NovelToon NovelToon
Janda Cantik Kesayangan CEO Tampan

Janda Cantik Kesayangan CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Penyesalan Suami / Selingkuh / Janda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Seorang wanita bercadar baru saja turun dari taksi online. Setelah membayar ongkos, ia gegas membawa langkahnya memasuki lobi sebuah gedung pencakar langit di kawasan pusat kota. Gedung megah itu bertuliskan nama sebuah perusahaan besar: PT Al-Malik Group.

Dengan langkah penuh harapan, tangannya menggenggam erat sebuah paper bag berisi kue buatannya sendiri. Aroma vanila dan manis menguar, aroma yang seharusnya menenangkan, namun kini terasa pahit seperti empedu. Ia berniat memperbaiki rumah tangganya dengan Farhan, pria yang berstatus suaminya sejak satu tahun yang lalu.

Rumah tangga yang seharusnya penuh canda dan tawa, kini hanya ditinggalkan oleh dua jiwa yang saling asing, berusaha bertahan di dalam atap yang sama tapi tanpa ada nyawa cinta yang menghidupkannya. Setiap malam, Nafiza selalu bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yang salah denganku?”

Cadar yang menutupi sebagian wajahnya berkibar lembut mengikuti langkahnya yang tergesa. Kali ini ia mengenakan gamis berwarna maroon dengan warna cadar yang sama. Ia berharap, setidaknya kali ini Farhan sudi meliriknya, melihatnya sebagai seorang wanita, bukan hanya sebagai beban. Senyum getir terukir di bibirnya saat membayangkan penolakan yang mungkin akan diterimanya nanti. Ia sudah terbiasa, tapi tetap saja sakit.

Nafiza Azzahra dikenal sebagai wanita yang sabar, lembut, dan salehah. Semua orang memuji kesabarannya, tapi tidak ada yang tahu betapa hancurnya ia di dalam.

Ini kali pertama Nafiza mengunjugi sang suami ke tempat kerjanya. Setelah bertanya pada resepsionis di mana ruang suaminya, Nafiza gegas menghampiri. Sesampainya di depan pintu ruang kerja Farhan, ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, menetralkan degup jantungnya yang tak menentu.

Ternyata pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Dari celah kecil, suara tawa centil seorang wanita mengusik ketenangannya. Jantung Nafiza semakin berdebar tak karuan, kali ini bukan karena harapan, tapi karena kecemasan yang mencekam. Ia mencoba menepis pikiran buruk, namun bayangan Farhan dan wanita itu terus berputar di benaknya seperti roller coaster yang rusak.

Dengan keberanian yang tersisa, Nafiza mendorong pintu hingga terbuka lebar. Pemandangan yang menyambutnya membuatnya terhenyak kaget hingga refleks ia mundur selangkah. Harapan yang tadinya sempat tumbuh layu seketika, bagai bunga yang disiram air keras. Farhan dan Riana, sang sekretaris, sedang bermesraan, dengan Riana berada di atas pangkuan Farhan. Tangan mereka saling bertautan mesra, seolah dunia milik mereka berdua.

Paper bag yang ia genggam erat sejak tadi jatuh dengan sendirinya, menghantam lantai dengan suara berdebam. Kue buatannya berhamburan di lantai, menjadi saksi bisu kehancuran hatinya. Aroma manis vanila kini bercampur dengan aroma pengkhianatan yang memuakkan.

Kedua sejoli itu tersentak kaget, wajah Farhan memucat seperti mayat hidup. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia khawatir, reputasinya sebagai Manager akan tercoreng jika masalah pribadinya diketahui oleh para karyawan, apa lagi jika tahu kalau ia punya istri dengan penampilan yang menurutnya kampungan. Sedangkan Riana menyeringai sinis, seolah menikmati drama di hadapannya. Matanya berbinar-binar penuh kemenangan.

"Nafiza? Ngapain kamu ke sini?!" tanya Farhan dingin, berusaha menguasai diri. Ia menatap Nafiza dengan tatapan jijik, seolah melihat sampah yang mengotori ruangannya.

"Aku ... aku ingin mengantarkan kue untuk kamu," jawab Nafiza lirih, matanya berkaca-kaca, menahan air mata yang siap tumpah. Ia berusaha tegar, tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan dua manusia tak tahu malu itu. Harga dirinya sudah cukup terinjak-injak, ia tidak ingin memperburuk keadaan.

Riana bangkit, mendekati Nafiza dengan langkah angkuh seperti seorang ratu yang sedang menghampiri rakyat jelatanya. "Oh, ini istri solehah kamu Mas? Penampilannya cupu banget sih!" sindirnya, suaranya penuh dengan nada merendahkan. Ia menatap Nafiza dari atas sampai bawah, seolah sedang menilai kualitas sebuah barang.

"Pantas saja Mas Farhan nggak betah sama kamu," lanjut Riana dengan tatapan merendahkan. "Farhan itu butuh wanita yang modis dan modern, bukan emak-emak kampungan. Lagipula, dia itu Manager di sini, butuh pendamping yang bisa menunjang karirnya, bukan malah bikin malu!" cibirnya angkuh, bibirnya tertarik membentuk seringai kemenangan.

Nafiza hanya diam, menahan sakit di hatinya seperti menahan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Ia memang tidak semodis Riana, ia memang mengenakan cadar, tapi apakah ia pantas diperlakukan seperti ini? Ingin rasanya ia berteriak, memaki, meluapkan semua emosi yang selama ini ia pendam, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.

