NovelToon NovelToon
Private Military Company

Private Military Company

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Epik Petualangan
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: Dena gusdiana

Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".

Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Pertempuran di Bawah Awan Hitam

Langit di atas Pos Pengamanan Utara kini benar-benar berubah menjadi kelam pekat. Awan hitam tebal bergulir cepat, menutupi seluruh cahaya matahari, seolah alam sendiri ikut bersedih dan marah menyaksikan pertempuran besar yang akan terjadi. Angin kencang bertiup menderu-deru, membawa debu, pasir, dan aroma logam yang tajam serta bau bahaya yang mengerikan.

Dari atas menara pengawas utama, Raka menatap ke arah cakrawala. Apa yang ia lihat bukan sekadar pasukan musuh. Ia melihat lautan besi yang bergerak maju tanpa henti. Ratusan kendaraan lapis baja, truk pengangkut pasukan, tank-tank besar dengan meriam panjang yang mengancam, dan di langit, puluhan helikopter tempur serta pesawat serang rendah berputar mengelilingi benteng mereka seperti burung pemangsa yang kelaparan.

Jumlah musuh melebihi perkiraan terburuk mereka. Puluhan ribu pasukan, semuanya mengenakan seragam hitam legam dengan lambang lingkaran hitam berisi mata merah—lambang Kelompok Mata Hitam. Senjata mereka jauh lebih canggih, lebih besar, dan lebih mematikan dibandingkan apa pun yang dimiliki Garuda Security saat ini.

Di samping Raka, Bara memegang peta taktis yang tergeletak di meja besi, tangannya sedikit gemetar meski wajahnya tetap berusaha tenang.

"Raka... mereka punya setidaknya tiga puluh ribu pasukan di darat, ditambah kekuatan udara yang bisa menghancurkan benteng ini rata dengan tanah dalam hitungan jam kalau mereka mau," lapor Bara cepat, suaranya kering. "Peralatan mereka generasi terbaru, teknologi yang bahkan belum dipakai oleh militer negara kita. Mereka punya meriam jarak jauh, peluru kendali, dan perisai pelindung yang kita belum tahu cara menembusnya. Kita cuma punya empat ribu pasukan yang siap tempur, dan sebagian besar adalah pasukan baru. Ini... ini perbandingan yang sangat tidak adil."

Raka tetap tenang, matanya bergerak cepat memindai formasi musuh yang bergerak mendekat. Ia tidak melihat jumlah angka. Ia melihat pola. Ia melihat kelemahan. Ia melihat cara mereka bergerak.

"Perang tidak pernah soal jumlah, Bara," jawab Raka pelan namun tegas. "Perang soal posisi, waktu, dan keberanian. Mereka kuat, mereka banyak, mereka canggih... tapi mereka punya satu kelemahan besar: Mereka sombong. Mereka yakin kita sudah kalah bahkan sebelum bertempur. Mereka pikir kita cuma sekumpulan tentara bayaran yang takut mati. Dan itulah kesalahan terbesar mereka."

Raka menunjuk ke peta, jarinya melesat ke titik-titik kunci di sekeliling benteng.

"Mereka akan menyerang dari tiga arah sekaligus untuk memecah kekuatan kita. Depan, kiri, dan kanan. Mereka ingin memaksa kita menyebar pasukan lalu menghancurkan kita satu per satu. Tapi kita tidak akan menyebar. Kita akan memusatkan kekuatan di gerbang utama, titik paling kuat dan paling terlindung. Kita biarkan mereka masuk lebih dekat... sampai mereka berada di jangkauan jebakan yang sudah kita siapkan."

Ia menoleh ke arah Rio yang baru saja datang berlari membawa laporan intelijen terbaru.

"Rio, apa status tambang darat dan kawat berduri yang kita tanam di zona penyangga depan?"

"Siap seratus persen, Komandan! Seluruh wilayah terbuka di depan benteng sudah dipenuhi jebakan tersembunyi. Mereka tidak akan melihatnya sampai kendaraan pertama mereka meledak jadi kepingan!" jawab Rio lantang dan penuh semangat.

Bagus. Raka mengangguk puas. Lalu ia berbalik menghadap Reza dan Dedi yang berdiri tegak dengan seragam tempur lengkap, wajah mereka keras dan penuh tekad baja.

