NovelToon NovelToon
In Between Us

In Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:256
Nilai: 5
Nama Author: Hhj cute

Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.

Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.

Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.

Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.

Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

"Princess … I Miss you so much!" pekiknya.

Natalie menunduk malu mendengarnya. Demi apapun, ia nggak akan ngaku kalau orang yang sedang teriak-teriak nggak jelas itu adalah sahabatnya. Bukan apa, lihat saja orang-orang yang lewat memusatkan perhatian mereka.

"Nata … gue kangen sama Lo …," ucap Nathan lebay, sambil memonyongkan bibirnya.

Plak !

Fabian menampar bibir Nathan, membuat sang empu semakin memajukan bibirnya sampai beberapa senti.

"Jijik, tau nggak," ujar Fabian.

"Ihh, Princess … masa iya pangeran di katain sama Upik abu," adunya dengan nada manja.

"Nathan, stop ya. Geli gue dengernya," ucap Natalie.

Nathan lantas menghentikan aksinya, tapi tak menghilangkan bibirnya yang cemberut. Komat-kamit nggak jelas di belakangnya.

"Nata, Lo mau ke mana? Ngapain keluar malem-malem gini?" tanya Fabian penasaran.

Bukan apa, ia hanya khawatir dengan sahabat perempuan satu-satunya itu. Apalagi ini sudah malam dan udara sangat dingin.

"Emm ini, gue mau ke rumah tante," alibinya.

"Yaudah kita anter kalau gitu. Daripada lo sendirian kan," tawar Fabian.

"Nggak usah, nggak usah. Gue nggak apa-apa kok. Lagian udah deket juga, di depan," tolaknya.

Jujur saja, Natalie merasa ketar-ketir saat ini. Tangannya keringat dingin, di tambah udara yang emang lagi dingin.

"Udah ayo kita anter aja. Lo duluan, kita jagain Lo dari belakang," keukeh Fabian.

Karena tidak ingin berdebat panjang dengan keduanya, Natalie lebih memilih cari aman. Dengan terpaksa ia kembali ke rumah tantenya. Di perjalanan, tak lupa ia membeli sesuatu untuk tantenya itu.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah Dewi. Ketiganya memasuki pekarangan rumah dengan motor.

"Thanks ya, udah anterin gue."

"Sans, kayak sama siapa aja Lo," kata Nathan.

"Kalian mau mampir dulu atau langsung pulang?" tanya Natalie basa-basi.

"Ya mampir dong. Udah lama gue nggak ketemu sama Tante Dewi," ucap Nathan semangat.

Sedangkan Natalie, ia merutuki ucapannya tadi. Padahal dirinya berniat hanya untuk basa-basi agar keduanya segera pulang. Dan sekarang, ia sendiri yang kena batunya. Fabian dan Nathan meninggalkan Natalie yang masih diam teras depan.

"Hah, udahlah terserah. Capek gue," frustasinya.

Gagal sudah rencananya untuk pulang ke rumah. Tapi tidak apa-apa, nanti ia akan menyelinap keluar saat mereka sudah pulang.

Sedangkan di dalam, Fabian dan Nathan sudah duduk di sofa—bergabung dengan Dewi yang sedang menonton tv. Keduanya asyik memakan cemilan yang ada di atas meja, tanpa rasa sungkan sama sekali.

"Nata, sini gabung sama kita!" ajak Nathan.

Dengan langkah malas, Natalie menghampiri mereka. Dewi memberi kode kepada Natalie, menyiratkan kenapa kedua bocah itu bisa ada di sini bersamanya. Ia hanya mengedikkan bahu pasrah.

"Kok bisa?" tanya Dewi tanpa suara.

"Ketemu di jalan," balasnya.

"Ohhh." Dewi manggut-manggut mengerti.

"Tante, browniesnya ada lagi nggak? Udah abis nih," ucap Nathan ngelunjak.

Bukannya apa, brownies yang semula satu piring penuh kini hanya tersisa piringnya saja. Padahal di dalam mulut Nathan masih banyak, tapi kedua tangannya menggenggam penuh brownies.

"Jangan Tante, jangan dengerin omongan dia. Tapi, kalau masih ada juga nggak apa-apa kok sih," ujar Fabian sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Yeuh, sama aja Lo," maki Natalie.

"Udah-udah jangan ribut. Masih banyak kok di dapur. Bentar ya, tante ambilin dulu," lerai Dewi.

Natalie dengan gemas mencubit tangan Nathan dan Fabian. Nggak keras kok, rasanya kayak di gigit semut. Tapi mereka berdua aja yang lebai, kayak di apakan aja.

"Princess, Lo nggak boleh kdrt dong sama pangeran. Nanti nggak dapat warisan Lo dari gue," ucap Nathan dramatis.

