NovelToon NovelToon
Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Singgasana Berdarah Sang Terpidana

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Psikopat / Balas Dendam
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Di dunia lama, dia adalah narapidana paling ditakuti, seorang maestro strategi yang menghancurkan satu negara dari balik jeruji besi. Dia dieksekusi dengan kursi listrik tepat saat sistem melakukan sinkronisasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Para prajurit benteng yang sudah tegang sedari awal perjalanan, kini harus bertarung mati-matian menahan gempuran liar para perompak hutan tersebut. Benturan keras antara pedang dan perisai bergema memekakkan telinga, diiringi cipratan darah yang mewarnai lumpur jalanan menjadi merah.

Kaelos menebaskan pedangnya dengan gerakan lamban dan panik, berhasil menangkis kapak seorang bandit yang melompat ke arahnya. Air mata ketakutan kembali menggenang di mata sang Baron, merasa kutukan kesialan terus menerus mengejarnya tanpa henti.

Di dalam kereta hitam yang terus dihujani anak panah berapi, Valerius menghela napas panjang dengan raut wajah sangat bosan. Ia menyimpan kembali cangkir anggurnya yang belum habis ke atas meja kecil berukir emas.

"Sampah perbatasan memang tidak pernah tahu cara menyambut tamu dengan sopan," gumam Valerius pelan. Ia menendang pintu kereta bajanya hingga terbuka lebar, mengabaikan anak panah berapi yang menancap di bingkai kayunya.

Saat sepatu bot hitamnya menginjak tanah berlumpur, aura kematian yang luar biasa pekat langsung meledak keluar dari tubuhnya. Suhu udara di sekitar Hutan Kabut Hitam itu merosot drastis hingga menyentuh titik beku dalam hitungan detik.

Para bandit yang sedang beringas menebas prajurit benteng mendadak membeku di tempat, napas mereka mengeluarkan uap putih tebal. Insting bertahan hidup mereka yang primitif menjerit ketakutan, memperingatkan bahwa predator puncak baru saja memasuki arena perburuan.

Valerius berjalan santai menembus medan pertempuran yang kacau, tidak memedulikan ayunan senjata mematikan di sekelilingnya. Matanya yang segelap malam menatap pemimpin kelompok bandit itu, seorang pria raksasa bertelanjang dada dengan tato tengkorak di wajahnya.

Pemimpin bandit itu menelan ludah dengan susah payah, bulu kuduknya berdiri tegak merespons teror murni dari tatapan Valerius. "S-Siapa kau, anak anjing pucat?!" gertak pria raksasa itu, memaksakan diri mengayunkan gada besinya untuk menutupi rasa takut.

Valerius tidak menjawab pertanyaan bodoh itu sedikit pun. Ia hanya menarik Belati Penyedot Jiwa dari balik jubahnya dengan gerakan yang sangat lambat dan tenang.

Bilah obsidian itu seolah menyerap sisa cahaya di dalam hutan, memancarkan dengungan pelan yang membuat gendang telinga terasa sakit. Valerius mengaktifkan skill 'Langkah Bayangan', dan dalam sekejap mata ia telah berdiri tepat di depan dada raksasa tersebut.

Sebelum pemimpin bandit itu sempat mengedipkan matanya, Valerius menancapkan belati iblis itu tepat ke ulu hati sang raksasa. Gerakannya begitu halus dan elegan, seolah ia hanya sedang menyematkan sebuah bros bunga pada kemeja sutra.

Pria raksasa itu terbelalak lebar, gada besinya terlepas dari genggaman dan jatuh berdebum ke atas lumpur. Mulutnya terbuka lebar untuk menjerit, namun tidak ada suara yang keluar selain desisan udara yang dipaksakan.

Efek Kutukan Agoni dari belati itu seketika bekerja dengan sangat beringas dan mematikan. Valerius bisa melihat secara fisik bagaimana energi kehidupan dan Mana pria itu ditarik paksa keluar dari pori-pori kulitnya berupa kabut abu-abu.

Wajah pemimpin bandit itu menua puluhan tahun dalam hitungan detik, kulitnya mengering dan menempel ketat pada tulang tengkoraknya. Ia merasakan agoni absolut yang tak terbayangkan manusia, rasa sakit ketika jiwanya dicabik-cabik paksa saat jantungnya masih berdetak.

Valerius menikmati pemandangan mengerikan itu dengan senyuman iblis yang mengembang lebar di wajahnya. Ia menyerap seluruh energi murni itu melalui belatinya, merasakan aliran kekuatan baru yang membakar otot-ototnya dengan nikmat.

Layar merah sistem langsung membanjiri sudut pandangannya dengan rentetan notifikasi yang memuaskan.

[Efek Belati Penyedot Jiwa Aktif. Energi Kehidupan Target Berhasil Diserap Sepenuhnya.][Kondisi Mental Target: Siksaan Jiwa Absolut. Hadiah: +400 Poin Dosa.]

Setelah tubuh pemimpin bandit itu berubah menjadi sekadar kerangka berlapis kulit kering, Valerius menarik belatinya dengan kasar. Mayat hampa itu ambruk hancur menjadi debu abu-abu saat bersentuhan dengan tanah berlumpur.

