Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.
Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
badai setelah matahari (isu plagiat setelah comeback)
Hujan rintik-rintik membasahi kaca jendela ruang latihan agensi Starlight Entertainment, namun suasana di dalamnya jauh lebih dingin daripada cuaca di luar. Zee Chou—atau nama aslinya Choi Heesung—duduk diam di sudut ruangan, tangan mengepal erat hingga buku jarinya memutih, SETELAH SEMUA HAL YANG TERJADI FITNAH DAN ISU PLAGIAT KEMBALI BERHEMBUS KENCANG.
Di layar ponselnya, berita-berita berbaris satu per satu, tajuk-tajuk yang tajam dan penuh tuduhan seolah menusuk matanya: “Zee Chou Dituduh Melakukan Plagiat pada Lagu Debut Solo!”, “Apakah Karya Heesung Hanya Hasil Menjiplak?”, “Bukti Kesamaan yang Tak Terbantahkan”.
Jantungnya berdebar kencang, campuran rasa marah, kaget, dan rasa tidak berdaya yang meluap-luap. Ia tahu betul setiap nada, setiap lirik yang ia tulis itu lahir dari malam-malam panjang yang ia habiskan sendirian di ruang latihan, saat rasa lelah dan kesepian menjadi satu-satunya teman. Ia tidak pernah mengambil karya orang lain, ia tidak pernah melanggar aturan apa pun. Tapi bukti yang disebarkan di media sosial terlihat begitu meyakinkan—perbandingan melodi, struktur lagu, bahkan beberapa baris lirik yang memiliki kemiripan yang sangat dekat dengan lagu yang dirilis oleh seorang musisi independen dua tahun lalu.
“Kenapa bisa begini…?” gumamnya pelan, suara bergetar. “Aku benar-benar menciptakannya sendiri…”
Pintu terbuka mendadak, dan Hyeri masuk dengan wajah pucat, mata merah karena kurang tidur dan menangis. Ia adalah pasangan pernikahan kontrak Heesung, sosok yang seharusnya hanya ada dalam skenario bisnis dan citra publik, namun perlahan menjadi orang yang paling ia percayai dan andalkan. Sejak pernikahan kontrak mereka diumumkan, banyak yang memandang mereka dengan pandangan miring, tapi keduanya selalu berusaha saling mendukung dan menjaga nama baik satu sama lain.
“Heesung…” Hyeri duduk di sampingnya, tangan lembutnya menyentuh bahu pria itu dengan hati-hati. “Aku sudah mendengar semuanya. Agensi sedang berusaha mengumpulkan bukti untuk membuktikan kebenaran, tapi situasinya makin buruk. Banyak penggemar yang mulai pergi, dan media terus menyerangmu tanpa henti.”
Heesung menoleh, menatap mata wanita itu. “Hyeri, aku tidak melakukannya. Aku bersumpah demi apa pun yang aku miliki, lagu itu murni karyaku sendiri.”
“Aku tahu,” ucap Hyeri tegas, matanya memancarkan keyakinan yang tak tergoyahkan. “Aku percaya padamu, Heesung. Aku tahu betapa kerasnya kamu bekerja, betapa kamu mencurahkan segenap perasaan dan pikiranmu ke dalam lagu itu. Tapi sayangnya, tidak semua orang mau mendengar penjelasan kita. Dan sekarang… ada masalah lain yang lebih buruk lagi.”
Heesung mengernyitkan dahi, perasaan tidak enak mulai menjalar di dada. “Masalah lain apa lagi?”
Hyeri menarik napas panjang, seolah mempersiapkan diri untuk menyampaikan hal yang paling menyakitkan. “Sekarang tuduhan itu berbalik ke arahku. Ada pihak yang menyebarkan kabar bahwa akulah yang membantu kamu mencuri karya orang lain, bahwa aku terlibat dalam perencanaan ini, bahkan ada yang bilang aku yang menemukan lagu itu dan menyuruhmu mengaku sebagai karya sendiri. Mereka bilang aku orang yang licik, yang memanfaatkanmu demi ketenaran dan keuntungan sendiri.”
Air mata menetes di pipi Hyeri, dan Heesung merasa hatinya seperti diremas-remas. Ia tahu betapa murni dan tulusnya hati wanita itu, betapa ia selalu berusaha melakukan hal yang benar dan membantu orang lain. Mendengar bahwa Hyeri difitnah dan menjadi sasaran kemarahan publik hanya karena berhubungan dengannya, membuat rasa bersalah yang besar menyelimuti dirinya.
“Hyeri… Maafkan aku…” ucapnya pelan, suaranya penuh rasa sesal. “Semua ini salahku. Kalau aku tidak mengeluarkan lagu itu, kalau aku tidak menjadi siapa aku sekarang, kamu tidak akan terlibat dalam masalah ini dan tidak akan dipermalukan seperti ini.”
