia yang saling sikut, mengabaikan segala jenis sopan santun demi bisa melewati pembatas besi itu.

Namun, sebelum kaki Damar sempat menginjak semen halaman sekolah, sebuah jeritan melengking yang memekakkan telinga pecah dari barisan belakang antrean, hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat mereka berdiri.

“AAAAAAH! LEPASIN! TOLONG!!”

Damar refleks menoleh ke belakang, melompati pundak orang-orang di sekitarnya. Seorang pemuda berjaket jinjing ambruk ke aspal setelah bagian bahunya digigit secara brutal oleh seorang wanita bergaun robek. Belum sempat pemuda itu merangkak bangun, dua sosok lain dengan gerakan kaku dan wajah berlumuran darah pekat langsung ikut menerjang, menjatuhkannya kembali ke tanah. Mereka mulai menyerang pemuda itu layaknya hewan buas yang kelaparan, mengabaikan jeritan histeris dari korban yang perlahan melemah.

“Ini apaan… Kenapa mereka nggak saling tolong…?” bisik Damar dengan bibir bergetar, pandangannya terkunci pada pemandangan mengerikan itu.

Rendi menyambar kerah kaus Damar dari belakang, menariknya dengan sentakan kasar hingga Damar nyaris terjungkal. “Gue udah bilang jangan pernah lihat mereka terlalu lama! Mau jadi hidangan penutup lo di luar sini? Maju!”

Dengan paksa, Rendi mendorong tubuh Damar dan Naya menerobos sela-sela jepitan tubuh warga hingga akhirnya mereka berhasil melewati gerbang besi sekolah. Begitu mereka masuk, pintu gerbang itu langsung didorong menutup oleh empat orang tentara dari dalam, dikunci menggunakan rantai kapal berukuran tebal.

Halaman dalam sekolah dasar itu seketika terasa seperti kamp pengungsian perang. Lapangan upacara yang biasanya bersih kini dipenuhi oleh ratusan orang yang telantar. Ada anak-anak kecil yang menangis keras di pelukan ibunya yang syok, kelompok pria dewasa yang saling berdebat kasar dengan urat leher menegang, serta barisan orang terluka yang duduk bersandar di koridor kelas dengan perban seadanya yang mulai memerah oleh rembesan darah.

Beberapa tentara dengan baret hijau tampak sibuk mondar-mandir, mencoba mengarahkan massa yang kian histeris. “SEMUA WARGA HARAP SEGERA MASUK KE DALAM GEDUNG UTAMA DAN AULA! JANGAN BERKUMPUL DI AREA TERBUKA! CEPAT!”

Damar mencoba mengatur napasnya yang putus-putus, membiarkan tubuhnya terbawa arus massa menuju ke arah aula besar di sisi kiri kompleks sekolah. Naya berjalan di sampingnya, mencengkeram ujung baju Damar dengan sangat erat, seolah-olah Damar adalah satu-satunya tali penyelamat yang tersisa di dunia ini. Sementara Rendi tetap waspada di posisi paling belakang, sepasang matanya tidak pernah berhenti memindai kerumunan orang di sekitar mereka.

Untuk beberapa menit yang singkat, ketika Damar melihat barikade kokoh dan para tentara yang berjaga di setiap sudut koridor, sebuah ilusi keselamatan sempat melintas di benaknya. Dia berpikir bahwa di tempat ini, kegilaan yang terjadi di luar sana akhirnya bisa diredam.

Namun, harapan naif itu langsung hancur berkeping-keping tidak lama kemudian.

Di tengah-tengah kerumunan warga yang sedang berjalan berdesakan di koridor kelas menuju aula, seorang pria bertubuh gempal mendadak menghentikan langkahnya. Pria itu berdiri kaku di tengah arus manusia, kepalanya tertunduk dalam-dalam dengan bahu yang naik turun tidak teratur.

Awalnya, orang-orang di sekitarnya mengira pria itu hanya kelelahan atau sedang sesak napas. Beberapa warga bahkan sempat mencoba menepuk bahunya untuk bertanya. Namun, sedetik kemudian, tubuh pria itu mendadak kejang hebat. Dia ambruk ke lantai koridor, mengerang parau sebelum akhirnya bangkit berdiri kembali.

Hanya saja, cara berdirinya sudah tidak lagi sama.

Gerakan tubuhnya patah-patah, engsel lututnya dipaksa lurus dengan posisi yang janggal. Ketika kepalanya mendongak perlahan, Damar yang berdiri hanya berjarak lima meter di depannya bisa melihat dengan jelas: sepasang bola mata pria itu sudah memutih total tanpa pupil, dan dari sela-sela bibirnya yang robek, mengalir cairan kental berwarna kehitaman.

