Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Hujan, Jas Abu-abu, dan Runtuhnya Dinding Ego
Suasana di dalam kabin SUV mewah yang melaju membelah jalanan ibu kota malam itu terasa begitu hening.
Tidak ada lantunan musik klasik, tidak ada percakapan basa-basi. Satu-satunya suara yang mendominasi hanyalah deru halus mesin mobil bertenaga tinggi dan ritme konstan dari wiper yang menyapu rintik hujan mendadak di kaca depan.
Di kursi penumpang bagian belakang, Arumi duduk terpaku.
Pandangannya lurus ke arah jendela, menatap kosong pada bayangan pendar lampu jalanan Jakarta yang berkelebat cepat bagaikan komet yang jatuh ke bumi.
Namun, pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Seluruh kesadarannya masih tertinggal di ruang ballroom hotel, terjerat pada satu kalimat sakti yang dibisikkan Renard tepat di telinganya beberapa waktu lalu.
Kapan kamu akan berhenti mengira bahwa semua ini hanya tentang kontrak, Arumi? Aku melakukannya karena dia berani melukai istriku.
Kalimat itu terus berputar-putar di dalam kepala Arumi bagaikan kaset rusak yang menolak dihentikan. Dadanya terasa penuh, sesak oleh desiran emosi yang bergejolak hebat.
Di sebelahnya, Renard duduk bersandar dengan posisi yang kaku.
Pria itu menatap lurus ke depan, rahangnya masih tampak mengeras, menyiratkan sisa-sisa amarah yang belum sepenuhnya padam pasca-insiden dengan Bastian.
Hujan di luar sana semakin deras, membuat suhu udara di dalam mobil ber-AC itu terasa semakin menggigit kulit.
Arumi tanpa sadar mengusap kedua lengannya yang terbuka karena potongan gaun malamnya.
Sebuah gerakan kecil, namun nyatanya tidak luput dari perhatian pria di sebelahnya.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Renard melepaskan jas abu-abu gelapnya. Dengan gerakan yang lugas dan sedikit kasar untuk menutupi rasa canggungnya, ia menyampirkan jas hangat yang masih menyimpan suhu tubuhnya itu ke atas bahu Arumi.
Arumi tersentak pelan. "Tuan Renard, saya—"
"Pakai saja. Suhu di luar turun drastis dan AC mobil ini terlalu dingin untuk gaun tipismu itu," potong Renard cepat, nadanya datar seolah memberi perintah mutlak di ruang rapat.
"Aku tidak mau investasi kontrakku jatuh sakit besok pagi."
Mendengar kata 'kontrak' kembali diucapkan, hati Arumi mencelos. Ada sebersit rasa kecewa yang menyengat.
Namun, ketika ia menarik kerah jas kebesaran itu untuk menutupi dadanya, aroma parfum maskulin beraroma cedarwood dan vetiver khas Renard seketika menyerbak, menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Pria ini memang selalu berlindung di balik kata-kata kasarnya, namun tindakannya selalu meneriakkan hal yang sebaliknya.
Tiga puluh menit kemudian, mobil hitam mengilap itu memasuki gerbang tinggi mansion Wijaya.
Keadaan rumah raksasa itu sudah sangat sepi. Lampu-lampu utama di ruang tamu telah diredupkan.
Bi Sumi yang membukakan pintu menginformasikan dengan suara berbisik bahwa Mama Sofia sudah meminum obatnya dan terlelap sejak satu jam yang lalu.
"Baguslah," gumam Renard lega.
Ia melonggarkan dasi hitamnya dengan satu tarikan lelah. "Kamu juga pergilah beristirahat, Arumi. Ini malam yang sangat panjang."
Renard membalikkan tubuhnya, melangkah lebih dulu menaiki anak tangga marmer menuju lantai dua.
Arumi diam sejenak di dasar tangga.
Ia menatap punggung tegap pria yang perlahan menjauh itu.
Malam ini, Arumi merasa ia tidak bisa lagi membiarkan semuanya menggantung di udara. Ia tidak ingin lagi menebak-nebak, tidak ingin lagi bermain petak umpet dengan perasaannya sendiri di balik selembar kertas bermeterai.
Dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan, Arumi mengangkat gaun zamrudnya sedikit, lalu setengah berlari menaiki tangga menyusul Renard.
"Renard! Tunggu," panggil Arumi saat mereka berdua baru saja tiba di ujung lorong lantai dua, tepat di persimpangan antara kamar Arumi dan ruang kerja pribadi Renard.
Langkah Renard terhenti.
Ia berbalik perlahan, menatap Arumi dengan sebelah alis terangkat. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan malam-malam begini?"
Arumi melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga hanya tersisa satu meter.
Ia mendongak, menatap langsung ke dalam kedalaman manik mata hitam kelam suaminya. Tidak ada lagi panggilan formal 'Tuan', tidak ada lagi tatapan menunduk.
"Kejelasan," ucap Arumi dengan suara yang sedikit bergetar namun tegas. "Saya butuh kejelasan dari Anda."
Renard terdiam. Dahinya berkerut samar. "Kejelasan tentang apa?"
