NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Sarung dan Sederhana

Pagi pertama di desa itu dimulai dengan suara kokok ayam yang saling bersahutan, sebuah "alarm" alami yang jauh berbeda dari suara bising klakson di Jakarta.

Arlan terbangun di atas dipan kayu yang dialasi kasur kapuk tipis. Punggungnya terasa sedikit pegal---ia biasanya tidur di atas kasur memory foam seharga ratusan juta—namun saat ia menoleh ke samping dan melihat Kinara masih tertidur lelap dengan wajah damai, rasa pegal itu menguap begitu saja.

​Arlan tidak beranjak. Ia hanya diam, menopang kepalanya dengan tangan sambil memandangi wajah istrinya.

Di bawah cahaya matahari pagi yang menembus celah ventilasi kayu, Kinara tampak seperti bidadari desa.

Tidak ada riasan, tidak ada tekanan, hanya ada ketenangan. Arlan menyadari satu hal: ia lebih suka melihat Kinara di kamar kecil yang berbau kayu lapuk ini daripada di mansion mewahnya jika di sini Kinara bisa tersenyum saat tidur.

​Perlahan, Arlan turun dari dipan. Ia mencoba menyesuaikan diri.

Pagi ini, ia mengenakan kaus oblong putih dan sarung kotak-kotak yang dipinjamkan oleh paman Kinara.

Sosok CEO Arlan Group yang biasanya kaku dengan setelan jas custom-made dari Italia, kini tampak seperti pemuda desa lokal.

​Ia melangkah ke dapur belakang yang masih menggunakan tungku kayu bakar. Di sana, Nenek Kinara sedang sibuk meniup api.

​"Eh, Nak Arlan sudah bangun?" sapa Nenek dengan ramah, logat jawanya kental dan menyejukkan.

​"Sudah, Nek. Ada yang bisa saya bantu?" Arlan bertanya dengan canggung. Ia merasa tidak enak jika hanya berdiam diri.

​Nenek terkekeh melihat Arlan yang sesekali membetulkan lilitan sarungnya yang hampir melorot.

"Kalau mau bantu, coba timba air di sumur belakang ya. Air di bak mandi sudah hampir habis."

​Arlan mengangguk mantap.

Ia pikir, seberapa sulitkah menimba air? Ia rutin ke gym, mengangkat beban puluhan kilogram adalah hal biasa baginya.

Namun, saat ia berdiri di depan sumur tua itu, Arlan tertegun. Tidak ada mesin otomatis. Hanya ada tali tambang, ember kayu, dan lubang gelap yang dalam.

​Ia mulai menurunkan ember. Byur! Ember menghantam air. Arlan menarik talinya. Baru setengah jalan, tangannya mulai terasa perih karena gesekan tambang, dan ember itu terasa berkali-kali lipat lebih berat daripada dumbbell di gym.

​Tepat saat Arlan sedang berduel dengan ember sumur sambil sesekali menggerutu kecil, Kinara muncul dari pintu dapur. Ia berdiri bersandar di pintu, memperhatikan suaminya yang sedang berjuang keras sampai urat-urat di lengannya menonjol.

​"Butuh bantuan, Tuan CEO?" goda Kinara sambil tertawa kecil.

​Arlan menoleh, wajahnya sudah kemerahan karena keringat.

"Kin... ini embernya bocor atau sumurnya yang terlalu dalam? Kenapa berat sekali?"

​Kinara tidak bisa menahan tawa.

Ia mendekat, mengambil alih tambang itu dari tangan Arlan.

Dengan teknik yang benar—menggunakan tumpuan berat badan, bukan hanya otot tangan—Kinara menarik air itu dengan mudah.

​"Otot besar nggak menjamin bisa menimba air, Arlan," ucap Kinara sambil menjulurkan lidah.

​Arlan terpesona.

Ia menarik Kinara ke dalam pelukannya meskipun tubuhnya berkeringat.

"Kamu hebat. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa soal hidup yang sebenarnya ya?"

​Kinara menyandarkan kepalanya di dada Arlan.

"Bukannya tidak tahu, kamu cuma terlalu lama hidup di atas awan. Sesekali menyentuh tanah itu sehat, Sayang."

