Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Klausul Kontrak
Saskia berdiri di sudut laboratorium uji coba PT Hardjono Agribisnis di Sidoarjo, lengannya terlipat di dada, matanya tidak bergerak dari wajan datar di atas kompor induksi.
Di sebelahnya, Budi berdiri dengan ponsel di tangan, masih merekam seperti dua minggu lalu. Di seberang ruangan, Daniel Hardjono duduk di kursi dengan satu kaki menyilang di atas kaki lainnya, ekspresinya tidak terbaca.
Chef Kusuma dari Hotel Tugu juga hadir. Ia berdiri di samping kompor, tapi kali ini bukan dia yang memasak.
Yang memasak adalah chef pribadi Daniel. Seorang laki-laki Jepang berusia lima puluhan dengan kumis tipis dan tangan yang bergerak dengan presisi seorang ahli bedah.
Namanya Chef Tanaka. Saskia tahu namanya karena Daniel menyebutkannya sekali, dengan nada yang lebih hormat daripada yang pernah ia gunakan untuk siapapun.
"Sample A," kata Tanaka dengan aksen Jepang yang kental. "Selesai."
Ia mengangkat potongan daging dari wajan dengan penjepit baja, meletakkannya di atas piring keramik putih. Tidak ada bumbu. Hanya garam laut dan lada hitam yang digiling kasar. Persis seperti syarat blind test yang ditetapkan Daniel juga Chef Kusuma.
"Sample B."
Potongan daging kedua masuk ke wajan. Mentega kembali mendesis. Aroma yang sama, tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang hanya bisa dikenali oleh hidung yang terlatih.
Chef Kusuma mencondongkan tubuhnya. "Aromanya lebih... manis?"
Tanaka tidak menjawab. Tangannya membalik daging dengan satu gerakan cepat. Tiga puluh detik di setiap sisi. Medium rare. Suhu internal lima puluh lima derajat Celsius. Sempurna.
Ini adalah sample dari Si Belang.
Dua minggu. Dua minggu sejak pertemuan di lantai dua puluh tujuh. Dua minggu yang Saskia habiskan dengan menyempurnakan pakan, mengatur ulang kandang, dan memberikan satu tetes Air Suci setiap tiga hari ke lidah Si Belang. Dosis yang sudah ia hitung dengan cermat. Cukup untuk meningkatkan kualitas daging tanpa membuat dirinya pingsan.
Dan sekarang hasilnya sedang dimasak di atas kompor induksi oleh salah satu chef Jepang terbaik di Indonesia.
"Sample A siap dicoba. Sample B siap dicoba." Tanaka meletakkan dua piring di atas meja. Masing-masing hanya berisi satu potong daging seukuran kotak korek api. Tidak ada label. Tidak ada tanda. Hanya kode warna di bagian bawah piring yang tidak terlihat oleh pencicip.
Daniel berdiri. Ia berjalan ke meja, mengambil garpu kecil yang sudah disediakan. Chef Kusuma melakukan hal yang sama. Tanaka sendiri mengambil garpu ketiga.
"Ini blind test," kata Daniel. "Satu dari dua daging ini adalah daging impor Wagyu A4 dari Jepang. Satunya lagi dari peternakan Mbak Saskia. Saya tidak tahu yang mana. Tanaka tidak tahu yang mana. Chef Kusuma juga tidak tahu."
"Prosedur standar," gumam Kusuma.
"Betul."
Ketiganya menusuk sample A.
Saskia menahan nafas. Ia melihat garpu mengangkat potongan daging. Ia melihat daging itu masuk ke mulut Daniel. Ia melihat rahangnya bergerak, mengunyah. Matanya menatap kosong ke depan, berkonsentrasi pada rasa.
Daniel tidak bereaksi. Ia menelan. Minum air putih. Lalu menusuk sample B.
Kali ini, sesuatu berubah.
Rahangnya berhenti mengunyah selama setengah detik. Hanya setengah detik. Tapi Saskia melihatnya. Chef Kusuma juga melihatnya. Bahkan Tanaka, yang sejak tadi memasang wajah datar, mengangkat sebelah alisnya.
"Ini..." Chef Kusuma menatap piring sample B dengan ekspresi tidak percaya. "Ini yang mana?"
Daniel tidak menjawab. Ia menelan dagingnya. Meletakkan garpu. Minum air putih lagi.
"Tanaka. Pendapatmu."
Chef Jepang itu membersihkan mulutnya dengan serbet putih. "Sample A adalah Wagyu A4 impor. Tidak diragukan lagi. Teksturnya, distribusi lemaknya, kedalaman rasanya. Ini daging yang sangat baik."
"And sample B?"
Tanaka berhenti. Ia menatap piring sample B dengan ekspresi yang belum pernah Saskia lihat dari seorang chef profesional. Kebingungan. Kekaguman. Dan sedikit... ketidakpercayaan.
