King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Pintu kayu mahoni tebal kamar utama Kastel Stone tertutup dengan bunyi berdentang pelan, mengunci gemerlap dan sisa-sisa keriuhan pesta pernikahan megah yang disiapkan dalam semalam.
Kamar bernuansa gotik modern itu kini bermandikan cahaya temaram dari lampu dinding kuningan. Di atas ranjang berukuran king-size yang dilapisi seprai sutra abu-abu gelap, Olivier Martinez duduk sembari melepaskan hiasan rambut pengantinnya satu demi satu.
Di sudut ruangan, King Stone berdiri mematung. Jas tuksedo hitamnya sudah tersampir di kursi, menyisakan kemeja putih yang tiga kancing teratasnya sengaja dibuka, memperlihatkan gurat lelah sekaligus ketegangan yang teramat pekat di wajah tampannya.
Sepasang mata elang sang penguasa Chicago tidak berkedip, mengunci sosok wanita yang kini telah resmi menyandang nama belakangnya.
"El..." panggil King, suaranya terdengar begitu serak, hampir menyerupai bisikan putus asa. Ia melangkah mendekat dengan sangat pelan, seolah takut langkah kakinya yang berat akan membuat ilusi indah di depannya menguap.
Olivier menoleh, menatap suaminya dengan wajah datar yang tidak terbaca. "Sudah kubilang di gereja tadi, King. Mandilah, lalu tidur. Jangan berpikir macam-macam."
King mendadak menjatuhkan kedua lututnya di tepi ranjang, berlutut menghadap Olivier yang sedang duduk. Pria bertubuh monster yang ditakuti oleh seluruh klan mafia jalur barat itu kini memasang wajah memelas yang teramat menyedihkan.
Kedua tangan kekarnya perlahan terangkat, memegangi jemari tangan Olivier yang hangat.
"Hanya ciuman saja, Sayang... Please. Aku merindukanmu setengah mati, El," mohon King dengan nada suara yang bergetar.
"Aku berjanji tidak akan menyentuh yang lain. Aku tidak akan merobek jahitan ini. Hanya ciuman... demi Tuhan, jiwaku rasanya hampir mati selama sepuluh tahun ini."
Olivier mengembuskan napas panjang, menarik tangannya dari cengkeraman King dengan pelan. Ia berdiri dari ranjang, menatap King dari atas ke bawah. "Aku akan tidur di kamar Nora saja malam ini. Dia pasti butuh adaptasi di kastel sebesar ini."
"Tidak! Jangan!" King dengan cepat bangkit berdiri, menghalangi jalur Olivier dengan tubuh tegapnya.
Wajah pucatnya mendadak dipenuhi kepanikan murni seolah ia baru saja dijatuhi hukuman mati. "Jangan tidur di sana, El. Jangan hukum aku seperti ini... Kumohon. Tidurlah di sini, aku akan tidur di sofa, atau di lantai, di mana pun, asal aku bisa melihatmu saat aku membuka mata besok pagi."
Olivier Martinez menahan sudut bibirnya agar tidak berkedut. Sungguh, ada rasa ingin tertawa yang teramat besar bergejolak di dadanya melihat bagaimana seorang King Stone—singa jantan Chicago yang paling Playboy—kini bertingkah seperti anak anjing yang ketakutan kehilangan tuannya.
Untuk meredakan ketegangan, Olivier kembali duduk di tepi ranjang, menjulurkan kedua kakinya yang terbalut stoking tipis, yang terasa pegal luar biasa setelah berdiri berjam-jam di altar menggunakan sepatu hak tinggi.
"Kakiku pegal," celetuk Olivier pendek, melirik King dengan sudut matanya yang cerdas.
Melihat kode tak kasat mata itu, otak taktis King Stone bekerja dengan kecepatan kilat.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, King kembali berlutut di lantai marmer. Dengan gerakan yang teramat hati-hati dan lembut, tangan kekarnya meraih pergelangan kaki Olivier, menumpukannya di atas pahanya sendiri, lalu mulai memijat betis dan telapak kaki istrinya dengan ritme yang pas.
"Akan kupijat sepanjang malam, Sayang," ucap King dengan binar mata yang mendadak penuh harapan, mendongak menatap Olivier dengan senyuman miring khasnya yang kini tampak konyol. "Apakah setelah pijatan ini aku bisa mendapatkan ciuman sepanjang malam?"
