NovelToon NovelToon
Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Jejak Kembali Ke Piala Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Anak Genius
Popularitas:409
Nilai: 5
Nama Author: Naga Ruwet

Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.


yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part II

Tak lama kemudian, muncullah deretan tautan berwarna biru dan ungu. Dika mulai membuka satu per satu, membaca isinya dengan cepat dan teliti. Pengetahuannya dari masa depan sangat membantu di sini. Dia tahu situs mana yang resmi, mana yang forum diskusi terpercaya, dan mana yang berisi berita akurat.

"Lihat deh, Rio," kata Dika sambil menunjuk ke layar, suaranya berbisik penuh antusiasme, "Ini dia. Bitcoin. Diciptakan tahun lalu, 2009, oleh orang yang bernama Satoshi Nakamoto. Lihat nih tulisannya... 'Mata uang digital terdesentralisasi, tidak dikendalikan bank atau negara mana pun'. Ini revolusi, Rio. Nanti ke depannya, semua orang bakal pakai konsep ini."

Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal, wajahnya makin bingung. "Maksudnya... uang ini nggak ada bentuknya? Nggak ada kertasnya, nggak ada logamnya? Terus gimana cara pakainya? Terus nilainya berapa? Mahal nggak?"

Dika tersenyum, lalu menunjuk ke sebuah grafik harga sederhana yang ada di salah satu situs berita teknologi.

"Ini dia poin paling penting, Rio. Coba lihat. Hari ini, bulan Mei 2010 ini, harga 1 Bitcoin itu sekitar... sekitar 0,06 Dolar Amerika. Kalau dirupiahkan, itu kira-kira kurang dari lima ratus rupiah! Lima ratus rupiah, Rio! Cuma harga satu gorengan atau satu gelas es teh manis, kita bisa beli satu keping utuh!"

Mulut Rio menganga lebar sampai bisa dimasukkan telur. "HAH?! Segitu murahnya?! Terus... nanti nanti harganya jadi berapa? Seriusan bisa mahal?"

Dika menatap sahabatnya itu lekat-lekat, matanya serius sekali.

"Rio... aku nggak bohong sama kamu. Aku punya firasat kuat banget soal ini. Beberapa tahun lagi, tahun 2013 mungkin, harganya bisa tembus ratusan dolar. Terus nanti di tahun-tahun berikutnya, nilainya bakal melonjak sampai ribuan, puluhan ribu, bahkan ratusan ribu dolar per kepingnya. Kalau kita beli sekarang, simpan saja diam-diam di dompet digital kita, nanti saat kita butuh uang buat kuliah, buat modal usaha, atau buat kebutuhan besar... uang itu sudah berubah jadi kekayaan luar biasa."

Rio masih terlihat ragu, matanya beralih dari layar ke wajah Dika berkali-kali. "Tapi... tapi kalau ini penipuan gimana? Kalau nanti uangnya hilang gimana? Atau kalau tiba-tiba dilarang pemerintah gimana? Ayahku selalu bilang, kalau ada tawaran untung besar dalam sekejap, biasanya itu jebakan."

Dika mengerti kekhawatiran Rio. Wajar sekali orang tahun 2010 tidak percaya hal ini. Konsepnya terlalu asing. Tapi Dika tahu fakta sejarahnya.

"Kamu benar, Rio. Aku nggak suruh kita masukkan semua uang kita di sini. Kita pakai uang receh saja. Uang jajan sisa, uang tabungan recehan. Anggap saja kita buang uang itu, kalau rugi pun nggak sakit hati. Tapi kalau benar apa yang aku pikirkan... kita bakal bersyukur banget pernah duduk di sini hari ini."

Rio mengangguk pelan, mulai percaya karena ia kenal betul sahabatnya ini. Dika tidak pernah berani sembarangan, apalagi sejak kemarin, sikapnya jadi sangat bijak dan dewasa.

"Oke, deh. Aku ikut. Terus... caranya belinya gimana? Di mana tokonya? Kita harus pesan lewat pos apa gimana?" tanya Rio bersemangat lagi.

Dika tertawa kecil. "Nggak ada toko fisiknya, Rio. Semua lewat internet. Ada beberapa cara. Ada yang bisa ditukar lewat forum, ada yang bisa didapatkan dengan cara 'menambang' alias membiarkan komputer bekerja memecahkan kode matematika. Nah, aku baru baca nih... katanya kalau kita punya komputer, kita bisa jalankan program penambangan, dan kita bakal dapat Bitcoin sebagai bayaran. Tapi masalahnya, komputer di rumah kita kan jadul banget, pasti lama banget dapatnya."

Dika berpikir sejenak, jari-jarinya mengetuk meja pelan. Ia sedang menyusun strategi di kepalanya.

