"Zel, kita cuma nikah kontrak! Berhenti kirim kurir obat ke sekolah, aku malu sama guru-guru lain!"
Dazello Zelbarra, CEO dingin itu justru menarik Runa ke pelukannya. "Di catatanku, jam segini lambungmu mulai perih karena kamu lupa sarapan. Aku tidak peduli kamu malu, Runa. Aku hanya peduli kamu tetap hidup untuk melunasi kontrakmu padaku."
Runa Elainzica, guru honorer yang ceroboh dan pelupa, terpaksa menikahi mantan pacarnya, Dazello ‘Azel’ Zelbarra, demi menyelamatkan sekolahnya dari kebangkrutan.
Runa mengira Azel membencinya. Namun, ia tak pernah tahu bahwa di ponsel Azel terdapat aplikasi rahasia berjudul "Runa’s Manual Book". Sebuah catatan obsesif berisi ribuan detail tentang kebiasaan kecil Runa, pantangan makannya, hingga cara melindunginya saat badai datang.
Dunia mereka berbeda, tapi di buku catatan Azel, nama Runa sudah tertulis sebagai milik sahnya... selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Suasana di kantor pusat Zelbarra Group pagi itu jauh lebih sibuk dari biasanya. Ada proyek pembangunan Green School yang akan diluncurkan—proyek yang sebenarnya adalah cara Azel menghargai profesi Runa tanpa harus mengumumkannya secara terbuka.
Runa, yang hari itu terpaksa ikut karena Azel memintanya hadir sebagai "konsultan kurikulum" (alasan agar mereka bisa bersama), duduk di ruang tunggu VIP. Ia mengenakan blus krem sederhana namun elegan.
Tiba-tiba, pintu kaca besar lobi terbuka. Suara langkah sepatu pantofel yang angkuh terdengar menggema, diikuti oleh beberapa asisten yang tampak sibuk. Seorang pria dengan setelan jas biru elektrik, kacamata hitam yang disampirkan di kerah kemeja, dan senyum miring yang sangat menyebalkan, melangkah masuk.
Runa membeku. Jantungnya berdegup kencang, tapi bukan karena kagum, melainkan karena rasa risih yang luar biasa.
"Tidak mungkin..." bisik Runa.
"Lama tidak jumpa, Runa Elainzica. Kamu masih saja suka bersembunyi di pojokan seperti kucing kecil yang manis."
Pria itu berdiri di depan Runa. Arlan Dirgantara. Rival abadi Azel sejak masa kuliah, pewaris Dirgantara Group yang dulu selalu berusaha "merebut" Runa dari Azel hanya karena ia benci melihat Azel memiliki sesuatu yang tulus.
Arlan melepas kacamatanya, menatap Runa dengan tatapan lapar yang tidak berubah. "Aku dengar kamu masih jadi guru? Sayang sekali. Padahal kalau kamu pilih aku lima tahun lalu, kamu sekarang sudah punya sekolah sendiri di Paris."
Runa berdiri, mencoba menjaga jarak. "Arlan. Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku baru pulang dari Amerika untuk mengambil alih proyek Green School ini. Aku tidak akan membiarkan Azel menang sendirian kali ini," Arlan maju satu langkah, mencoba meraih tangan Runa. "Dan melihatmu di sini... sepertinya keberuntunganku sedang bagus."
"Lepaskan tangannya, Arlan. Sebelum aku membuatmu menyesal sudah menginjakkan kaki lagi di Indonesia."
Suara rendah dan dingin itu memotong udara. Azel berdiri di ambang pintu ruangannya, kedua tangannya masuk ke saku celana, tapi tatapannya seolah siap membunuh. Aura dominasinya langsung memenuhi ruangan, membuat para staf di sekitar mereka menunduk takut.
Arlan tertawa kecil, tidak terlihat terintimidasi. "Azel! Wah, sambutan yang sangat hangat untuk rival lamamu. Kamu masih saja posesif pada 'mantan' pacarmu ini?"
Azel berjalan mendekat, langkahnya tenang namun mematikan. Ia berhenti tepat di samping Runa, lalu dengan sengaja melingkarkan lengannya di bahu Runa, menariknya merapat ke tubuhnya.
"Dia bukan mantan," ucap Azel datar, setiap katanya ditekan dengan penuh penekanan. "Dia adalah istriku."
Arlan tertegun. Senyum miringnya perlahan pudar, berganti dengan kilat amarah dan ketidaksenangan. "Istri? Kamu menikahi guru honorer ini? Kamu bercanda, Azel? Strategi bisnis macam apa ini?"
"Ini bukan bisnis, Arlan. Ini kepemilikan mutlak," sahut Azel. Ia melirik Runa sebentar, menyadari wajah istrinya mulai pucat karena panik akibat kehadiran Arlan.
Azel menunduk sedikit, berbisik di telinga Runa namun cukup keras untuk didengar Arlan. "Jangan gemetar. Dia tidak akan bisa menyentuhmu seujung kuku pun."
Azel kembali menatap Arlan. "Jika kamu ke sini untuk proyek, silakan duduk di ruang rapat. Tapi jika kamu ke sini untuk mengganggu istriku, aku tidak keberatan menghancurkan saham Dirgantara Group sebelum jam makan siang dimulai."
Arlan mengepalkan tangannya, tapi kemudian ia tertawa hambar. "Menarik. Sangat menarik. Mari kita lihat, Azel... apakah si ceroboh Runa ini bisa bertahan di dunia kita yang kejam, atau justru dia akan bosan dengan sikap dinginmu dan mencari 'hiburan' lain dariku."
Arlan melangkah pergi menuju ruang rapat, tapi sebelumnya ia sempat mengedipkan sebelah mata pada Runa.
Runa menghela napas panjang setelah Arlan menjauh. Tubuhnya terasa lemas. "Zel... kenapa dia harus muncul lagi?"
Azel tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih tangan Runa, memeriksa telapak tangannya yang dingin.
"Sudah kubilang, jangan dipikirkan," gumam Azel. Ia mengeluarkan sebuah cokelat kecil dari sakunya—yang entah sejak kapan ia bawa—dan memberikannya pada Runa. "Makan ini. Gula darahmu pasti turun karena kaget. Dan mulai besok, aku akan menambah pengamanan di sekolahmu."
"Zel, nggak usah berlebihan..."
"Ini bukan berlebihan, Runa. Arlan itu seperti lintah. Dan aku tidak suka ada lintah yang mencoba menempel pada milikku," ucap Azel dengan nada protektif yang tidak bisa dibantah.
Runa menatap cokelat di tangannya, lalu menatap punggung Azel yang kini menuntunnya masuk ke ruang kerja. Meskipun kehadiran Arlan membawa awan mendung dari masa lalu, ada rasa aman yang aneh saat menyadari bahwa kali ini, Azel tidak akan membiarkannya menghadapi gangguan itu sendirian.
Namun, dalam hati Runa tetap cemas: Apa Arlan akan membocorkan rahasia pernikahan ini ke sekolah demi menjatuhkanku?
apa susahnya sih, pake alesan dijodohin segala 🤣