NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih Keraguan

Matahari pagi bersinar terang, namun cahayanya tak mampu menembus kegelapan yang perlahan mulai menyelimuti hati Ratu. Semalam, wanita itu tak bisa memejamkan matanya dengan tenang. Kata-kata yang diucapkan Valeria terus berputar di dalam benaknya, menimbulkan ribuan pertanyaan dan kekhawatiran yang tak bisa dia jawab dengan mudah. Di satu sisi, dia adalah seorang ibu yang bahagia akhirnya bisa bersatu kembali dengan anak dan cucunya. Namun di sisi lain, dia adalah istri seorang Raja, dan dia tahu betapa beratnya tanggung jawab yang dipikul oleh pewaris takhta. Setiap langkah yang diambil anaknya akan mempengaruhi nasib jutaan orang, dan setiap keputusan yang dia buat akan menentukan arah perjalanan negeri ini selama puluhan tahun ke depan.

Saat dia berjalan menyusuri lorong istana menuju ruang makan, matanya tanpa sadar menangkap pembicaraan beberapa pelayan dan staf yang sedang berjalan di depannya. Mereka berbicara dengan suara berbisik, namun kata-kata mereka cukup jelas terdengar oleh telinga Ratu.

“Kau dengar kabar terbarunya? Banyak orang di parlemen yang mulai khawatir. Mereka bilang Pangeran kini lebih banyak menghabiskan waktunya bersama istri dan anaknya, sampai-sampai tugas-tugas kenegaraan mulai terabaikan.”

“Memang benar. Dulu dia selalu bangun pagi-pagi dan bekerja sampai larut malam, tapi belakangan ini dia lebih sering bermain di taman atau berjalan-jalan bersama keluarga kecilnya. Bagaimana dia bisa memimpin negeri ini dengan baik kalau pikirannya hanya terfokus pada urusan pribadinya?”

“Dan ada juga yang bilang, wanita itu pasti memiliki pengaruh yang kuat di atas dirinya. Mereka khawatir kalau nanti dia menjadi Raja, istrinyalah yang sebenarnya akan mengatur segala sesuatu di belakang layar. Hal itu tak pernah terjadi dalam sejarah kerajaan kita, dan banyak orang yang tak bisa menerimanya.”

Kata-kata itu seperti duri yang menusuk langsung ke dalam hati Ratu. Dia berhenti melangkah sejenak, napasnya tercekat, dan hatinya terasa semakin berat. Apa yang dikatakan orang-orang itu sama persis dengan apa yang disampaikan Valeria kemarin. Apa yang tadinya dia anggap hanya kekhawatiran yang berlebihan, kini terdengar diucapkan oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Benih keraguan yang ditanamkan dengan halus kini mulai tumbuh dan berakar di dalam pikirannya, membuatnya mulai memandang segala sesuatu dengan pandangan yang berbeda.

Di dalam ruang makan, Elizabeth sedang duduk bersama Taylor dan Hunter, tertawa riang sambil menyantap sarapan pagi. Suasana terlihat hangat dan bahagia, namun tawa mereka terasa jauh dan samar di telinga Ratu. Wanita itu berjalan masuk dan duduk di tempatnya dengan wajah yang terlihat tenang, meski di dalam hatinya sedang bergemuruh badai.

“Selamat pagi, Ibu,” sapa Taylor dengan senyum lebar, tak menyadari perubahan yang terjadi pada ibunya. “Tidur Ibu nyenyak semalam? Hari ini aku berencana membawa Elizabeth dan Hunter berkeliling ke bagian utara istana, ada taman bunga yang baru saja mekar, dan aku ingin memperkenalkan mereka pada semua orang yang bekerja di sana.”

Ratu mengangguk pelan, lalu menatap anaknya dengan pandangan yang sulit diartikan. “Selamat pagi, Nak. Sebelum kau pergi, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Bolehkah kita bicara berdua sebentar di ruang kerja?”

Taylor mengerutkan keningnya sedikit, merasa ada yang tidak beres dari nada bicara ibunya, namun dia tetap mengangguk dan berdiri dari tempat duduknya. “Tentu saja, Ibu. Tunggu aku sebentar, ya,” ucapnya pada Elizabeth dan Hunter, lalu berjalan mengikuti ibunya keluar dari ruang makan.

