Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penculikan
Ancaman Alex bukan omong kosong. Tiga hari setelah pernyataan perang itu, saham perusahaan Marcus Sterling anjlok 60%, pasokan kain dari seluruh dunia berhenti total, dan mitra bisnisnya satu per satu menghilang. Marcus, yang panik dan gila dendam, lari memohon bantuan Don Moretti, bos mafia paling berkuasa di New York.
Malam itu, saat Aulia pulang dari kampus Parsons School of Design di mana ia mengambil kelas khusus desainer internasional konvoi mobilnya disergap di jalanan gelap Tribeca. Mobil pengawal ditembak mati, dan sebelum Aulia sempat bereaksi, ia ditarik paksa ke dalam van hitam tanpa tanda. Tujuan mereka: Gudang pelabuhan Brooklyn, markas rahasia Moretti.
Berita penculikan itu sampai ke telinga Alex hanya dalam 10 menit.
Di ruang kantor puncak Surya Corp, suasana berubah menjadi neraka. Alex melempar meja kaca berat itu hingga hancur berkeping-keping, matanya merah menyala, aura pembunuhnya meledak tak terkendali. Seluruh anak buahnya gemetar ketakutan; mereka belum pernah melihat tuannya marah sampai sedahsyat ini. Bagi Alex, menyentuh Aulia sama dengan menandatangani surat kematian seluruh garis keturunan musuh.
“Kerahkan SEMUA pasukan. Segala senjata, segala koneksi, segala kekuatan yang kita punya!” raung Alex dingin namun mematikan, suaranya bergetar amarah. “Bakar seluruh markas Moretti jika perlu. Tembak siapa saja yang menghalangi. Bawa Aulia kembali… HIDUP DAN UTUH, atau kalian semua mati di tanganku sendiri!”
Dua puluh menit kemudian, armada mobil hitam Alex tiba di pelabuhan. Tanpa negosiasi, Alex meledakkan gerbang utama gudang dengan bahan peledak, lalu menerobos masuk di tengah hujan peluru. Ia bergerak bagai iblis perang tembakan akurat, gerakan cepat, tak ada ampun. Setiap orang yang berani berdiri di jalurnya jatuh tersungkur berlumuran darah.
Di ruang tengah gudang, Aulia terikat di kursi, wajah lebam sedikit karena perlawanannya. Marcus berdiri di sampingnya, di belakangnya Don Moretti dengan puluhan anak buah bersenjata lengkap.
“Selamat datang, Raja Asia,” cibir Don Moretti angkuh. “Serahkan bisnismu di Amerika, atau gadis ini mati sekarang.”
Alex tidak berhenti melangkah. Ia berjalan santai melewati tubuh anak buah musuh yang jatuh, darah musuh membasahi sepatu kulit mahalnya. Tatapannya kosong, dingin, dan mengerikan bukan manusia lagi, melainkan murni PEMBUNUH.
“Kalian membuat satu kesalahan fatal,” suara Alex rendah, bergema, tanpa emosi. “Kalian menyentuh JANTUNGKU.”
Dalam sekejap, pertempuran meletus. Tapi itu bukan perang seimbang. Itu adalah PEMBANTAIAN. Pasukan Alex jauh lebih terlatih, lebih kejam, dan lebih setia. Satu per satu anak buah Moretti tumbang. Marcus mencoba lari, tapi Alex menembak lutut pria itu hingga jatuh, lalu berjalan mendekat perlahan.
Alex mencengkeram leher Marcus, mengangkatnya hingga kaki pria itu melayang. “Kau berani menyakiti kulit sekecil apa pun dari wanitaku…?” Bisik Alex, lalu mematahkan leher Marcus dengan satu gerakan halus namun mematikan. Krak.
Don Moretti gemetar ketakutan, menodongkan senjata ke kepala Aulia sebagai pertahanan terakhir. Tapi sebelum ia bisa menarik pelatuk, peluru tepat sasaran dari Rio melubangi tangan kanan Don Moretti, membuat senjatanya terlempar. Alex melompat cepat, menendang pria tua itu hingga terpental, lalu menodongkan laras senjatanya tepat di dahi Don Moretti.
“Berani kau sentuh dia lagi, aku kubur seluruh keluargamu sampai ke bayi dalam kandungan,” ancam Alex dingin, matanya membunuh.”
