Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : RAPAT PENERIMAAN RAPOT SEMESTER GANJIL
...BAB 10...
...RAPAT PENERIMAAN RAPOT SEMESTER GANJIL...
Jam 2 pagi itu, bayangan Ibu Kirana berhenti 3 detik di depan pintu kamarku.
Aku menutup mata. Pura-pura tidur. Tapi aku denger napasnya tertahan. Pelan. Berat.
Aku buka mata sedikit. Dari celah pintu, punggungnya tampak kurus. Kerudung krem pudar yang udah dicuci puluhan kali. Dia jalan sempoyongan. Menuju kamarnya.
"Naif," gumamku ke selimut sutra. "Udah aku jahatin 5 tahun, masih aja ngecek aku napas atau nggak."
Genggaman Papa di tanganku hangat. Mengganggu. Terlalu tulus.
Aku pejam lagi. Tapi malam itu selimut 5 juta ini dingin. Dingin sampai ke tulang.
******
Pagi harinya, rumah Mahendra sepi seperti ditinggal penghuni.
Papa berangkat jam 6. Wajah datar. Sejak acara anniversary batal, dia bicara seperlunya. 200 tamu, menahan malu. Nama Mahendra jadi bahan bisik-bisik arisan.
Aku turun jam 8. Badan lemas beneran. Efek air es semalaman.
Meja marmer kosong. Hanya sepiring bubur ayam mengepul dan teh hangat. Di bawah piring ada kertas kecil, tulisan tangannya rapi tapi gemetar.
Nak Alina, Ibu bikinkan bubur. Makan selagi hangat ya, biar cepat sembuh. -Ibu Kirana-
Aku remas kertas itu. Buang ke tong sampah tanpa baca ulang.
"Huh, siapa suruh sok peduli," desisku.
Keesokan paginya.
Dimas lewat. Sekarang anak itu usianya 14 tahun. Badannya semakin kurus. Mata sembab. Seragam SMP-nya kusut. Anak kandung Ibu Kirana dari almarhum suaminya. Bukan darah Mahendra.
Dulu Papa sempat kecewa memasukan Dimas ke SMP elit nyatanya Dimas tidak naik kelas. Papa menyuruh Bu Kirana untuk memberhentikan Dimas sekolah.
Malam waktu itu aku sempat mendengar pembicaraan mereka dari tangga. Papa bicara pelan ke Ibu Kirana di ruang kerja.
"Kirana, aku nggak keberatan biayain Dimas," kata Papa. Suaranya capek, tapi bukan marah.
"Dua puluh lima juta per semester itu kecil buat aku. Tapi aku khawatir... kalau Dimas dipaksa di SMP umum terus nilainya akan gitu-gitu aja, dia yang capek sendiri. Gimana kalau homeschooling dulu? Fokus keahlian saja. Kalau sudah siap, aku akan masukan Dimas ke SMK unggulan sesuai minatnya. Aku yang akan bayarin semua."
Ibu Kirana menangis tersedu. "Mas_ Tapi, Dimas anaknya pinter ngaji kok! Dia cuma kurang waktu aja. Kasih aku kesempatan lagi. SPP semester ini biar aku saja yang bayar dari hasil jahit. Dimas lebih baik aku pindahin ke SMP Islam Al-Azhar saja. Biar akhlak sama agamanya dikuatin dulu." sarannya.
Papa terdiam lama. Menarik napas panjang. "Ya sudah. Tapi ingat Kirana... kalau kamu capek, bilang ke aku. Jangan dipendam sendiri. Dimas juga tanggung jawabku sekarang. Aku ini suamimu."
Sejak itu Papa nggak pernah nanya raport Dimas lagi. Bukan karena tidak peduli. Beliau kasih kepercayaan sepenuhnya ke Ibu Kirana. Walau dingin, tiap bulan Papa tetap transfer uang ke rekening Ibu Kirana. Katanya "buat kebutuhan dirinya dan rumah".
Tapi diam-diam Ibu Kirana tidak pernah pakai buat dirinya sendiri. Uang nafkah suaminya ia simpan dengan baik.
