NovelToon NovelToon
The Price Of Power

The Price Of Power

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Kharisa Patasiki

Di balik kemegahan istana presiden, cinta hanyalah sebuah bidak yang dikorbankan demi takhta.

Adrian (Ian) menggunakan Rhea, seorang mahasiswi kedokteran, sebagai tunangan kontrak untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Cansu. Namun, di balik kebencian itu tersimpan rahasia kelam tentang pengkhianatan dan pengorbanan yang dipaksakan oleh ambisi politik sang Perdana Menteri.
​Saat rahasia masa lalu terbongkar dan nyawa menjadi taruhan, mereka harus menyadari satu kenyataan pahit: di puncak kekuasaan, setiap kemenangan selalu meminta tumbal.
​Kekuasaan memiliki harga, dan mereka harus membayarnya dengan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kharisa Patasiki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: SISA DOSA DI KOTA HUJAN

​Taman di Veneto masih dicekam keheningan yang menyakitkan setelah pengakuan bisu Cansu. Adrian berdiri mematung, menatap Matteo yang berada dalam dekapan ibunya. Namun, di balik tatapan tajamnya, pikiran Ian mendadak terlempar jauh ke belakang, menembus ruang dan waktu, menuju satu malam di Jakarta yang selama ini terkunci rapat dalam labirin ingatannya yang paling gelap.

​Malam itu, Jakarta diguyur hujan badai yang seolah meratapi jatuhnya Seorang Perdana Menteri Pradikta Kusuma. Lorong-lorong kediaman Diningrat terasa dingin dan berbau alkohol. Ian, dengan langkah gontai dan botol wiski di tangan, berjalan menuju sayap paviliun tempat Cansu mengemasi barang-barangnya.

​Pradikta baru saja dijebloskan ke penjara. Kebenaran tentang kekejaman pria itu telah menghancurkan kewarasan Ian.Ia merasa Lemah dan kacau , juga merasa terjepit di antara dua wanita yang membagi jiwanya menjadi dua bagian yang berlawanan.

​BRAK!

​Ian mendorong pintu kamar Cansu tanpa mengetuk. Di dalam, Cansu sedang melipat sebuah gaun sutra. Ia menoleh, matanya yang sembab menatap Ian dengan campuran rasa iba dan ngeri.

​"Ian? Kamu mabuk berat," ucap Cansu pelan, mencoba mendekat untuk mengambil botol dari tangan pria itu.

​Ian menepis tangan Cansu, tawanya terdengar parau dan menyakitkan. Ia menyandarkan tubuhnya ke bingkai pintu, menatap Cansu dengan mata yang merah dan basah.

​"Maafkan aku, Cansu... bagaimana ini? Hatiku sakit karena terbelit antara dirimu dan Rhea," racau Ian, suaranya pecah. "Aku masih tenggelam dalam kenangan kita, dalam setiap sentuhan kita di masa lalu... tapi aku ingin membuat Rhea bahagia! Aku ingin menjadi pria baik untuknya, tapi jiwaku tertinggal di dalam dirimu!"

​Cansu terdiam, air matanya jatuh tanpa suara. "Kamu hanya sedang tersesat, Ian. Pulanglah ke kamarmu. Besok pagi aku akan pergi ke Milan, dan semuanya akan selesai."

​"Tidak ada yang selesai!" bentak Ian. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Cansu terdesak ke lemari jati yang besar.

​Dalam kabut alkohol yang menyesatkan, Ian mencengkeram bahu Cansu dan menciumnya dengan kasar—sebuah ciuman yang penuh dengan keputusasaan, kemarahan, dan kerinduan yang tertahan bertahun-tahun.

​PLAK!

​Tamparan keras mendarat di wajah Ian. Persis seperti tamparan yang ia terima di Veneto hari ini.

​"Ian, kamu sudah gila?!" tegas Cansu, napasnya memburu. "Ayahmu saja tidak pernah aku biarkan menyentuhku walau hanya memegang sehelai rambutku! Aku menjaga kehormatanku di rumah ini dengan nyawaku sendiri!"

​Ian terhuyung, ia menyentuh sudut bibirnya yang berdarah. Tawanya kembali pecah, kali ini lebih sinis. "Jadi benar... jika Anda masih perawan? Setelah bertahun-tahun menjadi Istri ayahku, kamu masih suci?"

​Cansu membuang muka, tubuhnya gemetar hebat. "Ian, apa kamu ingin menjadi bajingan Bejat?"

​"Hahaha!" Ian mendekat lagi, tatapannya gelap dan liar. "Jadi kamu menjaga dirimu karena masih ada harapan kembali denganku, kan? Kamu menungguku, Cansu! Akui saja!"

​"Ian, sadarlah!! Ini bukan dirimu!" teriak Cansu, mencoba mendorong dada bidang Ian.