Sedangkan Farhan tetap diam di tempat seperti patung, tanpa ada niat sedikit pun untuk membela Nafiza. Ia justru tampak menikmati pemandangan itu, merasa senang melihat Nafiza dipermalukan.

Farhan merasa inilah saat yang tepat untuk mengakhiri pernikahan yang tidak diinginkannya. Ia sudah lama merasa tertekan dengan pernikahan yang dipaksakan oleh orang tuanya. Ia ingin bebas, dan Riana adalah tiketnya. “Akhirnya, gue bisa bebas dari neraka ini,” batinnya penuh kemenangan.

"Mas Farhan, kenapa kamu diam saja?" lirih Nafiza dengan suara bergetar, menatap lelaki yang berstatus suami itu dengan tatapan terluka, penuh dengan kekecewaan. “Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?”

Farhan menghela napas, berdiri dari kursinya, menatap wanita rapuh itu dengan tatapan dingin, tanpa setitik pun kelembutan. "Nafiza, aku yakin kamu tahu jawabannya. Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Kamu bukanlah levelku! Dari awal! Lihatlah dirimu! Dan lihat Riana," ucapnya tegas, menunjuk Riana dengan tatapan kagum.

"Tapi Mas ...," balas Nafiza, dengan sekuat tenaga menahan getaran dalam suaranya. "Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik. Apa itu tidak cukup? Aku sudah melakukan semua yang kamu inginkan."

Farhan menggeleng. "Nafiza, aku tidak bisa memaksakan perasaanku. Aku mencintai Riana, dan aku ingin bersamanya," tegas Farhan, tanpa perasaan, lalu merangkul Riana, menunjukkan kemesraan mereka di hadapan Nafiza, seolah ingin menusuk hatinya dengan pisau berkarat.

Nafiza memalingkan wajahnya, muak melihat pemandangan dua manusia tak tahu malu itu. Tangannya mencengkeram kuat sisi gamisnya. Nafasnya memburu, dadanya sesak. Meskipun ia juga tak mengharapkan pernikahan ini, tapi ia wanita yang paham agama, ia tidak akan mempermainkan sebuah pernikahan, sebagai seorang istri yang sah ia terus berusaha membuka hati untuk mencintai suaminya. Ia yakin, seiring waktu cinta akan tumbuh dengan sendirinya.

Tapi sekarang apa yang terjadi? Di saat ia berjuang keras untuk bertahan, Farhan malah menghancurkannya dengan pengkhianatan. Ia hancur, terluka, dan dipermalukan di saat yang sama. Ia merasa seperti boneka yang dipermainkan.

Keributan di ruangan sang manager itu menarik perhatian para karyawan lain. Mereka mulai berkerumun di depan ruang kerja Farhan, berbisik-bisik seperti segerombolan lebah yang baru saja menemukan sumber madu. Mereka mulai berbisik-bisik, seolah Nafiza-lah pelakunya dan Riana korbannya.

Nafiza merasa terhina dan malu. Reputasinya sebagai istri seorang Project Manager yang seharusnya disegani, kini hancur berkeping-keping menjadi debu. Ia merasa seperti sedang berada di panggung sandiwara, dan semua orang menertawakannya.

Riana yang menyaksikan itu menyeringai licik, lalu berbisik manja pada Farhan. "Sayang, kayaknya ini saat yang tepat buat ngasih pelajaran buat istri cupu kamu ini!"

Bersambung ....

1
Dinar Almeera
Kakakkk terimakasih banyak dikasih bonus terus 😍😍😍😍
riniandara: sama-sama kak, terimakasih juga udah meluangkan waktunya, semoga menghibur ya kak/Kiss//Applaud/
total 1 replies
irma hidayat
lanjut bulan madu zayn nafiza
riniandara
terima kasih supportnya kak. pasti kak/Smile//Kiss/
we
tetap semangat Kakak
azela
cerita yang menyentuh dan menghibur ayo kakak semua mampir di karya ini di jamin gak akan nyesel deh. semangat buat author juga./Heart//Heart//Pooh-pooh/
azela
lanjut kakaku ceritanya makin kesini makin seru /Heart//Heart/
irma hidayat
pasang alarm nafiza
irma hidayat
ternyata baju kurang bahan hadiah momynya ya nafiza
irma hidayat
dasar perempuan dengki riana gada bersyukurnya
ari sachio
semoga mjd pasangan yg samawa d cepet dpt momongn biar mantan gigit jari ampe kukunya habis😁😁😁
irma hidayat
turut bahagia buat nafiza zayn, lanjut upnya thor
riniandara: besok lagi ya kakakku/Kiss/
total 1 replies
irma hidayat
lanjut up nya thor
riniandara: Siap kak/Applaud/
total 1 replies
ari sachio
sami mawon intine bambang.....😅😅😅
irma hidayat
ayo semangat zayn buat sahkan nafiza
riniandara: pasti semangat 45 Zayn/Applaud//Applaud/
total 2 replies
irma hidayat
enak ya farahan rasa sakit diselingkuhi tak harus nunggu lama karma ya
irma hidayat
jalang riana suatu saat buah yg kamu tuai akan lebih pahit dari kejahatanmu
ari sachio
inalillahi...ternya kuntilanak kalah serem.....kirain riana mo insaf... g taunya malah makin jadi....ampunnn dahhh wes angel tenan jiannnn......
mami syila
dasar Riana /Panic//Panic//Panic//Panic/
mami syila
janda terhoy ini mah
mami syila
lanjut kak seru abis
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!