*****
Aku terkejut saat Dimas sudah berdiri di depanku, yang sedang melamun hendak menuruni anak tangga.
"Kak!" panggilnya pelan, nggak berani menatapku. "Ibu_ begadang jahit sampai jam 4 pagi. Tadi subuh pingsan di kamar jahit..."
"Lalu, apa dengan urusanku?!" Aku menjawab dengan sinis. Turun dan melengos menjauhi Dimas.
Dua jam kemudian satpam mengetuk pintu utama yang terbuka. Menyerahkan amplop cokelat. "Nona, ini raport Dimas dari SMP Al-Azhar. Ibu Kirana masih di klinik. Pak Aditya sedang rapat direksi..."
Aku buka amplop itu pelan-pelan.
*RAPORT TENGAH SEMESTER - KELAS 8B*
*SMP ISLAM AL-AZHAR*
*Nama: Dimas Saputra*
*Nilai Umum: Matematika 42, IPA 38, Bahasa Inggris 45. Peringkat 32 dari 34.*
*Nilai Agama: Al-Qur'an Hadits 98, Akidah Akhlak 95, Fiqih 97. Peringkat 1.*
Alisku berkerut. Jari aku berhenti di kolom Agama. Sembilan puluh delapan. Peringkat satu.
"Oh gitu," gumamku pelan. "Pantes saja Ibu maksa Dimas tetap di SMP Islam."
Stiker merah di pojok:
_"Wali murid wajib hadir, jam 08.00. Rapat pembinaan akademik. SPP Nunggak dua bulan"_
Besok aku harus hadir. Pesan dari Papa sudah jelas barusan. Terpaksa aku harus dampingi, dan jaga nama baik keluarga.
Aku menatap cermin di meja rias. Blazer Celine, heels Louboutin, kuku merah.
"Bagus," bisikku. "Biar Ibu Kirana sadar diri... keputusan aku buat hancurin dia pelan-pelan itu bener."
Tapi kenapa tangan aku gemetar pas megang raport itu?
*[POV KIRANA]*
Di ruang rawat, aku tersadar ketika infus hampir habis. Kepala terasa berat. Tiga hari terakhir, aku hanya tidur tiga jam setiap malam.
Suster menyodorkan ponsel retakku. Ada pesan masuk dari Mas Aditya:
"Kirana, istirahatlah. Jangan paksakan diri ke sekolah besok jika badan belum pulih. Aku sudah minta Alina yang mendampingi. Jangan beri tahu Alina, SPP Dimas dua bulan ini sudah aku transfer ke sekolah. Kamu fokus menyembuhkan diri. Dimas anak yang shalih, aku bangga dia juara hafalan."
Air mataku jatuh tanpa suara. Mas Aditya memang tampak dingin. Tapi diam-diam dibelakangku, beliaulah yang melunasi SPP Dimas agar aku tidak perlu begadang lagi.
Pesan lain menyusul dari Bu Rani, wali kelas Dimas:
"Bu Kirana, Dimas anak yang cerdas dalam pelajaran agama. Hafalan juz 30-nya paling cepat di kelas. Sayang jika ia harus keluar karena nilai umum. Tenang, Bu. Tadi pagi Pak Aditya menelepon saya. Beliau memohon maaf tidak bisa hadir, namun menitipkan Dimas dengan baik."
Aku menggigit bibir. "Ya Allah... ternyata ketika Mas Aditya menyarankan Dimas masuk SMK, itu bukan karena dia tidak sayang. Mas Aditya hanya takut aku kelelahan..."
(Lanjut POV ALINA)
Besoknya. SMP Islam Al-Azhar, Kelas 8B, jam delapan pagi.
Aku masuk pakai blazer Celine. Aura putri Mahendra Group harus tetap keluar.
Ibu Kirana udah duduk di baris paling belakang. Kursi plastik biru. Kerudung abu-abu pudar. Mukanya pucat. Di pangkuannya raport Dimas sama buku catatan kecil: "SPP Dimas Lunas"
Ibu Kirana tetap memaksakan pergi ke sekolah Dimas, walau dilarang Aditya. Dia tidak ingin merepotkan Alina.