​Siang harinya, Arlan diajak oleh paman Kinara untuk pergi ke sawah.

Awalnya Kinara melarang, takut Arlan tidak kuat panas. Namun Arlan bersikeras.

Ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menjadi "Arlan-nya Kinara" yang tangguh.

​Hasilnya? Arlan justru menjadi tontonan warga desa. Bagaimana tidak? Seorang pria setampan aktor film, berkulit bersih, berjalan dengan sangat hati-hati di pematang sawah yang licin agar tidak jatuh ke lumpur.

Namun, kesialan tetap menimpanya. Kaki Arlan terpeleset dan blup! Setengah tubuhnya masuk ke dalam lumpur sawah yang hitam.

​Kinara yang menyusul membawakan makan siang berteriak kaget, lalu tertawa sampai jongkok di pinggir sawah melihat suaminya yang kini berlumuran lumpur.

​"Arlaaaan! Ya ampun, wajahmu!" seru Kinara di sela tawanya.

​Arlan awalnya ingin marah. Ia sangat benci kotor.

Namun, melihat Kinara tertawa lepas—tertawa yang sangat tulus tanpa beban—Arlan justru ikut tertawa. Ia mengambil segenggam lumpur dan melemparkannya ke arah Kinara, mengenai ujung bajunya.

​"Oh, kamu berani ya!" Kinara ikut turun ke sawah.

Mereka berakhir dengan kejar-kejaran di pinggir sawah seperti anak kecil. Tidak ada lagi kontrak triliunan rupiah, tidak ada lagi persaingan bisnis yang kejam. Yang ada hanyalah dua orang yang saling mencintai, menertawakan hal paling sederhana di dunia.

​Sore harinya, setelah membersihkan diri, mereka duduk di bawah pohon mangga yang rindang di belakang rumah. Nenek menyuguhkan pisang goreng panas dan kopi tubruk.

​Arlan menarik Kinara untuk bersandar di dadanya. Ia memeluk istrinya dari belakang, menghirup aroma rambut Kinara yang kini berbau matahari dan sabun mandi murah, namun bagi Arlan, itu adalah aroma terbaik di dunia.

​"Kin..."

​"Ya?"

​"Aku mau kita begini dulu. Seminggu, dua minggu, atau sebulan. Aku tidak mau pulang ke Jakarta dulu," bisik Arlan lembut.

tangannya mengelus perut Kinara yang entah kenapa ia rasa sedikit berbeda—lebih hangat.

"Aku merasa baru pertama kali benar-benar 'hidup' di sini. Di mansion itu, aku cuma robot yang mengumpulkan uang."

​Kinara memutar tubuhnya, menatap mata Arlan.

"Kamu beneran sanggup? Di sini nggak ada AC, kalau malam banyak nyamuk, dan kamu harus mandi pakai air sumur yang dingin."

​Arlan tersenyum, lalu mencium dahi Kinara dengan sangat lama.

"Asalkan ada kamu yang memelukku saat aku kedinginan, nyamuk atau air sumur pun bukan masalah. Aku serius, Kin. Aku ingin memperbaiki semuanya dari nol. Di sini."

​Kinara terharu. Ia menyentuh wajah Arlan, merasakan perubahan pria itu.

"Terima kasih, Arlan. Terima kasih sudah mau merendah untukku."

​"Aku tidak merendah, Kin. Aku justru sedang naik ke level yang lebih tinggi sebagai seorang manusia. Level di mana aku tahu bahwa kebahagiaan itu bukan soal seberapa besar kantorku, tapi seberapa erat kamu memelukku."

​Malam itu, mereka kembali ke kamar kecil itu.

Arlan menepati janjinya. Ia memeluk Kinara sangat erat, menyelimuti tubuh istrinya dengan sarung yang sama, mendengarkan suara napas satu sama lain sampai mereka berdua terlelap dalam mimpi yang paling indah yang pernah mereka miliki.

catatan :

hihihiii kembali lagi bersama Arlan dan Kirana yah lopp🤍 btwwwww jgn lupa like, komen, and share yah xixixixi😭🤍

iluvyouuuuuu🤏🤍🤍

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!