NovelToon NovelToon
Secret Marriage

Secret Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

Bagi dunia luar, Reihan Arta Wiguna adalah sosok "Ice King" di lantai bursa—dingin, tak tersentuh, dan selalu kalkulatif. Namun, di balik kemewahan hidupnya, ia terikat oleh janji konyol kakeknya puluhan tahun silam. Ia dipaksa menikahi Laluna Wijaya, seorang gadis yang ia anggap hanya sebagai "beban" tambahan dalam hidupnya yang sudah sibuk.
Laluna sendiri tidak punya pilihan. Menikah dengan Reihan adalah satu-satunya cara untuk melindungi apa yang tersisa dari nama baik keluarganya. Mereka sepakat pada satu aturan main: Pernikahan ini harus menjadi rahasia. Tidak ada cinta, tidak ada kemesraan di depan publik, dan tidak ada campur tangan dalam urusan pribadi masing-masing.
Namun, tinggal di bawah satu atap perlahan meruntuhkan tembok yang dibangun Reihan. Laluna bukan sekadar gadis penurut yang ia bayangkan; ia adalah api yang hangat di tengah musim dingin Reihan. Saat satu per satu rahasia keluarga dan pengkhianatan bisnis mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: KONTRAK DI ATAS MEJA MARMER

Lampu gantung kristal yang melingkar di langit-langit restoran privat itu berpendar redup, memberikan pantulan cahaya yang dingin pada permukaan meja marmer hitam di bawahnya.

Udara di dalam ruangan itu terasa tipis, seolah oksigen telah habis dihisap oleh ketegangan yang menggantung di antara dua orang yang duduk berseberangan. Tidak ada suara denting sendok atau obrolan ringan yang lazim terdengar di tempat semahal ini. Hanya ada kesunyian yang mencekam, diselingi suara gesekan kertas yang halus.

Laluna Wijaya meremas jemarinya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.

Matanya terpaku pada pria di hadapannya, pria yang selama ini hanya ia lihat di sampul majalah bisnis atau tajuk berita ekonomi sebagai "Penyelamat Arta Wiguna Group".

Reihan Arta Wiguna.

Pria itu mengenakan setelan jas tiga potong berwarna charcoal yang tampak sangat kaku dan sempurna, seolah tidak ada satu pun kerutan yang berani mampir di sana.

Wajahnya dipahat dengan garis rahang yang tegas, hidung mancung yang angkuh, dan sepasang mata elang yang sedingin es kutub.

Reihan tidak menatap Laluna.

Ia sedang sibuk membaca dokumen di tangannya dengan kacamata berbingkai tipis yang bertengger di pangkal hidungnya, memberikan kesan intelektual sekaligus intimidatif.

"Aku tidak suka membuang waktu, Laluna," suara Reihan akhirnya memecah keheningan.

Suaranya rendah, bariton, dan tanpa ekspresi, seperti robot yang diprogram untuk memberikan laporan laba rugi.

Reihan meletakkan dokumen itu di atas meja dan mendorongnya perlahan ke arah Laluna.

"Itu adalah draf perjanjian pernikahan kita. Aku sudah meminta tim hukumku untuk memasukkan semua poin yang diperlukan agar tidak ada kesalahpahaman di masa depan."

Laluna menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian liar.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraih tumpukan kertas itu. Judulnya tertulis dengan huruf kapital yang tegas: PERJANJIAN PRANIKAH DAN KERAHASIAAN.

"Pernikahan ini," Reihan melanjutkan sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, "hanya terjadi karena wasiat kakekku.

Beliau terobsesi dengan janji masa lalu kepada kakekmu yang sejujurnya sangat tidak masuk akal di zaman sekarang.

Tapi, karena aku membutuhkan restu dewan komisaris yang masih setia pada ideologi lama kakek, aku terpaksa menuruti permainan ini."

Laluna mulai membaca baris demi baris. Matanya membelalak saat sampai pada poin-poin utama:

Status Pernikahan: Pernikahan ini bersifat rahasia dan tidak akan dipublikasikan kepada media atau pihak ketiga tanpa persetujuan tertulis dari pihak pertama (Reihan).

Kehidupan Pribadi: Masing-masing pihak dilarang mencampuri urusan pribadi, pekerjaan, maupun hubungan sosial pihak lain.

Kontak Fisik: Tidak diperbolehkan adanya kontak fisik yang bersifat intim kecuali diperlukan dalam situasi formal keluarga besar demi menjaga citra.

Durasi: Kontrak berlaku selama dua tahun, setelah itu perceraian akan diproses secara diam-diam.

Laluna merasakan tenggorokannya tercekat.

"Dua tahun? Dan selama itu aku harus hidup seperti bayangan?"

