Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarum Beracun
Suara ejekan itu tak terdengar lagi, Jaka dan pengemis tua itu kembali melanjutkan makan mereka
"tuan jangn begitu, tolong lepaskan" dari sudut ruangan terdengar suara memohon, Jaka yang baru saja selesai makan menengok dengan cepat
di meja paling sudut tiga pria dengan menggembol golok besar sedang memegangi wanita pelayan toko, wanita itu memang cantik dan berpenampilan rapi, tetapi lekuk tubuhnya memang sangat bagus
" Ha ha ha, kau lebih baik ikut dengan kami, kau akan kaya!" seru salah satu dari mereka
" ha ha ha"
" Heg" tiba tiba tawa mereka terhenti seketika, Jaka sempat melihat jika Paman Pengemis itu tadi menjentikan jarinya ke arah mereka
" Hoek"
" Hoek"
ketiganya langsung berusaha memuntahkan benda asing yang masuk ke mulut mereka, pelayan wanita yang tadi mereka pegangi terlepas dan langsung berlari masuk ke dalam
" Kurang ajar siapa yang mengganggu kami!" teriak mereka marah, matanya menatap pengunjung kedai , pengunjung kedai yang di tatap langsung menunduk takut,
" Pasti ulah kalian berdua pengemis busuk" salah satu dari mereka menunjuk Jaka , karena hanya mereka berdua yang masih santai menikmati teh mereka
" sepertinya baju kita juga lebih baik dari kelakuan mereka" celetuk pengemis itu santai, ia berdiri dan mengjak keluar Jaka
" di luar lebih luas"ucapnya sambil menarik tangan Jaka
Jaka mengikuti tariakn itu da berjalan keluar
" Hei berhenti kalian!" ketiganya langsung menyusul keluar setelah berteriak keras
" Paman kenapa kita keluar, kita belum bayar makanan tadi ?" tanya Jaka heran mereka telah makan dan belum membayar makanan itu
" kalau di dalam kasihan yang punya kedai pasti akan hancur" jawab pengemis itu , saat berada di luar ia menunggu ke tiganya di tanah lapang yang ada di depan kedai
" wuut"
" Wuuut"
ketiganya langsung mengepung Jaka dan pengemis itu
" kalian lancang , apa kalian tak tahu siapa kami!" salah satu dari mereka membentak sambil menenteng goloknya mendekat
" he he he, kita belum kenalan mana aku tahu siapa kalian" sahut pengemis tua itu sambil terkekeh , Jaka hampir tak bisa menahan tawa melihat tingkah kocak paman pengemis itu
" Kami dari Macan Hitam!" bentak mereka , Jaka langsung mengernyit dan menatap dengan tatapan marah, ia maju ke depan
" kalian dari Perguruan Macan Hitam!" seru Jaka
" Ya dan ini hari kematianmu"
Hiaaaaat
Wuuut
salah satu dari mereka langsung menyerang Jaka dengan golok besarnya
Wuut
Traaaang
Jaka mengangkat busurnya dan menangkis ayunan golok itu dengan keras, benturan busur dan golok itu mengeluarkan suara keras, lelaki itu terdorong mundur dengan mata tebelalak
" serang bersama sama!" teriak dua yang lainnya melhat rekan mereka terdorong mundur
hiaaaat
hiaaaat
Wuuuut
wuuuut
dua golok besar dengan kekuatan besar menebas Jaka sekan ingin membelah tubuh jaka menjadi beberapa bagian
syuuut
traaang
traaaang
plaaaak
kraaaak
Aaaaargh
Jaka mengelak dan memberikan serangan balasan , busur besi di tangannya memukul telak bahu salah satu murid perguruan Macan Hitam, suara tulang patah terdengar bersama jeritan lelaki yang terkena pukulan Jaka
wuuut
dari arah belakang satu desing golok terdengar jaka melompat menghindar sambil mengayunkan tangannya ke belakang di mana suara desing golok yang menyerangnya
Wuuus
Blaaang
Aaaaargh
serangkum angin keras keluar dari tangan Jaka menghantam penyerang dari belakang itu
Jaka berdiri dan menatap lelaki yang tersisa
" Wuuut"
menyadari tak bisa mengalahkan Jaka lelaki itu membalikkan badan dan berlari menjauh