​Namun, malam itu, akal sehat Ian telah kalah oleh iblis di dalam botol dan rasa sakit yang luar biasa. Ia tidak mendengarkan. Ia melepaskan seluruh rasa frustrasinya melalui hasrat yang terlarang. Cansu sempat melawan, tangannya memukul-mukul punggung Ian, namun hatinya dan tubuhnya berbicara dengan bahasa yang berbeda. Di balik perlawanan itu, ada kejujuran yang menyakitkan bahwa ia masih sangat mencintai pria yang sedang merusaknya ini.

​Malam itu, di bawah raungan badai Jakarta, garis batas terakhir di antara mereka hancur. Ian mendapatkan apa yang ia inginkan, sementara Cansu menyerahkan satu-satunya hal berharga yang ia simpan demi kehormatannya.

​Pagi yang Hampa

​Saat fajar menyingsing, Ian terbangun di lantai kamar Cansu dengan kepala yang terasa ingin pecah. Kamar itu sudah kosong. Bau parfum mawar dan cendana milik Cansu masih tertinggal di udara, namun pemiliknya telah pergi.

​Ian mengerang, mencoba mengingat apa yang terjadi. Ia ingat masuk ke kamar Cansu, ia ingat berbicara kacau tentang Rhea, dan ia ingat kemarahannya. Namun, sisanya tertutup kabut hitam. Ia mengira ia hanya tertidur di lantai karena terlalu mabuk setelah bertengkar dengan Cansu. Ia tidak pernah tahu bahwa malam itu, ia telah menanam sebuah benih yang akan mengubah sejarah hidupnya selamanya.

​Beberapa jam kemudian, Cansu sudah berada di dalam pesawat menuju Milan. Ia duduk di kursi kelas bisnis, memeluk perutnya sendiri dengan tatapan kosong menatap awan. Ia membawa rahasia besar itu sendirian. Ia pergi bukan hanya untuk melarikan diri dari penghinaan Rakyat atas penghianat ayahnya, tapi untuk menyelamatkan apa yang tersisa dari Adrian di dalam rahimnya.

​Kembali ke Realita: Veneto

​Ian tersentak dari ingatannya. Napasnya memburu saat ia kembali menatap Cansu yang kini berdiri di depannya di taman Veneto. Rasa panas di pipinya akibat tamparan tadi seolah menjadi jembatan yang menghubungkannya dengan malam terkutuk di Jakarta itu.

​"Malam itu..." gumam Ian, suaranya bergetar hebat. "Aku mengira aku hanya bermimpi karena terlalu mabuk. Aku mengira memoriku menipuku."

​Cansu menatap Ian dengan tatapan yang sangat lelah. "Kamu pergi tidur dan melupakannya, Ian. Kamu bangun dan memulai hidup dengan Mawar barumu , membangun kehidupan sempurna, sementara aku bersembunyi di sini, melahirkan putramu di tengah ketakutan bahwa keluargamu akan mengambilnya dariku."

​Matteo, sang singa kecil, melepaskan pelukan ibunya dan berjalan mendekati Ian. Ia menatap wajah Ian yang tampak hancur, lalu mengulurkan tangan kecilnya, menyentuh pipi Ian yang merah bekas tamparan.

​"Paman Adrian sedih?" tanya Matteo polos.

​Yusuf memalingkan wajah, tidak sanggup melihat pemandangan itu. Lorenzo Valenti, yang sedari tadi hanya menonton, akhirnya melangkah maju dan meletakkan tangan di bahu Ian.

​"Darah tidak pernah berbohong, Adrian. Aku membiarkan Cansu menyimpannya sebagai rahasia karena aku menghormati pilihannya. Tapi kakekmu... dia ingin cicit laki-laki pertamanya kembali ke rumah yang seharusnya," ucap Lorenzo tenang.

​Ian jatuh berlutut di depan Matteo. Air mata yang selama ini ia tahan sebagai seorang pemimpin Diningrat akhirnya tumpah di depan putra yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya. Ia melihat dirinya sendiri di dalam mata Matteo—seorang Diningrat yang lahir dari cinta yang rumit dan dosa yang tak sengaja.

​"Maafkan aku, Matteo... maafkan Ayah," bisik Ian, meskipun anak itu belum mengerti apa yang sedang terjadi.

​Cansu hanya bisa menutup wajahnya dengan tangan, terisak dalam diam. Rahasia yang ia jaga dengan nyawanya selama lima tahun kini telah terbuka di bawah langit Italia. Di Jakarta, ada Rhea dan janin yang dikandungnya. Di sini, ada Matteo dan cinta lamanya yang tak pernah benar-benar mati.

​Sang Macan Diningrat kini benar-benar terjebak dalam simfoni yang ia ciptakan sendiri. Dan kali ini, tidak ada jamu Mbok Yem yang bisa menyembuhkan luka di hatinya. Kebenaran ini jauh lebih pahit dari brotowali manapun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!