"Sample B," katanya pelan, "adalah sesuatu yang tidak pernah saya temui sebelumnya. Marbling-nya... ini bukan marbling Wagyu Jepang. Pola lemaknya berbeda. Tapi teksturnya... kelembutannya... rasa manis alami yang keluar setelah dikunyah... ini bukan daging sapi lokal biasa."
"Ini daging sapi lokal." Suara Saskia memecah keheningan. Semua kepala menoleh padanya. "Sapi Madura, sebenarnya. Bukan Wagyu. Bukan persilangan. Hanya sapi lokal yang diberi pakan khusus."
Daniel menatapnya. Matanya yang coklat tua itu sekarang tidak lagi sinis. Tidak lagi menilai. Ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang lebih tajam. Lebih... lapar.
"Mbak Saskia."
"Ya, Pak."
"Kontrak."
Satu kata. Tapi cukup untuk membuat jantung Saskia berhenti selama satu detik.
Mereka pindah ke ruang meeting yang lebih kecil di lantai yang sama. Kali ini tidak ada jendela kaca raksasa. Hanya dinding putih, meja persegi, dan empat kursi. Daniel duduk di satu sisi. Saskia di sisi lainnya. Di antara mereka, setumpuk dokumen setebal hampir lima puluh halaman.
"Ini draft kontrak kemitraan," kata Daniel. "Saya minta tim legal menyiapkannya sejak minggu lalu. Sebelum blind test."
"Sebab Bapak sudah yakin saya akan menang?"
"Sebab saya selalu siap untuk semua kemungkinan."
Saskia mengambil dokumen itu. Jemarinya membuka halaman pertama. Matanya bergerak cepat, membaca klausul demi klausul. Daniel memperhatikannya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Halaman tujuh. Klausul enam koma tiga." Suara Saskia terdengar tenang. "Ganti rugi sepuluh kali lipat jika gagal memenuhi target panen."
"Standar."
"Target panennya berapa?"
"Seratus ekor per tahun. Bobot minimal lima ratus kilogram per ekor. Marbling score minimal delapan."
Saskia meletakkan dokumen itu. "Itu target yang sangat tinggi untuk peternakan yang baru mulai."
"Anda bilang Anda berbeda. Buktikan."
Saskia menatapnya. Lalu kembali membaca.
Halaman demi halaman. Klausul demi klausul. Ia membaca dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang terbiasa membaca jurnal ilmiah tebal. Matanya tidak melewatkan satu kata pun. Otaknya memproses setiap kalimat, mencari celah, mencari jebakan, mencari sesuatu yang bisa menjeratnya.
Di halaman tiga puluh dua, ia menemukannya.
"Klausul force majeure." Ia mendongak. "Di sini disebutkan bencana alam, wabah penyakit, kebakaran. Tapi tidak ada klausul soal sabotase."
Daniel menyandarkan punggungnya. "Sabotase?"
"Betul. Sabotase oleh pihak ketiga. Perusakan kandang. Peracunan pakan. Pencurian ternak." Mata Saskia menatap lurus ke mata Daniel. "Semua itu tidak termasuk dalam force majeure di kontrak ini."
"Itu hal yang sangat spesifik."
"Saya hidup di desa, Pak Hardjono. Saya tahu hal-hal seperti itu terjadi. Saya minta klausul sabotase ditambahkan."
Daniel menatapnya lama. Lalu, pelan-pelan, ia tersenyum. Senyum yang berbeda dari semua senyum yang pernah ia tunjukkan sebelumnya. Bukan sinis. Bukan merendahkan. Tapi... kagum.
"Anda membaca kontrak lima puluh halaman dalam waktu lima belas menit dan menemukan celah yang tidak ditemukan oleh tim legal saya sendiri."
"Tim legal Bapak mungkin tidak terbiasa berpikir seperti orang desa."
Daniel tertawa. Benar-benar tertawa. Suara rendah yang mengisi seluruh ruangan. Budi, yang berdiri di sudut, menatap bosnya dengan ekspresi terkejut.
"Baik. Klausul sabotase akan ditambahkan. Ada lagi?"
Saskia kembali membaca. Tiga puluh tiga. Tiga puluh empat. Tiga puluh lima.
Di halaman empat puluh tujuh, matanya berhenti di satu paragraf kecil. Klausul inspeksi. Tapi paragraf itu terlihat standar. Inspeksi rutin setiap tiga bulan. Itu normal. Wajar. Semua kontrak punya klausul inspeksi.
Ia melewatkannya.
"Tidak ada lagi," katanya. "Saya setuju dengan sisanya."
Daniel mengangguk. "Tandatangan di halaman terakhir."
Pena bergores di atas kertas putih. Satu detail kecil di halaman empat puluh tujuh terlewatkan begitu saja.