“Eh… itu…” gumam Damar, suaranya tercekat di tenggorokan.

Pria itu mengeluarkan raungan parau yang memekakkan telinga, lalu dengan kecepatan yang tidak masuk akal, dia langsung melompat menerjang seorang wanita paruh baya di dekatnya, menancapkan giginya ke leher wanita itu hingga darah segar menyembur ke dinding kelas.

“ADA YANG KENA!! INFECTED DI DALAM CORIDOR!!” teriak seorang tentara dari ujung lorong dengan suara melengking panik.

Seketika itu juga, ilusi keselamatan di balai evakuasi meledak menjadi kepanikan massal yang brutal.

“TEMBAK!! JANGAN BIARKAN MENDEKAT!!”

*DUAR! DUAR!*

Suara tembakan senapan serbu menggema hebat di dalam lorong yang sempit, memekakkan telinga siapa saja yang ada di sana. Satu sosok jatuh berlumuran darah setelah dadanya dihantam peluru, tapi di sudut lain koridor, jeritan histeris justru semakin membara.

“TUTUP GERBANG DEPAN!! JANGAN ADA YANG MASUK LAGI!!”

“SANGAT TERLAMBAT! MEREKA SUDAH JEBOL DARI PAGAR BELAKANG!!”

Suara kepanikan para tentara lewat HT bersahutan dengan teriakan histeris ratusan warga yang saling injak demi bisa menyelamatkan diri. Pintu-pintu kelas yang awalnya terkunci mulai jebol karena tekanan massa. Massa yang berada di halaman luar berdesakan mencoba masuk ke dalam gedung, sementara orang-orang di dalam koridor berusaha lari keluar. Arus manusia itu bertabrakan di tengah lorong, menciptakan kekacauan total.

Damar tidak berpikir lagi. Dia langsung menyambar pergelangan tangan Naya, menarik gadis itu dengan sentakan kuat. “Naya, jangan lepas! Ikut Aing!”

Tepat di belakang mereka, sesosok makhluk dengan pakaian robek mencoba merangsek maju ke arah Naya. Sebelum makhluk itu sempat menyentuh seujung rambut Naya, Rendi yang entah sejak kapan sudah memegang sebuah besi cor berkarat—kemungkinan dia memungutnya dari tumpukan material di halaman tadi—langsung mengayunkan besi itu dengan sekuat tenaga.

*BRAK!*

Hantaman keras besi cor itu tepat mengenai pelipis makhluk tersebut hingga jatuh tersungkur ke lantai. “JANGAN LIHAT KE BELAKANG! JALAN TERUS KE GEDUNG UTAMA!!” teriak Rendi dengan urat leher yang mencuat tegang.

Di dalam kompleks sekolah, situasi telah berubah total menjadi simulasi neraka jahanam. Lorong-lorong yang biasanya dipenuhi tawa anak-anak sekolah kini menjelma menjadi koridor penjagalan.

Damar melihat semuanya dengan mata kepala sendiri secara *slow-motion*: seorang bapak-bapak jatuh tersungkur lalu langsung diinjak-injak oleh puluhan orang yang panik tanpa ada yang peduli; di sudut dekat mading sekolah, seorang tentara muda sedang berjuang menahan rahang makhluk yang mencoba menggigit wajahnya; dan di dalam salah satu ruang kelas yang kacau, beberapa orang yang beberapa menit lalu masih menangis kini bangkit berdiri dengan tatapan kosong yang mati, siap mencari mangsa baru.

Ini bukan lagi sekadar wabah penyakit atau kegilaan massal akibat zat kimia. Damar akhirnya menyadari satu hal yang teramat pahit: ini adalah kepunahan sistematis yang sedang merayap cepat.

“MASUK KE AULA UTAMA! CEPAT!” Rendi berteriak sambil mendorong pundak Damar dari belakang, mengarahkan mereka menerobos sepasang pintu kayu besar yang menuju ke aula pertemuan sekolah.

Begitu mereka berhasil masuk, beberapa warga dari dalam langsung mendorong pintu kayu itu hingga menutup, menguncinya dengan palang kayu darurat yang diambil dari kaki meja.

Aula itu sangat luas, biasanya digunakan untuk acara wisuda atau rapat guru. Kini, ruangan itu dipenuhi oleh sekitar dua ratus orang yang ketakutan. Suasana di dalam aula dipenuhi oleh gema tangisan, doa-doa yang dirapalkan dengan suara bergetar, dan deru napas panik dari orang-orang yang terluka. Di setiap sisi jendela kaca yang tinggi, beberapa tentara tampak berjaga dengan senapan yang gemetar di tangan mereka.

Namun, ketenangan semu di dalam aula itu tidak bertahan lebih dari dua menit.

