NovelToon NovelToon
Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Oops! Teman Kontrakanku Dosen Paling Hot Di Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aliska Rosemary

Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.


Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.


Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Pesta dan Rahasia yang Bocor

Pantulan di cermin besar itu seolah menampilkan sosok asing yang baru saja keluar dari majalah mode Paris. Kiandra menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya menyesuaikan diri dengan sesaknya gaun slip dress berbahan satin warna hijau zamrud yang kini membungkus tubuhnya.

Gaun itu sederhana, tanpa payet atau detail rumit, namun potongannya yang jatuh dengan sempurna menonjolkan lekuk pinggangnya yang ramping. Warna hijaunya yang pekat menciptakan kontras yang berani dengan kulit kuning langsatnya, membuat Kiandra terlihat lebih dewasa dan... berbahaya.

"Oke, Ki. Malam ini kamu bukan mahasiswi yang sausnya dibuang ke tempat sampah. Malam ini kamu adalah... tamu pesta yang elegan," gumamnya, mencoba menyemangati diri sendiri.

Ia memoleskan lipstik merah bata ke bibirnya, memberikan sentuhan akhir yang tegas pada wajahnya yang biasanya terlihat polos. Rambut hitam sebahunya dibiarkan tergerai, jatuh dengan lembut di atas bahunya yang terbuka. Kiandra menatap pantulannya sekali lagi, memastikan tidak ada satu helai pun yang berantakan.

Ia meraih tas kecilnya, lalu melangkah keluar kamar dengan ragu. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai kayu dengan bunyi yang terdengar sangat nyaring di tengah keheningan apartemen.

Begitu sampai di ruang tengah, langkah Kiandra mendadak terkunci.

Enzo Romano masih di sana. Pria itu duduk santai di sofa dengan sebuah buku tebal di tangannya, namun penampilannya kali ini benar-benar menghancurkan sisa-sisa pertahanan mental Kiandra.

Enzo hanya mengenakan celana piyama hitam yang longgar di pinggul, bertelanjang dada.

Rambut cokelat gelapnya masih terlihat lembap, acak-acakan seksi seolah baru saja dikeringkan dengan handuk secara asal. Di bawah cahaya lampu temaram, otot-otot di bahu lebarnya yang kokoh berkilau pelan, memperlihatkan definisi atletis yang begitu nyata. Garis-garis otot di perutnya tampak keras, membentuk V-line yang menghilang di balik karet celana piyamanya yang rendah.

Kiandra merasa oksigen di paru-parunya mendadak habis. Ia berjuang keras untuk tetap menatap langit-langit, atau apa pun, asal bukan dada bidang pria itu.

"Bisa tidak, sehari saja, kamu pakai baju lengkap di rumah ini?" batin Kiandra merana.

Enzo menurunkan bukunya perlahan. Mata hazel-nya yang tajam memindai Kiandra dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya tidak terburu-buru, seolah sedang menilai kualitas sebuah wine langka yang baru saja dibuka. Intensitas tatapan itu begitu provokatif, membuat kulit Kiandra terasa seperti terbakar.

"Cantik sekali, Piccola," suara Enzo berat, dalam, dan terdengar sangat tulus.

Jantung Kiandra berdesir hebat. Pujian itu terasa lebih memabukkan daripada aroma wine mana pun. Ia tersipu, meremas tali tasnya dengan jemari yang mendadak dingin.

"Terima kasih. Aku pergi sekarang," ucap Kiandra cepat, mencoba melarikan diri dari atmosfer yang mulai terasa terlalu intim.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan keras di pintu depan memecah ketegangan yang baru saja terbangun.

"Kiandra! Ayo berangkat! Taksinya sudah di bawah!" suara cempreng Mei Ling menggema dari balik pintu, menembus dinding apartemen dengan energi yang meluap-luap.

Kiandra melangkah cepat menuju pintu, nyaris berlari. "Iya, Mei! Sebentar!"

Sebelum memutar kunci, Kiandra menoleh ke arah Enzo yang kini kembali mengangkat bukunya, seolah-olah tidak ada hal besar yang baru saja terjadi.

"Aku pamit. Jangan tidur terlalu larut," ucap Kiandra.

Enzo hanya mengangkat bukunya sedikit sebagai jawaban, fokusnya kembali tertelan oleh deretan kalimat di sana. "Selamat bersenang-senang, anak manis."

Ceklek.

Kiandra membuka pintu, menyapa Mei Ling yang sudah tampil heboh dengan jaket bulu warna-warni dan riasan mata yang berkilau.

"Lama banget sih, Ki—"

Kalimat Mei Ling terputus begitu saja. Matanya melewati bahu Kiandra, menembus ke dalam ruang tengah yang remang.

Mata Mei Ling membelalak sempurna. Mulutnya menganga lebar, menatap sosok pria tanpa atasan yang sedang bersantai di sofa dengan gaya yang sangat maskulin.

"Ki... itu siapa?! Hot banget, gila!" teriak Mei Ling histeris, suaranya melengking memenuhi koridor gedung.

Kiandra tersentak. Seluruh sarafnya berteriak panik. Ia lupa kalau keberadaan Enzo di apartemen ini adalah rahasia negara yang tidak boleh bocor ke siapa pun, terutama ke sahabatnya yang punya mulut secepat kilat ini.

Selama dua detik, Kiandra membeku dalam kepanikan murni.

Tanpa pikir panjang, Kiandra langsung mendorong wajah Mei Ling dan menutup mata sahabatnya itu dengan telapak tangan.

"Jangan lihat! Ayo pergi!"