"Reza, Dedi. Kalian berdua memimpin Pasukan Serbu Elit. Kalian bersembunyi di sisi kiri dan kanan, di balik tembok pelindung dan parit. Saat mereka terjebak dalam jebakan dan kekacauan terjadi... kalian keluar, serang sayap mereka, potong komunikasi mereka, dan buat mereka bingung ke mana harus lari atau bertahan. Ingat... jangan bertempur jarak jauh. Dekati mereka. Bertempur jarak dekat. Di situ keahlian kalian, di situ keunggulan kita."

"Siap, Komandan! Kami akan membuat mereka menyesal pernah lahir ke dunia ini!" jawab Reza tegas, matanya berbinar penuh api perang. Dedi di sampingnya hanya mengangguk mantap, tangannya mencengkeram gagang senapan erat-erat.

Raka lalu menatap Mayor Seno dan Jenderal Agus.

"Pak Seno, Bapak memimpin pertahanan utama di tembok depan. Atur penembak jitu dan penembak senapan mesin berat. Tahan mereka selama mungkin, habiskan sebanyak mungkin pasukan mereka sebelum mereka sempat mendekat. Pak Jenderal... Bapak tetap di ruang kendali utama, pantau seluruh situasi, atur komunikasi, dan pastikan jalur suplai amunisi tidak terputus. Bapak adalah otak operasi ini bersama Bara."

Lalu Raka melangkah maju, menatap mereka semua satu per satu, menanamkan kepercayaan di mata mereka.

"Dan ingat... apa pun yang terjadi, seberapa sulit pun keadaan, seberapa banyak pun musuh yang datang... jangan pernah mundur selangkah pun. Di belakang kita ada rakyat, ada masa depan, ada kebenaran yang kita lindungi. Kita tidak bisa, dan tidak boleh, kalah di sini."

Tepat saat itu, suara letusan meriam raksasa menggema dari barisan musuh. DUNG!

Suara itu begitu keras hingga tanah berguncang hebat, kaca-kaca jendela bergetar, dan debu jatuh dari langit-langit ruang komando. Sesaat kemudian, di udara di atas mereka, terdengar suara benda melesat membelah angin dengan kecepatan mengerikan.

WUSSSHHH... DENTAR!!!

Peluru meriam pertama menghantam tembok pertahanan depan, meledak dengan dahsyat, menciptakan lubang besar dan menyemburkan api serta asap hitam ke udara.

"MEREKA MULAI SERANGAN! SIAPKAN DIRI! PERTEMPURAN DIMULAI!" teriak Raka lantang, memberi aba-aba akhir.

Hujan peluru dan ledakan pun segera turun tanpa ampun. Ribuan peluru kendali, meriam, dan roket ditembakkan serentak dari pasukan Kelompok Mata Hitam. Seluruh benteng berguncang seolah akan runtuh kapan saja. Asap hitam tebal segera memenuhi udara, bercampur dengan api yang menyala di mana-mana. Suara tembakan senjata api, ledakan, dan teriakan bergema menjadi satu kekacauan mengerikan.

Dari atas menara, Raka melihat gelombang pertama pasukan musuh bergerak maju dengan cepat. Kendaraan lapis baja mereka melaju kencang melewati tanah terbuka, diikuti ribuan prajurit yang berlari di belakangnya, bersembunyi di balik pelindung besi berjalan itu.

"SEKARANG! AKTIFKAN JEBAKAN!" perintah Raka lewat radio.

Rio menekan tombol utama di ruang kendali.

Seketika, tanah di depan benteng itu seolah hidup dan meledak. Barisan demi barisan tambang darat yang tersembunyi meledak beruntun, menciptakan dinding api dan debu yang tinggi menjulang. Kendaraan-kendaraan musuh yang berada di garis depan terlempar ke udara, hancur berkeping-keping, terbakar menjadi abu. Pasukan di belakangnya terjebak, kacau balau, tidak tahu harus ke mana lagi karena tanah di kiri kanan juga penuh jebakan.

"REZA! DEDI! KESMPATAN KALIAN! SERANG!" teriak Raka lagi.

Dari balik tembok samping, gerbang-gerbang kecil terbuka lebar. Reza dan Dedi memimpin pasukan elit mereka menyerbu keluar seperti badai. Mereka bergerak cepat, lincah, dan mematikan. Mereka menyerang sayap kiri dan kanan musuh yang sedang kacau itu, menembak, meledakkan, dan menghabisi musuh yang belum sempat sadar.

Taktik Raka berhasil. Musuh yang tadinya yakin akan menang mudah, kini terjebak dalam perangkap maut. Pasukan mereka berjatuhan dalam jumlah besar, kendaraan mereka hancur, dan barisan mereka putus berantakan.