" Kau ingin lari!" gumam Jaka , ia mengambil satu anak panah dan membidik lelaki yang melarikan diri itu
Syuuuut
anak panah itu melesat dengan kecepatan tinggi
Jleb
Aaaaargh
Bidikan Jaka tepat sasaran, lelaki yang melarikan diri itu tewas dengan punggung tertancap anak panah hingga tembus
melihat itu dua murid yang terluka menjadi gemetar ketakutan
" Katakan mengapa kalian bekeliaran di sini!" bentak Jaka
" kami sedang mengawal tetua ke tujuh di kadipaten ini" jawab mereka dengan ketakutan
" Di mana ia sekarang!" bentak Jaka
" Kami tak tahu hanya saja kami di suruh menunggu di hutan sebelah sana" murid yang di tanya menunjuk ke sebuah hutan yang berada tak jauh dari sana
" tak"
"tak"
Jaka dengan cepat memukul mereka, membuat dua murid itu tewas, lalu dengan bantuan pengemis tua itu ia membawa mereka ke hutan yang di tunjuk oleh murid macan hitam tadi
"Ternyata ada pondok yang di jadikan tempat mereka berkumpul" gumam Jaka saat masuk agak dalam menemukan pondok kayu yang belum lama di dirikan itu terlihat dari potongan kayu yang masih baru
Jaka menaruh ketiga mayat murid Macan hitam di depan Pondok kayu, bersama pengemis tua dia menungu tetua yang akan datang
Cukup lama mereka menunggu hingga akhirnya dua lelaki tua datang
mereka melangkah dengan cepat menuju pondok namun saat di depan pondok langkah mereka terhenti menatap tiga mayat murid mereka yang di jejerkan
" siapa yang melakukannya!" raung tetua itu marah
" Aku" Jaka keluar dari dalam pondok
" Kalau begitu temani muridku!"
Hiaaaat
Syuuut
salah satu tetua langsung menyerang jaka , gerakannya seperti macan menerkam
Jaka dengan cepat menghindar ke sisi dan menggerakan kakinya
Plaak
gubraaaak
lelaki tua yang menyerang Jaka tersungkur karena Jaka menjegal kakinya
" Pak tua lagi nangkep kodok yah" ejek jaka sambil berdiri tak jauh dari lelaki tua itu
" Kurang Ajar , KAu akan mati di tanganku Harimau Emas!" raung lelaki tua itu marah, ia mengeluarkan sepasang sarung tangan dari besi saat di pakai terlihat ujung sarung tangan itu berwarna kebiruan tanda terbuat dari besi dan beracun
" Rasakan Jurus Cakar Pencabut Nyawa" raungnya keras
Ia menyerang Jaka kembali namun kali ini gerakannya lebih cepat, saat ia bergerak hanya terlihat bayangan kemerahan , Jaka tak sempat menghindar ia mengangkat busur besinya
Traaaaang
benturan busur besi dan cakar itu mengeluarkan suara keras dan percikan api, Tetua HArimau emas terdorong mundur beberapa langkah menandakan tenaga dalamnya kalah
" Sialan"
" Terima ini" tetua Harimau emas kembali menyerang namun dari belakang terdengar desing halus
Seeer
Seeer
Jaka yang tek menyangka akan di bokong dengan senjata gelap segera menghindar
clap
Aaaargh
Namun beberapa jarum itu masih mengenai tubuhnya, ia menjerit kesakitan, rasa panas langsung menyebar dari tempat ia terkena jarum itu, kakinya terasa lemas dan pandangannya sedikit kabur
" Kurang Ajar kalian Curang!" raung Jaka marah
" Ha ha ha, Curang, bagi kami yang penting menang, tetua ular terima kasih, kalau tidak kita akan kerepotan, bocah ini ternyata berilmu tinggi" ucap Tetua HAriamu emas pada lelaki satunya lagi yang ternyata mempunyai nama tetua Ular
Tetua ular yang melihat Jaka berusaha melawan racun itu tertawa
" Ha ha ha, Kau tak akan mampu menawarkan Racun Ukar weling dari Gunung Welang sari" ucapnya sambil tertawa,
" Tetua ular, jangan banyak bicara cepat habisi dia!" teriak Tetua HArimau emas, melihat jaka berusaha menetralkan racun
Tetua ular mengangguk dan berjalan mendekat, Jaka mencoba mundur dengan cepat namun langkahnya malah lambat, karena pengaruh racun itu