"Bu Kirana Mahendra, silakan maju," panggil Bu Rani.
Ibu Kirana jalan pelan. Kepalanya nunduk.
Bu Rani membuka suara. "Bu Kirana, nilai umum Dimas memang memprihatinkan. SPP sempat nunggak. Tapi tadi pagi Pak Aditya telpon saya dan dan sudah membayar lunas SPP Dimas. Beliau juga pesan. Dimas anak berakhlak baik. Juara satu ngaji. Tolong dibimbing, jangan sampai dikeluarkan."
Ibu Kirana kaget. Matanya ngelirik ke pintu. Papa nggak datang. Tapi namanya yang bela.
Itu isyarat buat aku.
Aku berdiri. Hak sepatu bunyi: klik, klik, klik. Semua orang noleh.
"Permisi Bu Rani, Ibu-ibu semua," suaraku lembut tapi jelas. "Saya Alina Mahendra, kakak tiri Dimas. Putri Pak Aditya Mahendra."
Bu Rani langsung ramah. "Oh Alina! Ayahmu tadi ditelepon nitip salam. Katanya kamu anak yang paling bisa diandalkan."
Aku buka raport Dimas. Nggak aku robek. Cuma aku tunjukin pelan ke ibu-ibu depan.
"Bu,"
Ibu Kirana, narik ujung blazerku. "Tolong jangan di sini Nak... Nanti Dimas malu..." bisiknya pelan padaku. Wajahnya sudah memerah.
Aku noleh. Senyum tipis. Nggak sekejam kemarin.
"Pantas Bu," kataku pelan, cukup baris depan yang denger. "Ibu dulu guru SD teladan, S1 PGSD. Ibu maksa Dimas tetap di SMP Islam Al-Azhar bayar sendiri biar agamanya kuat. Dan Ibu berhasil Bu... Dimas juara satu ngaji. Al-Qur'an Hadits sembilan puluh delapan."
Aku berhenti sebentar. Suara aku pelanin.
"Tapi Bu... nilai umumnya empat puluh dua, tiga puluh delapan, empat puluh lima. Peringkat tiga puluh dua dari tiga puluh empat. Tadi pagi Papa bilang ke aku... 'Alina, dampingi adikmu. Dia pinter ngaji, tapi ilmu dunia juga penting. Bantuin Ibu kamu ajarin dia Matematika ya, Nak. Jangan dibiarin.'"
Itu bohong kecil. Papa nggak bilang gitu. Tapi aku harus ngomong itu.
Muka Ibu Kirana basah. Berkeringat. Bukan karena malu. Tapi kaget.
"Jadi... Ibu gagal ya Nak?" bisiknya lirih.
Aku tutup raport itu. Balikin ke tangan Ibu Kirana yang gemetar.
"Bu, Ibu nggak gagal," jawabku pelan. Cuma dia yang denger. "Ibu cuma... manusia. Sama kayak aku."
Aku balik badan, keluar ruangan. Dagu tetap angkat. Tapi langkah aku nggak seangkuh biasanya.
Tiga langkah di koridor, HP aku getar. Pesan dari Papa:
"Alina, kamu hebat tadi. Papa lihat dari CCTV sekolah. Jaga Ibu Kirana baik-baik ya. Beliau baru sembuh. Oh ya, kalung berlian Mama kamu... Papa pindahin ke safe deposit box bank minggu lalu. Jadi aman."
Jantung aku kayak berhenti.
Kalung itu nggak hilang. Papa udah amankan dari dulu. Berarti rencana aku buat jebak Ibu Kirana pakai kasus kalung gagal.
Dari belakang, kedengeran suara Ibu Kirana peluk Dimas. "Nak, kamu tadi denger nggak? Papa bilang kamu anak sholeh. Papa bangga sama kamu..."
Dada aku sesak. Bukan karena menang.
Tapi karena untuk pertama kalinya dalam lima tahun... aku ngerasa jadi kakak beneran.
Bersambung ....
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