"Tentang semua ucapan Anda di pesta tadi," Arumi memberanikan diri.
Tangannya meremas sisi jas abu-abu milik Renard yang masih melekat di bahunya. "Anda bilang Anda tidak melakukannya demi citra perusahaan. Anda bilang Anda membela saya karena saya istri Anda. Dan sekarang, di dalam mobil tadi, Anda kembali berlindung di balik kata 'kontrak'. Jadi, tolong beritahu saya, Renard. Mana dari semua itu yang merupakan kebenaran, dan mana yang hanya sandiwara?"
Pertanyaan yang ditembakkan secara langsung itu membuat pertahanan Renard goyah. Pria yang tak pernah kehabisan kata-kata di meja negosiasi bernilai triliunan rupiah itu kini mendadak kehabisan kosakata.
Renard menghela napas panjang, sangat panjang.
Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan, mengacak rambutnya yang tertata rapi hingga sedikit berantakan—sebuah gestur frustrasi yang meruntuhkan citra CEO sempurnanya di hadapan Arumi.
"Kamu ini... benar-benar keras kepala, Arumi," gumam Renard dengan nada suara yang memberat.
Alih-alih mundur, Renard mengambil satu langkah maju.
Ia kini berdiri begitu dekat hingga Arumi bisa merasakan panas tubuhnya. Dengan perlahan, Renard mengangkat kedua tangannya dan meraih pundak Arumi. Cengkeramannya lembut, namun posesif.
"Haruskah aku mengulanginya dengan bahasa yang lebih lugas agar logika keras kepalamu itu mengerti?" bisik Renard, suaranya kini serak dan dipenuhi oleh kejujuran yang menelanjangi jiwanya.
"Aku benci mengakui ini, Arumi. Aku benci karena selama ini aku selalu bisa mengendalikan segala sesuatu dalam hidupku. Tapi sejak kamu melangkah masuk ke rumah ini, kehidupanku menjadi kacau balau."
Arumi menahan napasnya. Jantungnya berdebar sangat kencang, seolah bersiap melompat keluar dari rongga dadanya.
"Kontrak itu..." Renard menundukkan wajahnya, mempertemukan tatapannya tepat pada mata Arumi yang berkaca-kaca.
"...kontrak itu sekarang hanyalah selembar kertas sampah yang tidak ada artinya bagiku. Awalnya aku menggunakannya untuk menyelamatkan Mama. Tapi sekarang? Aku mempertahankan kertas itu hanya karena aku terlalu pengecut. Aku takut jika kertas itu tidak ada, aku tidak punya alasan logis untuk menahanmu tetap berada di sisiku."
Setetes air mata akhirnya lolos dari sudut mata Arumi, meluncur turun membasahi pipinya yang dihiasi riasan tipis.
Pengakuan itu adalah hal terindah yang pernah ia dengar sepanjang hidupnya.
Pria arogan, dingin, dan kaku ini baru saja menyerahkan seluruh ego dan kelemahannya tepat di bawah telapak kakinya.
"Aku tidak membelamu dari keparat Dirgantara itu sebagai rekan bisnis, Arumi," lanjut Renard, ibu jarinya kini terangkat untuk mengusap lembut air mata di pipi istrinya.
Sentuhannya terasa sedikit gemetar. "Aku membelamu sebagai seorang pria... yang tidak rela melihat wanita yang dicintainya dihina oleh siapa pun."
Dunia di sekitar Arumi seolah berhenti berputar.
Kata ajaib itu akhirnya terucap, menghancurkan seluruh dinding baja yang selama ini memisahkan mereka.
Tanpa memedulikan gengsi atau rasa malu, Arumi melepaskan cengkeramannya pada jas Renard, lalu memajukan tubuhnya.
Ia melingkarkan kedua lengannya ke leher Renard, memeluk pria besar itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya yang basah oleh air mata haru di ceruk leher suaminya.
Renard tersentak kaget selama sedetik, tubuhnya menegang karena tidak terbiasa dengan afeksi fisik yang tiba-tiba.
Namun detik berikutnya, ia mengalah.
Ia melingkarkan kedua lengannya yang kekar di pinggang ramping Arumi, membalas pelukan istrinya dengan kekuatan yang menyiratkan betapa ia tidak ingin melepaskan wanita itu pergi, membenamkan wajahnya di puncak rambut Arumi yang beraroma vanila.
"Saya juga mencintaimu, Renard," bisik Arumi di sela isak tangis bahagianya, suaranya teredam di balik kemeja suaminya. "Bahkan jika tidak pernah ada kontrak sejak awal, saya pasti akan tetap jatuh cinta pada Anda."
Malam itu, diiringi suara rintik hujan yang jatuh membasahi atap mansion Wijaya, tidak ada lagi batas antara atasan dan bawahan, tidak ada lagi tembok antara kreditur dan debitur.
Yang tersisa hanyalah dua anak manusia yang akhirnya menemukan rumah di dalam pelukan satu sama lain, mengakhiri sandiwara panjang mereka dengan sebuah kenyataan yang jauh lebih manis dari rencana apa pun.