*BRAK!*

Sebuah hantaman keras mendadak menghantam permukaan pintu kayu utama aula dari luar. Seluruh ruangan seketika hening total, menyisakan suara isak tangis yang tertahan.

*BRAK! BRAK!*

Hantaman itu kembali terdengar, kali ini jauh lebih brutal dan beruntun. Struktur pintu kayu itu mulai berderit protes, pasak besinya perlahan melonggar dari kusen tembok. Dari celah bawah pintu yang miring, bayangan puluhan pasang kaki yang bergerak tidak keruan mulai terlihat jelas.

Damar melangkah mundur perlahan, menuntun Naya yang kini sudah menyembunyikan wajahnya di balik punggung Damar, tubuhnya bergetar hebat. “Mereka… mereka sudah tahu kita di dalam,” bisik Damar dengan suara parau.

Rendi menatap pintu kayu itu dengan pandangan dingin, jemarinya mencengkeram besi cor di tangannya hingga memutih. “Bukan tahu, Dam. Mereka cuma ngikutin asal suara kerumunan. Sialan, tempat ini beneran jadi jebakan tikus.”

*DUAR!*

Seorang tentara di barisan depan nekat melepaskan tembakan menembus papan pintu kayu, mencoba menghalau massa di luar. Namun, tindakan itu justru menjadi pemicu kehancuran yang lebih cepat.

Pintu kayu utama itu akhirnya jebol total setelah dihantam oleh gelombang massa makhluk dari luar. Pasak besinya patah, membiarkan puluhan sosok kaku dengan pakaian berlumuran darah segar merangsek masuk ke dalam aula layaknya air bah yang bobol dari bendungan.

Sesosok makhluk di barisan terdepan memiliki separuh wajah yang hancur, namun gerakannya sama sekali tidak melambat. Dengan mata putih kelabunya yang mati, makhluk itu langsung mengunci pandangan ke arah kerumunan warga di tengah aula dan mulai berlari serong dengan beringas.

“ITUUU!! MEREKA MASUK!! KELUAR LEWAT MANA SIALAN?!”

“JANGAN MENDEKAT! TEMBAKKK!!”

Histeria kembali meledak di dalam aula. Ratusan orang berlarian tunggang-langgang ke segala arah, saling dorong dan menjatuhkan satu sama lain demi bisa menjauh dari pintu utama.

Tepat di saat kekacauan itu mencapai puncaknya, suara pengeras suara dari langit-langit aula mendadak berbunyi, memancarkan rekaman suara operator darurat yang datar dan monoton, kontras dengan jeritan maut yang menggema di bawahnya.

*“DIBERITAHUKAN KEPADA SELURUH WARGA DI DALAM GEDUNG EVAKUASI HARAP TETAP TENANG… SITUASI DI AREA LUAR MASIH DAPAT DIKENDALIKAN OLEH PETUGAS… MOHON UNTUK TIDAK PANIK…”*

Damar mengeluarkan tawa kecil yang terdengar sangat getir dan pahit di sela larinya. “Dikendalikan…? Mereka bilang situasi gila kayak begini masih bisa dikendalikan?!”

Kekacauan di dalam aula kian tidak terkontrol ketika beberapa orang yang berada di sudut ruangan mendadak tumbang dan langsung bangkit kembali sebagai ancaman baru. Dalam hitungan detik, ruang pertemuan yang luas itu bertransformasi menjadi arena penjagalan komunal. Suara letusan senapan serbu bersahutan dengan bunyi robekan kain dan teriakan maut manusia yang digigit hidup-hidup.

“TEMBAK SEMUA YANG BERGERAK KAKU! JANGAN RAGU!!” teriak seorang komandan tentara sebelum suaranya tenggelam oleh serbuan tiga makhluk sekaligus.

Damar menggandeng erat tangan Naya, matanya bergerak liar mencari jalan keluar alternatif. “Rendi! Pintu belakang aula! Lewat panggung!”

Rendi mengangguk cepat, mengayunkan besi cornya untuk meremukkan kepala sesosok makhluk yang mencoba menghalangi jalur mereka. “Gue di belakang lo! Jalan terus, jangan berhenti buat apa pun!”

Mereka bertiga berlari sekencang-kencangnya membelah lantai aula, melompati beberapa tubuh yang tergeletak bersimbah darah dan mengabaikan jeritan minta tolong dari orang-orang di sekitar mereka. Egoisme bertahan hidup telah mengambil alih seluruh kesadaran mereka malam itu.

Begitu sampai di balik panggung aula, mereka menemukan sebuah pintu besi kecil yang biasanya digunakan sebagai jalur evakuasi kebakaran atau pintu masuk kru logistik. Rendi langsung merangsek ke depan, mengangkat kaki kanannya lalu menghantam pintu besi itu dengan sekuat tenaga.