Begitu mereka masuk ke dalam ruang kerja dan pintu tertutup rapat, suasana di dalam ruangan seketika berubah menjadi dingin dan tegang. Ratu berjalan menuju jendela dan memandang keluar ke arah taman, punggungnya menghadap ke arah anaknya, seolah dia tak sanggup menatap mata anaknya saat menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya.

“Aku mendengar banyak hal akhir-akhir ini, Nak,” ucap Ratu dengan suara yang rendah dan berat. “Aku mendengar pembicaraan para bangsawan, aku mendengar pendapat para anggota parlemen, dan aku juga mendengar apa yang dikatakan rakyat di luar sana. Banyak dari mereka yang mulai khawatir. Mereka berkata kau telah berubah sejak kedatangan Elizabeth dan anakmu. Mereka berkata kau terlalu memikirkan kebahagiaan pribadimu, sampai-sampai kau mulai melupakan tanggung jawab dan kewajibanmu sebagai pewaris takhta.”

Taylor tertegun sejenak, matanya melebar tak percaya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut ibunya sendiri. “Apa yang Ibu katakan itu tak benar, Ibu. Aku tak pernah melupakan tanggung jawabku sedikitpun. Aku tetap bekerja seperti biasa, aku tetap mengurus urusan kenegaraan, dan aku tetap memikirkan kesejahteraan rakyat kita. Elizabeth dan Hunter bukan beban atau gangguan bagi tugasku, mereka adalah sumber kekuatan bagiku. Karena mereka, aku menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih bertekad untuk memimpin negeri ini dengan sebaik-baiknya.”

Ratu berbalik dan menatap mata anaknya, wajahnya terlihat sedih dan penuh kekhawatiran. “Aku ingin mempercayaimu, Nak. Sungguh, aku ingin sekali mempercayaimu. Tapi kata-kata yang aku dengar datang dari banyak orang, dari berbagai kalangan, dan mereka semua berkata hal yang sama. Mereka khawatir kalau kau terlalu dipengaruhi oleh perasaan, kalau kau akan membuat keputusan berdasarkan apa yang kau rasakan dan bukan berdasarkan apa yang terbaik bagi negeri ini. Mereka khawatir kalau nanti kau menjadi Raja, kau akan mengubah segala tradisi dan aturan yang telah diwariskan turun-temurun, hanya demi memenuhi keinginan keluargamu sendiri. Dan yang paling membuatku takut... mereka berkata bahwa Elizabeth adalah orang yang pandai memanipulasi, bahwa dia sengaja mengikat hatimu agar dia bisa memiliki kekuasaan dan pengaruh di dalam istana.”

Kata-kata itu membuat darah Taylor mendidih di dalam pembuluh nadinya. Dia tak peduli jika orang lain menuduhnya, tapi mendengar ibunya sendiri mengulangi tuduhan-tuduhan kotor yang disebarkan oleh musuh-musuh mereka, membuat hatinya terasa seperti tercabik-cabik.

“Elizabeth bukan orang seperti itu, Ibu! Wanita itu adalah orang yang paling jujur, paling mulia, dan paling tulus yang pernah aku kenal. Dia tak pernah memintaku untuk mengubah aturan, dia tak pernah memintaku untuk memberikan kekuasaan padanya, dan dia tak pernah memintaku untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tugasku. Selama lima tahun dia hidup sendirian membesarkan anakku, dia tak pernah datang mencari aku atau meminta bantuan, karena dia tak ingin menjadi beban bagiku. Wanita itu telah menderita banyak hal demi aku, dan dia tak pantas dituduh sebagai orang yang licik dan serakah.”

“Tapi bagaimana aku bisa memastikannya?” suara Ratu terdengar bergetar, matanya berkaca-kaca menahan air mata. “Bagaimana aku bisa membedakan mana kebenaran dan mana kebohongan, kalau semua orang di sekitarku berkata hal yang sama? Aku adalah ibumu, dan aku menginginkan kebahagiaanmu. Tapi aku juga adalah istri Raja, dan aku menginginkan kestabilan dan keamanan bagi negeri ini. Jika kehadiran mereka membuat banyak orang khawatir, jika kehadiran mereka membuat posisimu menjadi lemah, dan jika kehadiran mereka bisa membawa masalah dan pertikaian... apakah itu benar-benar hal yang terbaik untukmu dan untuk negeri ini?”

