Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Setelah kepulangan Dwi, keheningan kembali merajai rumah mewah yang terasa dingin itu.
Xena duduk di kursi makan, mencoba menelan makan malamnya dengan paksa.
Setiap suapan terasa hambar di lidahnya, sementara denyut di keningnya yang diperban seolah mengingatkannya pada benturan keras beberapa jam yang lalu.
Tak berselang lama, terdengar suara erangan dari arah sofa. Xena segera meletakkan sendoknya dan menghampiri Prabu.
Pria itu telah membuka matanya, namun tatapannya langsung menajam begitu menyadari tubuhnya masih terkunci oleh jaket pengikat.
"Buka ikatanku!!" bentak Prabu, suaranya parau namun penuh amarah.
Xena berdiri tegak di hadapannya, mencoba tidak terpancing emosi.
"Tidak!! Kamu belum bisa mengendalikan emosimu, Mas. Dan sekarang, kamu harus makan supaya tenagamu pulih."
"Aku tidak butuh makan! Aku butuh kamu pergi dari hadapanku!" Prabu meronta, mencoba melepaskan diri dari kain yang melilit lengannya, namun usahanya sia-sia.
Xena mengabaikan makian itu. Ia mengambil semangkuk bubur hangat dan duduk di pinggir sofa.
Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap berusaha tenang, ia menyodorkan sesendok bubur ke depan bibir Prabu.
"Ayo, sedikit saja. Kamu butuh nutrisi agar obatnya bekerja maksimal," bujuk Xena lembut.
Prabu justru memalingkan wajahnya dengan kasar, membuat butiran bubur mengenai bantal sofa.
"Jangan bertingkah seolah kamu istri yang perhatian. Aku tidak sudi disuapi oleh tangan yang sudah menjebakku dalam pernikahan ini!"
Xena terdiam sejenak. Ia menatap mangkuk di tangannya, lalu menatap wajah suaminya yang penuh dengan gurat kebencian.
Rasa lelah yang luar biasa mendadak menghimpit dadanya. Ia menyadari bahwa memaksa pria yang sedang hancur hanya akan memperburuk keadaan.
"Baiklah kalau kamu tidak mau makan," ucap Xena pelan sambil meletakkan kembali mangkuk itu di atas meja.
Ia berdiri dan merapikan pakaiannya. "Aku ke kamarku dulu. Jika kamu sudah merasa lebih tenang dan lapar, panggil aku. Tapi untuk malam ini, biarkan jaket itu tetap terpasang demi keamananmu sendiri."
Tanpa menunggu jawaban, Xena melangkah pergi menuju kamarnya di ruang tamu.
Ia menutup pintu dengan pelan, lalu menyandarkan tubuhnya di sana.
Di balik pintu itu, ia bisa mendengar Prabu yang kembali mengumpat pelan, sementara di dalam kamar yang asing itu, Xena hanya bisa memeluk dirinya sendiri, berusaha mencari kekuatan untuk menghadapi hari esok yang mungkin akan jauh lebih berat.
Di dalam kamar yang sunyi itu, Xena tidak lantas merebahkan tubuhnya.
Meski kepalanya masih berdenyut nyeri akibat benturan tadi, ia menyalakan laptop.
Cahaya dari layar monitor memantul di wajahnya yang pucat, menerangi perban kecil yang masih menempel di keningnya.
Jemari Xena bergerak lincah di atas keyboard. Ia membuka kembali berkas-berkas digital, jurnal medis, dan catatan riwayat kesehatan yang ia kumpulkan mengenai Prabu.
Depresi Mayor dengan Fitur Psikotik.
Xena menghela napas panjang saat membaca diagnosa tersebut.
Ia bergumam pelan, menganalisis setiap baris kata yang tertera di layar.
"Depresi ini bukan sekadar kesedihan biasa, Pra. Kamu sedang terjebak dalam complicated grief," bisiknya pada diri sendiri.
Ia mempelajari kronologi kecelakaan yang melibatkan Tryas.
Ia mencoba memahami titik di mana pikiran Prabu mulai terdistorsi, di mana rasa bersalah itu berubah menjadi manifestasi kemarahan yang destruktif.
Bagi Prabu, setiap detik dalam keadaan sadar adalah siksaan karena ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia hidup sementara orang yang ia cintai tidak.
"Trauma itu membuatmu merasa tidak layak untuk bahagia. Itu sebabnya kamu sangat membenciku, karena kehadiranku adalah pengingat bahwa hidupmu harus terus berjalan," gumam Xena lagi.
Ia mulai mengetik rancangan terapi baru. Ia memadukan pendekatan farmakologi dengan rencana terapi perilaku kognitif yang lebih intensif.
Ia tahu, sebagai istri sekaligus dokter, batas profesionalismenya sedang diuji habis-habisan.
Mata Xena mulai terasa berat, namun ia terus membaca hingga halaman demi halaman jurnal ilmiah.
Di luar sana, ia bisa mendengar suara geraman pelan atau gesekan kain dari arah sofa, pertanda Prabu masih belum bisa berdamai dengan tidurnya.
Xena menutup laptopnya perlahan saat jam menunjukkan pukul dua dini hari.
Ia mematikan lampu, namun pikirannya tetap terjaga.
Di dalam kegelapan, ia menyadari satu hal: untuk menyembuhkan Prabu, ia tidak hanya harus menjadi dokter yang pintar, tapi juga harus menjadi sasaran amarah yang paling sabar.
Karena di balik sosok "monster" yang membencinya itu, ada jiwa yang sedang sekarat dan meminta pertolongan dengan cara yang paling menyakitkan.
Suasana rumah yang sunyi di tengah malam itu pecah oleh suara parau yang terdengar dari ruang tengah.