*BRAK!*

Grendel pintu yang sudah berkarat itu patah setelah hantaman kedua. Pintu besi berayun terbuka, membiarkan embusan angin malam yang dingin langsung menerpa wajah mereka yang berselimut keringat dan debu.

“CEPAT KELUAR! SEBELUM MEREKA NYADAR!!” seru Rendi sambil menahan daun pintu.

Damar menuntun Naya melompat turun melewati tiga anak tangga semen di luar pintu aula, disusul oleh Rendi yang langsung menutup kembali pintu besi itu dan mengganjal gagangnya menggunakan besi cor yang dia bawa.

Namun, ilusi kebebasan itu hanya bertahan kurang dari satu detik.

Jalur belakang sekolah yang mereka kira sepi ternyata telah menjelma menjadi titik buntu yang mematikan. Gelombang pengungsi lain yang panik dari arah gedung kelas sebelah timur mendadak merangsek masuk ke area gang sempit tersebut. Di saat yang sama, pagar pembatas belakang sekolah runtuh akibat tekanan massa *infected* yang datang dari arah pemukiman warga.

Situasi berubah menjadi anarki total dalam sekejap mata. Ratusan manusia saling dorong, menjerit, dan menginjak satu sama lain demi menghindari kejaran dari dua arah.

“Damar! Naya! Tetep di belakang gue!” teriak Rendi, mencoba memasang badan. Namun, arus manusia yang datang bagai air bah hantaman badai langsung menerjang tubuh mereka tanpa ampun.

Sebuah dorongan brutal dari sekelompok pria yang panik menghantam pundak Damar dengan telak. Cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Naya terlepas paksa.

“DAMAR!!” Naya menjerit histeris. Wajahnya yang pucat pasi langsung terseret mundur oleh arus pengungsi yang bergerak berlawanan arah.

“NAYA!!” Damar berusaha menggapai maju, namun tubuhnya justru terdorong semakin menjauh, terhimpit di antara belasan orang yang berlari kalap.

Di tengah kekacauan itu, Rendi mencoba mengayunkan besi cornya untuk membuka jalan kembali menuju Damar. Namun, dari arah samping, tiga orang *infected* melompat dari atas reruntuhan pagar, langsung memicu gelombang kepanikan baru yang memecah kerumunan menjadi beberapa pecahan massa. Rendi terpaksa mundur sekian langkah untuk menghindari terkaman, membuatnya terisolasi di sudut dekat tangki air besar, terpisah jauh dari Damar dan Naya.

“Rendi! Naya!” Damar berteriak sekuat tenaga hingga tenggorokannya terasa pecah dan mengeluarkan rasa anyir darah.

Pandangannya bergerak liar di antara kepala orang-orang yang saling sikut. Dia sempat melihat sekilas jaket Naya bergerak menjauh ke arah gerbang darurat barat yang mengarah ke dalam hutan kota, sebelum akhirnya sosok gadis itu hilang sepenuhnya ditelan kegelapan malam dan kerumunan massa. Sementara di sudut lain, siluet Rendi tampak terpaksa berlari memanjat dinding pembatas menuju atap rumah warga demi menghindari kepungan makhluk-makhluk kaku yang kian beringas.

Damar sendiri terus terdorong oleh kepungan orang-orang yang tersisa, menyeret kakinya yang mulai mati rasa menuruni tebing jalan belakang sekolah, menjauh dari kompleks bangunan yang kini telah sepenuhnya menjadi ladang pembantaian.

Ketika gelombang massa akhirnya mengurai dan menyisakan kesunyian yang mencekam di ujung jalan setapak yang asing, Damar jatuh berlutut di atas aspal dingin. Napasnya memburu, putus-putus, dan dadanya terasa sesak luar biasa—bukan hanya karena lelah, melainkan karena rasa hampa yang mendadak merenggut separuh kesadarannya.

Dia sendirian sekarang.

Damar menyeka keringat dingin yang bercampur debu di dahinya dengan tangan yang bergetar hebat. Di tengah kegelapan malam yang kian pekat, gema erangan parau makhluk-makhluk di kejauhan kembali terdengar, mengingatkannya bahwa waktu untuk meratap tidak pernah ada.

Dengan sisa tenaga dan kewarasan yang nyaris habis, Damar memaksakan dirinya untuk kembali berdiri tegak. Dia menatap jalanan gelap di depannya, menguatkan hati demi satu-satunya tujuan yang tersisa di kepalanya sekarang: bertahan hidup, dan menemukan mereka kembali.Di kejauhan, kota itu terus terbakar, perlahan meredup bersama hancurnya peradaban manusia yang mereka kenal.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!