Reihan menatapnya untuk pertama kali. Tatapan itu begitu tajam hingga Laluna merasa seolah pria itu bisa melihat menembus tengkoraknya.

"Bukan hanya bayangan, tapi bayangan yang dibayar mahal. Aku tahu kondisi perusahaan ayahmu, Wijaya Bakery. Kalian sedang di ambang pailit karena ekspansi yang gagal di luar kota. Begitu kau menandatangani ini dan kita resmi menikah secara catatan sipil, dana segar akan mengalir ke rekening ayahmu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."

"Jadi kau menganggapku sebagai barang yang bisa dibeli?" suara Laluna sedikit meninggi, ada getaran kemarahan yang mulai membakar rasa takutnya.

Reihan menyunggingkan senyum tipis senyum yang tidak mencapai matanya. Senyum yang lebih mirip sebuah hinaan.

"Semua hal di dunia ini adalah transaksi, Laluna. Kau memberikan status istri yang aku butuhkan untuk mengamankan posisi CEO-ku, dan aku memberikan napas buatan untuk perusahaan ayahmu yang hampir mati. Itu adalah kesepakatan yang adil."

Laluna menatap pria itu dengan rasa tidak percaya. Ia teringat ayahnya yang nampak menua sepuluh tahun dalam satu malam, menangis di meja makan karena memikirkan nasib ratusan karyawannya jika pabrik mereka ditutup.

Ia teringat ibunya yang sakit-sakitan, yang selalu memohon agar Laluna membantu keluarga. Perjodohan ini adalah jalan keluar terakhir.

Ia kembali menatap dokumen itu. Menjadi istri dari pria sedingin es ini selama dua tahun terdengar seperti hukuman penjara. Namun, membiarkan keluarganya hancur adalah sesuatu yang tidak akan bisa ia maafkan.

Laluna meraih pulpen berbahan emas yang diletakkan Reihan di samping dokumen. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma parfum wood and musk milik Reihan memenuhi indra penciumannya aroma yang maskulin namun terasa sangat asing.

Sret. Sret.

Tanda tangan itu terukir di atas kertas putih tersebut. Laluna merasa seolah baru saja menjual jiwanya.

"Bagus," ucap Reihan pendek.

Ia mengambil kembali dokumen itu, memeriksanya sekilas, lalu memasukkannya ke dalam tas kulitnya.

"Mulai besok, asistenku akan menjemputmu untuk pindah ke apartemenku. Jangan membawa terlalu banyak barang yang tidak perlu. Aku tidak suka keributan dan aku benci kekacauan."

Reihan berdiri, merapikan kancing jasnya. Ia berdiri menjulang, menciptakan bayangan besar yang seolah menelan sosok Laluna.

"Satu hal lagi. Jangan pernah berharap aku akan pulang setiap malam untuk makan malam bersamamu. Jangan meneleponku jika tidak mendesak. Dan yang terpenting... jangan pernah jatuh cinta padaku."

Laluna ikut berdiri, mencoba mempertahankan harga dirinya yang tersisa.

"Jangan khawatir, Tuan Arta Wiguna. Mencintai pria tanpa hati sepertimu adalah hal terakhir yang ada di daftar keinginanku."

Mata Reihan menyipit sesaat. Ada kilatan aneh yang melintas di sana, namun hilang secepat munculnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, pria itu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dengan langkah kaki yang mantap dan angkuh.

Laluna tetap berdiri di tempatnya hingga suara langkah kaki Reihan menghilang sepenuhnya. Lututnya mendadak terasa lemas, dan ia terduduk kembali di kursinya.

Ruangan yang mewah itu kini terasa sangat luas dan hampa.

Ia menoleh ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta di malam hari. Lampu-lampu gedung pencakar langit bersinar seperti permata yang berserakan, namun Laluna hanya bisa melihat kegelapan yang menantinya di balik nama besar Arta Wiguna.

Besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia akan menjadi Nyonya Arta Wiguna di atas kertas, namun ia akan tetap menjadi orang asing di hati suaminya.

Laluna memejamkan mata, membayangkan dua tahun ke depan yang akan terasa seperti selamanya.

Di luar restoran, hujan mulai turun membasahi jalanan ibu kota, seolah ikut menangisi kebebasan yang baru saja Laluna lepaskan demi sebuah janji masa lalu yang bahkan bukan miliknya. Di dalam keheningan itu, Laluna berbisik pada dirinya sendiri, sebuah janji yang lebih kuat dari kontrak mana pun.

"Aku akan bertahan. Demi ayah, demi ibu. Hanya dua tahun, Laluna. Hanya dua tahun."

Namun, di lubuk hatinya yang terdalam, sebuah firasat buruk mulai merayap. Berurusan dengan pria seperti Reihan Arta Wiguna mungkin tidak akan semudah menandatangani selembar kertas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!