Taylor menatap mata ibunya dalam-dalam, dan di dalam hatinya dia merasakan rasa sakit yang mendalam. Dia sadar bahwa ibunya tak bermaksud jahat, dia sadar bahwa wanita itu hanya bertindak karena rasa khawatir dan cintanya pada anaknya dan pada negaranya. Tapi dia juga sadar, benih keraguan yang ditanamkan oleh Valeria dan teman-temannya telah berhasil masuk jauh ke dalam hati orang yang paling dia cintai, dan kini orang itu sendiri mulai mempertanyakan kebenaran dan kebaikan dari keluarganya.

“Lalu apa yang Ibu inginkan dariku?” tanya Taylor dengan suara yang lemah dan sedih. “Apakah Ibu ingin aku meninggalkan mereka? Apakah Ibu ingin aku mengusir mereka keluar dari istana dan hidup terpisah lagi? Setelah semua yang telah kita lalui, setelah semua penderitaan dan air mata yang telah kita tumpahkan... apakah Ibu ingin aku mengorbankan kebahagiaanku dan kebahagiaan anakku demi kata-kata orang lain yang penuh kebohongan?”

“Bukan begitu maksudku, Nak!” seru Ratu, air mata akhirnya menetes di pipinya. “Aku hanya ingin kau berpikir dengan kepalamu dan bukan dengan hatimu. Aku hanya ingin kau membuktikan pada semua orang bahwa kau masih menjadi pemimpin yang kuat dan bijaksana, bahwa kau tak dipengaruhi oleh siapa pun, dan bahwa kehadiran keluargamu adalah berkah dan bukan beban. Jika kau bisa menunjukkan pada semua orang bahwa kau bisa memimpin dengan baik, bahwa kau bisa memegang teguh tradisi dan aturan, dan bahwa Elizabeth adalah wanita yang pantas mendampingimu... maka semua keraguan dan tuduhan itu akan lenyap dengan sendirinya.”

“Tapi bagaimana aku bisa membuktikannya, kalau orang-orang sudah memutuskan apa yang mereka yakini di dalam hati mereka?” tanya Taylor dengan suara yang berat. “Mereka telah mendengar begitu banyak kebohongan, sehingga kebenaran pun terdengar seperti kebohongan bagi mereka. Dan selama ada orang-orang yang terus menyebarkan kabar buruk dan terus menanamkan keraguan, maka mereka takkan pernah bisa melihat kebenaran dengan mata kepala mereka sendiri.”

Di luar ruang kerja, Elizabeth berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka, mendengar setiap kata yang diucapkan oleh ibu mertuanya dan suaminya. Dia datang untuk memanggil mereka kembali ke meja makan, namun tanpa sengaja dia mendengar seluruh percakapan itu. Air mata mengalir deras di pipinya, dan hatinya terasa hancur berkeping-keping. Dia selalu berharap bahwa keluarga suaminya akan menerimanya dengan tulus, dia selalu berharap bahwa dia akan dianggap sebagai bagian dari keluarga ini. Namun kenyataannya, meski mereka tersenyum dan bersikap ramah di hadapannya, di dalam hati mereka masih menyimpan keraguan dan kecurigaan. Bahkan Ratu sendiri, wanita yang dia harapkan akan menjadi ibunya, kini memandangnya sebagai orang yang mencurigakan, orang yang berbahaya, dan orang yang bisa membawa kerusakan bagi keluarga dan kerajaan.

Dia berbalik dan berjalan pergi dengan langkah yang terasa berat, tak ingin mengganggu atau membuat situasi menjadi semakin buruk. Di dalam hatinya, dia merasa sedih, terluka, dan tak berdaya. Dia tahu bahwa dia tak bersalah, dia tahu bahwa dia telah bertindak dengan jujur dan tulus sepanjang hidupnya. Tapi di mata orang lain, dia tetaplah orang asing yang datang membawa perubahan, dan orang yang dipandang dengan kecurigaan oleh banyak orang.