Seluruh anggota bandit yang melihat kejadian mustahil itu langsung menjatuhkan senjata mereka dengan tangan gemetar parah. Mental mereka hancur berkeping-keping seketika, beberapa dari mereka jatuh berlutut sambil menangis mengompol di celana.

"M-Monster! Dia bukan manusia!" jerit salah seorang bandit kurus, berbalik arah dan mencoba berlari kabur menembus semak-semak.

Valerius menoleh lambat ke arah para prajurit benteng yang masih terpaku kaku karena takjub dan ngeri. "Kenapa kalian diam saja mematung seperti orang tolol?" suara Valerius mengalun dingin, memotong udara beku di hutan tersebut.

Kaelos yang berada di atas kudanya tersentak sadar, wajahnya masih sepucat kapas melihat sihir gelap Valerius barusan. "A-Apa perintah Anda, Tuan Muda?" tanya sang Baron dengan gigi yang gemeretak beradu.

"Aku tidak ingin mengotori tanganku lebih jauh dengan darah sampah-sampah pengecut ini," ucap Valerius sambil memasukkan kembali belatinya ke sarung kulit. "Potong kedua kaki setiap bandit yang tersisa, dan biarkan mereka merangkak mati perlahan di hutan ini sebagai makan malam serigala."

Perintah brutal itu membuat beberapa prajurit muda menelan ludah, membayangkan kekejaman lambat yang harus mereka lakukan. Namun, tatapan maut Valerius yang menyapu barisan mereka langsung membungkam seluruh keraguan moral di hati para ksatria itu.

"L-Laksanakan perintah Tuan Valerius sekarang juga! Jangan biarkan satupun dari mereka lolos utuh!" raung Kaelos yang ketakutan setengah mati, memerintahkan pasukannya untuk segera mengeksekusi.

Para prajurit benteng itu maju dengan pedang terhunus, wajah mereka berubah keras saat mulai menebas kaki para bandit yang memohon ampun. Jeritan agoni massal seketika meledak memenuhi Hutan Kabut Hitam, menciptakan paduan suara keputusasaan yang sangat merdu di telinga Valerius.

Valerius berdiri di tengah pertumpahan darah itu dengan sangat santai, mengamati setiap prajuritnya yang kini mulai terbiasa dengan kekejaman. Ia sedang memaksa anjing-anjing barunya ini untuk ikut mencicipi darah, mengikat mereka semua dalam sebuah dosa komunal yang tak bisa dihapuskan.

Semakin banyak jeritan yang terdengar, semakin kuat pula ikatan teror yang Valerius tanamkan di dalam benak seratus prajurit tersebut. Mereka bukan lagi ksatria pembela kebenaran Orde Cahaya, melainkan telah resmi menjadi algojo pribadi dari sang dalang kehancuran.

Valerius membalikkan badannya dan melangkah kembali menaiki kereta kuda hitamnya yang hangat. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah tumpukan bandit cacat yang meronta-ronta di atas lumpur berdarah itu.

"Percepat laju kereta ini, Kaelos. Aku tidak ingin darah kotor mereka menodai roda keretaku terlalu lama," perintah Valerius dari dalam kabin.

Kaelos segera memacu kudanya ke depan, meneriakkan perintah kasar kepada sisa pasukannya untuk kembali membentuk barisan barikade pelindung. Iring-iringan maut itu kembali bergerak membelah hutan yang gelap, meninggalkan panggung pembantaian sadis di belakang mereka.

Valerius kembali menyilangkan kakinya, mengambil cangkir anggur peraknya yang tadi sempat ia tinggalkan di atas meja. Ia menyesap anggur merah itu perlahan, matanya menatap tajam ke arah ufuk selatan di mana ibu kota Aethelgard berada.

"Bersiaplah, kakakku sayang," bisik Valerius seraya menatap bayangan wajahnya di permukaan anggur yang beriak pelan. "Badai yang kau undang sendiri ini tidak akan berhenti hingga setiap inci istanamu rata dengan tanah berlumpur darah."

Permainan psikologis pembukanya telah berhasil menciptakan riak kepanikan yang luar biasa hebat di ibu kota. Langkah selanjutnya adalah menebas langsung leher keangkuhan dari para bangsawan tinggi yang selama ini mengendalikan dunia fana ini.

Sistem holografik kembali menyala terang, menandakan selesainya sebuah pencapaian gelap di dalam log riwayatnya. Poin dosanya terus menumpuk bagai gunung emas, menunggu saat yang tepat untuk ditukarkan dengan kekuatan penghancur dewa yang sesungguhnya.

Singgasana berdarah miliknya sudah mulai terbentuk perlahan dari patahan tulang musuh-musuhnya. Dan ia tidak akan berhenti merenggut nyawa sampai ia duduk di atas takhta tertinggi di ujung dunia.

1
Turki Salman
seru banget
jamanku
cerita baru yang mantap thor
Sofia
seru banget ceritanya
Op L
💪💪
Yuu Li
go napi
Roaffi Jj
menarik dan seru
Lamia Dante
👍👍👍
Lamia Dante
seru nih ceritanya
Irzad
mohon dukungannya terimakasih
Jake King
bantai semua tor
ikyar
💪
ikyar
👍👍
ikyar
bagus seru baantai
ikyar
🤭
ikyar
lanjut thor
zehn hart
Mantap/Scream/ Jangan lupa mampir ya/Smirk/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!