Namun, Kelompok Mata Hitam bukanlah lawan biasa. Komandan mereka, sosok misterius yang dikenal hanya sebagai Jenderal Kegelapan, tidak panik. Dari markas komando bergeraknya yang aman di belakang barisan, ia segera mengubah strategi.

Gelombang pertama ditarik mundur, meninggalkan ratusan mayat dan kendaraan rusak. Lalu, giliran kekuatan udara dan senjata jarak jauh mereka yang masuk.

"PERINGATAN! PESAWAT MUSUH MENYERANG DARI ATAS! BERLINDUNG! BERLINDUNG!" teriak pengamat di menara.

Puluhan helikopter tempur melesat rendah di atas tembok benteng, memuntahkan ribuan peluru dan roket ke segala arah. Pesawat tempur menjatuhkan bom-bom besar yang menghancurkan bagian tembok pertahanan yang sudah retak. Meriam jarak jauh mereka kembali menembak dengan akurasi mematikan, menghancurkan menara pengawas dan pos-pos pertahanan satu per satu.

Posisi Garuda Security makin terdesak. Banyak prajurit gugur, banyak bagian benteng hancur, amunisi mulai menipis. Pasukan musuh yang kedua, yang jumlahnya jauh lebih banyak dan lebih ganas, kembali bergerak maju memanfaatkan celah-celah yang terbuka.

Di atas tembok depan, Mayor Seno memimpin pertahanan dengan gagah berani. Ia bertempur bersama prajurit-prajuritnya, menembak tanpa henti, mengarahkan tembakan, dan menyemangati mereka yang masih hidup. Tapi sebuah peluru kendali menghantam tepat di bagian tembok tempat ia berdiri. Ledakan hebat melempar tubuh Mayor Seno terhempas jauh ke belakang, jatuh ke tanah di balik tembok pelindung.

"PAK SENO!" teriak Raka kaget dan khawatir. Ia berlari turun dari menara, menerobos hujan peluru, mendatangi letak jatuhnya Mayor Seno.

Seno terbaring di tanah, tubuhnya penuh luka bakar dan pecahan logam. Darah mengalir deras dari dadanya. Napasnya tersengal-sengal, pendek dan menyakitkan. Tapi saat melihat Raka datang, ia berusaha mengangkat kepalanya, tersenyum lemah.

"Raka... anakku..." bisik Seno parau, darah menetes dari sudut bibirnya. "Kita... kita tidak akan kalah... kan?"

Raka berlutut di sampingnya, menekan luka di dada Seno dengan tangannya sendiri, berusaha menahan darah yang mengalir deras. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak boleh menangis sekarang. Ia harus kuat.

"Tidak, Pak! Kita tidak akan kalah! Bapak akan baik-baik saja! Bapak akan selamat!" jawab Raka tegas, meski ia tahu luka itu terlalu parah.

Mayor Seno menggeleng pelan, tangannya yang gemetar menggenggam lengan Raka.

"Dengar... Raka... musuh mengerahkan semua kekuatan mereka... mereka tidak main-main lagi... mereka akan mengerahkan senjata terbesar mereka... senjata yang bisa meratakan benteng ini dengan satu kali tembakan... hanya Sumber Unggul yang bisa menghentikannya... hanya kau yang bisa menggunakannya..."

Seno menarik napas panjang terakhirnya, menatap wajah Raka dengan penuh rasa bangga dan kasih sayang seorang ayah.

"Terima kasih... sudah membawa kebenaran kembali... terima kasih... sudah menjadi pemimpin kami... teruskan... selesaikan apa yang kami mulai... Garuda... selamanya..."

Tangan Seno terkulai lemas. Matanya tertutup selamanya.

"PAK SENO!!!" teriak Raka memecah kegaduhan pertempuran, suara tangis dan amarah yang meledak bersamaan.

Kematian Mayor Seno adalah pukulan berat bagi seluruh pasukan. Namun, melihat pemimpin mereka berlutut di samping jenazah pahlawan itu, melihat air mata dan amarah di mata Raka... rasa sedih itu berubah menjadi api dendam yang membara hebat.

"MAYOR SENO GUGUR! TAPI KITA MASIH ADA! KITA BERJUANG DEMI DIA! KITA BERJUANG DEMI KEBENARAN! HANCURKAN MEREKA!" teriak Reza dari posisinya, suaranya parau dan penuh amarah.