"Untuk awal, rencanaku begini. Pertama, kita harus buat dompet digital dulu. Tempat menyimpan koin-koin ini. Aku sudah catat alamat situs penyedia dompet yang aman. Kedua, kita mulai mengumpulkan uang. Setiap hari, dari uang jajan kita, kita sisakan seribu atau dua ribu rupiah. Nanti kalau sudah terkumpul cukup, kita cari orang yang mau jual Bitcoin lewat forum lokal Indonesia, kita ketemuan atau transfer uang, terus mereka kirim koinnya ke dompet kita. Pelan-pelan saja, dikit-dikit."

Dika lalu mengeluarkan buku tulis kecil dan pena dari saku tasnya, mulai mencatat alamat-alamat situs penting, langkah-langkah pembuatan akun, dan hal-hal yang harus diingat dengan tulisan tangan rapi. Ia juga mencatat peringatan keras: Jangan lupa kata sandi, Jangan berikan kunci pribadi pada siapa pun.

Sambil menulis, Dika berbicara pelan pada Rio.

"Ingat ya, Rio. Ini rahasia kita berdua. Jangan kasih tahu siapa-siapa dulu, termasuk orang tua kita. Nanti kalau sudah kelihatan hasilnya, baru kita kasih kejutan. Takutnya kalau sekarang cerita, mereka malah khawatir atau menganggap kita main-main."

"Siap! Aku bakal kunci mulutku rapat-rapat. Mulutku ini kayak peti mati, sekali tutup nggak bakal ada suara keluar," jawab Rio sambil mengunci bibirnya dengan gerakan lucu, lalu menyimpan kunci imajiner itu ke saku celananya, membuat Dika tertawa lepas.

Dua jam berlalu begitu saja. Mereka menghabiskan waktu itu untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya, mencatat hal-hal krusial, dan membuat akun dompet digital pertama mereka. Rasanya sangat mendebarkan. Bagi mereka berdua, ini bukan sekadar berselancar di internet biasa. Ini adalah langkah pertama mereka membangun benteng masa depan.

Saat keluar dari warnet, langit sudah mulai gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menerangi jalanan beraspal yang mulai sepi. Angin sore berhembus agak kencang, membawa udara dingin.

Dika berjalan dengan tangan di balik saku celana, hatinya terasa sangat lega dan puas. Di satu sisi, dia sedang membangun fisik dan kemampuan sebagai atlet juara. Di sisi lain, dia sedang menanam benih kekayaan yang akan tumbuh raksasa di masa depan.

"Eh, Dik," panggil Rio memecah keheningan, berjalan beriringan di sebelahnya. "Kamu tahu nggak? Sejak kamu bangun tidur kemarin pagi, kamu berubah banget. Dulu kamu anak yang santai, cuma mikirin main dan sekolah. Sekarang... kamu mikirin bola, mikirin masa depan, mikirin uang, mikirin segala hal. Kadang aku mikir, kamu itu beneran Dika yang aku kenal dari SD nggak sih? Atau kamu orang asing yang masuk ke badan Dika?"

Rio mengatakannya dengan nada bercanda, tapi ada rasa penasaran yang tulus di sana.

Dika berhenti melangkah sejenak, menatap wajah sahabatnya di bawah remang lampu jalan. Ia tersenyum hangat, lalu menepuk bahu Rio dengan penuh rasa persahabatan.

"Akulah Dika yang sama, Rio. Cuma... kemarin itu aku mimpi yang sangat panjang dan nyata banget. Aku mimpi aku hidup sampai tua, tapi hidupku penuh penyesalan, aku gagal jadi pemain bola, aku susah cari uang, aku nggak bisa bahagiain orang tua. Pas bangun dari mimpi itu, aku kaget banget dan bersyukur ternyata aku masih muda, ternyata itu cuma mimpi. Makanya aku bertekad, aku nggak mau hal di mimpi itu jadi kenyataan. Aku mau ubah semuanya. Aku mau hidup yang paling keren, paling bahagia, dan paling sukses buat kita semua."

Rio diam sejenak, menatap mata Dika yang berbinar jujur. Lalu perlahan, senyum lebar merekah di wajah bulatnya.

"Kalau begitu mimpinya... aku bersyukur banget kamu mimpi begitu. Karena sekarang, aku jadi ikut terbawa semangatmu. Aku percaya deh sama kamu, Dik. Apapun yang kamu rencanakan, aku ikut sampai akhir. Mau jadi pemain bola, mau jadi pedagang uang internet, mau jadi apa saja... kita jalanin bareng."

"Makasih, Rio. Kamu sahabat terbaik yang pernah ada," jawab Dika tulus.

Mereka pun kembali melangkah, berjalan menuju perempatan jalan tempat mereka biasanya berpisah pulang ke rumah masing-masing. Di ujung jalan itu, terlihat bayangan kerumunan orang di warung pinggir jalan. Ada televisi yang dinyalakan besar-besar, menayangkan pertandingan sepak bola liga luar negeri. Beberapa orang tua dan pemuda duduk berkerumun sambil minum kopi dan berteriak-teriak menyemangati tim kesukaan mereka.