Kiandra menarik lengan Mei Ling keluar dengan kekuatan yang tidak terduga, lalu membanting pintu apartemen hingga tertutup rapat. Bunyi debumannya menggema di lorong yang sunyi.

"Lepasin, Ki! Siapa pria tadi? Kamu tinggal sama model katalog atau apa? Gila, otot perutnya... ugh, aku mau satu yang seperti itu!" Mei Ling terus meracoteh, menepis tangan Kiandra dengan wajah penuh rasa ingin tahu yang meledak-ledak.

"Bukan siapa-siapa! Dia cuma... sepupu jauh yang lagi numpang!" bohong Kiandra sekenanya sambil berjalan cepat menuju lift, tidak berani menoleh ke belakang.

"Sepupu apanya! Sepupu nggak mungkin seseksi itu, Ki! Itu teman satu kontrakanmu kan? Yang kamu bilang 'unik' itu?" Mei Ling terus mengejar, matanya berbinar-binar nakal.

"Pantas saja kamu betah di apartemen. Kalau aku jadi kamu, aku nggak akan pernah keluar kamar!"

Kiandra mengabaikan racotehan Mei Ling, bersyukur dalam hati karena pencahayaan di ruang tengah tadi cukup remang sehingga Mei Ling tidak sempat melihat wajah Enzo dengan jelas. Setidaknya, identitas Enzo sebagai dosen mereka masih aman untuk sementara.

***

Pukul 21:00, Le Marais.

Atmosfer Paris malam itu terasa bebas dan mewah di sebuah penthouse bergaya industri yang terletak di jantung distrik Le Marais. Langit-langitnya yang tinggi dengan pipa-pipa besi yang terekspos memberikan kesan modern, sementara jendela kaca raksasanya memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Paris yang memukau.

Kiandra dan Mei Ling disambut oleh Adele, Diya, Jaxson, dan Juliette yang sudah tiba lebih dulu. Musik deep house berdentum halus, menciptakan getaran yang merambat di lantai beton yang dipoles. Aroma parfum mahal, alkohol berkualitas, dan asap rokok tipis bercampur menjadi satu, menciptakan suasana pesta yang megah.

Aurelien, sang pemilik acara, menghampiri mereka dengan senyum flirty yang menjadi ciri khasnya. Ia mengenakan kemeja sutra yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan kalung emas tipis di lehernya.

"Kiandra, mahasiswi baru yang paling banyak dibicarakan. Selamat datang di acaraku!" Aurelien menyapa dengan nada yang sangat percaya diri, lalu beralih menyapa Adele dan yang lain.

Di samping Aurelien, Maelle Renaud berdiri dengan segelas sampanye di tangan. Ia hanya mengangguk dingin, matanya yang biru gelap memindai Kiandra dengan tatapan analitis yang membuat Kiandra merasa sedang dipindai oleh mesin pemindai keamanan.

"Aurelien, jangan ganggu dia. Aku dengar dia mahasiswi kesayangan Chef Romano," sindir Maelle datar, suaranya nyaris tenggelam oleh dentum musik.

Kiandra hanya menanggapi dengan senyum tipis yang santai. Ia sudah terbiasa dengan sindiran halus seperti itu sejak hari pertamanya di kampus.

"Selamat bersenang-senang ya, aku menyapa yang lain dulu," ucap Aurelien sebelum beranjak pergi.

Kiandra dan teman-temannya mengambil posisi di sebuah meja bundar di sudut ruangan yang agak tenang. Minuman berkilau dalam gelas kristal memenuhi meja.

Tamu yang datang sangat banyak, dan dari cara mereka berpakaian, Kiandra bisa langsung tahu bahwa keluarga Aurelien bukan orang sembarangan di Prancis.

"Kalian tahu tidak?" Mei Ling memulai aksinya, mencondongkan tubuh ke tengah meja dengan mata yang berkilat nakal.

Kiandra mendadak merasa tidak enak. "Mei, jangan..."

"Tadi aku jemput Kiandra, dan aku melihat penampakan 'Pria seksi' di apartemennya!" Mei Ling membeberkan detailnya dengan semangat yang meluap-luap.

Kiandra tersedak minumannya, batuk-batuk kecil sambil berusaha menutupi wajahnya yang mulai memanas.

"Pria, bertelanjang dada, tinggi, atletis, dan seksinya minta ampun! Dia lagi baca buku di sofa kayak model iklan parfum mahal!" Mei Ling terus bercerita, menarik perhatian Adele, Juliette, dan Diya.

Ketiga wanita cantik itu langsung menatap Kiandra dengan rasa penasaran yang meledak.

"Serius?" Adele bertanya dengan suara lembutnya yang penuh minat.

"Iya... aku berani sumpah, Jax disambar petir kalau aku bohong!" seru Mei Ling.

"Hei! Jangan bawa-bawa aku!" Jaxson memprotes, namun ia ikut tertawa bersama yang lain.

Diya Kapoor menaikkan satu alisnya, menatap Kiandra dengan tatapan menyelidik yang tajam.

"Apa jangan-jangan alasan kamu terlihat lemas setiap pagi karena setiap malam kamu dan pria itu... melakukan maraton di atas ranjang?"

Wajah Kiandra memerah padam hingga ke leher. "Tidak! Aku tidak mungkin melakukan itu!"

"Alah, wajahmu tidak bisa bohong, Ki. Sepupu mana yang bikin kamu sepanas ini?" goda Jaxson sambil tertawa keras.

Gelak tawa teman-temannya pecah, membuat Kiandra merasa ingin menghilang dari ruangan itu saat itu juga. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, mencoba meredam rasa malu yang membakar pipinya.

"Ini semua gara-gara si Enzo yang tidak tahu aturan," batinnya merana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!