NovelToon NovelToon
RED FLAG

RED FLAG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: ujang Bonang@_@

​"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
​Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
​Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
​Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
​Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
​Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Luka dan Sandiwara

****

Langkah kaki gue terasa goyah saat berjalan menyusuri koridor koridor sekolah menuju ke ruang UKS. Di belakang gue, Devan berjalan dengan langkah pelan, satu tangannya sesekali memegangi sudut bibirnya yang masih mengalirkan darah segar. Keheningan di antara kami terasa begitu mencekam, sangat berbanding terbalik dengan riuhnya bisik-bisik murid lain yang menyaksikan Devan dihajar oleh Saka di dekat gudang tua tadi.

Gue mendorong pintu UKS yang untungnya sedang kosong karena penjaga PMR sedang ada kelas. Gue menarik salah satu kursi besi, lalu menatap Devan dengan tatapan campur aduk.

"Duduk, Dev," kata gue lirih.

Devan menurut tanpa membantah. Dia duduk dengan tenang, memperhatikan gue yang sedang sibuk membongkar kotak P3K untuk mencari kapas, alkohol, dan obat merah. Tangan gue masih sedikit bergetar karena sisa kepanikan tadi. Bagaimana bisa dua orang yang selama ini sangat gue percayai bisa berubah menjadi sekumpulan monster yang menakutkan dalam sekejap?

Gue melangkah mendekati Devan, membawa kapas yang sudah dibasahi alkohol. "Sini wajah lo, agak mendongak sedikit."

Devan mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata gue. Jarak yang dekat membuat gue bisa melihat dengan jelas bagaimana sudut bibirnya yang robek itu membiru. Saat kapas beralkohol itu menyentuh lukanya, Devan refleks meringis kecil dan memejamkan matanya sesaat.

"Sakit?" tanya gue, mencoba melembutkan suara gue meski hati gue masih dipenuhi rasa kesal.

"Sedikit," bisik Devan, suaranya parau. Dia membuka matanya kembali, menatap gue dengan pandangan yang mendadak melunak, penuh dengan binar kerapuhan yang tampak sangat nyata. "Tapi gak seberapa sakit dibandingkan melihat kamu lebih membela Saka daripada aku, Mik."

Tangan gue yang sedang mengobati lukanya mendadak terhenti. Gue menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan emosi yang hampir meluap. "Gue gak membela siapa-siapa, Dev. Tapi apa yang lo lakuin tadi pagi di parkiran itu namanya provokasi. Lo sengaja memancing amarah Saka di depan umum, kan?"

Devan terkekeh pelan, sebuah tawa lirih yang terdengar menyedihkan. Dia memegang pergelangan tangan gue, menghentikan aktivitas mengobati lukanya, lalu memaksa gue untuk tetap menatapnya.

"Mika, aku melakukan itu semua demi kebaikan kamu," tutur Devan dengan nada suara yang begitu meyakinkan, seolah-olah dia adalah korban yang paling teraniaya di sini. "Saka itu ugal-ugalan. Dia berandal yang gak punya masa depan. Kamu lihat sendiri kan tadi? Dia bisa memukul aku tanpa berpikir panjang hanya karena egonya terluka. Orang temperamental kayak dia bisa saja menyakiti kamu suatu hari nanti, Mik. Aku gak bisa membiarkan itu terjadi."

"Tapi lo gak perlu sampai mengancam dia dengan kedudukan lo sebagai Ketos, Dev!" balas gue, mulai menyentak tangan gue agar terlepas dari genggamannya. "Lo bilang lo mau bikin dia dikeluarkan dari sekolah? Itu keterlaluan! Kita bertiga ini bersahabat dari kecil!"

"Persahabatan kita udah selesai sejak dia berani punya perasaan lebih sama kamu, Mikaela!" suara Devan mendadak meninggi satu oktav, membuat gue sedikit tersentak mundur. Sisi dingin dan posesifnya kembali mengintip dari balik topeng malaikatnya. Namun dengan cepat, Devan mengontrol napasnya, menundukkan kepala dengan rahang yang mengatup rapat.

"Maaf... maaf aku gak bermaksud membentak kamu," lirih Devan lagi, kini suaranya bergetar hebat. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya naik turun seolah-olah dia sedang menahan tangis atau rasa frustrasi yang luar biasa. "Aku cuma... aku cuma takut kehilangan kamu, Mik. Aku gak punya siapa-siapa lagi yang mengerti aku selain kamu. Kalau Saka merebut kamu dari aku, aku harus gimana?"

Melihat Devan yang biasanya selalu tegap, berwibawa, dan sempurna tiba-tiba tampak begitu hancur di depan gue, dinding pertahanan ego gue perlahan mulai retak. Rasa iba mulai merayap masuk ke dalam hati gue. Apakah Devan bener-bener melakukan semua kegilaan ini hanya karena dia terlalu takut kehilangan sahabat masa kecilnya? Ataukah ini semua hanyalah bagian dari sandiwara manipulasinya untuk menarik simpati gue?

Gue mengembuskan napas panjang, menaruh kapas ke dalam piring kecil lalu mengusap bahu Devan pelan. "Gak akan ada yang merebut gue, Dev. Gue tetap Mika yang dulu. Tapi please, lo jangan bersikap ekstrem begini lagi. Masalah luka lo ini... lo mau laporkan ke ruang BK?" tanya gue waswas. Kalau Devan melaporkannya, Saka bener-bener habis.