Alex menurunkan senjatanya, bukan karena ampun, tapi karena ia tahu kematian terlalu mudah bagi mereka. Ia ingin mereka hidup dalam ketakutan abadi. “Keluarkan nama Sterling & Moretti dari peta bisnis Amerika mulai hari ini. Berikan seluruh aset kalian ke Surya Corp. Jika tidak, kalian akan merindukan kematian.”
Don Moretti, hancur total dan ketakutan setengah mati, langsung menandatangani semua dokumen penyerahan tanpa syarat.
Alex segera berlari ke arah Aulia, melepaskan ikatan gadis itu. Detik itu juga, topeng dingin Alex hancur. Ia gemetar hebat saat memeluk tubuh kecil Aulia, mencium seluruh wajah, tangan, dan tubuhnya dengan panik dan tak terbatas rasa syukur. Air mata air mata pertama yang keluar dari mata sang mafia dingin jatuh membasahi pipi Aulia.
“Maaf… maafkan aku, Sayangku… maaf aku terlambat… maaf aku biarkan kau terluka…,” isak Alex parau, suaranya pecah tak terkendali. Ia merasa hancur melihat sedikit saja bekas luka di kulit halus Aulia. Baginya, rasa sakit Aulia seribu kali lebih pedih daripada kematiannya sendiri.
Aulia yang juga menangis, langsung merangkul leher Alex erat-erat, memeluknya seolah takkan pernah melepaskan. Ia merasakan ketakutan murni dalam pelukan pria itu. Alex bukan takut mati. Alex takut kehilangan dia.
“Alex… aku aman… aku di sini… aku tidak apa-apa,” bisik Aulia lembut, mengusap punggung pria itu, mencoba menenangkan badai emosi di dalam diri kekasihnya. “Kau datang menyelamatkanku. Kau selalu datang. Jangan menangis, cintaku… aku di sini, bersamamu, selamanya.”
Alex melepaskan pelukan sebentar, menatap mata cokelat kesayangannya dalam-dalam. Ia menangkup wajah Aulia dengan kedua tangannya yang bergetar tangan yang baru saja membunuh puluhan orang, kini menyentuh gadisnya dengan kelembutan yang tak terbayangkan.
“Dengar aku, Aulia,” ucap Alex tegas namun parau, tatapannya tajam menusuk jiwa. “Hari ini membuktikan satu hal: Dunia ini terlalu jahat, terlalu kejam, terlalu berbahaya untukmu. Mulai sekarang, ke mana pun kau pergi, aku ikut. Apa pun yang kau lakukan, aku ada. Tidak ada lagi jarak. Tidak ada lagi ‘aman saja’. Kau adalah napasku. Tanpamu, aku bukan manusia. Aku hanya monster yang menghancurkan segalanya.”
Alex menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang penuh rasa sakit, rasa syukur, cinta, dan kepemilikan mutlak. Ciuman itu janji bahwa tidak ada kekuatan manusia, alam, maupun kematian yang mampu memisahkan mereka.
Kembali ke hotel, dampak kejadian itu luar biasa. Surya Corp kini memegang kendali penuh atas bisnis mode, real estate, dan jalur perdagangan ilegal Amerika Serikat. Nama Alex kini bukan lagi sekadar miliarder misterius; di seluruh benua, ia dikenal sebagai RAJA TANPA MAHKOTA, penguasa mutlak yang tak boleh disentuh.
Namun bagi Alex, semua kekayaan dan kekuasaan itu sampah. Ia hanya peduli satu hal: Aulia ada di pelukannya, bernapas, hidup, dan mencintainya.
Malam itu, di bawah cahaya lampu kota New York yang berkilauan, Alex membaringkan kepala Aulia di dadanya, mendengarkan detak jantung gadisnya suara terindah di dunia baginya. Ia mengusap rambut panjang Aulia perlahan, berjanji dalam hati: Aku akan bakar seluruh dunia, aku akan jadi iblis paling mengerikan, aku akan berlumur dosa seumur hidup… asalkan kau tetap aman, tetap tersenyum, dan tetap jadi milikku sampai napas terakhirku.
Aulia meremas kemeja Alex di tangannya, tersenyum damai dalam pelukan sang kekasih tercinta.