Xena, yang baru saja memejamkan mata setelah berjam-jam mempelajari kasus depresi suaminya, tersentak bangun.
"Xena, aku lapar. Lepaskan aku!" teriak Prabu dari luar.
Xena segera bangkit dari tempat tidur. Tanpa memedulikan rasa pening di keningnya, ia berlari keluar kamar.
Jantungnya berdegup kencang antara rasa haru karena Prabu akhirnya meminta makan, dan rasa waspada sebagai seorang dokter.
Sesampainya di ruang tamu, ia melihat pemandangan yang menyayat hati.
Prabu tidak lagi di sofa; ia duduk di lantai dengan punggung bersandar pada kaki meja, masih terbalut jaket pengikat, tampak sangat rapuh di bawah temaram lampu ruangan.
"Syukurlah kalau kamu lapar, Pra," ucap Xena lembut.
Ia berlutut di belakang suaminya, jemarinya dengan cekatan mulai membuka kunci dan tali jaket pengikat tersebut.
"Aku lepaskan ya, tapi tolong kendalikan dirimu."
Begitu ikatan terakhir terlepas, Xena bernapas lega. Namun, kelegaan itu hanya bertahan satu detik.
Dengan gerakan secepat kilat yang tak terduga, Prabu berbalik.
Ia tidak menggunakan kebebasannya untuk makan, melainkan untuk melampiaskan amarahnya yang terpendam.
Sebelum Xena sempat menghindar, Prabu sudah memutar tubuh istrinya.
Dengan kekuatan pria yang sedang kalap, ia menarik tangan Xena dan memakaikan jaket pengikat itu ke tubuh Xena sendiri.
"Pra, lepas!! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Xena panik, mencoba meronta. Namun, Prabu jauh lebih kuat.
Ia mengunci tali-tali jaket itu dengan kencang di punggung Xena.
"Sekarang kamu tahu rasanya jadi tawanan di rumah sendiri, Dokter!" desis Prabu tajam.
"Prabu, sadar! Kamu masih harus minum obatmu dan makan, kalau tidak kamu akan—mmmmpphh!!"
Kalimat Xena terputus secara paksa. Prabu menyambar kain serbet dari atas meja dan menyumpalkannya ke mulut Xena, lalu mengikatnya dengan kuat.
"Mmmmpphh!! Mmmpphh!!"
Xena berusaha berteriak, matanya membelalak menatap suaminya.
Air mata kemarahan dan kesedihan mulai mengalir di pipinya.
Prabu mengabaikan rontaan istrinya. Dengan wajah dingin yang sangat angkuh, ia berdiri dan melangkah menuju meja makan.
Ia mengambil mangkuk bubur yang tadi sempat ditolaknya, duduk di kursi makan dengan tenang, dan mulai menikmati makanannya suap demi suap.
Ia makan dengan lahap, seolah-olah tidak ada wanita yang sedang terikat dan terbungkam di lantai hanya beberapa meter darinya.
Suara denting sendok yang beradu dengan mangkuk menjadi satu-satunya suara di ruangan itu, mengiringi isak tangis tertahan Xena yang kini harus merasakan sendiri pahitnya perlakuan pria yang sangat ia cintai.
Setelah menghabiskan suapan terakhirnya, Prabu bangkit berdiri tanpa menoleh sedikit pun.
Ia meletakkan mangkuk kosong itu di meja dengan denting yang kasar, seolah memberikan tanda bahwa "pertunjukan" malam ini telah usai.
Dengan langkah angkuh, ia menaiki tangga satu per satu, masuk ke kamarnya, dan membanting pintu dengan keras, meninggalkan Xena dalam kesunyian yang mencekam.
Xena yang terbaring di lantai dengan tubuh terikat jaket pengikat dan mulut tersumpal, mencoba mengumpulkan sisa-sisa tenaganya.
Ia berguling, berusaha mendudukkan dirinya. Keningnya yang diperban kembali berdenyut hebat.
"Mmmmpphh! Mmmpphh!"
Ia mencoba menggesekkan punggungnya ke sudut kaki meja kayu yang tajam, berharap bisa melonggarkan ikatan tali di belakang tubuhnya.
Namun, jaket medis itu dirancang terlalu kuat untuk dilepaskan oleh tenaga satu orang yang terikat di dalamnya.
Keringat dingin mulai membasahi pakaian rumahan yang ia kenakan.
Selama hampir satu jam, Xena berjuang sendirian di tengah ruang tamu yang gelap.
Ia merayap perlahan menuju sofa, mencoba menggunakan sikutnya untuk menarik diri ke atas, namun ia justru jatuh kembali ke lantai marmer yang dingin.
Rasa lelah yang luar biasa, efek dari benturan kepala sebelumnya, dan tekanan batin yang bertubi-tubi mulai menguras kesadarannya.
Setiap napas yang ia hirup melalui hidung terasa berat karena sumpalan di mulutnya.
Perlahan, perlawanannya memudar. Tubuhnya meringkuk seperti janin di atas lantai, mencoba mencari sedikit kehangatan.
Di balik kelopak matanya yang basah, bayangan Prabu yang dulu—Prabu yang tersenyum di koridor sekolah—perlahan muncul, seolah ingin memberikan penghiburan di tengah kenyataan pahit ini.
Karena kelelahan fisik dan mental yang sudah mencapai batasnya, Xena akhirnya tak lagi meronta.
Di tempat ia terjatuh, tepat di samping meja makan, Xena akhirnya tertidur pulas dalam kondisi terikat, membiarkan kegelapan malam membawanya pergi sejenak dari rasa sakit yang tak berkesudahan.
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