NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09 - Harapan Yang Baru

Gwen keluar dari gedung Artvia dengan kaki yang sedikit lemas. Interview tadi—jika bisa disebut interview—berlangsung lebih seperti ujian. Atau tantangan. Tapi ada sesuatu di mata Elena yang membuatnya berani berharap. Bukan belas kasihan. Tapi pengakuan.

Dia berjalan menuju halte terdekat, mengeluarkan ponsel untuk memesan ojek online. Selagi menunggu, dia melihat beberapa pegawai Artvia keluar dari gedung—mungkin istirahat makan siang. Mereka tertawa, membicarakan proyek, mengeluhkan client. Hal-hal biasa yang pernah menjadi rutinitas Gwen.

Dia menghela napas. Ada perasaan aneh di dadanya. Bukan sekadar iri—meski mungkin ada sedikit—melainkan rindu. Rindu menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang hangat tapi tak bisa digenggam. Rindu akan obrolan ringan di meja kerja, tawa yang tiba-tiba pecah di tengah rapat, dan momen-momen kecil yang dulu terasa biasa saja, kini terasa begitu berarti.

Ponselnya bergetar. Bukan notifikasi ojek, tapi pesan.

Aga: How was it?

Gwen tersenyum. Dia tidak ingat memberitahu Aga tentang interview hari ini. Tapi Pandji pasti punya andil.

Gwen: Menyeramkan. Tapi... mungkin ada harapan.

Aga: Tentu saja ada. Kamu Gwen Oktavia Atmadja. Wanita yang pernah menyelamatkan bocah dari bully. Arsitek sekaligus penulis. Yang terbaik dari yang terbaik.

Gwen tertawa pelan, tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.

Gwen: Kamu terlalu percaya diri untukku.

Aga: Bukan percaya diri. Ini keyakinan. Beda tipis, tapi penting.

Ojeknya datang. Gwen naik, memegang erat folder ArtVia di pangkuannya.

Gwen: Aku punya tugas. Tiga hari. Harus buat konsep villa.

Aga: Butuh tempat untuk brainstorming? Aku punya villa di Bedugul. Sunyi. Tenang. View bagus. Dan yang terpenting—tidak ada yang akan mengganggu.

Gwen: Makasih, Aga. Sepertinya aku akan coba di tempatku saja.

Aga: Pikirkan dulu. Tidak ada tekanan. Tapi kalau kamu butuh ruang untuk fokus, aku punya ruang itu.

Gwen menatap folder di tangannya, lalu menatap lalu lintas Bali yang ramai. Butuh ruang. Butuh fokus. Butuh... dia tidak mau mengakui, tapi mungkin butuh Aga juga. Ia sadar ternyata bocah itu tidak semenyebalkan itu.

Gwen: Baiklah, Aku pikirkan dulu.

Aga: Take your time, Gwen. Aku gak ke mana-mana.

...__Kejar Tenggat__...

Sepanjang perjalanan pulang, Gwen hanya diam. Tangannya menggenggam ujung tas di pangkuan, sementara pikirannya berkelana ke mana-mana—ke Artvia, ke tenggat tiga hari, dan… ke Aga.

Sesekali ia menatap jalanan yang ramai, tapi tak benar-benar melihat. Semuanya terasa berlalu begitu saja. Saat sampai di rumah, langkahnya melambat. Sejak acara pernikahan Mega, ada yang berubah—bukan pada rumahnya, tapi pada cara sang ibu memandangnya.

“Gimana interview-nya?” tanya Linda, berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sulit ditebak.

“Aku dapat tantangan tiga hari, Bu,” jawabnya singkat.

Linda mengangguk tipis, lalu berbalik masuk tanpa menunggu. “Seharusnya kamu tetap mempertahankan hubungan kamu dengan Ben,” ucapnya datar. “Mungkin kamu nggak perlu pontang-panting cari kerjaan di usia kamu yang sudah cukup tua.”

Gwen terdiam.

Lagi. Topik yang sama, seolah tak pernah benar-benar selesai. Ia menggenggam erat tali tasnya, rahangnya mengeras, tapi tidak langsung membalas.

“Aku masih bisa cari kerja sendiri, Bu,” jawabnya akhirnya, suaranya tertahan, tapi tegas.

