NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 KENONG DI BAWAH KASUR

Tung... tung... tung...

Nang... nang...

Suara itu tidak hilang. Malah makin jelas. Dari lemari, pindah ke kolong meja belajar, lalu ke balik gorden. Seperti ada yg sengaja muter-muterin kamar gue.

Keringat dingin netes dari kening. Padahal AC 16 derajat.

Aku ambil HP di lantai. Mau telpon Rendi. Tapi layarnya nge-freeze. Di galeri, foto DM Ardi tadi masih kebuka. Foto kami berlima di mobil. Kursi belakang kosong.

Tapi sekarang... tidak kosong.

Di kursi belakang, samar-samar ada sosok. Rambut gondrong, muka tirus, kaos KKN rombeng. Ardi. Dia senyum ke kamera.

“Aaaarghh!” HP gue banting ke tembok. Pecah.

Bersamaan itu, suara gamelan berhenti.

Hening. Hening yg lebih nyakitin dari berisik.

Aku ambil napas. Satu. Dua. Tiga. Coba tenang. Mungkin gue halu. Kurang tidur. Stres.

Ting... ting... ting...

Suara ketiga. Saron. Penabuh ketiga.

Kali ini dari luar kamar. Dari lorong menuju kamar Ibu Bapak.

Sial. Jangan Ibu Bapak.

Aku buka pintu kamar pelan. Ngintip. Lorong gelap. Cuma lampu tidur ujung lorong yg nyala redup.

Ting... ting... ting...

Suara itu berhenti tepat di depan kamar Bapak Ibu.

Aku lari. “PAK! BU!”

Aku gedor pintu. “PAK! BANGUN!”

Dari dalam, suara Bapak ngantuk. “Apa sih, Le? Jam 3 pagi...”

Pintu kebuka. Bapak melongok, rambut awut-awutan. “Ngapain?”

Aku lihat ke dalam. Ibu tidur pules. AC nyala. Lampu tidur. Aman. Normal. Tidak ada apa-apa.

“Ga... ga jadi, Pak.”

Bapak ngelengos. “Makanya turu. Jangan main HP terus.” Pintu ditutup.

Aku berdiri di lorong. Sendirian. Suara saron udah hilang.

Apa gue gila?

Balik ke kamar, aku ambil HP butut jadul dari laci. HP lama, cuma bisa telpon SMS. Gue masukin kartu. Nyala.

Langsung telpon Rendi.

Tiga kali dering, diangkat. Suaranya ngos-ngosan. “HALO?! LU DENGER JUGA?!”

“Denger apaan?” tanyaku, padahal udah tau jawabannya.

“GAMELAN, GOBLOK! DI DAPUR GUE! KENONG SAMA KEMPUL DARI MAGHRIB TADI! GUE KIRA TIKUS!”

Bukan gue doang. Rendi juga.

“Bayu? Dina? Fajar?” tanyaku.

“Udah gue chat di grup. Cuma centang satu. Kayak... ga ada sinyal. Padahal kita di kota.”

Di kota tapi ga ada sinyal. Kayak di Desa Larangan.

Dari seberang telpon, kedengeran suara lagi.

Nung... nung...

Gong. Penabuh keempat.

“ANJING!” teriak Rendi. “SEKARANG GONG! DI BELAKANG GUE!”

TUT. TUT. TUT.

Telpon mati.

Aku coba telpon lagi. Tidak aktif.

Aku lari ke jendela. Buka gorden. Mau lihat keluar, siapa tau Rendi mau ke sini.

Jalan depan rumah sepi. Lampu jalan kuning. Jam 3:12 pagi.

Lalu aku lihat.

Di seberang jalan, di bawah lampu jalan, berdiri sesosok.

Pake kaos KKN. Rombean. Rambut gondrong. Nunduk.

Ardi.

Dia angkat kepala pelan. Mukanya... bukan muka Ardi yg gue kenal. Pucat, mata cekung, bibir hitam. Tapi dia senyum.