Namun, situasi makin kritis. Dari kejauhan, di tengah barisan musuh, muncul sebuah kendaraan raksasa, besarnya seperti gedung bertingkat, dilapisi besi tebal, dan di atasnya terpasang sebuah meriam raksasa yang mengarah tepat ke jantung benteng mereka. Meriam itu mulai bercahaya merah menyala, mengumpulkan energi yang mengerikan.

Bara yang melihatnya dari ruang kendali berteriak lewat radio, suaranya panik dan ketakutan.

"RAKA! ITU DIA! SENJATA PEMUSNAH MEREKA! ITU SENJATA YANG DICERITAKAN JENDERAL AGUS! JIKA ITU MENEMBAK, SELURUH BENTENG INI DAN SEMUA ORANG DI DALAMNYA AKAN HANCUR TANPA SISA! KITA TIDAK PUNYA PERTAHANAN UNTUK ITU! KITA TIDAK BISA MENGHENTIKANNYA DENGAN SENJATA BIASA!"

Raka berdiri tegak, menghapus darah dan debu dari wajahnya. Ia menatap meriam raksasa yang mulai bersinar makin terang itu. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tahu inilah saatnya.

Ia berlari secepat kilat menuju ruang bawah tanah, tempat peti besi besar itu berada. Di belakangnya, Jenderal Agus berlari mengejar, paham betul apa yang akan dilakukan pemuda itu.

"RAKA! JANGAN! KAU BELUM MENGUASAI KEKUATAN ITU! KAU BISA HANCUR BERSAMA MEREKA!" teriak Jenderal Agus memperingatkan.

Raka tidak berhenti. Ia masuk ke ruangan itu, mendekati peti besi yang kini bergetar hebat dan bersinar terang seolah merespons bahaya yang datang. Ia mengangkat tutup peti itu. Di dalamnya, Sumber Unggul—kristal energi berwarna biru cemerlang—terapung di udara, berputar pelan, memancarkan aura yang luar biasa kuat dan menakjubkan.

Raka mengulurkan tangannya. Saat kulitnya menyentuh permukaan kristal itu, rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, seolah ribuan petir menyambar dirinya sekaligus. Matanya terbuka lebar, berubah warna menjadi biru menyala. Di dalam kepalanya, suara ayahnya terdengar sangat jelas, sangat kuat, dan sangat dekat.

"Gunakanlah kekuatan ini, Raka. Gunakanlah cintamu pada mereka yang kau lindungi. Gunakanlah kemarahanmu pada kejahatan. Biarkan energimu menyatu dengan energiku. Kita bertempur bersama, anakku."

Raka mengangkat kristal itu ke atas. Cahaya biru yang menyilaukan memancar keluar, menembus dinding besi dan beton, naik ke atas menembus atap benteng, membelah langit gelap yang tertutup awan hitam. Cahaya itu menyebar ke seluruh penjuru, menerangi medan pertempuran yang gelap dan berdarah itu.

Di luar sana, semua orang berhenti bertempur seketika. Baik kawan maupun musuh, semua terdiam terpaku melihat cahaya suci yang indah namun mengerikan itu muncul dari dalam benteng.

Meriam raksasa musuh akhirnya melepaskan tembakannya. Sebuah sinar merah darah yang besar dan panas melesat dengan kecepatan cahaya menuju jantung benteng, membawa kehancuran mutlak.

Namun, Raka di bawah tanah mengayunkan tangannya ke depan, mengarahkan cahaya biru dari Sumber Unggul itu keluar.

Dua kekuatan besar bertemu di udara, tepat di atas atap benteng. Merah melawan Biru. Kejahatan melawan Kebenaran. Penghancuran melawan Perlindungan.

Ledakan dahsyat terjadi, tapi bukan ledakan kehancuran. Ledakan itu berupa gelombang kejut yang mendorong segala sesuatu menjauh. Sinar merah musuh hancur lebur, diredam, dan diserap oleh cahaya biru Raka. Gelombang energi itu meluas keluar, menghantam pasukan musuh yang ada di depan, melempar kendaraan-kendaraan berat mereka seperti mainan, mematikan senjata-senjata mereka, dan merobohkan barisan mereka yang rapi menjadi kekacauan total.

Pasukan Kelompok Mata Hitam ketakutan bukan main. Mereka melihat senjata terhebat mereka dikalahkan begitu saja oleh cahaya misterius yang keluar dari benteng kecil itu. Mereka melihat langit yang tadinya gelap kini terbuka, sinar matahari menembus turun tepat di atas tempat Raka berdiri.

