*Sinopsis Singkat:*
Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.
Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.
Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Honeymoon & Pulang*
Minggu setelah akad, Alya dan Revan terbang ke Bali.
Nggak ada hotel bintang lima. Mereka pilih villa kecil di Uluwatu, 5 menit jalan kaki ke tebing.
Suara ombak kedengeran sampe kamar. Malamnya bintang keliatan jelas, nggak ketutup lampu kota.
“Gue nggak nyangka bisa ke sini lagi,” kata Alya sambil buka koper.
“Bedanya sekarang, gue nggak kabur,” jawab Revan sambil narik kopernya pelan.
“Gue pulang.”
Mereka tertawa.
Hari pertama dipakai buat rebahan, makan, tidur. Capek ngurus nikah bikin badan rasanya lemes semua.
Tapi malamnya, Revan ajak Alya jalan ke tebing.
Dia bawa selimut tipis, dua gelas wine anggur, dan kue brownies sisa dari resepsi.
Mereka duduk di pinggir tebing. Angin laut bikin rambut Alya berantakan.
Revan pelan-pelan rapihin, nyelipin ke belakang telinga.
“Cantik,” bisiknya.
Alya malu. “Ih gombal.”
“Gue suami kamu. Gombal itu kewajiban.”
Alya ketawa, terus nyender ke bahu Revan.
Mereka diem lama. Cuma ada suara ombak dan napas pelan.
Pas bulan naik tinggi, Revan nunduk. Kecup kening Alya.
Lembut. Panjang.
Terus turun ke pipi, ke bibir.
Ciumannya nggak terburu-buru.
Ada rasa aman, ada janji, ada rasa “akhirnya kita di sini”.
Alya balas peluk lehernya erat.
Pas lepas, dua-duanya napasnya nggak beraturan.
“Romantis banget,” bisik Alya.
Revan senyum. “Nanti tiap malam gue ulangin.”
Malam itu mereka tidur sambil pegangan tangan.
Nggak ada yang mikir kerjaan, deadline, atau kafe.
Cuma ada mereka berdua dan suara laut.
Tiga hari berikutnya diisi hal-hal kecil:
Sarapan nasi campur di warung pinggir jalan, jalan kaki di Pantai Padang-Padang, beli gelang coyo yang kebesaran buat Alya.
Kadang mereka berantem kecil soal arah jalan.
Alya mau ke kiri, Revan yakin ke kanan.
Ujung-ujungnya nyasar, ketawa bareng, pesen gojek pulang.
Malam terakhir di Bali, Revan ngajak Alya nonton sunrise.
Jam 5 pagi mereka udah di tebing. Dingin, tapi langitnya gila. Oranye, pink, ungu.
Revan peluk Alya dari belakang, dagunya di atas kepala Alya.
“Kalo nanti kita punya anak,” katanya pelan, “gue mau namanya Senja.”
Alya diem. Terus ketawa pelan.
“Kenapa nggak ‘Kopi’ sekalian?”
“Karena Senja itu kamu. Hangat, bikin kangen, tapi nggak pernah bikin bosan.”
Alya nggak jawab. Dia cuma peluk tangan Revan lebih erat.
“Deal. Anak kita namanya Senja.”
*Flashforward: 2 Tahun Kemudian*
Kafe Senja sekarang punya 4 cabang.
Tapi meja 7 di cabang pertama tetap nggak pernah dipake orang lain.
Itu meja keluarga.
Pagi itu Alya bangun karena ada yang narik rambutnya pelan.
Senja, anak mereka yang umur 2 tahun, udah berdiri di pinggir kasur sambil bawa gambar coret-coret.
“Mama! Ini Papa!” katanya sambil nunjuk gambar orang pake kumis tebal.
Revan masuk bawa nampan sarapan, lihat itu langsung ketawa.
“Senja, itu kumis Papa dicoretin kamu ya?”
Senja angguk serius. “Biar Papa ganteng.”
Alya ketawa sampe nangis.
Revan duduk di pinggir kasur, kecup kening Alya, terus kecup pipi Senja.
“Rumah kita sekarang rame banget ya,” bisiknya.
Alya nyandar ke dada Revan.
“Ramenya enak. Nggak sepi kayak dulu.”
Senja tiba-tiba naik ke pangkuan mereka berdua, peluk leher Alya dan Revan sekaligus.
“Mama Papa jangan berantem ya. Senja sedih.”
Revan dan Alya saling lihat, terus ketawa bareng.
“Nggak sayang. Mama Papa cuma berantem rebutan nyuapin kamu,” kata Revan sambil nyubit pipi Senja.
Hari itu mereka sarapan bertiga di meja 7.
Senja makan sambil coret-coret buku sketsa Alya.
Alya dan Revan minum kopi, saling suapin roti bakar.
Kadang kecupan kecil di pipi. Kadang genggaman tangan di bawah meja.
Kafe rame di luar.
Tapi di meja 7, cuma ada keluarga kecil yang akhirnya pulang.
Malamnya, setelah Senja tidur, Alya dan Revan duduk lagi di meja 7.
Kotak surat “Curhat untuk Meja 7” sekarang udah penuh tiap minggu.
Alya baca satu surat terakhir sebelum tutup kafe.
_“Kak Alya, Kak Revan,
Makasih udah buktiin kalau tinggal itu lebih berani daripada kabur.
Aku baru nikah minggu lalu. Aku pilih tinggal.
– Penulis Baru”_
Alya tutup surat itu, terus ngeliat Revan.
“Gue seneng,” katanya pelan.
Revan ngangguk.
“Gue juga. Karena kita nggak cuma bikin kafe. Kita bikin rumah.”
Revan narik Alya duduk di pangkuannya.
Kecup keningnya pelan.
“Terima kasih udah milih tinggal sama gue, Nyonya Maharani.”
Alya balas kecup bibirnya singkat.
“Terima kasih udah nggak pernah bikin gue nyesel, Tuan Senja.”
Di luar hujan turun pelan.
Di dalam, lampu meja 7 masih nyala.
Tempat di mana dua orang yang dulu pengen kabur,
akhirnya belajar tinggal.
Dan tinggal itu… ternyata paling indah.
Bersambung. -