Olivier menatap kepala King yang menunduk fokus memijat kakinya. Jemari pria itu yang biasanya mencengkeram hulu senjata atau mematahkan rahang musuh, kini bergerak begitu penuh perasaan di atas kulitnya.
Suasana kamar yang tadinya dipenuhi ketegangan komikal mendadak perlahan bergeser, diselimuti oleh keheningan yang mendalam.
Olivier menatap helai-helai rambut hitam King, memperhatikan bagaimana bahu tegap suaminya tampak sedikit turun, memikul beban tak kasat mata yang selama ini tersembunyi di balik jubah kekuasaan mafia.
"Bagaimana kabarmu selama ini... King?" tanya Olivier tiba-kira. Suaranya mengalun sangat lembut, memecah keheningan malam dengan nada yang teramat personal.
Deg.
Gerakan tangan King Stone di pergelangan kaki Olivier seketika terhenti.
Tubuh kekarnya membeku di tempat, seolah kalimat pendek dari Olivier mengandung daya kejut listrik yang membekukan seluruh sarafnya. Atmosfer di dalam kamar utama itu mendadak berubah drastis, menjadi begitu sesak dan berat hingga oksigen di sekitar mereka seolah menipis.
King terdiam selama beberapa detik yang menyiksa. Ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kembali topeng ketegaran yang selama sepuluh tahun ini ia pakai di depan dunia luar.
Pria itu perlahan mendongak, memaksakan sebuah senyuman di sudut bibirnya—sebuah senyuman pahit yang teramat getir, beradu dengan sepasang mata elangnya yang dalam sekejap mulai berkaca-kaca, digenangi oleh air mata penyesalan yang membendung.
"Aku... aku baik, El," jawab King, suaranya terdengar sangat parau dan bergetar hebat di ujung kalimat.
Dada bidangnya berdenyut dengan rasa sesak yang teramat luar biasa, seolah ada bongkahan es besar yang menghantam hulu jantungnya.
Olivier menatap lurus ke dalam mata elang yang memerah itu. Ia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana pertahanan seorang King Stone sedang hancur lebur di depannya.
"Kau sungguh baik-baik saja?" tanya Olivier lagi, menuntut kejujuran paling murni dari pria yang kini berlutut di bawah kakinya.
King Stone mengangguk pelan, mencoba mempertahankan senyuman pahitnya agar tidak runtuh. Namun, setitik air mata pertama lolos melewati pipi tegasnya, jatuh membasahi stoking di kaki Olivier.
Olivier tidak berkata apa-apa lagi. Ia perlahan menarik tangan kanan King, lalu menggulung lengan kemeja putih suaminya ke atas hingga ke batas siku.
Di sana, di atas kulit lengan kekar King, terukir untaian tato hitam pekat yang melingkar rumit—tato yang membentuk koordinat geografis apartemen lantai enam belas tempat mereka dulu tinggal.
"Lalu tato ini? Kau yakin kau baik-baik saja, Kingston?" bisik Olivier, matanya ikut berkaca-kaca saat menyentuh permukaan tato yang terasa dingin itu.
Pertahanan King Stone pecah malam itu. Topeng keangkuhan sang pangeran runtuh sepenuhnya tanpa sisa.
King menjatuhkan wajahnya di atas pangkuan Olivier, menyembunyikan tangisannya yang pecah dalam suara isakan yang teramat memilukan. Seluruh tubuh tegapnya bergetar hebat di bawah kendali emosi yang selama sepuluh tahun ini ia kubur hidup-hidup di dasar jiwanya.
"Aku tidak baik-baik saja, El... Aku benar-benar merindukanmu setengah mati, Sayang..." ratap King, suaranya teredam oleh kain gaun tidur Olivier. "Setiap malam... setiap detik sejak aku meninggalkan mu, aku merasa seperti mayat hidup yang berjalan di kastel ini. Aku ingin terlihat baik-baik saja di depan Daddy, kembaran ku, di depan klan, di depan musuh-musuhku... tapi jiwaku hancur, El."
King mendongak dengan wajah yang sudah basah kuyup oleh air mata, menatap Olivier dengan pandangan penuh keputusasaan yang teramat pekat.