"Aduh duh, duh, pangeran yang tampan dari genteng, gue tuh ya meskipun nggak Lo kasih warisan juga nggak apa-apa kok. Masih ada Fabian yang akan menghidupi gue," sahut Natalie mengikuti drama yang di buat Nathan.

"Princess, tega kamu sama pangeran." dramatis Nathan, berlagak menangis sambil mengusap pipinya yang tidak ada apa-apa.

"Pangeran, kamu kejam!"

"Tunggu princess—"

"Tante Dewi, brownies yang aku minta mana!" teriak Nisa yang menuruni tangga.

Drama yang mereka lakukan terhenti, digantikan dengan pandangan yang kurang suka.

"TANTE!" teriaknya sekali lagi.

Sedangkan mereka bertiga hanya memutar bola matanya malas. Tak bisakah bicara yang normal? kenapa harus teriak-teriak coba. Kan bisa bicara pelan-pelan tanpa perlu berteriak. Lepas lama-lama tuh tenggorokan kalau kebanyakan teriak.

"Ada apa sih, Nisa. Jangan teriak-teriak udah malem, kasian tetangga bisa keganggu sama teriakan kamu," ucap Dewi memperingati.

"Biarin kenapa sih, Tan. Orang juga suara-suara aku, kenapa harus mikirin tetangga. Lagian ya, Tante kan udah aku suruh untuk membuat brownies—sekarang mana browniesnya?" Nisa menadahkan tangannya dengan enteng, tanpa memperdulikan peringatan tantenya itu.

"Kamu tuh, ya di bilangin baik-baik juga," omel Dewi.

"Udahlah Tan, jangan kebanyakan ngedongeng." Nisa merebut piring berisi brownies yang di bawa Dewi, melengos begitu saja tanpa memperdulikan tantenya.

Dewi merebut kembali piring itu sebelum Nisa benar-benar membawanya pergi. "Nisa, ini punya tamu. Lagian di dapur masih ada, kamu bisa ambil sendiri di sana."

"Tante, ini tuh punya aku. Tante bisa ambil lagi di dapur, katanya masih banyak kan?" judes Nisa, mengambil kembali piring yang di rebut tantenya.

"Nisa! Lo nggak bisa boleh gitu sama Tante Dewi." marah Natalie.

Sebenarnya nggak cuma Natalie saja yang marah, Fabian dan Nathan pun ikutan geram melihat tingkah Nisa sedari tadi. Baru satu hari tinggal di sini udah kayak gitu sifatnya, apalagi kalau bertahun-tahun?

"Apasih! Kamu nggak usah ikut campur ya. Kamu sama Tante Dewi itu hanya babu di rumah ini. Kalian nggak pantes melawan aku yang notabenenya nyonya di rumah ini," angkuh Nisa penuh kesombongan.

Natalie berjalan cepat ke arah Nisa. Tangannya terkepal erat. Kubu-kubu jarinya terlihat jelas.

Plak!

Natalie menampar dengan kencang pipi kembarannya itu. Ia sudah cukup sabar menghadapi Nisa mulai tadi pagi. Dan sekarang kesabarannya udah mulai habis.

Nisa memegang pipinya dengan wajah syok. "Kamu!"

"Apa, gue apa!" sentak Natalie.

"Awas aja, aku aduin ke mama kamu!" ancamnya, lalu pergi meninggalkan mereka.

"Aduin aja sana ke mama. Toh ini rumah Tante Dewi, bukan rumah Lo. Lo jangn sok berkuasa ya, mentang-mentang selalu di belain sama mereka!" teriak Natalie pada Nisa.

Napasnya memburu dengan cepat. Emosinya masih meledak-ledak. Ia butuh udara dingin serta aroma bunga untuk meredakan amarahnya. Dengan langkah tegas, ia berjalan ke luar rumah. Duduk di hamparan bunga yang tak sebanyak di rumahnya. Tapi seenggaknya ia masih bisa menghirup aroma menenangkan dari bunga-bunga itu.

"Aduh, Nathan, Fabian, maaf ya kalian jadi melihat pertengkaran tadi," ucap Dewi nggak enak pada keduanya.

"Nggak apa-apa kok, tan. Lagian emang dia aja yang mancing perkara, jadinya gitu deh," ucap fabian memaklumi.

"Kalau gitu kita mau nyusul Nata dulu ya, Tan. Takut makin kalap anaknya," pamit Nathan.

"Iya, hati-hati."

Di kamar, Nisa mengadukan semuanya pada mama dan neneknya. Bahkan ada beberapa hal yang ia rubah, seolah-olah Natalie lah yang bersalah.

.

.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!