Devan perlahan menurunkan tangannya dari wajah. Sudut bibirnya yang terluka membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat manis, namun matanya sama sekali tidak memancarkan kehangatan.

"Kalau itu kemauan kamu, aku gak akan melaporkannya ke BK, Mik," jawab Devan lembut, mengusap punggung tangan gue yang berada di bahunya. "Aku bisa bilang ke guru kalau aku jatuh di tangga. Tapi, ada satu syarat."

Jantung gue kembali berdesir tidak enak. "Syarat apa?"

"Mulai hari ini, kamu harus batasi jarak dengan Saka. Gak ada lagi pulang bareng dia, gak ada lagi pergi berdua bareng dia. Kalau dia mendekati kamu, kamu harus langsung kasih tahu aku," tuntut Devan, matanya mengunci pergelangan tangan kanan gue yang masih mengenakan gelang perak pemberian Saka. "Dan satu lagi... lepas gelang itu."

Gue tertegun. Syarat yang diajukan Devan terdengar seperti sebuah kurungan yang halus. Dia tidak menggunakan kekerasan fisik seperti Saka, melainkan menggunakan rasa bersalah gue atas lukanya sebagai alat barter untuk mengontrol hidup gue.

Belum sempat gue memberikan jawaban, pintu UKS tiba-tiba terbuka dengan kasar dari luar.

*Brak!*

"Mika!"

Suara Risa terdengar terengah-engah di ambang pintu. Napasnya memburu dan wajahnya terlihat sangat panik. Dia langsung berlari menghampiri gue tanpa memedulikan keberadaan Devan yang kini sedang menatapnya dengan pandangan dingin terganggu.

"Ris? Kenapa lo panik banget?" tanya gue bingung.

"Saka, Mik... Saka Aditya!" Risa memegang kedua bahu gue, mencoba mengatur napasnya yang putus-putus. "Saka baru aja mengamuk lagi di area parkir belakang! Dia menendang pembatas jalan sampai hancur dan sekarang dia langsung cabut naik motornya menerobos gerbang sekolah padahal jam pelajaran belum selesai! Guru-guru BK sama satpam sekarang lagi heboh ngejar dia!"

Darah gue rasanya langsung membeku seketika. Saka kabur dari sekolah setelah insiden pemukulan tadi?

Gue langsung melirik ke arah Devan. Ketua OSIS itu hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar, seolah-olah berita tentang kaburnya Saka adalah hal sepele yang sudah dia prediksi sebelumnya. Di sudut bibirnya yang terluka, gue bisa melihat sebuah senyuman kemenangan tersembunyi yang sangat tipis. Sandiwara Devan di depan gue barusan berhasil, dan Saka yang temperamental telah masuk ke dalam jebakan emosinya sendiri dengan sempurna.

"Gue harus cari Saka," kata gue panik, langsung menyambar tas gue yang tergeletak di meja UKS.

"Mika, jangan!" Devan langsung berdiri, menahan pergelangan tangan gue dengan kuat. "Dia lagi emosi, Mik. Berbahaya kalau kamu temui dia sekarang. Biarkan pihak sekolah yang mengurus dia."

"Lepasin, Dev! Ini semua gara-gara lo!" bentak gue frustrasi, menyentak tangan Devan dengan sekuat tenaga hingga terlepas. Gue gak memedulikan tatapan terkejut Devan dan Risa. Gue langsung berlari keluar dari ruang UKS secepat yang gue bisa, mengabaikan fakta bahwa hujan gerimis mulai turun membasahi bumi sore itu.

Gue harus menemukan Saka sebelum cowok ugal-ugalan itu melakukan hal bodoh yang bisa menghancurkan masa depannya sendiri selamanya.

### **Pesan Penulis (Author's Note)**

> **Aduh, makin pelik aja hubungan mereka bertiga!** Di bab ini kita bisa lihat gimana cerdiknya Devan menggunakan lukanya sebagai 'sandiwara' buat menarik simpati Mika dan menjebak emosi Saka. Taktik manipulasi Devan bener-bener halus banget sampai bikin Mika serbasalah dan merasa bersalah. Di sisi lain, Saka yang gak bisa mengontrol emosinya malah makin tersudut dan melakukan aksi nekat kabur dari sekolah.

> Kira-kira Mika bakal berhasil menemukan Saka gak ya? Dan apa yang bakal terjadi kalau Devan memanfaatkan momen kaburnya Saka ini buat melapor ke kepala sekolah?

> Terima kasih banyak buat pembaca setia **@ujang_Bonang** yang udah baca sampai Bab 4! Jangan lupa buat klik tombol **Like**, berikan **Vote** yang banyak, dan tulis pendapat kalian di kolom **Komentar**: Kalian lebih gemas sama sifat ugal-ugalannya Saka atau sifat manipulasinya Devan nih? Sampai jumpa di Bab 5

, ya! *Keep reading!*

>

1
listia_putu
lanjut
Sri Dewi
terimakasih kaka jangan lupa promosikan ke teman nya soalnya ini novel pertamaku dengan genre ini jangan lupa di like ya kk
Indah Sari Nurwahyuningtyas
seru bngt panik dan rasa takutnya dapet dari ceritanya jadi yg baca ikut ngerasain jugaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!