Linda berhenti sejenak, menoleh setengah.

“Mencari kerja sekarang itu tidak semudah yang kamu kira. Apalagi kamu sudah tua."

Gwen menelan ludah. Banyak hal ingin ia katakan—tentang Ben, tentang apa yang sebenarnya terjadi, tentang betapa ia sudah berusaha bangkit.

Tapi tidak satu pun keluar.

“Ben itu paket yang lengkap,” lanjut Linda, nadanya terdengar lebih tenang, tapi justru terasa lebih menekan. “Mapan, berpendidikan, punya nama. Ibu rasa… tidak mudah menemukan laki-laki seperti dia lagi.”

Gwen terdiam.

Kata-kata itu jatuh pelan, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.

“Aku masih bisa cari jalan sendiri, Bu,” ucapnya akhirnya, pelan tapi tegas.

Linda hanya menghela napas tipis, seolah tidak sepenuhnya percaya. “Ibu cuma ingin yang terbaik untuk kamu,” katanya singkat.

Gwen mengangguk, meski dadanya terasa penuh.“Aku capek, Bu. Mau istirahat dulu.”

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah masuk ke kamar. Begitu pintu tertutup, Gwen berjalan ke meja dan membuka laptopnya. Folder ArtVia terbuka di samping. Tapi matanya tak fokus pada blueprint yang berjejer di layar.

Pikirannya melayang ke villa di Bedugul, ke Aga yang menunggu dengan sabar, ke usia mereka yang berjarak… dan ke masa lalunya dengan Ben yang masih menghantui.

Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah foto. Di situ, ia dan Ben tersenyum di depan model maket proyek pertama mereka di Emporio Architect.

Waktu itu, Gwen masih polos, masih yakin cinta dan karier bisa berjalan seiring.

Benjamin Halim. Pria yang Gwen kira bisa mengobati patah hatinya setelah ditinggal Mas Rama menikah. Bosnya yang baik hati, penuh perhatian, dan romantis. Awalnya, Gwen percaya hubungan mereka akan sampai ke pelaminan—Ben bahkan pernah melamarnya.

Namun kenyataannya berbeda.

Ben menyakitinya berkali-kali, berselingkuh dengan beberapa kliennya. Gwen lelah. Putus asa. Dan akhirnya memilih berhenti.

Tapi penderitaannya seolah tak cukup. Ben yang tidak terima menggunakan relasinya untuk menjatuhkan Gwen—menghancurkan karier yang sudah ia bangun dengan susah payah. Hingga akhirnya Gwen memilih kembali ke Bali, membawa luka… sekaligus pelajaran berharga.

Ia menutup foto itu dengan cepat.

Tidak.

Ia tidak akan membiarkan masa lalu mencuri kesempatan kedua ini.

Ponselnya bergetar.

Pandji: Gimana interviewnya, Mba?

Gwen: Dapat tantangan. Tiga hari.

Pandji: Tantangan apa?

Gwen: Desain villa. Konsep awal.

Pandji: Villa Aga di Bedugul bagus buat fokus. Tenang. Aku sering pinjam buat nulis skripsi dulu.

Gwen mengernyit. Sejak kapan Pandji jadi marketing Aga?

Gwen: Kenapa kamu dukung dia?

Pandji: Karena dia serius, Mba. Aku kenal Aga dari SD. Dia nggak pernah setengah-setengah. Kalau dia bilang suka, dia suka. Kalau dia bilang tunggu, dia tunggu.…Dan aku lihat cara dia lihat kamu. Beda.

Gwen terdiam sesaat.

Gwen: Bohong. Bilang sama aku, dia kasih kamu apa? Duit?

Pandji: Hahaha… duitnya Aga emang nggak berseri. Tapi lihat wajah Mba yang berseri… itu jauh lebih mahal.

Gwen menghela napas, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.

Gwen: Jangan bercanda.

Pandji: Aku serius. Duit bisa dicari, tapi senyum mba susah ditiru.

Gwen menatap layar beberapa detik lebih lama.

Gwen: Baiklah. Tolong katakan ke Aga. Aku akan ke Bedugul besok.

Pandji: Yes! Maksudnya… oke, Mba. Hati-hati.