Dika berhenti sejenak, menatap layar televisi kecil itu. Di sana, terlihat para pemain profesional berlari di lapangan rumput hijau yang luas, di stadion megah yang penuh penonton.

Suara komentator terdengar samar terbawa angin: "...dan inilah bintang muda itu, ia berusia 19 tahun, bermain sangat brilian, menjadi incaran klub-klub besar Eropa..."

Hati Dika bergetar hebat. Itulah tujuannya. Itulah tempat yang ingin ia tuju. Dia tidak mau hanya menjadi penonton seperti orang-orang di warung itu, atau seperti dirinya di masa depan nanti. Dia ingin menjadi orang yang ada di dalam layar itu. Dia ingin menjadi yang dibicarakan dunia.

"Dik? Kenapa berhenti?" tanya Rio.

Dika menggeleng pelan, menyingkirkan lamunannya, lalu menatap Rio dengan tekad yang makin membaja.

"Nggak apa-apa, Rio. Cuma ingat satu hal lagi. Mulai besok, jadwal kita makin padat. Pagi lari jarak jauh, siang sekolah, sore latihan bola, malam aku bakal belajar taktik dan strategi. Kita nggak boleh buang waktu sedetik pun. Apalagi sekarang kita sudah punya rencana uang, kita harus pastikan badan kita prima terus biar bisa latihan keras."

"Siap, Kapten! Apa saja deh," jawab Rio sambil memberi hormat jenaka.

Sesampainya di perempatan, mereka berpisah. Rio berbelok ke kanan, Dika lurus ke depan menuju rumahnya. Langkah Dika terasa semakin ringan dan penuh makna. Di dalam saku bajunya, ada buku catatan kecil berisi informasi berharga tentang masa depan keuangan mereka. Di dalam kepalanya, tersimpan ribuan strategi sepak bola. Dan di dalam dadanya, ada cinta besar untuk keluarganya yang menjadi bahan bakar semangatnya.

Malam itu, saat Dika sampai di rumah, ia disambut oleh aroma masakan yang menggugah selera. Ibu sedang menata piring di meja makan, Ayah baru saja pulang kerja dan sedang mencuci tangan di kamar mandi, sementara Rina sedang bermain boneka di ruang tengah sambil bersenandung riang.

"Kakak pulang!" seru Rina berlari menyambut, lalu berhenti mendadak sambil tertawa, "Kakak bau keringat lagi deh! Habis main bola lagi ya?"

Dika tertawa sambil menggendong adiknya kecil itu berputar-putar, membuat Rina tertawa kegirangan. "Iya dong. Kakak harus rajin biar cepat besar, cepat jago, terus belikan Rina rumah boneka besar kan? Dan belikan Ayah Ibu rumah bagus sama mobil mewah."

Ibu tersenyum sambil menggelengkan kepala, matanya berkaca-kaca melihat keakraban itu. "Dasar anak ini, kalau ngomong besar sekali. Tapi Ibu suka dengarnya. Semoga saja terwujud ya, Nak. Yang penting kamu sehat, pintar, dan jadi anak baik, itu sudah cukup buat Ibu sama Ayah."

Ayah keluar dari kamar mandi, duduk di kursi meja makan sambil mengelap wajahnya dengan handuk kecil. Ia menatap Dika lekat-lekat.

"Kamu pulangnya makin sore saja belakangan ini. Kerja keras sekali ya, Le?"

Dika duduk di kursi makan, menatap kedua orang tuanya bergantian dengan tatapan yang sangat serius dan tulus.

"Iya, Yah, Bu. Aku mau berjuang sekuat tenaga. Aku janji, nanti nanti, nama Pratama ini bakal dikenal banyak orang. Aku bakal bawa kebanggaan buat keluarga kita. Tunggu saja ya."

Ayah tersenyum bangga, lalu mengangguk mantap. "Ayah percaya sama kamu. Apapun yang kamu lakukan, asalkan halal dan benar, Ayah sama Ibu bakal dukung sampai kapan pun. Ingat, langkah pelan tapi pasti lebih baik daripada langkah cepat tapi terjatuh."

Malam itu, di kamarnya lagi-lagi Dika sendirian menatap langit-langit kamar. Ia tersenyum puas. Hari ini ia telah meletakkan dua batu pondasi yang sangat kokoh: pondasi bakat dan kemampuan, serta pondasi keamanan finansial.

Perjalanan masih sangat panjang. Masih ada rintangan, persaingan ketat, rasa lelah, ujian sekolah, dan tantangan hidup lainnya yang menunggu di depan mata. Tapi Dika tidak takut. Ia memiliki kompas masa depan, semangat masa muda, dan kasih sayang keluarga yang tak terhingga.

"Tunggu saja, dunia. Aku datang membawa segala persiapan yang ada. Aku tidak akan sekadar ikut bermain. Aku akan mengubah permainan itu sendiri," batin Dika sebelum akhirnya memejamkan mata, beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga demi hari esok yang lebih berat dan lebih hebat lagi.

1
WER
semangat author bikin bab nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!