Dia angkat tangan. Melambai.

Lalu dia nunjuk. Nunjuk ke rumah gue. Ke jendela kamar gue.

DERRRR!

Lampu jalan mati.

Pas nyala lagi, sosok itu udah hilang.

Gue jatuh terduduk. Napas putus-putus. Ini tidak beres. Gerbang memang ketutup. Tapi penabuh... mereka ikut pulang.

HP butut gue bunyi. SMS masuk. Dari nomor tidak dikenal.

“Buka jendela. Aku kedinginan.”

Nomornya... nomor Ardi. Nomor yg udah 2 minggu mati.

Gue matiin HP. Cabut batre. Cabut kartu. Lempar ke kolong kasur.

Ga mau tau. Gue mau tidur. Anggep mimpi.

Aku paksa merem. Selimutan sampe kepala.

Lima menit. Sepuluh menit.

Tung... ting... nung... nang...

Empat suara. Kenong, Kethuk, Gong, Kempul. Penabuh 1 sampai 4. Main bareng. Dari empat sudut kamar gue.

Mereka di sini. Di kamar ini.

Aku nangis. Beneran nangis. Cowok 21 tahun, nangis di bawah selimut karena takut.

Lalu, suara berhenti.

Ganti suara lain.

Suara cewek nyanyi. Pelan, fals, serak.

“Lelo ledung... anakku turu...”

Lagu yg Lestari nyanyiin buat Mbak Dewi.

Tapi ini bukan suara Lestari.

Ini suara Sinta.

Aku nyalain lampu. Cek HP Ibu di meja. Jam 3:33. Gue pinjem, telpon Sinta.

Langsung diangkat. Tapi bukan Sinta yg jawab.

Suara berbisik. Berat. Seperti dua batu diadu.

“...KURANG LIMA... MASIH KURANG LIMA...”

Suara Mbak Dewi.

TUT.

Aku buang HP Ibu.

Besoknya, jam 6 pagi, grup KKN akhirnya aktif.

Rendi: “Pada denger ga semalem?”

Bayu: “Gue. Gong sama saron di kamar mandi gue.”

Dina: “Gue mimpi Lestari. Dia bilang ‘tolong’.”

Fajar: “Anjir gue liat Ardi di cermin.”

Sinta: “...”

Sinta: “Gue ga tidur. Gue nyanyi semaleman. Tapi bukan gue yg mau nyanyi.”

Kami berlima janjian ketemu. Di kafe dekat kampus. Jam 10.

Pas kumpul, muka kami semua kuyu. Kayak zombie. Tidak ada yg cerita detail. Takut.

“Kita bawa pulang,” kata Rendi akhirnya. “Penabuh. Atau tumbalnya. Atau apapun itu.”

“Paklik Joyo bohong?” tanya Dina.

“Enggak,” jawabku. “Gerbang emang ketutup. Tumbal emang bebas. Tapi...”

Aku tarik napas.

“Tapi kita berlima yg masuk ke penjara itu. Kita yg lihat lonceng pecah. Kita yg kena ‘saksi’. Di aturan gaib, saksi harus mati atau gantiin.”

Sinta nunduk. “Jadi kita... tumbal pengganti?”

Belum sempat jawab, HP Rendi bunyi. Notifikasi email.

Dari: rektorat@kampus.ac.id

Subjek: Pemanggilan Klarifikasi KKN Desa Larangan

Isinya: “Yth. Sdr/i Tim KKN Desa Larangan. Mohon kehadiran besok jam 9 pagi di ruang rektorat. Ada warga Desa Larangan yg datang melapor. Mengatakan ada 1 anggota KKN kalian yg tidak pulang. Mohon klarifikasi.”

Warga Desa Larangan? Ke kampus? Ngapain?

Dan... 1 anggota tidak pulang?

Kami berlima saling pandang. Hitung.

Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.

Kami lengkap berlima di sini.

Terus siapa yg tidak pulang?

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!