"Kalau saja... kalau saja tidak ada kata perjodohan sialan waktu itu... apa mungkin kita tetap baik-baik saja sekarang? Apa mungkin aku tetap bisa bersamamu dan melihat Nora lahir ke dunia?!"
King mencengkeram kain seprai dengan erat, dadanya naik turun memburu karena sesak yang mendalam. "Aku egois, Sayang... Masa mudaku... ketakutanku pada otoritas klan membuatku membuat keputusan paling bodoh seumur hidupku. Aku menghianatimu, Olivier... Aku membiarkanmu pergi dan berjuang sendirian dengan darah dagingku di rahimmu. Maafkan aku, Sayang... Maafkan aku..."
King kembali menundukkan kepalanya, bersujud di depan kaki Olivier dengan kepasrahan mutlak dari seorang budak cinta yang siap menerima eksekusi apa pun. "Hukum saja aku, El. Lakukan apa pun... cabut nyawaku jika itu bisa membayar sepuluh tahun penderitaanmu. Aku layak mendapatkannya."
Olivier Martinez menatap pria yang bersujud di depannya dengan perasaan yang campur aduk. Air matanya sendiri kini telah mengalir membasahi pipinya. Ia bisa merasakan penyesalan yang begitu murni dan gila dari setiap kata yang keluar dari bibir King. Rasa benci yang ia pelihara selama sepuluh tahun perlahan terkikis, runtuh oleh ketulusan air mata sang penguasa Chicago.
Olivier perlahan mengulurkan kedua tangannya, meraba rahang tegas King, lalu memaksa pria itu untuk kembali mendongak menatapnya.
"Hukuman?" tanya Olivier dengan nada suara yang mendadak berubah, tidak lagi sedingin es, melainkan dihiasi oleh sebuah intonasi rendah yang sarat akan makna lain yang teramat dalam.
King Stone mengangguk pelan dengan sisa air matanya, menatap sepasang mata bulat Olivier dengan kepatuhan mutlak. "Ya... apa pun hukumanmu, akan kulakukan."
Olivier Martinez menyeka air mata di pipi King dengan ibu jarinya, sebelum akhirnya sebuah senyuman miring yang teramat seksi dan memikat terukir di bibir ranumnya. Tatapan matanya mendadak berkilat oleh aura tantangan yang sanggup membakar seluruh gairah liar di dalam darah klan Stone.
"Kalau begitu... apa kau bisa membuatku kesulitan berjalan besok?" bisik Olivier tepat di depan bibir King, menghantarkan uap napas hangat yang seketika membuat seluruh bulu kuduk King meremang.
Deg.
Jantung King Stone kembali berdegup dengan hentakan gila yang luar biasa kencang.
Rasa sedih dan sesak yang tadi menguasai dirinya mendadak sirna dalam satu kedipan mata, digantikan oleh gelombang kejutan adrenalin yang meledak-ledak ke seluruh pembuluh darahnya. King melotot sempurna, menatap istrinya dengan pandangan tidak percaya bercampur gairah yang mendadak memuncak hingga ke ubun-ubun.
"A-Apa, Sayang...?" suara King mendadak berubah serak, tenggorokannya terasa kering seketika. "Malam ini? Sekarang?!" Tangan kekar King bahkan sudah refleks bergerak menuju kancing kemejanya yang tersisa, siap merobek pakaiannya sendiri demi melaksanakan 'hukuman' gila tersebut.
Olivier dengan cepat menahan tangan King, menepuk dada bidang suaminya dengan satu pukulan pelan sembari terkekeh pelan melihat ketidaksabaran suaminya yang kembali bertingkah seperti monster kelaparan.
"Besok, King. Besok malam," ucap Olivier dengan kedipan mata yang penuh kemenangan misterius. "Malam ini, biarkan jahitan di perutmu beristirahat dulu agar besok kau memiliki tenaga penuh untuk menerima hukumanku. Sekarang, naiklah ke ranjang dan peluk aku sampai pagi."
Meskipun harus menahan gejolak gila di dalam dirinya selama dua puluh empat jam ke depan, King Stone tidak bisa memprotes. Ia langsung merangsek naik ke atas ranjang, menarik tubuh Olivier ke dalam dekapan sepasang lengan kekarnya dengan sangat erat, mengunci ratu barunya di dalam sangkar emas Kastel Stone dengan senyuman miring yang penuh antisipasi liar untuk hari esok.
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