Gwen tersenyum kecil, menghapus sisa air mata di pipinya. Ia kembali membuka folder Artvia, mulai membuat sketsa pertama di tabletnya.

Villa untuk hidup baru.

Untuk awal baru.

Gwen berhenti.

Tepat.

Itu dia.

Bukan rumah untuk melupakan masa lalu…

tapi ruang untuk merayakan yang baru.

Open plan. Banyak cahaya alami. Ruang yang mengalir tanpa sekat kaku—hanya transisi lembut. Dari dalam ke luar. Dari lama ke baru. Dari gelap… ke terang.

Gwen bekerja sampai dini hari Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Gwen merasa hidup kembali. Garis demi garis yang ia tarik di layar bukan lagi sekadar desain—melainkan potongan dari dirinya yang perlahan ia bangun kembali.

Sebuah ruang untuk memulai.

Sebuah ruang untuk bernapas.

Sebuah ruang… untuk harapan yang baru.

Gwen berhenti sejenak, menatap hasil karyanya.

Lalu bayangan ibunya kembali muncul—tatapan dingin itu, nada suara yang selalu meragukan.

Ia menghela napas pelan. “Aku bisa,” bisiknya lirih.

Kali ini, ia tidak ingin lari. Ia hanya ingin maju.

Dan suatu hari nanti…

Gwen ingin berdiri di hadapan ibunya, bukan sebagai seseorang yang gagal— tapi sebagai dirinya yang dulu. Yang pernah bersinar. Dan akan bersinar lagi.

1
mitha
Lanjut kak
lilyrose
syuukkurin 🤣
Honey Brezee: hihi 🤭
total 1 replies
lilyrose
to the point aman sih si hilman 😂😂😂
Honey Brezee: iy, hahaha 🤣
total 1 replies
Patrish
nyambung amat Bang
Honey Brezee: nyambung di next kak 🤣
total 2 replies
mitha
Ceritanya gak ngebosenin 😍
Anita
Ibu tiri 😭
Anita
Seruuuuuu 😍
Patrish
hati hayi anak muda jangan sampai kebablasan
Honey Brezee: tenang ada penjaga nya si pandji 🤣🤣
total 1 replies
Patrish
ini ibu kandung apa ibu tiri sih...
Patrish: 🤣🤣🤣🤣pokoknya dibuat sakit tapi jangan sampai menyusahkan anaknya🤣🤣🤣
total 4 replies
Patrish
setiap keputusan membawa resiko..(baik maupun buruk)..setiap pilihan menuntut keberanian
inilah inti perjalanan ke depan
Honey Brezee: makasih kak ❤
total 1 replies
Patrish
ini ceritanya mereka hidup di Bali...sedang ayah Gwen di jakarta....nadine tinggal di mana?
Honey Brezee: gwen di Bali kak, ayah gwen bolak balik ke jakarta karna ada kerjaan
total 1 replies
Patrish
aku gagal focus di sini..Pikirku Panji nganter Nadine ke luar kota...
Honey Brezee: nanti aku revisi 🙏
total 1 replies
Patrish
Panji....pinter ya
Patrish
mulai....ada bara menyala...
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "Pacar Melamar Mantan Menggoda" ✨️✨️
Silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata. Kudu baca kalau kalian suka drama yang deep dan dewasa 🤌
total 1 replies
lilyrose
keren banget..ga muter muter ceritanya
good job thor
lanjuttt
Honey Brezee: huhuhu..Thankyou 😭🙏❤
total 1 replies
lilyrose
baru nemu novel sebagus ini..keren banget
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
Honey Brezee: makasih kak 🥺😭🙏❤
total 1 replies
Patrish
novel bagus gini...belum ada yang nemu....🤭🤭🤭🤭aku juga baru kemarin😀😀😀
Patrish: semoga segera banyak yang baca
total 2 replies
Patrish
sampai di sini...kalimatnya enak dinikmati....lanjuut aku...👍🏻👍🏻
Honey Brezee: terimakasih kak 🥺🙏❤
total 1 replies
Patrish
tapi kamu keren Gwen....seharusnya sejak kemarin kamu begitu...
Patrish
yoookkkk...lanjuuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!