Sementara itu, di sisi lain istana, Valeria berdiri di dekat jendela kamarnya, memandang keluar dengan senyum tipis yang terukir di wajahnya. Seorang pelayan yang dia bayar untuk mengawasi gerak-gerik mereka baru saja memberitahunya bahwa Ratu telah memanggil Taylor untuk berbicara secara pribadi, dan bahwa percakapan mereka berlangsung dengan suasana yang tegang dan sedih. Wanita itu merasakan kepuasan yang manis menyelimuti hatinya. Rencananya telah berjalan dengan sempurna. Benih keraguan yang dia tanamkan kini telah tumbuh dan berakar, dan kini bahkan ibu dari Pangeran sendiri pun mulai mempertanyakan kehadiran wanita dan anak itu.

“Mulailah meragukan mereka,” bisik Valeria pada dirinya sendiri, suaranya terdengar lembut namun penuh kejam. “Mulailah berpikir bahwa mereka adalah beban dan ancaman. Mulailah berharap bahwa mereka tak pernah datang ke sini. Semakin banyak orang yang membenci atau mencurigai mereka, semakin cepat mereka akan tersingkir dari tempat yang seharusnya menjadi milikku. Aku tak perlu lagi mengangkat jari tanganku. Mereka akan saling memecah belah sendiri, mereka akan saling menyakiti sendiri, dan pada akhirnya mereka akan hancur dengan tangan mereka sendiri.”

Di dalam ruang kerja, Taylor dan Ratu masih berdiri saling memandang, dipisahkan oleh jarak yang terasa semakin lebar, seolah dinding tak terlihat telah tumbuh di antara mereka. Keduanya saling mencintai, keduanya menginginkan kebahagiaan dan keamanan untuk semua orang yang mereka cintai, namun keduanya kini terperangkap dalam jaring kebohongan dan keraguan yang ditenun oleh musuh-musuh mereka.

“Baiklah, Ibu,” ucap Taylor akhirnya dengan suara yang tenang namun sedih. “Aku akan melakukan apa yang Ibu minta. Aku akan bekerja lebih keras lagi, aku akan membuktikan pada semua orang bahwa aku masih menjadi pemimpin yang kuat dan bijaksana. Aku akan menunjukkan pada mereka bahwa kehadiran keluargaku adalah sumber kekuatan dan bukan kelemahan. Aku akan melakukan segala cara untuk membuktikan kebenaran, bahkan jika aku harus mengorbankan waktuku, tenagaku, dan bahkan kebahagiaanku sendiri. Tapi aku berjanji pada Ibu, dan aku berjanji pada diriku sendiri... aku takkan pernah meninggalkan Elizabeth dan Hunter. Mereka adalah bagian dari diriku, dan aku takkan pernah membiarkan siapa pun memisahkan kita, tak peduli seberapa banyak keraguan yang ada, dan tak peduli seberapa berat rintangan yang harus aku hadapi.”

Ratu menatap mata anaknya, dan di dalam hatinya dia merasakan campuran antara rasa lega, rasa sedih, dan rasa takut. Dia tahu bahwa anaknya berkata jujur, dan dia tahu bahwa anaknya akan melakukan segala cara untuk membuktikan dirinya. Namun dia juga tahu, perjalanan ke depan takkan menjadi lebih mudah. Mereka harus berjuang melawan keraguan yang telah tertanam di hati banyak orang, mereka harus berjuang melawan kebohongan yang telah tersebar luas, dan mereka harus berjuang melawan musuh yang kini menyerang dari dalam, menyembunyikan niat jahat di balik wajah yang ramah dan sopan.

Perang mereka kini telah mencapai tahap yang paling berbahaya. Bukan lagi perang antara musuh dan kawan, melainkan perang antara kebenaran dan keraguan, antara kepercayaan dan kecurigaan, antara cinta dan ambisi. Dan di tengah semua itu, nasib mereka semua tergantung pada seberapa kuat ikatan yang mempersatukan mereka, dan seberapa teguh mereka berpegang pada kebenaran yang ada di dalam hati mereka.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!