"ITU DIA! ITU KEKUATAN SUMBER UNGGUL! ITU KEKUATAN DIRGANTARA! DIA KEMBALI! DIA KEMBALI!" teriak para prajurit musuh yang mulai panik dan lari ketakutan.

Raka muncul dari bawah tanah, berdiri di atas atap gedung utama, kristal biru itu masih menyala terang di tangannya. Wajahnya tenang, matanya tajam, dan aura di sekelilingnya begitu kuat hingga siapa pun yang melihatnya merasa takjub sekaligus segan.

Ia mengangkat tangannya ke arah pasukan musuh yang sedang mundur kacau balau itu, suaranya bergema ke seluruh medan perang, diperkuat oleh energi di dalam dirinya.

"PERGI DARI SINI! KABUR DAN JANGAN PERNAH KEMBALI! KATAKAN PADA TUANMU... BAHWA GARUDA BELUM MATI! BAHWA KEKUATAN KEBENARAN TIDAK BISA DIKALAHKAN OLEH KEKERASAN APA PUN! DAN KATAKAN PADA MEREKA... BAHWA AKAN KITA DATANGI MEREKA SENDIRI, KE SARANG MEREKA, UNTUK MENYELESAIKAN SEMUA INI SAMPAI TUNTAS!"

Pasukan Kelompok Mata Hitam mundur serentak, meninggalkan ratusan kendaraan rusak, ribuan korban, dan rasa takut yang mendalam di hati mereka. Mereka kalah. Mereka dikalahkan oleh kekuatan yang tidak mereka mengerti, oleh keberanian yang tidak mereka miliki, dan oleh pemimpin yang mewarisi kekuatan dewa perang itu sendiri.

Saat debu dan asap mulai menipis, saat suara tembakan sudah berhenti, saat langit kembali cerah... Raka menurunkan tangannya. Cahaya biru di tubuhnya perlahan memudar, kembali masuk ke dalam kristal, kembali masuk ke dalam dirinya. Tubuhnya terasa lemas luar biasa, ia hampir jatuh, tapi Bara dan Jenderal Agus segera berlari menopangnya.

Di sekelilingnya, para prajurit Garuda yang masih hidup bersorak sorai, menangis bahagia, dan bersujud syukur. Mereka selamat. Benteng ini selamat. Dan kebenaran menang hari ini.

Namun, Raka tahu... ini baru kemenangan sementara. Musuh lari, tapi mereka belum hancur. Jenderal Kegelapan masih ada di luar sana, masih punya kekuatan besar, dan kini ia tahu betapa berbahayanya Raka Pratama.

Raka menatap ke arah cakrawala tempat musuh menghilang. Matanya kembali tegas dan penuh tekad.

"Kita menang pertempuran ini... tapi perang belum selesai," ucap Raka pelan namun jelas. "Mereka lari karena takut pada kekuatan kita. Tapi mereka akan kembali dengan lebih banyak pasukan, lebih banyak senjata, dan lebih banyak kebencian. Kalau kita diam di sini, kita akan dikepung dan dihancurkan perlahan-lahan."

Ia berbalik menatap Bara, Reza, Dedi, Rio, Jenderal Agus, dan semua komandan yang tersisa.

"Kita tidak akan menunggu mereka datang lagi ke rumah kita. Kita tidak akan membiarkan mereka mengancam kita dan rakyat kita lagi. Besok pagi... kita tinggalkan benteng ini. Kita akan membawa seluruh kekuatan kita. Kita akan membawa Sumber Unggul. Dan kita akan bergerak maju... menuju pusat kekuasaan mereka. Menuju tempat asal semua kejahatan ini."

Raka mengangkat tangan kanannya, mengepal menjadi tinju di depan dadanya.

"Kita akan menyerang mereka di rumah mereka sendiri. Kita akan mengakhiri ini sekali dan untuk selamanya. Demi Ayah. Demi Mayor Seno. Demi semua yang gugur. Demi masa depan yang damai."

Matahari bersinar terang menyinari sisa-sisa medan perang yang berdarah itu, menyinari bendera Garuda Perak yang masih berkibar gagah di tiang bendera yang sedikit bengkok.

Perang pertahanan sudah usai. Sekarang dimulailah perang penyerangan. Perang untuk memusnahkan akar kejahatan dari muka bumi.

1
NonaAns
keren, Kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!