Hyeri menggeleng kuat, lalu memeluk bahu Heesung dengan erat. “Jangan bicara begitu. Kita adalah pasangan—meski hanya dalam kontrak, tapi kita sudah berjanji untuk saling mendukung dalam keadaan apa pun. Aku tidak akan membiarkan kamu menghadapi ini sendirian, dan aku tidak akan membiarkan fitnah ini menghancurkan kita berdua. Kita akan membuktikan kebenaran, Heesung. Kita akan mencari tahu siapa di balik semua ini, dan membuat mereka bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan.”
Namun, kenyataan ternyata jauh lebih berat daripada yang mereka bayangkan. Keesokan harinya, berita fitnah itu makin menyebar luas, bahkan mencapai berita-berita utama nasional. Akun media sosial keduanya dibanjiri komentar hinaan dan ancaman. Agensi mereka pun berada di bawah tekanan yang luar biasa, beberapa mitra kerja mulai menarik dukungan, dan penampilan yang sudah dijadwalkan pun dibatalkan satu per satu.
Heesung dipanggil ke ruang rapat direksi, di mana ia harus mendengar teguran keras dan ancaman penghentian aktivitas jika ia tidak bisa membersihkan namanya secepat mungkin. Beberapa staf bahkan terlihat ragu dan menjauh darinya, seolah-olah ia benar-benar telah melakukan kesalahan besar. Sementara itu, Hyeri harus menghadapi serangan dari berbagai arah—baik dari penggemar, media, maupun bahkan dari orang-orang yang dulu mengaku teman. Banyak yang mulai mempertanyakan integritasnya, meragukan segala pencapaian yang pernah ia raih sebelumnya.
“Kenapa semuanya jadi begini…?” Hyeri berbisik, saat mereka berdua duduk di dalam mobil yang diparkir di tempat yang sepi, menjauh dari keramaian dan kamera. “Aku selalu berusaha hidup jujur dan benar, tapi kenapa aku harus menanggung semua ini?”
Heesung menggenggam tangan wanita itu dengan erat, berusaha memberikan kekuatan yang ia miliki, meski ia sendiri pun sedang rapuh. “Karena ada orang yang sengaja ingin menjatuhkan kita, Hyeri. Ada orang yang tidak suka melihat kita sukses dan bahagia. Tapi kita tidak boleh menyerah. Selama kita tahu kebenaran, selama kita saling percaya, kita akan mampu melewati semuanya ini.”
Ia mulai berpikir kembali, mencoba mengingat-ingat kejadian-kejadian belakangan ini, siapa yang mungkin memiliki motif untuk melakukan hal jahat ini. Ia teringat akan beberapa rekan di industri yang terlihat iri pada kesuksesannya, atau mungkin ada pihak yang ingin merusak citra agensi mereka. Namun, bukti yang ada begitu rapi dan terstruktur, seolah-olah rencana ini sudah disiapkan sejak lama.
Saat sedang memikirkan hal itu, ponsel Heesung bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ia membukanya dengan hati-hati, dan matanya terbelalak saat membaca isinya:
“Nikmati rasa jatuhmu, Zee Chou. Dan gadis bodoh itu, Hyeri, pantas menerima apa yang ia dapatkan karena memilih berpihak padamu. Semua yang terjadi hanyalah permulaan saja.”
Tulisan itu penuh dengan kebencian dan kemarahan, dan Heesung sadar sepenuhnya bahwa mereka sedang berhadapan dengan musuh yang tidak hanya ingin merusak nama baik mereka, tapi juga ingin menghancurkan hidup mereka sepenuhnya. Tapi hal itu justru membuat tekadnya semakin kuat. Ia tidak akan membiarkan orang jahat menang, ia tidak akan membiarkan kebenaran dikalahkan oleh kebohongan.
Ia menoleh ke arah Hyeri, yang sedang menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong namun penuh keteguhan. “Hyeri, kita akan bertarung. Kita akan mencari setiap bukti, kita akan berbicara dengan setiap orang yang bisa membantu kita, dan kita akan membuktikan kepada seluruh dunia bahwa kita tidak bersalah. Kita akan membalas setiap fitnah dengan kebenaran, dan setiap serangan dengan keteguhan hati.”
Hyeri menoleh dan tersenyum tipis, meski matanya masih basah oleh air mata. “Aku siap, Heesung. Di mana pun kamu pergi, aku akan ikut. Kita akan melewati badai ini bersama-sama.”
Di luar, hujan masih turun deras, seolah menggambarkan kesulitan yang sedang mereka hadapi. Namun di dalam mobil itu, ada api harapan dan tekad yang menyala terang, api yang tidak akan padam sekuat apa pun angin dan badai yang datang. Mereka tahu bahwa jalan ke depan akan penuh duri dan tantangan, namun selama mereka berdua berdiri berdampingan, mereka yakin bahwa mereka akan mampu menemukan jalan keluar dan mengembalikan nama baik mereka yang telah ternoda.
Dan perjalanan panjang untuk membuktikan kebenaran, mengungkap siapa dalang di balik semua ini, serta melawan ketidakadilan yang menimpa mereka, baru saja dimulai.